SUGENG RAWUH

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Melalui jejaring sosial website ini, kami bertekad dapat menyuguhkan layanan informasi secara umum maupun khusus yang meliputi aktifitas KBM, kegiatan siswa, prestasi sekolah/siswa, PSB dsb. Yang dapat diakses oleh siswa, guru, orang tua/wali siswa dan masyarakat secara cepat, tepat dan efisien.
Akhir kata, semoga layanan web site ini bermanfaat.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

PERANAN KONSELOR DALAM PROGRAM BIMBINGAN

Dikirim 0leh Arjo moemedo Friday, October 19, 2012 0 komentaran


PERANAN KONSELOR DALAM PROGRAM BIMBINGAN

Konselor adalah seorang anggota staf sekolah dan bertanggung jawab penuh terhadap fungsi bimbingan dan mempunyai keahlian khusus dalam bidang bimbingan yang tidak dapat dikerjakan oleh guru biasa, konselor bertanggung jawab langsung kepada kepala sekolah dan hanya mempunyai hubungan kerjasama dengan guru serta anggota staf lainnya. Konselor bersama kepala sekolah merencanakan program bimbingan yang sistematis yang meliputi:
1. Program pengembangan pendidikan guru,
2. Program konsultasi untuk guru dan orangtua,
3. Program konseling untuk murid,
4. Program layanan referal untuk murid,
5. Program pengembangan dan penelitian sekolah,
6. Penilaian hasil belajar dan layanan bimbingan lainnya.
A. Pelayanan Konselor dalam Bidang Pendidikan
Program bimbingan yang efektif memberikan pendidikan atau peningkatan kepada guru mengenai cara-cara bimbingan dan menafsirkan laporan-laporan anak. Guru pada umumnya kurang memahami teknik bimbingan dan penggunaan alat pengumpulan data anak. Oleh karena itu konselor dapat membantu guru mengenai cara-cara pengumpulan data, sistem pencatatan data, dan penafsiran hasil alat-alat pencatatan yang telah dikembangan. Khusus mengenai pengumpulan data, guru tidak memiliki banyak waktu untuk melaksanakan tugas ini. Konselor dapat membantu guru dalam pengelompokan murid menurut tingkat kedewasaan dan memberikan konsultasi mengenai pengembangan program pendidikan dan menafsirkan hasil pendidikan. Jika problem anak tidak dapat diatasi oleh guru, umpamanya dalam memberikan konseling kepada atau orang tua, tugas tersebut harus dialihkan kepada konselor. Dalam konseling untuk anak-anak sebaiknya konselor menyediakan ruangan khusus yang dilengkapi oleh berbagai jenis permainan seperti boneka, buku-buku gambar, dan barang-barang lain yang disukai anak.
Bimbingan yang diberikan pada tahun pertama pengalaman anak di sekolah mempunyai arti terhadap perkembangan anak di kemudian hari. Banyak anak mengalami kesukaran emosional, sosial, dan akademis di perguruan tinggi karena semasa kecil anak tersebut kurang mendapat bimbingan. Konselor dapat membantu anak mendapatkan pendidikan lanjutan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Konselor juga dapat membantu bagian kurikulum untuk yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kemapuan anak.

