engertian Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer (menunjukkan, menentukan, mengatur, atau mengemudikan).
Sedangkan menurut W.S. Winkel (1981) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan), leading (memimpin), conducting (menuntun), giving instructions (memberikan petunjuk), regulating (mengatur), governing (mengarahkan) dan giving advice (memberikan nasehat).
Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukakan di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pembimbing. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini, dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan penting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuhnya terhadap keputusan yang diambilnya.
Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian bimbingan, di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli :
• Miller (I. Djumhur dan Moh. Surya, 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah, keluarga dan masyarakat.
• Peters dan Shertzer (Sofyan S. Willis, 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utilize his potentialities.( proses membantu individu untuk memahami dirinya dan dunia sehingga dia bisa memanfaatkan potensi itu).
• United States Office of Education (Arifin, 2003) memberikan rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya, misalnya problema kependidikan, jabatan, kesehatan, sosial dan pribadi. Dalam pelaksanaannya, bimbingan harus mengarahkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.
• Jones et.al. (Sofyan S. Willis, 2004) mengemukakan : “guidance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem.
• I. Djumhur dan Moh. Surya, (1975) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding), kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance), kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah dan masyarakat.
• Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan”.
• Prayitno, dkk. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.
• Dari beberapa pendapat di atas, tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan, kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah, bahwa :
• Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik.. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis.
• Tercapainya penyesuaian diri, perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan.
Dari pendapat Prayitno, dkk. yang memberikan pengertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan menggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam sistem pendidikan nasional. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang, sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian istilah, semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya), kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebutan Profesi Konseling, meski secara formal istilah ini belum digunakan.
Untuk kepentingan penulisan ini, penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. Semoga seklumit pengertian bimbingan diatas membantu untuk anda untuk lebih mengerti.
Defenisi belajar:berubah tingkah laku atau tanggapan yg disebabkan oleh pengalaman
Pengertian Konseling
bersama” yang dirangkai dengan “menerima atau “memahami” . Sedangkan dalam Bahasa Anglo Saxon istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti”menyerahkan” atau “menyampaikan. ”.…interaksi yang(a)terjadi antara dua Secara Etimologi berasal dari bahasa Latin “consilium “artinya “dengan” atau orang individu ,masing-masing disebut konselor dan klien ;(b)terjadi dalam suasana yang profesional (c)dilakukan dan dijaga sebagai alat untuk memudah kan perubahan-perubahan dalam tingkah laku klien. (Pepinsky 7 Pepinsky ,dalan Shertzer & Stone,1974). …suatu proses dimana konselor membantu konseli membuat interprestasi-interprestasi tetang fakta-fakta yang berhubungan dengn pilihan,rencana,atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuat.
(Smith,dalam Shertzer & Stone,1974)
Konseling merupakan suatu proses untuk memebantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangn dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya ,proses tersebuat dapat terjadi setiap waktu. (Division of Conseling Psychologi)
…suatu pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kapadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya secara lebih efektif dengan dirinyasendiri dan lingkungan. (Mc. Daniel,1956)
Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan,motivasi,dan potensi-potensi yang yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketige hal tersebut. (Berdnard & Fullmer ,1969)
Hal-hal pokok yang terdapat pada pengertian Konseling menurut ahli yang tersebut diatas adalah:
Rumusan (Pepinsky & Pepinsky,dalam Shertzer & Stone,1974)
Media Pembelajaran
Seputar pendidikan, pembelajaran, sosial, hukum, konseling, politik, budidaya pertanian, Biologi, Kimia, Kesehatan, ilmiah, Media Tempat Belajar, Model-model Pembelajaran, Pendekatan Pembelajaran, Hiburan dan Lain-lain.Ho
Definisi Bimbingan Dan Konseling
1).Definisi Bimbingan Menurut Chiskolm
Bimbingan membantu individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri (Chiskolm,1959).
2). Definisi Bimbingan Menurut Bernard & Fullmer
Bimbingan merupakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu (Bernard & Fullmer ,1969).
3). Definisi Bimbingan Menurut Miller
Bimbingan Merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah, keluarga dan masyarakat.
4). Definisi Bimbingan Menurut Djumhur dan Moh. Surya
Bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding), kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance), kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah dan masyarakat.
5). Definisi Bimbingan Menurut Frank Parson
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih,mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya” (Frank Parson ,1951).
B. Definisi Konseling Menurut Para Ahli
1). Definisi Konseling Menurut Cavanagh,
Konseling merupakan Hubungan antara seorang penolong yang terlatih dan seseorang yang mencari pertolongan, di mana keterampilan si penolong dan situasi yang diciptakan olehnya menolong orang untuk belajar berhubungan dengan dirinya sendiri dan orang lain dengan terobosan-terobosan yang semakin bertumbuh.
2). Definisi Konseling Menurut Saefudin dan Abdul Bari
Konseling merupakan proses pemberian informasi obyektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan panduan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik yang bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi, dan menentukan jalan keluar atau upaya mengatasi masalah tersebut. (Saefudin, Abdul Bari : 2002).
3). Definisi Konseling Menurut Rogers
Konseling adalah serangkaian kontak atau hubungan bantuan langsung dengan individu dengan tujuan memberikan bantuan kepadanya dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.
4).Definisi Konseling Menurut James F. Adam
Konseling merupakan suatu pertalian timbal balik antara 2 orang individu dimana yang seorang (counselor) membantu yang lain (conselee) supaya ia dapat memahami dirinya dalam hubungan dengan masalah-masalah hidup yang dihadapinya waktu itu dan waktu yang akan datang.
5).Definisi Konseling Menurut Mortensen
Konseling didefinisikan sebagai suatu proses hubungan seseorang dengan seseorang dimana yang seorang dibantu oleh yang lainya untuk menemukan masalahnya.
Kesimpulan:
Dari Beberapa definisi tentang bimbingan dan konseling yang dikemukakan oleh para ahli, dapat ditarik kesimpulan tentang apa itu definisi Bimbingan Konseling secara penuh:
Bimbingan Konseling merupakan Suatu bantuan yang diberikan seseorang kepada orang lain yang bermasalah baik masalah psikologis, social, dan lain-lain dengan harapan dapat memecahkan masalahnya, memahami dirinya, mengarahkan dirinya sesuai dengan kemampuan dan potensinya sehingga mencapai penyesuaian diri dengan lingkungannya.
Referensi:
Depdiknas. 2002. Paduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi SMP, Madrasah, Tsanawiyah dan Sederajat. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas.
Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah DiRektorat Pendidikan Umun.1994. Kurikulum SLTP: Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Depdikbud.
Jones, J.J. 1987. Secondary School Administration. New York: Mc Graw Hill BookCompany.
Mulyadi, Agus. 2003. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Prayitno. 1997. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Buku II Pelayanan Bimbingan dan Konseling (SLTP). Jakarta: kerjasama koperasi karyawan pusgrafin dengan penerbit Penebar Aksara.
Syamsudddin, Abin. 2003. Panduan Studi Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Dalam perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia, kegiatan Penilaian Kinerja merupakan salah satu rangkaian dari Siklus Manajemen Kinerja. Kegiatan penilaiaan kinerja pada dasarnya merupakan upaya untuk memberikan jaminan bahwa setiap pegawai/karyawan dapat bekerja secara efektif, efisien dan produktif sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Selain itu, melalui kegiatan penilaian kinerja diharapkan dapat diketahui keunggulan dan kelemahan dari pegawai/karyawan yang bersangkutan untuk dijadikan sebagai dasar perencanaan pengembangan kinerja berikutnya.
Penilaian Kinerja dalam konteks persekolahan kita, — dengan tidak bermaksud mengesampingkan peran penting tenaga pendidik dan kependidikan lainnya-, setidaknya terdapat tiga unsur penting yang perlu dinilai kinerjanya, yaitu: Guru (Guru Mata Pelajaran/Guru BK/Konselor), Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah.
Guru sebagai pendidik profesional mempunyai tugas pokok merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, yang ditopang oleh kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru, sebagaimana diisyaratkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru mencakup: (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi profesional. Sebagai desainer masa depan anak, kepadanya terletak tanggung jawab untuk memberdayakan dan membudayakan seluruh peserta didiknya.
Kepala sekolah adalah guru yang diberi tugas tambahan untuk mengelola dan memimpin keseluruhan proses dan substansi manajemen pendidikan di sekolah, dengan ditopang sejumlah kompetensi yang seharusnya dimiliki seorang kepala sekolah sebagaimana dinyatakan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Kepala Sekolah, mencakup: (1) kompetensi kepribadian, (2) kompetensi manajerial, (3) kompetensi kewirausahaan, (4) kompetensi supervisi, dan (5) kompetensi sosial. Sebagai leader dan manejer pendidikan di sekolah, kepala sekolah bertanggung jawab secara keseluruhan atas maju-mundurnya proses pendidikan di sekolah yang dipimpinnya.
Pengawas sekolah adalah guru yang diangkat dalam jabatan pengawas yang bertugas melakukan penilaian dan pembinaan, baik dalam bentuk supervisi akademik maupun supervisi manajerial, serta melakukan pembimbingan dan pelatihan profesional guru, dengan ditopang oleh sejumlah kompetensi yang harus dikuasainya sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Pengawas Sekolah, mencakup: (1) kompetensi kepribadian, (2) kompetensi supervisi manajerial, (3) kompetensi supervisi akademik, (4) kompetensi evaluasi, pendidikan, (5) kompetensi penelitian pengembangan, dan (6) kompetensi sosial. Pengawas sekolah bertanggung jawab untuk melaksanakan penjaminan mutu dan memberdayakan kepala sekolah dan guru yang menjadi binaannya.
Untuk menjamin bahwa para guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah dapat bekerja secara efektif dan efisien, pemerintah saat ini telah meluncurkan kebijakan Penilaian Kinerja untuk ketiga unsur pelaksana pendidikan di atas dan inti dari kebijakan penilaian kinerja ini adalah peningkatan mutu pendidikan.
Penilaian Kinerja bagi guru dikenal dengan sebutan Penilaian Kinerja Guru (PKG), sedangkan untuk kepala sekolah disebut dengan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS), dan untuk Pengawas Sekolah disebut Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah (PKPS).
Guna mendalami lebih jauh kebijakan pemerintah yang sangat strategis ini, para pengawas sekolah di Kabupaten Kuningan yang tergabung dalam Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) Kabupaten Kuningan telah melaksanakan kegiatan pelatihan tentang PKG. PKKS, dan PKPS, dalam bentuk in service dan on service, pada tanggal 8-11 Oktober 2012, bertempat di Gedung PGRI
Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada “utusan” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasad manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia (sebagai ciptaan).
Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data (saatnya dipanggil) ” tidak boleh sawala ” (mengelak) manusia dengan segala atributnya harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup (Khalik) dengan yang diberi hidup (makhluk). Maksdunya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh, cocok, tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan.
Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan,sekedar menang atau menang tidak sportif.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.
MAKNA HURUF
Ha :Hana hurip wening suci= Adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci.
Na :Nur candra, gaib candra, warsitaning candara= Pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi.
Ca :Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi= Arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra :Rasaingsun handulusih = Rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
Ka :Karsaningsun memayuhayuning bawana = Hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam
Da :D umadining dzat kang tanpa winangenan = Menerima hidup apa adanya
Ta :Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa = Mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
Sa :Sifat ingsun handulu sifatullah= Membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
Wa :Wujud hana tan kena kinira = Ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
La :Lir handaya paseban jati = Mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
Pa :P apan kang tanpa kiblat = Hakekat Allah yang ada disegala arah
Dha :D huwur wekasane endek wiwitane = Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
Ja :Jumbuhing kawula lan Gusti = Selalu berusaha menyatu, memahami sifat dan kehendak- Nya
Ya :Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi = Percaya dan Yakin atas titah / kodrat Illahi
Nya :Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki = Memahami kodrat kehidupan
Ma :Madep mantep manembah mring Ilahi = Yakin/mantap dalam menyembah Ilahi
Ga :Guru sejati sing muruki = Belajar pada guru nurani
Ba :Bayu sejati kang andalani = Menyelaraskan diri pada gerak alam
Tha :Tukul saka niat = Sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niat yang suci
Nga :Ngracut busananing manungso = Melepaskan egoisme pribadi manusia.
Adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci – pengharapan manusia hanya
selalu ke sinar Illahi – satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani – hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam – menerima hidup apa adanya – mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup – membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi – Hakekat Allah yang ada disegala arah – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar – selalu berusaha menyatu, memahami sifat dan kehendak Nya a percaya dan yakin atas titah / kodrat Illahi – memahami kodrat kehidupan – yakin / mantap dalam menyembah Ilahi – belajar pada guru nurani – menyelaraskan diri pada gerak alam – sesuatu harus dimulai – tumbuh dari niat yang suci – melepaskan egoisme pribadi manusia
Hanacaraka atau dikenal dengan nama caraka adalah abjad / alat tulis yang digunakan oleh suku Jawa (juga Madura, Sunda, Bali, Palembang, dan Sasak). Aksara Jawa bila diamati lebih lanjut memiliki sifat silabik (kesukukataan). Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili 2 buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “hari”. Aksara Na yang mewakili dua huruf yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “nabi”.A Beberapa buah aksara itu bisa digabungkan secara langsung untuk membentuk sebuah kata. Bila diucapkan, susunan aksara tersebut dapat membentuk kalimat:
Hana Caraka (Terdapat Pengawal);
Data Sawala (Berbeda Pendapat);
Padha Jayanya (Sama kuat/hebatnya);
Maga Bathanga (Keduanya mati).
Aksara Jawa, merupakan salah satu peninggalan budaya yang tak ternilai harganya. Bentuk aksara dan seni pembuatannya pun menjadi suatu peninggalan yang patut untuk dilestarikan. Tak hanya di Jawa, aksara Jawa ini rupanya juga digunakan di daerah Sunda dan Bali, walau memang ada sedikit perbedaan dalam penulisannya. Namun sebenarnya aksara yang digunakan sama saja. Demikian kurang lebih arti dan makna yang tekandung dalam Filsafat aksara jawa.
Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar informasi. Menurut Wikipedia, pengertian pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pengertian pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.
Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran (instructional objective) adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu. Hal ini didasarkan berbagai pendapat tentang makna tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.
Magner (1962) mendefinisikan tujuan pembelajaran sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh peserta didik sesuaikompetensi. Sedangkan Dejnozka dan Kavel (1981) mendefinisikan tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan spefisik yang dinyatakan dalam bentuk perilaku yang diwujudkan dalam bentuk tulisan yangmenggambarkan hasil belajar yang diharapkan.
Pengertian lain menyebutkan bahwa, tujuan pembelajaran adalah pernyataan mengenai keterampilan atau konsep yang diharapkan dapat dikuasai oleh peserta didik pada akhir priode pembelajaran (Slavin, 1994). Tujuan pembelajaran merupakan arah yang hendak dituju dari rangkaian aktivitas yang dilakukan dalam proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk perilaku kompetensi spesifik, aktual, dan terukur sesuai yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu.
Penyusunan Tujuan Pembelajaran
Penyusunan tujuan pembelajaran merupakan tahapan penting dalam rangkaian pengembangan desain pembelajaran. Dari tahap inilah ditentukan apa dan bagaimana harus melakukan tahap lainnya. Apa yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran menjadi acuan untuk menentukan jenis materi pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan media pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Tanpa tujuan yang jelas, pembelajaran akan menjadi kegiatan tanpa arah, tanpa fokus, dan menjadi tidak efektif.
Read more: Pengertian Pembelajaran >> Tujuan Pembelajaran | belajarpsikologi.com
Pendekatan, Jenis dan Metode Penelitian Pendidikan
Metode penelitian berhubungan erat dengan prosedur, teknik, alat, serta desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus cocok dengan pendekatan penelitian yang dipilih. Prosedur, teknik, serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok pula dengan metode penelitian yang ditetapkan. Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti perlu menjawab sekurang-kurangnya tiga pertanyaan pokok (Nazir, 1985) yaitu:
Urutan kerja atau prosedur apa yang harus dilakukan dalam melaksanakan suatu penelitian?
Alat-alat (instrumen) apa yang akan digunakan dalam mengukur ataupun dalam mengumpulkan data serta teknik apa yang akan digunakan dalam menganalisis data?
Bagaimana melaksanakan penelitian tersebut?
Jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut memberikan kepada peneliti urutan-urutan pekerjaan yang terus dilakukan dalam suatu penelitian. Hal ini sangat membantu peneliti untuk mengendalikan kegiatan atau tahap-tahap kegiatan serta mempermudah mengetahui kemajuan (proses) penelitian. Metode penelitian menggambarkan rancangan penelitian yang meliputi prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data, serta dengan cara apa data tersebut diperoleh dan diolah/dianalisis. Dalam prakteknya terdapat sejumlah metode yang biasa digunakan untuk kepentingan penelitian.
Berdasarkan sifat-sifat masalahnya, Suryabrata (1983) mengemukakan sejumlah metode penelitian yaitu sebagai berikut
Penelitian Historis yang bertujuan untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif.
Penelitian Deskriptif yang yang bertujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan sifat populasi atau daerah tertentu.
Penelitian Perkembangan yang bertujuan untuk menyelidiki pola dan urutan pertumbuhan dan/atau perubahan sebagai fungsi waktu.
Penelitian Kasus/Lapangan yang bertujuan untuk mempelajari secara intensif latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungansuatu obyek
Penelitian Korelasional yang bertujuan untuk mengkaji tingkat keterkaitan antara variasi suatu faktor dengan variasi faktor lain berdasarkan koefisien korelasi
Penelitian Eksperimental suguhan yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan melakukan kontrol/kendali
Penelitian Eksperimental semu yang bertujuan untuk mengkaji kemungkinan hubungan sebab akibat dalam keadaan yang tidak memungkinkan ada kontrol/kendali, tapi dapat diperoleh informasi pengganti bagi situasi dengan pengendalian.
Penelitian Kausal-komparatif yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat, tapi tidak dengan jalan eksperimen tetapi dilakukan dengan pengamatan terhadap data dari faktor yang diduga menjadi penyebab, sebagai pembanding.
Penelitian Tindakan yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan baru atau pendekatan baru dan diterapkan langsung serta dikaji hasilnya.
McMillan dan Schumacher (2001) memberikan pemahaman tentang metode penelitian dengan mengelompokkannya dalam dua tipe utama yaitu kuantitatif dan kualitatif yang masing-masing terdiri atas beberapa jenis metode sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut.
Jenis-Jenis Metode Penelitian
Jenis-Jenis Metode Penelitian
Jenis-jenis penelitian lain dapat dibedakan atas dasar beberapa sumber referensi berikut ini.
Jenis-Jenis Metode Penelitian Menurut Ahli
Pendekatan Penelitian, Jenis Penelitian dan Metode Penelitian Pendidikan
Banyaknya jenis metode penelitian sebagaimana dikemukakan di atas, dilandasi oleh adanya perbedaan pandangan dalam menetapkan masing-masing metode. Uraian selanjutnya tidak akan mengungkap semua jenis metode yang dikemukakan di atas tetapi membahas secara singkat beberapa metode penelitian sederhana yang sering digunakan dalam penelitian pendidikan.
A. Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada masalah-masalah actual sebagaimana adanya pada saat penelitian berlangsung. Melalui penelitian deskriptif, peneliti berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakukan khusus terhadap peristiwa tersebut. Variabel yang diteliti bisa tunggal (satu variabel) bisa juga lebih dan satu variabel.
B. Studi Kasus
Penelitian Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seseorang individu atau kelompok yang dipandang mengalami kasus tertentu. Misalnya, mempelajari secara khusus kepala sekolah yang tidak disiplin dalam bekerja. Terhadap kasus tersebut peneliti mempelajarinya secara mendalam dan dalam kurun waktu cukup lama. Mendalam, artinya mengungkap semua variable yang dapat menyebabkan terjadinya kasus tersebut dari berbagai aspek.
Tekanan utama dalam studi kasus adalah mengapa individu melakukan apa yang dia lakukan dan bagaimana tingkah lakunya dalam kondisi dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Untuk mengungkap persoalan kepala sekolah yang tidak disiplin peneliti perlu mencari data berkenaan dengan pengalamannya pada masa lalu, sekarang, lingkungan yang membentuknya, dan kaitan variabel-variabel yang berkenaan dengan kasusnya. Data diperoleh dari berbagai sumber seperti rekan kerjanya, guru, bahkan juga dari dirinya. Teknik memperoleh data sangat komprehensif seperti observasi perilakunya, wawancara, analisis dokumenter, tes, dan lain-lain bergantung kepada kasus yang dipelajari.
Setiap data dicatat secara cermat, kemudian dikaji, dihubungkan satu sama lain, kalau perlu dibahas dengan peneliti lain sebelum menarik kesimpulankesimpulan penyebab terjadinya kasus atau persoalan yang ditunjukkan oleh individu tersebut. Studi kasus mengisyaratkan pada penelitian kualitatif. Kelebihan studi kasus dari studi lainnya adalah, bahwa peneliti dapat mempelajari subjek secara mendalam dan menyeluruh.
Namun kelemahanya sesuai dengan sifat studi kasus bahwa informasi yang diperoleh sifatnya subyektif, artinya hanya untuk individu yang bersangkutan dan belum tentu dapat digunakan untuk kasus yang sama pada individu yang lain. Dengan kata lain, generalisasi informasi sangat terbatas penggunaannya. Studi kasus bukan untuk menguji hipotesis, namun sebaliknya hasil studi kasus dapat menghasilkan hipotesis yang dapat diuji melalui penelitian lebih lanjut. Banyak teori, konsep dan prinsip dapat dihasilkan dan temuan studi kasus.
C. Penelitian Survei
Penelitian survei cukup banyak digunakan untuk pemecahan masalah-masalah pendidikan termasuk kepentingan perumusan kebijaksanaan pendidikan. Tujuan utamanya adalah mengumpulkan informasi tentang variabel dari sekolompok obyek (populasi). Survei dengan cakupan seluruh populasi (obyek) disebut sensus. Sedangkan survei yang mempelajari sebagian populasi dinamakan sampel survei. Untuk kepentingan pendidikan, survei biasanya mengungkap permasalahan yang berkenaan dengan berapa banyak siswa yang mendaftar dan diterima di suatu sekolah? Berapa jumlah siswa rata-rata dalam satu kelas? Berapa banyak guru yang telah memenuhi kualifikasi yang telah ditentukan? Pertanyaan-pertanyaan kuantitatif seperti itu diperlukan sebagai dasar perencanaan dan pemecahan masalah pendidikan di sekolah. Pada tahap selanjutnya dapat pula dilakukan perbadingan atau analsis hubungan antara variabel tersebut.