B. Pendekatan dengan Tim Sekolah
Dewasa ini banyak sekolah mempunyai tim kerja yang terdiri atas guru, konselor, psikologi, dokter, perawat, dan pelatih pembaca. Mereka berkarya bersama-sama di bawah pimpinan kepala sekolah. Rencana sekolah, termasuk program bimbingan dan konseling, dibicarakan bersama-sama dalam pertemuan untuk membahas masalah-masalah yang dihadapi oleh sekolah dan anak secara berkala. Keterangan dan pertimbangan dari staf lainnya dapat membantu konselor untuk semakin mengerti siswa dan untuk menyusun program bimbingan yang efektif. Dalam program tersebut beberapa kegiatan dapat diserahkan kepada ahli, sesuai dengan wewenangnya masing-masing. Rapat kerja ini sangat bermanfaat karena setiap masalah dapat dilihat dari banyak sudut dan terjadi saling konsultasi. Dengan keterangan ini dapat disimpulkan bahwa tugas bimbingan sekolah bukan hanya tanggung jawab konselor saja, tetapi juga tanggung jawab seluruh anggota tim sekolah. Di bawah pimpinan kepala sekolah, tim sekolah selalu menilai sasaran dan program bimbingan dan berusaha mencari program yang paling efektif untuk sekolah. Penilaian yang teratur dan penelitian terhadap program bimbingan sangat penting sangat penting untuk meningkatkan program bimbingan di sekolah.
Alasan Diperlukannya Konselor Pendidikan:
• Kehidupan Demokrasi: Guru tidak lagi menjadi pusat dan siswa tidak hanya menjadi peserta pasif dalam kegiatan pendidikan. Guru hanya membantu siswa untuk dapat mengambil keputusannya sendiri.
• Perbedaan Individual: Pembelajaran yang umumnya dilakukan secara klasikal kurang memperhatikan perbedaan siswa dalam kemampuan dan cara belajarnya sehingga beberapa siswa mungkin akan mengalami kesulitan.
• Perkembangan Norma Hidup: Masyarakat berubah secara dinamis. Demikian pula dengan berbagai norma hidup yang ada di dalamnya. Setiap orang harus bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan tersebut.
• Masa Perkembangan: Seorang individu mengalami perkembangan dalam berbagai aspek dalam dirinya dan perubahan tuntutan lingkungan terhadap dirinya. Diperlukan penyesuaian diri untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut.
• Perkembangan Industri: Seiring dengan perkembangan teknologi yang cepat, industri juga berkembang dengan pesat. Untuk memiliki karir yang baik, siswa harus bisa mengantisipasi keadaan tersebut.
Menurut Jones ada 7 sifat yang harus dimiliki oleh seorang konselor, adalah sebagai berikut :
1. Tingkah laku yang etis. Sikap dasar seorang konselor harus mengandung ciri etis, karena konselor harus membantu manusia sebagai pribadi dan memberikan informasi pribadi yang bersifat sangat rahasia. Konselor harus dapat merahasiakan kehidupan pribadi konseli dan memiliki tanggung jawab moral untuk membantu memecahkan kesukaran konseli.
2. Kemampuan intelektual. Konselor yang baik harus memiliki kemampuan intelektual untuk memahami seluruh tingkah laku manusia dan masalahnya serta dapat memadukan kejadian-kejadian sekarang dengan pengalaman-pengalamannya dan latihan-latihannya sebagai konselor pada masa lampau. Ia harus dapat berpikir secara logis, kritis, dan mengarah ke tujuan sehingga ia dapat membantu konseli melihat tujuan, kejadian-kejadian sekarang dalam proporsi yang sebenarnya, memberikan alternatif-alternatif yang harus dipertimbangkan oleh konseli dan memberikan saran-saran jalan keluar yang bijaksana. Semua kecakapan yang harus dimiliki seorang konselor di atas membutuhkan tingkat perkembangan intelektual yang cukup baik.
3. Keluwesan (fleksibelity). Hubungan dalam konseling yang bersifat pribadi mempunyai ciri yang supel dan terbuka. Konselor diharapkan tidak bersifat kaku dengan langkah-langkah tertentu dan sistem tertentu. Konselor yang baik dapat dengan mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan situasi konseling dan perubahan tingkah laku konseli. Konselor pada saat-saat tertentu dapat berubah sebagai teman dan pada saat lain dapat berubah menjadi pemimpin. Konselor bersama konseli dapat dengan bebas membicarakan masalah masa lampau, masa kini, dan masa mendatang yang berhubungan dengan masalah pribadi konseli. Konselor dapat dengan luwes bergerak dari satu persoalan ke persoalan lainnya dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang mungkin terjadi dalam proses konseling.