D. Studi Korelasional
Seperti halnya survei, metode deskriptif lain yang sering digunakan dalam pendidikan adalah studi korelasi. Studi ini mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, yakni sejauh mana variasi dalam satu variable berhubungan dengan variasi dalam variabel lain. Derajat hubungan variable-variabel dinyatakan dalam satu indeks yang dinamakan koefisien korelasi. Koefisien korelasi dapat digunakan untuk menguji hipotesis tentang hubungan antar variabel atau untuk menyatakan besar-kecilnya hubungan antara kedua variabel.
Studi korelasi bertujuan menguji hipotesis, dilakukan dengan cara mengukur sejumlah variabel dan menghitung koefisien korelasi antara variabel-variabel tersebut, agar dapat ditentukan variabel-variabel mana yang berkorelasi. Misalnya peneliti ingin mengetahui variabel-variabel mana yang sekiranya berhubungan dengan kompetensi profesional kepala sekolah.
Semua variabel yang ada kaitannya (misal latar belakang pendidikan, supervisi akademik, dll) diukur, lalu dihitung koefisien korelasinya untuk mengetahui variabel mana yang paling kuat hubungannya dengan kemampuan manajerial kepala sekolah.
E. Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen dapat didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat. Penelitian eksperimen merupakan metode inti dari model penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Dalam metode eksperimen, peneliti harus melakukan tiga persyaratan yaitu kegiatan mengontrol, kegiatan memanipulasi, dan observasi. Dalam penelitian eksperimen, peneliti membagi objek atau subjek yang diteliti menjadi 2 kelompok yaitu kelompok treatment yang mendapatkan perlakuan dan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan.
F. Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleleksi-diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktek yang dilakukan sendiri. Dengan demikian akan diperoleh pemahaman mengenai praktek tersebut dan situasi di mana praktek tersebut dilaksanakan. Terdapat dua esensi penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area yaitu: (1) Untuk memperbaiki praktek; (2) Untuk pengembangan profesional dalam arti meningkatkan pemahaman/kemampuan para praktisi terhadap praktek yang dilaksanakannya; (3) Untuk memperbaiki keadaan atau situasi di mana praktek tersebut dilaksanakan.
G. Metode Penelitian dan Pengembangan (R&D)
Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah strategi atau metode penelitian yang cukup ampuh untuk memperbaiki praktek. Yang dimaksud dengan Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah rangkaian proses atau langkah-langkah dalam rangka mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada agar dapat dipertanggung jawabkan. Produk tersebut tidak selalu berbentuk benda atau perangkat keras (hardware), seperti buku, modul, alat bantu pembelajaran di kelas atau di laboratorium, tetapi bisa juga perangkat lunak (software), seperti program komputer untuk pengolahan data, pembelajaran di kelas, perpustakaan atau laboratorium, ataupun model-model pendidikan, pembelajaran, pelatihan, bimbingan, evaluasi, sistem manajemen, dan lain-lain.
Demikianlah beberapa metode penelitian dalam pendidikan, sumber utama dari penulisan metode penelitian ini yaitu dari Surya Dharma, MPA., Ph.D, (2008) Pendekatan, Jenis, Dan Metode Penelitian Pendidikan : Jakarta
Read more: METODE PENELITIAN >> Pendekatan, Jenis dan Metode Penelitian | belajarpsikologi.com
merupakan hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan antarindividu, individu (seseorang) dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Tanpa adanya interkasi sosial maka tidak akan mungkin ada kehidupan bersama. Proses sosial adalah suatu interaksi atau hubungan timbal balik atau saling mempengaruhi antar manusia yang berlangsung sepanjang hidupnya didalam amasyarakat. Menurut Soerjono Soekanto, proses sosial diartikan sebagai cara-cara berhubungan yang dapat dilihat jika individu dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu serta menentukan sistem dan bentuk hubungan sosial.
Pengertian Interaksi Sosial
Homans ( dalam Ali, 2004: 87) mendefinisikan interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran atau hukuman dengan menggunakan suatu tindakan oleh individu lain yang menjadi pasangannya.
Konsep yang dikemukakan oleh Homans ini mengandung pengertian bahwa interaksi adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam interaksi merupakan suatu stimulus bagi tindakan individu lain yang menjadi pasangannya.
Sedangkan menurut Shaw, interaksi sosial adalah suatu pertukaran antarpribadi yang masing- masing orang menunjukkan perilakunya satu sama lain dalam kehadiran mereka, dan masing- masing perilaku mempengaruhi satu sama lain. Hal senada juga dikemukan oleh Thibaut dan Kelley bahwa interaksi sosial sebagai peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sam lain atau berkomunikasi satu sama lain. Jadi dalam kasus interaksi, tindakan setiap orang bertujuan untuk mempengaruhi individu lain.
Pengertian Interaksi sosial menurut Bonner ( dalam Ali, 2004) merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu, dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain atau sebaliknya.
Pengertian Interkasi sosial menurut beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa, interaksi adalah hubungan timbal balik anatara dua orang atau lebih, dan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif. Dalam interaksi juga lebih dari sekedar terjadi hubungan antara pihak- pihak yang terlibat melainkan terjadi saling mempengaruhi.
Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Syarat terjadinya interaksi sosial terdiri atas kontak sosial dan komunikasi sosial. Kontak sosial tidak hanya dengan bersentuhan fisik. Dengan perkembangan tehnologi manusia dapat berhubungan tanpa bersentuhan, misalnya melalui telepon, telegrap dan lain-lain. Komunikasi dapat diartikan jika seseorang dapat memberi arti pada perilaku orang lain atau perasaan-perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.
Sumber-Sumber Interaksi Sosial
Proses interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat bersumber dari faktor imitasi, sugesti, simpati, identifikasi dan empati.
Imitasi merupakan suatu tindakan sosial seseorang untuk meniru sikap, tindakan, atau tingkah laku dan penampilan fisik seseorang.
Sugesti merupakan rangsangan, pengaruh, atau stimulus yang diberikan seseorang kepada orang lain sehingga ia melaksanakan apa yang disugestikan tanpa berfikir rasional.
Simpati merupakan suatu sikap seseorang yang merasa tertarik kepada orang lain karena penampilan,kebijaksanaan atau pola pikirnya sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh orang yang menaruh simpati.
Identifikasi merupakan keinginan sama atau identik bahkan serupa dengan orang lain yang ditiru (idolanya)
Empati merupakan proses ikut serta merasakan sesuatu yang dialami oleh orang lain. Proses empati biasanya ikut serta merasakan penderitaan orang lain.
Jika proses interaksi sosial tidak terjadi secara maksimal akan menyebabkan terjadinya kehidupan yang terasing. Faktor yang menyebabkan kehidupan terasing misalnya sengaja dikucilkan dari lingkungannya, mengalami cacat, pengaruh perbedaan ras dan perbedaan budaya.
Demikian ulasan tentang interaksi sosial, baik pengertian interaksi sosial, sumber interaksi sosial, dan syarat interaksi sosial, mudah-mudahan dapat membantu.
Read more: INTERAKSI SOSIAL >> Pengertian Interaksi Sosial | belajarpsikologi.com
Pengertian RemajaRemaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Pasa masa ini sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua.
Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa.
Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan pengertian remaja menurut Zakiah Darajat (1990: 23) adalah:
masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
Pengertian Remaja
Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa adolescene diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.
Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun = masa remaja awal, 15 – 18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa remaja akhir. Tetapi Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15 tahun, masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 – 21 tahun (Deswita, 2006: 192)
Definisi remaja yang dipaparkan oleh Sri Rumini & Siti Sundari, Zakiah Darajat, dan Santrock tersebut menggambarkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis.
Read more: Pengertian Remaja Menurut Para Ahli | belajarpsikologi.com
Istilah personality berasal dari kata latin “persona” yang berarti topeng atau kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. Bagi bangsa Roma, “persona” berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain.
Menurut Agus Sujanto dkk (2004), menyatakan bahwa kepribadian adalah suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik.
Pengertian Kepribadian (Personality)
Sedangkan personality menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendiriran, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain.
Allport juga mendefinisikan personality sebagai susunan sistem-sistem psikofisik yang dinamis dalam diri individu, yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem psikofisik yang dimaksud Allport meliputi kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara umum.
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan suatu susunan sistem psikofisik (psikis dan fisik yang berpadu dan saling berinteraksi dalam mengarahkan tingkah laku) yang kompleks dan dinamis dalam diri seorang individu, yang menentukan penyesuaian diri individu tersebut terhadap lingkungannya, sehingga akan tampak dalam tingkah lakunya yang unik dan berbeda dengan orang lain.
Read more: KEPRIBADIAN >> Pengertian Kepribadian | belajarpsikologi.com
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui tingkat kevalidan dari instrumen (kuesioner) yang digunakan dalam pengumpulan data yang diperoleh dengan cara mengkorelasi setiap skor variable jawaban responden dengan total skor masing-masing variabel, kemudian hasil korelasi dibandingkan dengan nilai kritis pada taraf siginifikan 0,05 dan 0,01. Tinggi rendahnya validitas instrumen akan menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud.
Adapun perhitungan korelasi product moment, dengan rumus seperti yang dikemukakan oleh Arikunto (1998):
Dimana:
RUMUSE RAKATUT
r = Koefisien korelasi
n = Banyaknya sampel
x = Skor masing-masing item
y = Skor total variabel
Ilustrasi:
Kita kembali ke data yang diambil dari responden yang pernah menginap di penginapan bungalow “X”. Skor menggunakan skala likert untuk beberapa atribut yang diukur pada bungalow “X” antara lain pelayanan, kenyamanan, kelengkapan, akses, dan tarif. Berikut adalah skor yang diberikan oleh 30 pengunjung. Dengan skala yang menyatakan 1=sangat buruk, 2=buruk, 3=baik, 4=sangat baik. Analisis dijalankan dengan perangkat lunak SPSS 17.00 for windows.
Secara *garis besar* Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La Pa Dha Ja Ya Nya Ma Ga Ba Tha Nga kalau diuraikan adalah sebagai berikut (garis besar saja, karena detailnya begitu luas/multi dimensi tak terkira penuh dengan kawruh kasunyatan sejati yang tak habis diuraikan dalam bahasa kewadagan apalagi tulisan). Dan dibawah ini adalah garis besar uraian dari sisi spiritualnya guna dipakai sebagai *mile stones* dalam menempuh jalan rahayu untuk dapat kembali ke *SANGKAN PARANING DUMADI*
1. Ha – Huripku Cahyaning Allah (Hidupku adalah Cahaya Allah)
Sebelum ada apa-apa, sebelum alam semesta beserta isinya ini tercipta, adalah Sang Hidup ya Allah ya Ingsun yang ada dialam awung-uwung yang tiada awal dan akhir, yaitu alam/kahanan Allah yang masih rahasia/ Alam Sejati. Itulah Kerajaan Allah ya Ingsun. Sebelum alam semesta tercipta, Allah berkehendak menurunkan Roh Suci, ya Cahaya Allah. Ya Cahaya Allah itulah Hidupku, Hidup kita yang Maha Suci.
Alam Sejati adalah alam yang tidak mengandung anasir-anasir (unsur-unsur hawa, api, air dan bumi/tanah) yang berada didalam badan manusia, dimana Cahaya Allah bersemayam. Alam Sejati diselubungi/menyelubungi dua alam beranasir yaitu halus dan kasar. Dapat pula diartikan, badan manusia berada didalam Alam Sejati.