4. Sikap penerimaan (acceptance). Seorang konseli diterima oleh konselor sebagai pribadi dengan segala harapan, ketakutan, keputus-asaan, dan kebimbangannya. Konseli datang pada konselor untuk meminta pertolongan dan minta agar masalah serta kesukaran pribadinya dimengerti. Konselor harus dapat menerima dan melihat kepribadian konseli secara keseluruhan dan dapat menerimanya menurut apa adanya. Konselor harus dapat mengakui kepribadian konseli dan menerima konseli sebagai pribadi yang mempunyai hak untuk mengambil keputusan sendiri. Konselor harus percaya bahwa konseli mempunyai kemampuan untuk membuat keputusan yang bijaksana dan bertanggung jawab. Sikap penerimaan merupakan prinsip dasar yang harus dilakukan pada setiap konseling.
5. Pemahaman (understanding). Seorang konselor harus dapat menangkap arti dari ekspresi konseli. Pemahaman adalah mengkap dengan jelas dan lengkap maksud yang sebenarnya yang dinyatakan oleh konseli dan di pihak lain konseli dapat merasakan bahwa ia dimengerti oleh konselor. Konseli dapat menangkap bahwa konselor mengerti dan memahami dirinya, jika konselor dapat mengungkapkan kembali apa yang diungkapkan konseli dengan bahasa verbal maupun nonverbal dan disertai dengan perasaannya sendiri. Ungkapan konselor ini harus dapat ditangkap oleh konseli. Kemampuan konselor dalam memahami konseli pada setiap konseling dapat terjadi dengan menempatkan dirinya pada kaca mata konseli. Memahami orang lain tidak cukup hanya mengerti data-data yang terkumpul, tetapi yang lebih penting konselor dapat mengerti bagaimana konseli memberikan arti terhadap data-data tadi. Memahami dalam proses konseling jangan disamakan dengan memahami suatu ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan orang ingin menangkap arti yang objektif, sedangkan dalam konseling justru karena ingin menangkap arti yang subjektif, yaitu arti yang diberikan oleh konseli. Dalam konseling yang diperlukan bukan kebenaran yang objektif, melainkan bagaiman konseli melihat kebenaran itu. Seorang konselor tidak perlu meneliti kebenaran kata-kata konseli, tetapi yang penting bagi konselor adalah menangkap cara konseli menyatakan kebenaran tersebut dan akhirnya konselor dapat menangkap arti keseluruhan pernyataan kepribadian konseli. Seorang konselor harus mengikuti perubahan kepribadian konseli dengan baik. Konselor harus dapat menyatuakn dirinya dengan dunia konseli dan dapat menyatukan kembali dengan cara yang wajar dan dengan penuh perasaan agar konseli mudah menangkap dan mengertinya. Akhirnya, konseli dapat melihat alternatif-alternatif yang realistis dengan diri sendiri dan berani merumuskan suatu keputusan yang bijaksana. Konselor sangat berperan dalam situasi puncak proses konseling ini.
6. Peka terhadap rahasia pribadi. Dalam segala hal konselor harus dapat menunjukkan sikap jujur dan wajar sehingga ia dapat dipercaya oleh konseli dan konseli berani membuka diri terhadap konselor. Jika pada suatu saat seorang konseli mengetahui bahwa konselornya menipunya dengan cara yang halus, konseli dapat langsung menunjukkan sikap kurang mempercayai dan menutup diri yang menghilangkan sikap baik antara dirinya dan konselornya. Konseli sangat peka terhadap kejujuran konselor, sebab konseli telah berani mengambil risiko dengan membuka diri dan khususnya rahasia hidup pribadinya.
7. Komunikasi. Komunikasi merupakan kecakapan dasar yang harus dimiliki oleh setiap konselor. Dalam komunikasi konselor dapat mengekspresikan kembali pernyataan-pernyataan konseli secara tepat. Menjawab atau memantulkan kembali pernyataan konseli dalam bentuk perasaan dan kata-kata serta tingkah laku konselor. Konselor harus dapat memantulkan perasaan konseli dan pemantulan ini dapat ditangkap serta dimengerti oleh konseli sebagai pernyataan yang penuh penerimaan dan pengertian. Dalam koseling tidak terdapat resep tertentu mengenai komunikasi yang dapat dipakai oleh setiap konselor pada setiap konseling.