2. Na – Nur Hurip Cahya wewayangan (Nur Hidup Cahya yang membayang)
Hidup merupakan kandang Nur yang memancarkan Cahaya Kehidupan yang membayang yang merupakan rahasia Allah. Kehidupan yang Maha Mulia. Tri Tunggal Mahasuci berada dipusat Hidup. Ya itulah Kerajaan Allah.
Sang Tritunggal adalah Allah ta’ala/Gusti Allah/Pengeran/Suksma Kawekas, Ingsun/Rasul Sejati/Guru Sejati/Suksma Sejati/Kristus dan Roh Suci/Nur Pepanjer/Nur Muhammad. Diuraikan diatas, bahwa ketiga alam yaitu badan kasar, badan halus dan Alam Sejati, mengambil ruang didalam badan jasmani kasar secara bersamaan. Namun kebanyakan kita manusia tidak atau belum menyadari akan Alam Sejati, atau samar-samar. Nur Hidup bagaikan cahaya yang samar membayang.
3. Ca – Cipta rasa karsa kwasa (Cipta rasa karsa kuasa)
Nur Hidup memberi daya kepada Rasa/Rahsa Jati/Sir, artinya Cahaya/Nur/Roh Suci menghidupkan Rasa/Rahsa Jati/Sir yang merupakan sumber kuasa. Maka bersifat Maha Wisesa. Rasa/Rahsa Jati/Sir menghidupkan roh/suksma yang mewujudkan adanya cipta. Maka bersifat Maha Kuasa.
4. Ra – Rasa kwasa tetunggaling pangreh (Rasa kuasa akan adanya satu-satunya wujud kendali/yang memerintah)
Rasa Sejati yang memberi daya hidup roh/suksma sehingga roh/suksma dapat menguasai nafsu (sedulur lima) sehingga terjadilah sifat Maha Tinggi.
5. Ka – Karsa kwasa kang tanpa karsa lan niat (Karsa kuasa tanpa didasari oleh kehendak dan niat)
Yang mendasari adanya kuasa agung adalah kasih yang tulus, tanpa kehendak, tanpa niat. Pamrihnya hanyalah terciptanya kasih yang berkuasa memayu hayuning jagad kecil dan jagad agung.
6. Da– Dumadi kang kinarti (Tumitah/menjadi ada/terjadi dengan membawa maksud, rencana dan makna)
Ini berkaitan dengan Karsa Allah menciptakan manusia, makhluk lain dan alam semesta beserta isinya yang sesuai dengan Rencana Allah.
7. Ta – Tetep jumeneng ing dat kang tanpa niat (Tetap berada dalam zat yang tanpa niat)
Dat atau zat tanpa bertempat tinggal, yang merupakan awal mula adalah dat Yang Maha Suci yang bersifat esa, langgeng dan eneng. Hidup sejati kita menyatu dengan dat, ada didalam dat. Maka didalam kehidupan saat ini agar selalu eksis selaras dengan dat Yang Maha Suci, situasi tanpa niat atau mati sajroning urip (mati didalam hidup) dengan kata lain hidup didalam kematian, seyogyanya selalu diupayakan.
8. Sa – Sipat hana kang tanpa wiwit (Sifat ada tanpa awal)
Ini adalah sifat Sang Hidup, Allah, di Alam Sejati, tiada awal dan tiada akhir, *AKUlah alpha dan omega* Demikian pula *hidup* sejati nya manusia sudah ada sebelumnya, tiada awal mula, bersatu di Alam Sejati yang langgeng, yang merupakan Kerajaan Allah, ya Sangkan Paraning Dumadi.
9. Wa – Wujud hana tan kena kinira (Wujud ada tiada dapat diuraikan/dijelaskan)
Ada nya wujud namun tiada dapat diuraikan dan dijelaskan. Ini adalah menerangkan keadaan Allah, yang sangat serba samar, tiada rupa, tiada bersuara, bukan lelaki bukan perempuan bukan waria, tiada terlihat, tiada bertempat, dijamah disentuh tiada dapat. Sebelum adanya dunia dan akherat, yang ada adalah Hidup Kita.
10. La – Lali eling wewatesane (Lupa dan Ingat adalah batasannya)
Untuk dapat selalu berada didalam jalan hayu/rahayu maka haruslah selalu eling/ingat akan sangkan paraning dumadi dan eling/ingat akan Yang Menitahkan/ Sumber Hidup. Selalu ingat akan tata laku setiap tindak tanduk yang dijalankannya agar selaras dengan Karsa Allah. Lali/lupa akan menjauhkan dari sangkan paraning dumadi dan menjerumuskan kealam kegelapan. Contoh lupa adalah bagaikan Begawan Wisrawa dalam menguraikan Sastra Jendra Hayuningrat kepada Dewi Sukesi. Tak tahan akan goda/ tak kuasa ngracut, mengendalikan nafsu-nafsu keempat saudara, maka sang Begawan kesengsem birahi kepada Dewi Sukesi yang harusnya menjadi menantunya.
11. Pa – Papan kang tanpa kiblat (Papan tak berkiblat)
Ini adalah menerangkan Alam Sejati, ya Kerajaan Allah yang tiada dapat diterangkan bagaimana dan dimana orientasinya, bagaikan papan yang tiada utara-selatan-barat-timur-atas-bawah.
12. Dha – Dhuwur wekasane endhek wiwitane (Tinggi/luhur pada akhirnya, rendah pada awalnya)
Untuk memperoleh tingkatan luhuring batin menjadi insan sempurna memang tidak dapat seketika, mesti diperoleh setapak-setapak dari bawah. Demikian pula dalam hal ilmu kasampurnan, dalam mencapai tataran ma’rifat tidaklah dapat langsung meloncat. Untuk bisa mengetahui dan memahami makna Ha, maka haruslah dicapai dari Nga. Sebelum mencapai sembah rasa, haruslah dilalui sembah raga dan sembah kalbu/ sembah jiwa terlebih dahulu. Pertama, adalah panembah raga/ kawula terhadap Roh Suci, kedua, adalah panembah Roh Suci kepada Guru Sejati, dan terakhir adalah panembah Guru Sejati/ Ingsun kepada Allah Yang Maha Agung ya Suksma Kawekas.
13. Ja – Jumbuhing kawula lan Gusti (Bersatunya antara hamba dan Tuan nya)
Bersatunya titah dan Yang Menitahkannya. Untuk mencapainya maka kesempurnaan hiduplah yang diupaya yaitu sesuai apa yang dimaksud dalam sahadat. Maka semasa hidup di mayapada/dunia, bersatunya/ sinkronisasi Roh Sejati, Ingsun yang jumeneng pribadi dan busana-busana haruslah terjaga. Bagaikan keris manjing dalam wrangkanya dan wrangka manjing didalam keris. Untuk dapat mencapai kesatuan antara kawula dan Gusti maka tuntunan seorang guru yaitu Guru Sejati menjadi dominan. Untuk memperoleh nya maka tidaklah mudah, haruslah dengan disiplin keras bagaikan kerasnya usaha seorang Bima menemukan Dewa Ruci, yaitu wujud Bima dalam ujud yang kecil (manusia telah menemukan AKU nya sendiri) dalam mencari tirta pawitra.
14. Ya – Yen rumangsa tanpa karsa (Kalau merasa tanpa kehendak)
Hanya dengan rila/rela, narima, sumarah/pasrah kepada Allah tanpa pamrih lain-lain, namun dorongan karena kasih sajalah yang akhirnya dapat menjadi perekat yang kuat antara asal dan tujuan, sini dan sana.
15. Ny - Nyata tanpa mata ngerti tanpa diwuruki (Melihat tanpa dengan mata, mengerti tanpa diajari)
Kalau anugerah Allah telah diterima, maka dapat melihat hal-hal yang kasat mata, karena mata batin telah *terbuka* Selain itu, kuasa-kuasa agung akan diberikan oleh Allah lewat Guru Sejatinya sendiri ya Suksma Sejatinya, sehingga kegaiban-kegaiban yang merupakan misteri kehidupan dapat dimengertinya dan diselaminya. Mendapatkan ilmu kasampurnan dari dalam sanubarinya, tanpa melalui perantaraan otak/akal.
16. Ma – Mati bisa bali (Mati bisa kembali)
Kasih Allah yang luar biasa selalu memberikan ampunan kepada setiap manusia yang *mati* terjatuh dalam dosa dan salah. Matinya raga atau badan wadag hanyalah matinya keempat anasir yang tadinya tiada, kembali ketiada. Namun roh yang sifatnya kekal tiada pernah mati, namun kembali ke Alam Sejati ya Kerajaan Allah yang tiada awal dan akhir. Namun, apabila selama hidupnya di mayapada tidak sesuai dengan Karsa Allah, melupakan Allah dan ajaran Guru Sejati, tiada dapat ngracut busana kamanungsan nya untuk tindakan-tindakan budi luhur, maka tidaklah dapat langsung kembali ke Alam Sejati, namun terperosok ke alam-alam yang tingkatannya lebih rendah sesuai dengan bobot kesalahannya, atau dititahkan kembali, yang kesemua itu untuk dapat memperbaiki kesalahan-kesalahannya.
17. Ga – Guru Sejati kang muruki (Guru Sejati yang mengajari)
Sumber segala sesuatu adalah Allah yang dipancarkan lewat Sang Guru Sejati/Ingsun/Rasul Sejati. Maka hanya kepadaNya lah tuntunan harusnya diperoleh. Petunjuk Guru Sejati hanya dapat didengar dan diterima apabila sudah dapat berhasil meracut busana kamanungsan nya. Disinilah akan tercapai guruku ya AKU, muridKU ya aku.
18. Ba – Bayu Sejati kang andalani (Dengan bantuan Bayu Sejati)
Daya kekuatan sejati yang merupakan bayangan daya kekuatan Allah lah yang mendorong *pencapaian* tingkat-tingkat yang lebih tinggi atau maksud-maksud spirituil yang berarti.
19. Tha – Thukul saka niat (Tumbuh/muncul dari niat)
Niat menuju kearah sangkan paraning dumadi yang didasari kesucian, tanpa kehendak dan keinginan ataupun pamrih keduniawian. Timbulnya niat suci karena dasarnya adalah cinta /kasih Illahi.
20. Nga – Ngracut busananing manungsa (Merajut/menjalin pakaian-pakaian ke-manusiaan-nya)
Busana kamanungsan adalah empat anasir, yang dimanifestasikan dalam wujud-wujud sedulur empat, serta lima sedulur lainnya. Kesembilan saudara tersebut harus dikuasai, diracut/dijalin dengan memahami kelebihan dan kekurangannya, agar tercapai *iklim* harmoni/balance dalam perjalanan manusia hidup di maya pada ini, yang pada akhirnya tercapailah kesempurnaan hidup.
Cepat Terindeks di Google
Menyambung postingan kemarin bahwa saya akan memposting tips-tips bagaimana agar blog kita lebih cepat terindeks di google. Tentunya tips-tips berikut tidaklah seratus persen menjamin bahwa blog kita akan lebih cepat terindeks, akan tetapi bolehlah untuk di coba dan sebenarnya ini sudah saya buktikan sendiri kebenarannya.
Seperti keterangan yang lalu, bahwa setelah kita mendaftar di google, blog kita tidaklah langsung terindeks pada mesin pencari google, akan tetapi bisa memakan waktu 3 sampai 4 minggu bahkan apabila bernasib kurang baik bisa sampai 8 minggu barulah blog kita terlisting pada mesin pencari nya. Nah agar tidak terlalu bosan menunggu, sedikit tips bagi sobat, silahkan coba dan buktikan.
Memperbaiki Pengaturan blog
Untuk langkah-langkah pengaturan (Setting) blog, secara lengkap sudah saya posting silahkan baca di sini !, akan tetapi karena postingan tersebut di buat sebelum ada layanan blogger berbahasa indonesia, maka settingannya berbahasa inggris. Tapi toh saya yakin bahwa sobat pasti faham dengan yang saya tulis.
Link ke blog dengan page rank tinggi
Salah satu cara agar blog kita lebih cepat terindeks di google adalah kita di link oleh blog yang mempunyai page rank yang tinggi, dan biasanya blog-blog tersebut adalah blog terkenal. Contoh blog Indonesia yang sangat terkenal adalah blog miliknya mas fatih syuhud yaitu http://fatihsyuhud.com, blognya kang Agus hery di http://edittag.blogspot.com, dan masih banyak lagi yang lainnya. Saran saya pasanglah terlebih dahulu link blog mereka pada halaman blog milik sobat, setelah itu mintalah agar blog sobat di linkback atau di link balik oleh mereka. Permintaan untuk di linkback bisa di ajukan pada buku tamu (shoutbox) atau bisa juga melalui komentar pada postingan atau jika ingin lebih pribadi kirim melalui email. Saya yakin mereka akan segera memasang link sobat pada blog mereka, atau jika dalam waktu tiga hari masih belum di linkback, ajukan kembali permintaan untuk dilinkback karena untuk blog-blog terkenal dalam sehari tidak hanya satu atau dua blog saja yang pasang link blog mereka, maka wajar saja apabila ada satu atau dua blog yang terlewatkan untuk di linkback.
Pasang tag meta
Salah satu cara agar blog kita lebih di lirik atau di kenali oleh mesin pencari miliknya om google adalah memasang tag meta di bagian header pada kode template blog. contoh tag meta untuk blogger seperti ini :
Yang harus diperhatikan adalah tulisan-tulisan yang tercetak merah. Tulisan-tulisan tersebut haruslah di sesuaikan dengan kondisi blog sobat.
Untuk deskripsi, silahkan isi dengan deskripsi blog sobat. contoh untuk blog milik saya adalah "Panduan praktis membuat blog di blogger.com. tips, trik, serta download software secara gratis".
Untuk kata kunci (keyword), silahkan isi dengan kata kunci yang berhubungan dengan blog sobat. contoh untuk blog ini adalah : blog tutorial, cara membuat blog, bikin blog, cara bikin blog, dan sebagainya. Jangan lupa untuk menyisipkan tanda koma untuk memisahkan antara keyword yang satu dengan keyword yang lainnya.
Untuk judul blog, silahkan isi dengan judul dari blog sobat.Contoh : untuk blog ini adalah Blog tutorial.
Bagi yang belum mengetahui dimanakah tag meta di simpan, jawabannya adalah di dalam kode header blog, atau jika masih bingung simpan saja di bawah kode
Sebenarnya masih ada beberapa tips yang bisa dilakukan, akan tetapi kayanya udah lemes nih ngetiknya, jadi dicukupkan sekian dulu deh, selamat mencoba dan mudah-mudahan blog sobat lebih cepat terindeks di google. Satu pertanyaan aja deh buat tambahan, sudahkah blog sobat terindeks di google? coba tuliskan alamat blog sobat pada search engine google di bawah postingan ini !
Update : di revisi tanggal 06 april 2008. BY KANG ROHMAN.COM
Selanjutnya, berdasarkan penelitian yang dilakukan International Educational Achievement (IEA) tahun 2000, kemampuan membaca siswa SD Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 39 negara yang diteliti atau terendah di ASEAN (Republika, 24/03/03). Selanjutnya, survei The Political and Economic Risk Country (PERC), sebuah lembaga konsultan di Singapura, pada akhir 2001 menempatkan Indonesia di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia yang diteliti mengenai minat baca.
Kondisi literer merupakan sebuah proses yang komprehensif dimana untuk mewujudkan kondisi ideal ini harus terjadi sinergitas antara masyarakat, pasar, media dan pemerintah. Generasi literer merupakan syarat mutlak sebagai momentum kebangkitan dari keterpurukan, kemiskinan dan kebodohan yang membelenggu selama ini. Menciptakan generasi literer berarti membangun jembatan untuk membentuk sebuah generasi kritis serta peduli dengan masalah-masalah sosial. Hal inilah yang belum dilakukan oleh bangsa ini. Tidak mengherankan pendidikan di Indonesia serta peningkatan kualitas bangsa melangkah tertatih-tertatih.
Permasalahan Minat Baca
Menurut data Education for All (EFA) Global Monitoring Report tahun 2005, Indonesia adalah negara ke-8 dengan populasi buta huruf terbesar di dunia, yakni sekitar 18,4 juta orang buta huruf di Indonesia. Jelas temuan ini harus diantisipasi sejak dini oleh segenap elemen bangsa. Bukan tidak mungkin buta aksara adalah fenomena gunung es. Yang terpantau hanya sebagian dari penduduk. Masih banyak penduduk terutama penduduk pedalaman, yang belum melek aksara. Bagaimana mungkin bisa membangun kesadaran kritis jika membaca saja tidak mampu ?
Primanto Nugroho pernah melakukan penelitian kualitatif mengenai minat baca. Hasil penelitian yang berjudul Memotret Misteri Minat Baca di Masyarakat ini dipresentasikan pada diskusi di Pusat Studi Asia Pasifik UGM pada 11 Februari 2000. Berdasarkan hasil riset ini, perkara minat baca bukanlah persoalan kalkulasi tinggi rendah. Minat baca merupakan kondisi yang variatif sesuai dengan lokalitas di tiap elemen penyusun gerak masyarakat. Variasi dan kebutuhan akan informasilah yang menentukan keberhasilan suatu bacaan. Menurut Primanto, minat baca masyarakat sangat tergantung sampai sejauh mana masyarakat menganggap urgensi sebuah informasi. Artinya, persepsi oranglah yang menentukan kualitas minat baca. Jika suatu informasi dianggap tidak penting maka masyarakat tidak akan berminat membacanya. Begitu juga sebaliknya. Sehingga, sehebat apapun gerakan populis yang dicanangkan pemerintah, entah itu kampanye gemar baca, perpustakaan keliling, subsidi buku, hibah buku, buku murah, deregulasi penerbitan buku dan sebagainya tanpa ada penyadaran pentingnya sebuah informasi, minat baca masyarakat akan tetap jongkok.
Namun jika dicermati lebih jauh, minat baca masyarakat perkotaan tidaklah seburuk yang dibicarakan orang. Hanya saja, minat baca itu tidak diimbangi dengan daya beli sehingga mengesankan budaya baca masyarakat, termasuk kaum urban, masih rendah. Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan Kompas di 10 kota besar di Indonesia, hampir dua pertiga responden mempunyai kebiasaan membaca, minimal seminggu sekali. Menggembirakannya lagi, hampir seperempat responden menyatakan punya kebiasaan membaca setiap hari. Sayangnya, tingginya minat baca yang terekam dari hasil jajak pendapat ini tidak dibarengi dengan tingkat konsumsi buku. Persentase responden untuk membeli buku ternyata tidak setinggi minat bacanya. Sebagian besar responden menyatakan hanya membeli satu dua buku setiap bulannya. Dapat disimpulkan, rendahnya daya beli ini linear dengan tingkat perekonomian dan budaya masyarakat kita. Tuntutan ekonomi dan biaya hidup yang makin tinggi bisa jadi implikasi logis dari rendahnya daya beli masyarakat ini. Apalagi kultur masyarakat kita lebih didominasi oleh budaya lisan ketimbang budaya baca.
Budaya lisan (oral society) sudah begitu mendarah daging di hampir setiap stratifikasi sosial. Proses transfer budaya lebih banyak dilakukan lewat ke mulut. Mendongeng bisa menjadi salah satu contoh. Oral society ini semakin menguat dengan hadirnya media radio dan televisi. Jelas, dengan kondisi ini menciptakan budaya literer secara ajeg akan makin sulit terwujud. Terjadi lompatan fase dimana fase bercerita (praliterer) tidak diselingi dengan fase membaca (literer) tetapi langsung melompat ke budaya menonton (paskaliterer). Tidak heran, masyarakat kita, anak-anak termasuk orang tua, merasa asing dengan buku. Mereka tentu lebih hafal nama-nama artis sinetron dan penyanyi di televisi daripada nama penulis buku. Ditambah lagi, pada dasarnya daya serap melalui pendengaran (auditif) lebih tinggi daripada daya baca.
Selain itu, faktor lain yang menghambat interaksi manusia dengan buku adalah waktu kunjungan perpustakaan. Hampir seluruh perpustakaan, termasuk perpustakaan non-sekolah, waktu kunjungannya bersamaan dengan jam kerja. Jarang sekali ada perpustakaan yang buka sampai malam hari. Padahal, pengunjung perpustakaan selama ini didominasi oleh pelajar, mahasiswa atau dosen. Akibatnya, tidak ada sinkronisasi antara jam sekolah atau kuliah dengan waktu kunjungan. Mahasiswa dan pelajar hanya punya waktu berkunjung ketika hari libur. Pola ini menjadikan ke perpustakaan bukanlah kegiatan prioritas tetapi lebih pada kegiatan untuk mengisi waktu libur. Jika kebiasaan ini terakumulasi, iklim akademik yang ideal untuk menghasilkan pemikir-pemikir kritis akan jauh dari harapan. Seyogyanya, perpustakaan menjadi rumah akademik kedua setelah sekolah atau kampus.
Permasalahan minat baca tidaklah persoalan tunggal. Kenyataan diatas hanyalah sebagian kecil dari permasalahan global yang ada. Jika ditambah dengan minimnya akses serta citra perpustakaan yang konservatif dan konvensional, maka membangun budaya literer bukanlah persoalan gampang. Selama ini, perpustakaan lekat dengan citra gedung tua, kusam, rak-rak penuh buku usang, dan pelayanan menyebalkan. Jika Image yang terkonstruksi sudah tidak baik, perpustakaan tak ubahnya seperti museum tua yang semakin sepi peminat. Perpustakaan belum menjadi tempat bersahabat untuk remaja yang lahir di tengah himpitan modernisasi.
Revolusi Perpustakaan
Perpustakaan merupakan salah satu kunci untuk membangun kesadaran literer, disamping lembaga pendidikan formal tentunya. Sayang, dari beberapa kali kunjungan ke Perpustakaan Daerah, susah sekali menemukan buku baru yang sangat berkualitas. Bahkan buku-buku usang berkualitas pun jumlahnya sangat minim. Meskipun secara kuantitas jumlahnya tidak bisa dikatakan sedikit tetapi dari segi pembaharuan bisa dikatakan tidak berjalan sama sekali. Padahal kita tahu perkembangan dan peredaran buku-buku baru selalu bertambah dan bervariatif dari segi content-nya. Artinya semakin banyak buku yang beredar tentu semakin banyak pula khasanah pengetahuan dan informasinya. Meskipun meyedot anggaran yang tinggi, karena harga buku juga mahal, pengadaan buku baru adalah hal utama yang harus dilakukan.
Tidak hanya dalam pengadaan buku-buku baru, pengelola perpustakaan juga bisa melakukan terobosan revolusioner dengan menyediakan peralatan digital audio-visual. Bioskop mini misalnya. Langkah ini sudah dilakukan oleh Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Semarang. Setiap pengunjung bisa dimanjakan dengan layanan audio-visual mengenai berbagai ilmu pengetahuan dan fenomena alam, antara lain tsunami, keajaiban alam, gunung berapi, gempa bumi, ruang angkasa, dan sejarah Kota Semarang. (Kompas Jawa Tengah, 19/05/07).