Dikirim 0leh Arjo moemedo 0 komentaran


MOTTO

Manusia tak selamanya benar dan tak selamanya salah, kecuali ia yang selalu mengoreks diri dan membenarkan kebenaran orang lain atas kekeliruan diri sendiri.

Harga kebaikan manusia adalah diukur menurut apa yang telah dilaksanakan / diperbuatnya. ( Ali Bin Abi Thalib )

Pengetahuan adalah kekuatan.


Format Proposal Penelitian Kualitatif

1. Konteks Penelitian atau Latar Belakang
Bagian ini memuat uraian tentang latar belakang penelitian, untuk maksud apa peelitian ini dilakukan, dan apa/siapa yang mengarahkan penelitian.

2. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah
Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok yang akan diungkap/digali dalam penelitian ini. Apabila digunakan istilah rumusan masalah, fokus penelitian berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui gambaran apa yang akan diungkapkan di lapangan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus didukung oleh alasan-alasan mengapa hal tersebut ditampilkan.
Alasan-alasan ini harus dikemukakan secara jelas, sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang holistik, induktif, dan naturalistik yang berarti dekat sekali dengan gejala yang diteliti. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan setelah diadakan studi pendahuluan di lapangan.

3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini, sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan.

4. Landasan Teori
Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan kenyataan di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.


5. Kegunaan Penelitian
Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Dengan kata lain, uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. Dari uraian dalam bagian ini diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan.

6. Metode Penelitian
Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang menyangkut pendekatan penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian.

a. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pada bagian II peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa pendekatan ini digunakan. Selain itu juga dikemukakan orientasi teoretik, yaitu landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala, misalnya fenomenologis, interaksi simbolik, kebudayaan, etnometodologis, atau kritik seni (hermeneutik). Peneliti juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan apakah etnografis, studi kasus, grounded theory, interaktif, ekologis, partisipatoris, penelitian tindakan, atau penelitian kelas.

b. Kehadiran Peneliti
Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan, tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. Oleh karena itu, kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran penelitian. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh, pengamat partisipan, atau pengamat penuh. Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan.

c. Lokasi Penelitian
Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. Lokasi hendaknya diuraikan secara jelas, misalnya letak geografis, bangunan fisik (jika perlu disertakan peta lokasi), struktur organisasi, program, dan suasana sehari-hari. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kemenarikan, keunikan, dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. Dengan pemilihan lokasi ini, peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan rumah peneliti, peneliti pernah bekerja di situ, atau peneliti telah mengenal orang-orang kunci.

d. Sumber Data
Pada bagian ini dilaporkan jenis data, sumber data, da teknik penjaringan data dengan keterangan yang memadai. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang dikumpulkan, bagaimana karakteristiknya, siapa yang dijadikan subjek dan informan penelitian, bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu, dan dengan cara bagaimana data dijaring, sehingga kredibilitasnya dapat dijamin. Misalnya data dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju (snowball sampling).
Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan penuh kehati-hatian. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin, bukan untuk melakukan rampatan (generalisasi). Pengambilan sampel dikenakan pada situasi, subjek, informan, dan waktu.

e. Prosedur Pengumpulan Data
Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan, misalnya observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas da struktur. Fidelitas mengandung arti sejauh mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi, sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). Dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman, format ringkasan rekaman data, dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini. Selain itu dikemukakan cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data.

f. Analisis Data
Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, logika, etika, atau estetika. Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional, misalnya matriks dan logika.

g. Pengecekan Keabsahan Temuan
Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah, maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi yang diperdalam, triangulasi(menggunakan beberapa sumber, metode, peneliti, teori), pembahasan sejawat, analisis kasus negatif, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan anggota. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke latar lain (transferrability), ketergantungan pada konteksnya (dependability), dan dapat-tidaknya dikonfirmasikan kepada sumbernya (confirmability) .

h. Tahap-tahap Penelitian
Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, sampai pada penulisan laporan.

7. Daftar Rujukan
Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar rujukan.
Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi:
1. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa gelar akademik,
2. tahun penerbitan
3. judul, termasuk subjudul
4. kota tempat penerbitan, dan
.