Menurut Kepala Kantor Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Semarang Bimbong Yogatama, perpustakaan tidak lagi sebagai gudang buku yang terpajang rapi menurut golongan buku atau jenis-jenis buku, tetapi lebih sebagai gudang informasi yang terus berkembang. Perkembangan yang dilakukan tidak hanya sebatas dengan penambahan koleksi buku tetapi juga menghadirkan teknologi terbaru. Selain memperbaharui koleksi film, Perpustakaan Daerah Kota Semarang juga menyediakan permainan komputer interaktif bernuansa pendidikan.
Hal yang senada juga dilakukan oleh Perpustakaan Nasional RI. Selain menggunakan sistem tertutup, dimana masyarakat hanya boleh membaca di tempat atau memfoto copy buku yang dibutuhkan, kini Perpustakaan Nasional juga menggunakan sistem terbuka (Kompas, 26/05/07). Selain itu, Perpustakaan Nasional juga menghadirkan mobil perpustakaan elektronik keliling serta ruang multimedia. Menyediakan layanan perpustakaan kelilling juga sudah dilakukan oleh Perpustakaan Kota Surabaya serta Perpustakaan dan Arsip Daerah Semarang. Disamping untuk memperkenalkan eksistensi perpustakaan, mobil perpustakaan keliling juga bisa menjadi media kampanye untuk penyadaran minat baca.
Terobosan lain yang bisa dihadirkan oleh pengelola perpustakaan adalah menyediakan digital library, hot spot atau layanan internet kepada pengunjungnya. Gebrakan ini sudah dilakukan oleh praktisi perbukuan yang berkolaborasi dengan pemerintah dengan mengelola perpustakaan yang berlayanan E-Mail : Library@Senayan.com dengan alamat yang bertempat di gedung Departemen Pendidikan Nasional Jl. Jendral Sudirman, Jakarta. Perpustakaan ini memberi layanan lengkap, mulai dari buku-buku berbahasa asing dan peminjaman materi audio visual. Kemajuan teknologi tidak boleh ditanggapi dengan acuh oleh pengelola perpustakaan tetapi harus diimbangi dengan kreativitas. Dengan begitu pengunjung tinggal membawa laptop dan bisa mengerjakan tugas di perpustakaan. Di beberapa pusat perbelanjaan kehadiran hot spot mendapat sambutan yang cukup antusias oleh masyarakat.
Apresiasi tinggi juga layak disematkan kepada jaringan perpustakaan pemerintah DKI Jakarta. Perpustakaan Umum Daerah Soemantri Bojonegoro di bilangan Kuningan Jakarta melayani masyarakat sampai jam delapan malam. Tentunya, hal ini menjadi langkah positif karena masyarakat akan punya waktu yang relatif nyaman untuk pergi ke perpusakaan. Hebatnya lagi, mereka melayani masyarakat setiap hari tanpa mengenal hari libur. Kelihatannya, perpustakaan daerah lain harus mengikuti gebrakan ini.
Langkah lain yang bisa diambil oleh pengelola perpustakaan adalah mengadakan talk show dan bedah buku untuk momentum tertentu. Tema yang diangkat tentunya tidak jauh dengan minat baca. Untuk menarik minat pengunjung, perpustakaan bisa mengundang tokoh atau artis yang peduli dengan minat baca, misalnya Tantowi Yahya atau Katon Bagaskara, Duta Baca Nasional. Sedangkan bedah buku bisa dilakukan secara continue mengingat kegiatan ini tidak membutuhkan biaya yang begitu besar. Buku-buku baru dengan topik yang lagi hot bisa dijadikan tema.
Sedikit banyak, kegiatan ini akan mengundang animo masyarakat untuk datang ke perpustakaan. Apalagi jika acara ini dilakukan secara berkesinambungan. Masyarakat akan benar merasakan kehadiran perpustakaan secara nyata. Kegiatan ini juga bisa mengubah citra perpustakaan yang sudah sedemikian mengakar di masyarakat. Bahwa perpustakaan bukanlah tempat yang menyeramkan tetapi menyenangkan yang tidak kalah dengan pusat perbelanjaan. Pengelola perpustakaan bisa bekerja sama dengan penerbit buku untuk mengadakan acara seperti ini. Diakhir acara bisa dilakukan kuis atau door prize dengan memberikan buku sebagai hadiahnya. Kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah diskusi-diskusi dengan tema-tema menarik. Tentunya, pengelola harus memperhatikan segmen yang ingin disasar. Apakah anak-anak, remaja, mahasiswa atau kaum akademisi sudah mampu untuk meningkatkan minat baca ?
Persoalan lain yang tidak kalah pentingnya, apakah selama ini perpustakaan, baik itu perpustakaan sekolah atau perpustakaan umum, mampu menjawab kebutuhan buku pengunjungnya ? Frank dalam buku Orangtua, Anak, dan Buku menulis, anak-anak umumnya lebih senang membaca buku yang membuatnya bahagia (Josette Frank, 1984). Untuk itu, untuk menumbuh kembangkan minat baca pada anak-anak, pengelola perpustakaan harus tahu buku apa yang paling diinginkan pengunjungnya. Menumbuhkan minat baca sejak dini adalah membuat anak-anak nyaman dengan huruf dan tulisan. Pengelola perpustakaan hendaknya menyediakan buku yang diminati atau sesuai dengan perkembangan anak-anak dan remaja, asal isinya mendidik. Jika langkah ini sudah tidak dilakukan sejak dini, kita tidak mungkin memaksa seseorang membaca buku ketika dewasa kelak.
Harus disadari benar bahwa perpustakaan adalah media untuk menciptakan dan meningkatkan minat baca, disamping tentunya menumbuhkan apresiasi budaya, seni dan prestasi. Sehingga tidak mungkin pustakawan bisa bekerja sendiri untuk mencapai cita-cita. Harus ada sinergi dengan pemerintah, swasta (penerbit) maupun media massa. Dengan penerbit, perpustakaan bisa mengadakan kerja sama dengan menghadirkan buku-buku terbaru dengan kompensasi berupa pemasangan iklan di sekitar perpustakaan. Sedangkan media massa bisa mengkampanyekan gerakan gemar baca secara intensif mengingat televisi, radio dan koran atau majalah merupakan media yang cukup persuasif.
Meskipun iklan layanan masyarakat mengenai minat baca sudah dikampanyekan secara massif toh minat baca masyarakat belum menunjukkan kemajuan signifikan. Harus ada terobosan lain yang dilakukan pemerintah. Misalnya, menggiatkan lomba-lomba berbasis literasi lomba seperti lomba meresensi buku, menulis artikel atau esai, menulis karya tulis mendongeng, dan membaca cepat untuk anak SD. Untuk teknis pelaksanaan pemerintah bisa bekerja sama dengan perpustakaan di daerah-daerah. Kehadiran lomba ini, dengan hadiah yang menarik paling tidak bisa sedikit ‘memaksa’ masyarakat untuk membaca. Namun, mesti diingat panitia wajib mengklasifikasikan berdasarkan usia atau pekerjaan. Misalnya pelajar harus dibedakan dengan mahasiswa dan umum. Harus ada juga kualifikasi tema yang berbeda untuk setiap kategori.
Pemerintah juga wajib untuk mengalokasikan dana khusus untuk pembelian buku-buku baru. Dana yang bisa ditarik dari masyarakat paling hanya dari biaya pendaftaran atau perpanjangan kartu, itupun jumlahnya tidak seberapa. Langkah ini mutlak harus dilaksanakan mengingat salah satu penyebab minimnya antusiasme untuk datang ke perpustakaan adalah minimnya koleksi buku baru yang bisa dibaca. Untuk menjadi generasi yang cerdas memang membutuhkan dana yang cukup besar, tapi komitmen pemerintah untuk membiaya perpustakaan juga menarik untuk ditunggu. Pemerintah tidak boleh terpaku hanya untuk pada pengadaan buku paket tetapi juga pengadaan buku-buku ilmiah populer. Buku-buku jenis ini pastinya akan lebih diminati oleh anak-anak jika dibandingkan dengan buku-buku pelajaran yang menggunakan bahasa kaku dan formal. Untuk menggugah keinginan anak-anak pemerintah juga bisa menggunakan Koran Mingguan Kerakyatan (KOMIK) sebagai media untuk menyampaikan informasi. Media visual tentunya akan lebih menarik dibandingkan dengan bukunya yang isinya tulisan melulu.
Hal yang tidak kalah pentingnya adalah pendirian komunitas-komunitas buku atau buku bacaan yang bersifat nirlaba. Contohnya, Kedai Sinau (Malang), oasebaca (Semarang), Kombet (Bogor), Pasar Buku (Jakarta), Yayasan Alang-Alang Jakarta, Ibu Kembar dan Pendidikan Anak Miskin Jakarta serta Taman Bacaan milik artis Yessy Gusman. Kehadiran komunitas dan taman bacaan ini patut mendapat apresiasi positif dan dukungan dari semua pihak. Perpustakaan juga bisa menggagas terbentuknya komunitas buku seperti ini. Misalnya, dengan memberikan ruangan atau tempat khusus buat acara diskusi-diskusi terbatas. Ketersediaan ruangan untuk diskusi bisa menjadi penegas eksistensi dan ruang berekspresi komunitas seperti ini. Apalagi, pada umumnya komunitas ini punya rencana strategik jangka panjang sehingga eksistensi mereka wajib didukung terutama dari segi pendanaan.
Meskipun terengah-engah, semangat untuk menumbuh kembangkan minat baca masyarakat harus dijaga. Strategi-strategi revolusioner harus selalu dihadirkan agar persoalan minat baca, seperti yang dikatakan Fuad Hassan, sebagai ‘lagu lama’. Mochtar Lubis pernah menyatakan bahwa buku adalah senjata yang kukuh dan berdaya hebat untuk melakukan serangan maupun pertahanan terhadap perubahan sosial, termasuk perubahan dalam nilai-nilai manusia dan kemasyarakatan. Jika kesadaran literer ini tidak juga bisa digugah, kelihatannya kemiskinan dan kebodohan tidak akan beranjak dari bangsa ini.
Penulis: Harrys Pratama Teguh
Tujuan dan Peran Perpustakaan
Menurut UU Perpustakaan pada Bab I pasal 1 menyatakan Perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara interaksi pengetahuan.
Dalam arti tradisional, perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.
Tetapi, dengan koleksi dan penemuan media baru selain buku untuk menyimpan informasi, banyak perpustakaan kini juga merupakan tempat penimpanan dan/atau akses ke map, cetak atau hasil seni lainnya, mikrofilm, mikrofiche, tape audio, CD, LP, tape video dan DVD, dan menyediakan fasilitas umum untuk mengakses gudang data CD-ROM dan internet.
Perpustakaan dapat juga diartikan sebagai kumpulan informasi yang bersifat ilmu pengetahuan, hiburan, rekreasi, dan ibadah yang merupakan kebutuhan hakiki manusia.
Oleh karena itu perpustakaan modern telah didefinisikan kembali sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam format apa pun, apakah informasi itu disimpan dalam gedung perpustakaan tersebut atau tidak. Dalam perpustakaan modern ini selain kumpulan buku tercetak, sebagian buku dan koleksinya ada dalam perpustakaan digital (dalam bentuk data yang bisa diakses lewat jaringan komputer).