8. TAHAP-TAHAP PENELITIAN
Moleong mengemukakan bahwa ’’Pelaksanaan penelitian ada empat tahap yaitu : (1)tahap sebelum ke lapangan, (2) tahap pekerjaan lapangan, (3) tahap analisis data, (4) tahap penulisan laporan’’10. Dalam penelitian ini tahap yang ditempuh sebagai berikut :
a) Tahap sebelum kelapangan, meliputi kegiatan penentuan fokus, penyesuaian paradigma dengan teori, penjajakan alat peneliti, mencakup observasi lapangan dan permohonan ijin kepada subyek yang diteliti, konsultasi fokus penelitian, penyusunan usulan penelitian.
b) Tahap pekerjaan lapangan, meliputi mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan perilaku kebiasaan membaca pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Data tersebut diperoleh dengan observasi, wawancara dan dokumentasi dengan cara melihat gaya membaca, kebiasaan membaca, sering atau tidaknya membaca, yang dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang.
c) Tahap analisis data, meliputi analisis data baik yang diperolah melaui observasi, dokumen maupun wawancara mendalam dengan Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Kemudian dilakukan penafsiran data sesuai dengan konteks permasalahan yang diteliti selanjutnya melakukan pengecekan keabsahan data dengan cara mengecek sumber data yang didapat dan metode perolehan data sehingga data benar-benar valid sebagai dasar dan bahan untuk memberikan makna data yang merupakan proses penentuan dalam memahami konteks penelitian yang sedang diteliti.
d) Tahap penulisan laporan, meliputi : kegiatan penyusunan hasil penelitian dari semua rangkaian kegiatan pengumpulan data sampai pemberian makna data. Setelah itu melakukan konsultasi hasil penelitian dengan dosen pembimbing untuk mendapatkan perbaikan saran-saran demi kesempurnaan skripsi yang kemudian ditindaklanjuti hasil bimbingan tersebut dengan penulis skripsi yang sempurna. Langkah terakhir melakukan pengurusan kelengkapan persyratan untuk ujian skripsi.


Metode Penelitian Kualitatif
.
A. Pengantar
Dalam penelitian sosial, masalah penelitian, tema, topik, dan judul penelitian berbeda secara kualitatif maupun kuantitatif. Baik substansial maupun materil kedua penelitian itu berbeda berdasarkan filosofis dan metodologis. Masalah kuantitatif lebih umum memiliki wilayah yang luas, tingkat variasi yang kompleks namun berlokasi dipermukaan. Akan tetapi masalah-masalah kualitatif berwilayah pada ruang yang sempit dengan tingkat variasi yang rendah namun memiliki kedalaman bahasan yang tak terbatas.

Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.

Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.


B. Sistematika Penelitian Kualitatif
Judul
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
Bab I Pendahuluan
Konteks Penelitian
Fokus Kajian Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Bab II Perspektif Teoritis dan Kajian Pustaka
Bab III Metode Penelitian
Pendekatan
Batasan Istilah
Unit Analisis
Deskripsi Setting Penelitian
Pengumpulan Data
Analisis Data
Keabsahan data
Bab IV Hasil dan pembahasan
Bab VI Kesimpulan dan saran
Daftar pustaka
Lampiran


Penjelasan secara ringkas keseluruhan unsur yang ada dalam penelitian kualitatif, yaitu:
1. Judul, singkat dan jelas serta mengisyaratkan fenomena dan fokus kajian penelitian. Penulisan judul sedapat mungkin menghindari berbagai tafsiran yang bermacam-macam dan tidak bias makna.
2. Abstrak, ditulis sesingkat mungkin tetapi mencakup keseluruhan apa yang tertulis di dalam laporan penelitian. Abstrak penelitian selain sangat berguna untuk membantu pembaca memahami dengancepat hasil penelitian, juga dapat merangsang minat dan selera orang lain untuk membacanya.
3. Perspektif teoritis dan kajian pustaka, perspektif teori menyajikan tentang teori yang digunakan sebagai perpektif baik dalam membantumerumuskan fokus kajian penelitian maupun dalam melakukan analisis data atau membahas temuan-temuan penelitian. Sementara kajian pustaka menyajikan tentang studi-studi terdahulu dalam konteks fenomena dan masalah yang sama atau serupa.
4. Metode yang digunakan, menyajikan secara rinci metode yang digunakan dalam proses penelitian.
5. Temuan–temauan penelitian, menyajikan seluruh temuan penelitian yang diorganisasikan secara rinci dan sistematis sesuai urutan pokok masalah atau fokus kajian penelitian. Temuan-temuan penelitian yang disajikan dalam laporan penelitian merupakan serangkaian fakta yang sudah direduksi secara cermat dan sistematis, dan bukan kesan selintas peneliti apalagi hasil karangan atau manipulasi peneliti itu sendiri.
6. Analisis temuan– temuan penelitian. Hasil temuanmemrlukan pembahasan lebih lanjut dan penafsiran lebih dalam untuk menemukan makna di balik fakta. Dalam melakukan pembahasan terhadap temuan-temuan penelitian, peneliti harus kembali mencermati secara kritis dan hati-hati terhadap perspektif teoritis yang digunakan.