Peran Perpustakaan
Perpustakaan merupakan upaya untuk memelihara dan meningkattkan efisiensi dan efektifitas proses belajar-mengajar. Perpustakaan yang terorganisir secara baik dan sisitematis, secara langsung atau pun tidak langsung dapat memberikan kemudahan bagi proses belajar mengajar di sekolah tempat perpustakaan tersebut berada. Hal ini, trekait dengan kemajuan bidang pendidikan dan dengan adanya perbaikan metode belajar-mengajar yang dirasakan tidak bisa dipisahkan dari masalah penyediaan fasilitas dan sarana pendidikan.[1]
Tujuan perpustakaan
Tujuan perpustakaan adalah untuk membantu masyarakat dalam segala umur dengan memberikan kesempatan dengan dorongan melelui jasa pelayanan perpustakaan agar mereka: a. Dapat mendidik dirinya sendiri secara berkesimbungan; b. Dapat tanggap dalam kemajuan pada berbagai lapangan ilmu pengetahuan, kehidupan sosial dan politik; c. Dapat memelihara kemerdekaan berfikir yang konstruktif untuk menjadi anggota keluarga dan masyarakat yang lebih baik; d. Dapat mengembangkan kemampuan berfikir kreatif, membina rohani dan dapat menggunakan kemempuannya untuk dapat menghargai hasil seni dan budaya manusia; e. Dapat meningkatkan tarap kehidupan seharihari dan lapangan pekerjaannya; f. Dapat menjadi warga negara yang baik dan dapat berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan nasional dan dalam membina saling pengertian antar bangsa; g. Dapat menggunakan waktu senggang dengan baik yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan sosial.[2]
FUNGSI DAN PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH
I. Pendahuluan
Apabila kita memasuki suatu perpustakaan, yang kita lihat pertama adalah jajaran buku dan bahan pustaka lain yang diatur secara rapih di rak buku,rak majalah, maupun rak-rak bahan pustaka lain.
Bahan-bahan pustaka tersebut diatur menurut suatu sistem tertentu sehingga memudahkan bagi pengunjung untuk menemukan kembali bahan pustaka yang diperlukan.
Pertanyaan yang timbul pada diri kita adala apakah setiap jajaran buku dan bahan pustaka lain yang diatur secara sistematis boleh disebut perpustakaan? Atau dengan kata lain, apakah sebenarnya perpustakaan itu?
Banyak batasan atau pengertian tentang perpustakaan yang disampaikan oleh para pakar di bidang perpustakaan. Anda dapat mempelajari beberapa pengertian perpustakaan seperti di bawah ini :
• Menurut kamus “ The Oxford English Dictionary”,kata “library” atau perpustakaan mulai digunakan dalam bahasa Inggris tahun 1374, yang berarti sebagai “ suatu tempat buku-buku diatur untuk dibaca, dipelajari atau dipakai sebagai bahan rujukan”.
• Pengertian perpustakaan ini pada abad ke-19 berkembang menjadi “ suatu gedung,ruangan atau sejumlah ruangan yang berisi koleksi buku yanng dipelihara dengan baik,dapat digunakan oleh masyarakat atau golongan masyarakat tertentu.
• Dalam perkembangannya lebih lanjut, pengertian perpustakaan memperoleh penghargaan yang tinggi, bukan sekadar suatu gedung yang berisi koleksi buku yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
• Pada tahun 1970, The American Library Association menggunakan istilah perpustakaan untuk suatu pengertian yang luas yaitu termasuk pengertian “ pusat media, pusat belajar, pusat sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumenstasi dan pusat rujukan “.
• Dalam pengertiannya yang mutakhir, seperti yang tercantum dalam Keputusan Presiden RI nomor 11, disebutkan bahwa “ perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional.
Pengertian perpustakaan yang mutakhir ini telah mengarahkan kepada tiga hal yang mendasar sekaligus, yaitu hakikat perpustakaan sebagai salah satu sarana pelestarian bahan pustakan; fungsi perpustakaan sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan; serta tujuan perpustakaan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pembangunan nasional.
Adapun pengertian perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang berada dalam suatu sekolah yang kedudukan dan tanggunng jawabnya kepada kepala sekolah; yang melayani sivitas akademka sekolah yang bersangkutan.
II. FUNGSI PERPUSTAKAAN
Pada pembahasan sebelumnya sudah dijelaskan bahwa perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestarian bahan pustaka. Bahan pustaka yang dimaksud merupakan hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional.
Dalam pengertian perpustakaan yang mutakhir ini juga tersirat fungsi perpustakaan pada umunya, yaitu sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan. Namun secara khusus,setiap jenis perpustakaan mempunyai fungsi masing-masing ,yang berbeda antara yang satu dan lainnya. Fungsi Perpustakaan Nasional RI berbeda dengan fungsi Perpustakaan Umum,fungsi Perpustakan Daerah berbeda dengan Perpustakaan Sekolah,fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi berbeda dengan fungsi Perpustakaan Khusus/Dinas. Karenanya berbeda-beda, maka masing-msing perpustakaan memiliki tujuan yang berbeda-beda pula yang harus dicapai oleh masing-masing jenis perpustakaan.
Marilah sekarang kita tinjau satu-persatu fungsi-fungsi perpustakaan menurut jenisnya.
Perpustakaan Nasional RI, menurut Keputusan Presiden nomor 11 tahun 1989,pasal 3 ,menyelenggarakan fungsi :
a.membantu Presiden dalam rangka merumuskan kebijaksanaan mengenai pengmbangan,pembinaan dan pendayagunaan perpustakaan.
b. melaksanakan pengembangan tenaga perpustakaan dan kerjadsama antara badan/lembaga termsuk perpustakaan didalam maupun diluar negeri
c. melaksanakan pembinaan atas semua ejnis perpustakaan di instansi/lembaga pemerintah maupun swasta yang ada dipusat ataupun didaerah
d. melaksanakan pengumpulan,penyimpanan, dan pengolahan bahan pustaka dari dalam dan luar negeri
e. melaksanakan jasa perpustakaan, perawatan danpelestarian bahan pustaka
f. melaksanakan penyusunan naskah bibliografi nasional dan katalog induk nasional
g. malaksanakan penyusunan bahan rujukan berupa indeks,bibliografi,subyek,abstrak dan penyususnan perangkat lumak bibiliografi.
h. melaksanakan jasa koleksi rujukan dan naskah
j. melaksanakan tugas lain yang ditetapkan oleh Presiden
1. Fungsi Perpustakaan Daerah
Disamping,Perpustakaan Daerah yang merupakan suatu organaisasi dilingkungan Perpustakaan Nasional RI yang berada di daerah , menurut Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI nomor 001/Org/9/1990, tentang Organisasi dan Tata Kerja Perpustakaan Nasional RI, mempunyai fungsi :
a. mempersiapkan bahan perumusan kebijaksanaan pembinaan dan pengembangan perustakaan di daerah.
b. melaksanakan pembinaan dan pengembangan pada semua jenis perpustakaan di daerah
c. melaksanakan pengeumpulan, penyimpanan, dan pengolahan bahan pustaka
d. melaksanakan jasa perpustakaan, perawatan dan pelestarian bahan pustaka
e. melaksanakan penyususnan dan penerbitan bibliobgrafi daerah dan katalog induk daerah
f. melaksanakan penyususnan bahan rujukan berupa indeks,bibliografi,subyek, abstrak dan direktori
g. melaksanakan jasa informasi dan rujukan (referensi)
h. melaksanakan kerja sama antar perpustakaan di daerah
i. melaksanakan koordinasi dan evaluasi kegiatan perpustakaan di daerah
j. melaksanakan urusan ketatausahaan
2. Fungsi Perpustakaan Umum dan Keliling
Perpustakaan Umum baik yang berada di Daerah Tingkat II (Ibukota Kabupaten/Kotamadya), di ibukota kecamatan maupun yang berada di desa, menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri nomor 9 tahun 1988 dan Instruksi Menteri Dalam Negeri nomor 21 tahun 1988, mempunyai fungsi :
a. menghimpun dan mengolah bahan pustaka dan informasi
b. memelihara danmelestarikan bahan pustaka dan informasi
c. mengatur dan mendayagunakan bahan pustaka dan informsi, sebagai pusat kegiatan belajar, pelayanan informasi, penelitian dan menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca bagi seluruh lapisan masyarakat
Perpustakaan Keliling berfungsi sebagai perpustakaan umum yang melayani kebutuhan informasi masyarakat yang tidak terjangkau oleh pelayanan perpustakaan umum. Pada hakikatnya fungsi Perpustakaan Keliling sama dengan Perpustakaan Umum . Perpustakaan Keliling merupakan kepanjangan layanan Peprustakaan Umum.
3. Fungsi Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan Sekolah menurut Keputusan Menteri Pendidiknan dan Kebudayaan nomor 0103/O/1981, tanggal 11 Maret 1981, mempunyai fungsi sebagai :
a. Pusat kegiatan belajar-mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah
b. Pusat Penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan imajinasinya.
c. Pusat membaca buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang (buku-buku hiburan)
Semua fungsi tersebut akan tergambar dalam koleksi pepustakaan bersangkutan.
III. ASPEK-ASPEK PEMBINAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH
1. Aspek Status, Ogranisasi dan Manajemen
Sampai saar ini status beberap jenis perpustakaan ,seperti perpustakaan khusus,perpustakaan sekolah, perpustakaan perpguruan tinggi dan lain-lain, belum jelas, khususnya tentang eselonisasinya. Hal ini mengakibatkan tidak jelas pula aspek-aspek lainnya, misalnya berapa luas gedung/ruangannya, berapa banyak pustakawannya, berapa banyak koleksinya dan lain-lain. Oleh karena itu status beberapa jenis perpustakaan masih menjadi masalah yang perlu diperjuangkan. Yang statusnya telah jelas adalah Perpustakaan Nasional RI (eselon I), Perpustakaan Daerah (eselon II) dan Perpustakaan Umum Dati II (eselon IV).
Karena status masih belum jelas maka organisasinya juga menjadi masalah sehingga organisasi perpustkaan dalam Undang-undang Perpustakaan yang akan datang dapat disusun meliputi:
1. Kepala Perpustakaan (unsur pimpinan)
2. Petugas tata usaha perpustakaan ( unusur pembantu pimpinan)
3. Unsur pelaksana yang terdiri atas:
a) Petugas pengadaan/pengolahan baha pustaka
b) Petugas pelayanan (sirkulasi dan referensi)
c) Petugas penyuluhan/pemasyarakatan
d) Petugas penelitian dan pengembangan
Manajemen perpustakaan fungsi kegiatannya meliputi perencanaan,pengorganisasian,penggerakan , dan pengawasan (POAC= Planning, Organization,Actuating dan Controlling)
Dalam perencanaan kepala perpustakaan dapat menggungakan prinsip-prinsip Manajemen Berdasarkan Sasaran (MBS atau Mangement By Objectives (MBO).
2. Aspek Ketenagaan
Keberhasilan suatu perpustakaan diukur berdasarkan tinggi rendahnya kemempuan perpustakaan tersebut dalam melaksanakan fungsinya sebagai pusat kegiatan belajar mandiri serta pusat pelayanan informasi, penelitian dan rekreasi masyarakat sekelilingnya. Untuk itu sebuah perpustakaan dari segi fisiknya memerlukan pembinaan yang tepat, yang memperhatikan perpaduan aspek lokasi gedung ruangan dan koleksi bahan pustaka agar serasi, selaras dan seimbang dengan baik. Tidak boleh terjadi alur kerja terhambat karena masalah ruang. Ini berarti bahwa petugas perpustakaan harus dapat mengatur ruang sedemikian rupa sesuai dengan kondisi yang ada. Hal ini teruta
IV.PENUTUP
Perpustakaan Sekolah merupakan unit kerja dan sebagai perangkat mutlak (complement) dari sekolah yang bersangkutan. Dengan tujuan menyediakan koleksi pustakan untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar. Dikatakan juga bahawa perpustakaan tersebut sebagai “jantungnya” pelaksanaan pendidikan pada lembaga itu.