C. Jenis-jenis Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif memiliki 5 jenis penelitian, yaitu:
1. Biografi
Penelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap turning point moment atau epipani yaitu pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang. Peneliti menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut memposisikan dirinya sendiri.

2. Fenomenologi
Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden.

3. Grounded theory
Walaupun suatu studi pendekatan menekankan arti dari suatu pengalaman untuk sejumlah individu, tujuan pendekatan grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu . Situasi di mana individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Inti dari pendekatan grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa dipelajari.

4. Etnografi
Etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat dalam keseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok.

5. Studi kasus
Penelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi. Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu.

D. Metode Pengumpulan Data

Beberapa metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1. Wawancara
Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tehnik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam mencari informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa (wawancara dengan keluarga responden). Beberapa tips saat melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan menanyakan pertanyaan pribadi sebelum building raport, ulang kembali jawaban untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif.

2. Observasi
Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.

Bungin (2007: 115) mengemukakan beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur.
• Observasi partisipasi (participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden.
• Observasi tidak berstruktur adalah observasi yang dilakukan tanpa menggunakan guide observasi. Pada observasi ini peneliti atau pengamat harus mampu mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati suatu objek.
• Observasi kelompok adalah observasi yang dilakukan secara berkelompok terhadap suatu atau beberapa objek sekaligus.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam observasi adalah topografi, jumlah dan durasi, intensitas atau kekuatan respon, stimulus kontrol (kondisi dimana perilaku muncul), dan kualitas perilaku.

3. Dokumen
Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian, cenderamata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat utama data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Secara detail bahan dokumenter terbagi beberapa macam, yaitu otobiografi, surat-surat pribadi, buku atau catatan harian, memorial, klipping, dokumen pemerintah atau swasta, data di server dan flashdisk, data tersimpan di website, dan lain-lain.

4. Focus Group Discussion (FGD)
Focus Group Discussion (FGD) adalah teknik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah kelompok. Teknik ini digunakan untuk mengungkap pemaknaan dari suatu kalompok berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu. FGD juga dimaksudkan untuk menghindari pemaknaan yang salah dari seorang peneliti terhadap fokus masalah yang sedang diteliti.

E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian kualitatif di dasarkan pada pendekatan yang digunakan. Beberapa bentuk analisis data dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1. Biografi
Langkah-langkah analisis data pada studi biografi, yaitu:
a. Mengorganisir file pengalaman objektif tentang hidup responden seperti tahap perjalanan hidup dan pengalaman. Tahap tersebut berupa tahap kanak-kanak, remaja, dewasa dan lansia yang ditulis secara kronologis atau seperti pengalaman pendidikan, pernikahan, dan pekerjaan.
b. Membaca keseluruhan kisah kemudian direduksi dan diberi kode.
c. Kisah yang didapatkan kemudian diatur secara kronologis.
d. Selanjutnya peneliti mengidentifikasi dan mengkaji makna kisah yang dipaparkan, serta mencari epipani dari kisah tersebut.
e. Peneliti juga melihat struktur untuk menjelaskan makna, seperti interaksi sosial didalam sebuah kelompok, budaya, ideologi, dan konteks sejarah, kemudian memberi interpretasi pada pengalaman hidup individu.
f. Kemudian, riwayat hidup responden di tulis dengan berbentuk narasi yang berfokus pada proses dalam hidup individu, teori yang berhubungan dengan pengalaman hidupnya dan keunikan hidup individu tersebut.