Sedangkan fungsi utamanya yaitu sebagai pusat sumber belajar,pusat sumber informasi dan pusat bacaan rekreasi dan pengisi waktu senggang. Untuk selanjutnya perpustakaan itu sebagai tempat membina minat dan bakat siswa, menuju belajar sepanjang hayat (Long Life Education)
Daftar Pustaka
MUJITO, Pembinaan Minat Baca, Jakarta : Universitas Terbuka,1993
MARTOATMOJO,Karmidi. Manajemen Perpustakaan Khusus. Jakarta: Universitas Terbuka, 1997
----------------------------------. Pelayanan Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka, 1993
SULISTYO,Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan: Universitas Terbuka, 1993
Konsep teknologi pendidikan mencakup dua aspek, aspek teoretik dan aspek praktek. Pemahaman terh artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adap aspek teoretik dan aspek praktek teknologi pendidikan memerlukan konstruksi pengetahuan secara berkelanjutan melalui kegiatan melakukan penelitian dan merefleksikan kegiatan praktek artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dinyatakan dalam istilah “studi”. Artinya dalam pengertian studi ini tercakup kegiatan-kegiatan pengumpulan informasi dan analisis di luar konsepsi penelitian tradisional. Konsep studi ini dimaksudkan untuk memasukkan baik penelitian kuantitatif maupun penelitian kualitatif serta bentuk disciplined inquiry lain, seperti: pengembangan teori, analisis filsafati, investigasi historis, projek-projek pengembangan, analisis kegagalan, analisis sistem, dan evaluasi. Penelitian secara tradisional telah menghasilkan ide-ide atau gagasan-gagasan baru dan proses-proses evaluatif artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang telah membantu memperbaiki praktek. Penelitian dapat dilakukan berdasarkan berbagai jenis konstruk metodologi begitu juga berdasarkan beberapa konstruk teoretik.
Penelitian dalam teknologi pendidikan telah berkembang dari upaya untuk “membuktikan” bahwa konstruk-konstruk media dan teknologi merupakan piranti belajar artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang efektif menuju kep artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada penyelidikan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang diciptakan untuk mendeskripsikan dan merinci pelaksanaan proses-proses artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang sesuai serta teknologi-teknologi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dapat dimanfaatkan untuk mempelajari masalah belajar. Dalam penelian teknologi pendidikan terbaru penting artinya menggunakan lingkungan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang otentik serta memperhatikan suara para pelaku praktek teknologi pembelajaran dan suara para peneliti. Melekat dalam konsep penelitian artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adalah prosesnya artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang terjadi secara berulang-ulang. Penelitian teknologi pendidikan berupaya memecahkan masalah melalaui menyelidiki solusi-solusintya. Usaha tersebut mengarah p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada praktek baru, masalah baru, dan pertanyaan baru. Tentu saja ide tentang praktek artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang reflektif dan penyelidikan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dilandasi dengan lingkungan otentik merupakan perspektif artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang bernilai dalam penelitian. Pelaksana artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang reflektif memperhatikan masalah-masalah artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada dalam lingkungannya (misalnya masalah belajar p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada siswa-siswanya) dan berupaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara mengubah praktek artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dilandasi dengan hasil penelitian maupun pengalaman profesional. Refleksi dalam proses ini mengarah p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada perubahan-perubahan dalam solusi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan upaya lebih jauh untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah dalam lingkungan. Semuanya ini merupakan proses praktek/refleksi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang berulang artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang dapat menuju p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada perbaikan praktek.
Ruang masalah penyelidikan baru kerapkali ditentukan oleh membanjirnya teknologi-teknologi baru dalam praktek-praktek pendidikan. Sejarah teknologi pembelajaran telah mencatat banyak program-program pendidikan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang diprakarsai untuk merespon teknologi baru untuk menyelidiki rancangan, pengembangan, pemanfaatan dan pengelolaannya artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang terbaik. Akan tetapi, akhir-akhir ini program-program penyelidikan dalam teknologi pendidikan telah dipengaruhi oleh pertumbuhan dan perubahan dalam posisi teoretik utama dalam teori belajar, pengelolaan informasi dan bidang-bidang lain artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang berhubungan. Sebagai contoh, pandangan teoretik teori-teori kognitif dan konstruktivistik telah mengubah penekanan dalam bidang tersebut dari mengajar ke belajar. Perhatian kearah perspektif, preferensi pebelajar dan kepemilikan dalam proses pembelajaran telah berkembang. Perubahan teoretik ini telah mengubah secara dramatik orientasi dalam bidang ini dari suatu bidang studi artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang digerakkan oleh rancangan pembelajaran artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang akan disampaikan dalam berbagai bentuk format (teknologi atau strategi) menuju kep artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada suatu bidang artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang ingin menciptakan lingkungan belajar dimana pebelajar dapat melakukan eksplorasi – sering dibantu sistem pendukung elektronik – agar bisa sampai p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada suatu pemahaman artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang bermakna. Penekanan dalam penelitian telah berubah kearah mengamati partisipasi aktif pebelajar dan pembangunan jalan mereka sendiri ke arah belajar. Singkat kata, perhatian bergerak meninggalkan rancangan rutin pembelajaran artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang telah ditetapkan lebih dahulu menuju kep artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada perancangan lingkungan untk memudahkan belajar.
Prof. Dr. I Wayan Ardhana, MA - Guru Besar Teknologi Pendidikan UM
Artikel ini disalin dari : http://blog.tp.ac.id/fungsi-penelitian-dalam-teknologi-pendidikan#ixzz1oDbaXRG5
Pengaruh Minat Baca Dan Ketersedian Sumber Belajar Terhadap Prestasi Belajar Pelajaran Ekonomi
ABSTRAKNursamola, Awalina Afri. 2010. Pengaruh Minat Baca Dan Ketersedian Sumber Belajar Terh artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adap Prestasi Belajar Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas X SMAN 5. Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I ): Dr. Hj. Sri Umi Mintarti W., S.E.A.k, M.P, Pembimbing (II) : Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.Ec.
Pesatnya perkembangan jaman artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang semakin modern menuntut artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adanya sumber daya manusia artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang berkualitas tinggi. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan. Maka pemerintahan Indonesia p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada saat ini menitik beratkan p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada pembangunan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang diarahkan kep artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada pendidikan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang menunjang kehidupan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang masa mendatang. Untuk mengh artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adapi era globalisasi maka sumber daya manusia artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang berkualitas sangatlah penting. Oleh karena itu pentingnya dunia pendidikan dalam era globalisasi perlu diperhatikan agar lebih memacu mereka untuk belajar. Selain itu pendidikan merupakan sarana untuk mewujudkan tujuan nasional sebagaimana artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang tertuang dalam UUD 1945 ( artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang sudah diamandemen) pasal 31 ayat 4 artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang berbunyi “negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari pendapatan daerah untuk memenuhi kebituhan penyelenggaraan nasional”.
Penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkankondisi minat baca siswa kelas X p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada pelajaran ekonomi di SMA Negeri 5 Malang. Mengungkapkan kondisi ketersediaan sumber belajar kelas X p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada pelajaran ekonomi di SMA Negeri 5 Malang. Mengungkapkan kondisi prestasi belajar kelas X p artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada pelajaran ekonomi di SMA Negeri 5 Malang dan menganalisis pengaruh antara minat baca dengan ketersediaan sumber belajar terh artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adap prestasi belajar pelajaran ekonomi siswa kelas X SMA Negeri 5 Malang.
Dari hasil pembahasan artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa secara parsial, artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada pengaruh minat baca terh artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adap prestasi belajar siswa di SMAN 5 Malang. karena menunjukan t hitung = 9,115 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 < , (5%), hal ini berarti bahwa variabel minat baca mempunyai pengaruh artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang signifikan terh artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adap prestasi belajar belajar. Secara parsial, artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada pengaruh ketersediaan sumber belajar terh artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adap prestasi belajar siswa SMAN 5 Malang. karena t hitung = 4, 974. dengan tingkat signifikansi yaitu sebesar 0,000 < , (5%). Dengan ini menunjukan bahwa artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada pengaruh artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id yang signifikan terh artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adap prestasi belajar. Secara simultan, artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada pengaruh minat baca dan ketersediaan sumber belajar terh artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adap prestasi belajar siswa. Karena diperoleh nilai Fhitung sebesar 103,416 dan F tabel 3,104 dengan signifikansi 0,000, sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai signifikansi F lebih kecil dari (0,05). Berarti artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id ada pengaruh minat baca dan ketersediaan sumber belajar terh artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adap prestasi belajar siswa.
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan diatas maka peneliti dapat memberikan saran-saran sebagai berikut: Bagi Guru, hendaknya guru sering untuk memberikan tugas-tugas atau latihan-latihan dan lebih mengembangkan latihan tersebut sehingga memungkinkan siswa untuk lebih banyak membaca dari berbagai sumber atau literatur buku dalam usaha untuk meningkatkan prestasi belajar para siswa. Bagi Sekolah, Diharapakan dalam peng artikel ini disalin dari website http://blog.tp.ac.id adaan sumber belajar disekolah hendaknya memperhatikan kebutuhan siswa terutama untuk proses belajar mengajar.
Artikel ini disalin dari : http://blog.tp.ac.id/pengaruh-minat-baca-dan-ketersedian-sumber-belajar-terhadap-prestasi-belajar-pelajaran-ekonomi#ixzz1oDZA1cKs
tugas perkembangan remajaTugas Perkembangan Remaja Havigrust (dalam Muhammad Ali, 2008: 171) mendefinisikan tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar satu periode tertentu dari kehidupan individu dan jika berhasil akan menimbulkan fase bahagia dan membawa keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi kalau gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya meningkatkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta berusaha untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa. Adapun tugas-tugas perkembangan remaja menurut Hurlock (dalam Muhammad Ali, 2008 : 10) adalah : Tugas Perkembangan Remaja Mampu menerima keadaan fisiknya; Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa; Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis; Mencapai kemandirian emosional; Mencapai kemandirian ekonomi; Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat; Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua; Mengembangkan perilaku tanggung jawab social yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa; Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan; Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga. Hal senada diungkapkan oleh Zulkifli (2005: 76) tentang tugas perkembangan remaja adalah : Bergaul dengan teman sebaya dari kedua jenis kelamin Mencapai peranan social sebagai pria atau wanita Menerima keadaan fisik sendiri Memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan Memilih pasangan dan mempersiapkan diri untuk berkeluarga Berdasarkan pendapat tersebut maka peneliti menyimpulkan bahwa tugas-tugas perkembangan remaja adalah sikap dan perilaku dirinya sendiri dalam menyikapi lingkungan di sekitarnya. Perubahan yang terjadi pada fisik maupun psikologisnya menuntut anak untuk dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan dan tantangan hidup yang ada dihadapannya. Read more: http://belajarpsikologi.com/tugas-perkembangan-remaja/#ixzz1lWBs9R2t