2. Fenomenologi
Langkah-langkah analisis data pada studi fenomenologi, yaitu:
a. Peneliti memulai mengorganisasikan semua data atau gambaran menyeluruh tentang fenomena pengalaman yang telah dikumpulkan.
b. Membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan pinggir mengenai data yang dianggap penting kemudian melakukan pengkodean data.
c. Menemukan dan mengelompokkan makna pernyataan yang dirasakan oleh responden dengan melakukan horizonaliting yaitu setiap pernyataan pada awalnya diperlakukan memiliki nilai yang sama. Selanjutnya, pernyataan yang tidak relevan dengan topik dan pertanyaan maupun pernyataan yang bersifat repetitif atau tumpang tindih dihilangkan, sehingga yang tersisa hanya horizons (arti tekstural dan unsur pembentuk atau penyusun dari phenomenon yang tidak mengalami penyimpangan).
d. Pernyataan tersebut kemudian di kumpulkan ke dalam unit makna lalu ditulis gambaran tentang bagaimana pengalaman tersebut terjadi.
e. Selanjutnya peneliti mengembangkan uraian secara keseluruhan dari fenomena tersebut sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut. Kemudian mengembangkan textural description (mengenai fenomena yang terjadi pada responden) dan structural description (yang menjelaskan bagaimana fenomena itu terjadi).
f. Peneliti kemudian memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai fenomena tersebut.
g. Membuat laporan pengalaman setiap partisipan. Setelah itu, gabungan dari gambaran tersebut ditulis.

3. Grounded theory
Langkah-langkah analisis data pada studi grounded theory, yaitu:
a. Mengorganisir data
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Open coding, peneliti membentuk kategori informasi tentang peristiwa dipelajari.
d. Axial coding, peneliti mengidentifikasi suatu peristiwa, menyelidiki kondisi-kondisi yang menyebabkannya, mengidentifikasi setiap kondisi-kondisi, dan menggambarkan peristiwa tersebut.
e. Selective coding, peneliti mengidentifikasi suatu jalan cerita dan mengintegrasikan kategori di dalam model axial coding.
Selanjutnya peneliti boleh mengembangkan dan menggambarkan suatu acuan yang menerangkan keadaan sosial, sejarah, dan kondisi ekonomi yang mempengaruhi peristiwa.

4. Etnografi
Langkah-langkah analisis data pada studi etnografi, yaitu:
a. Mengorganisir file.
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Menguraikan setting sosial dan peristiwa yang diteliti.
d. Menginterpretasi penemuan.
e. Menyajikan presentasi baratif berupa tabel, gambar, atau uraian.

5. Studi kasus
Langkah-langkah analisis data pada studi kasus, yaitu:
a. Mengorganisir informasi.
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya.
d. Peneliti menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori.
e. Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus yang lain.
f. Menyajikan secara naratif.

F. Keabsahan Data

Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena beberapa hal, yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian kualitatif, alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol, dan sumber data kualitatif yang kurang credible akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa cara menentukan keabsahan data, yaitu:

1. Kredibilitas
Apakah proses dan hasil penelitian dapat diterima atau dipercaya. Beberapa kriteria dalam menilai adalah lama penelitian, observasi yang detail, triangulasi, per debriefing, analisis kasus negatif, membandingkan dengan hasil penelitian lain, dan member check.
Cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian, yaitu:
a. Memperpanjang masa pengamatan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan, bisa mempelajari kebudayaan dan dapat menguji informasi dari responden, dan untuk membangun kepercayaan para responden terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri peneliti sendiri.
b. Pengamatan yang terus menerus, untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang diteliti, serta memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.
c. Triangulasi, pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.
d. Peer debriefing (membicarakannya dengan orang lain) yaitu mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.
e. Mengadakan member check yaitu dengan menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda dan mengembangkan pengujian-pengujian untuk mengecek analisis, dengan mengaplikasikannya pada data, serta denganmengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang data.

2. Transferabilitas yaitu apakah hasil penelitian ini dapat diterapkan pada situasi yang lain.
3. Dependability yaitu apakah hasil penelitian mengacu pada kekonsistenan peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk, dan menggunakan konsep-konsep ketika membuat interpretasi untuk menarik kesimpulan.
4. Konfirmabilitas yaitu apakah hasil penelitian dapat dibuktikan kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan. Hal ini dilakukan dengan membicarakan hasil penelitian dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam penelitian dengan tujuan agar hasil dapat lebih objektif.

G. Reliabilitas
Reliabilitas penelitian kualitatif dipengaruhi oleh definisi konsep yaitu suatu konsep dan definisi yang dirumuskan berbeda-beda menurut pengetahuan peneliti, metode pengumpulan dan analisis data, situasi dan kondisi sosial, status dan kedudukan peneliti dihadapan responden, serta hubungan peneliti dengan responden.(IAHS)


























daftar pustaka

Dikirim 0leh Arjo moemedo 0 komentaran

Ahmad, Mudzakir. (1997). Psikologi Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia.

Goleman, Daniel. (2000). Emitional Intelligence (terjemahan). Jakata : PT Gramedia Pustaka Utama.

Goleman, Daniel. (2000). Working With Emotional Intelligence (terjemahan). Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Gottman, John. (2001). Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional (terjemahan). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Irwanto. (1997). Psikologi Umum. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Mila Ratnawati. (1996). Hubungan antara Persepsi Anak terhadap Suasana Keluarga, Citra Diri, dan Motif Berprestasi dengan Prestasi Belajar pada Siswa Kelas V SD Ta’Miriyah Surabaya. Jurnal Anima Vol XI No. 42.

Moch, Nazir. (1988). Metodologi Penelitian.Cetakan 3. Jakarta :Ghalia Indonesia.

Morgan, Clifford T, King, R.A Weizz, JR, Schopler. J, 1986. Introduction of Psychology, (7th ed), Singapore : Mc Graw Hil Book Company

Muhibbin, Syah. (2000). Psikologi Pendidikan dengan Suatu Pendekatan baru. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Nana, Sudjana. (2001). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Cetakan ketujuh. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Ratna Wilis, D. (1996). Teori-Teori Belajar. Jakarta : Penerbit Erlannga.

Saphiro, Lawrence E. (1998). Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak. Jakarta : Gramedia.

Sarlito Wirawan. (1997). Psikologi Remaja. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.

Sia, Tjundjing. (2001). Hubungan Antara IQ, EQ, dan QA dengan Prestasi Studi Pada Siswa SMU. Jurnal Anima Vol.17 no.1

Sri, Lanawati. (1999). Hubungan Antara Emotional Intelligence dan Intelektual Quetion dengan Prestasi Belajar Siswa SMU.Tesis Master : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Sumadi, Suryabrata. (1998). Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada .

Sumadi, Suryabrata. 1998. Metodologi Penelitian. Cetakan sebelas. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

Saifuddin, Azwar. (1997). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Balajar Offset.

Saifuddin Azwar. (1998). Tes Prestasi Fungsi dan Pengembangan Pengukutan Prestasi balajar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.

Suharsono. (2002). Melejitkan IQ, IE, dan IS. Depok : Inisiasi Press.

Sutrisno Hadi. (2000). Statistik 2. Yogyakarta : Andi Offset.

Syaiful Bakrie D. (1994). Prestasi belajar dan kompetensi guru. Surabaya : Usaha Nasional.

Winkel, WS (1997). Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta : Gramedia.
Ruseffendi, 1998. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya Dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung : Tarsito
Slameto, 1991. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta :
Rineka Cipta
Coni R. Semiawan, 1992. Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang abad XXI. PT Grasindo, Jakarta.
Sudjana,1997. Penilaian proses belajar mengajar. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya
Suherman, Erman, dkk. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.
Bandung : JICA-UPI.
Subroto, B. Suryo, 1996. Proses Belajar Mengajar Disekolah. Jakarat. Rineka Cipta
Supardi, 1999. Hubungan Kreativitas dan Keterampilan Proses Dengan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas III SLTP Negeri 1 Bantaeng tahun pelajaran 1998/1999. skripsi FMIPA UNM Makassar.


DAFTAR ISI

Dikirim 0leh Arjo moemedo 0 komentaran

DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Halaman Pengesahan ii
Kata Pengantar iii
Motto iv
Daftar Isi v

BAB IPENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Identifikasi Masalah 2
C. Batasan Masalah 2
D. Rumusan Masalah 3
E. Tujuan Survei 3
F. Manfaat survei 3
BAB II LANDASAN TEORI 5
A. Pengertian Bimbingan 5
B. Pengertian Konseling 7
C. Pengertian Bimbingan Konseling 8
D. Pengertian Tentang Alat Perlengkapan Bimbingan Konseling 9
E. Indicator alat perlengkapan bimbingan konseling ..9

BAB III METODE PENELITIAN 23
A. Variabel Penelitian 23
B. Tempat dan waktu Penelitian 24
C. Pendekatan Penelitian 24
D. Metode Pengumpulan Data 25
E. Instrumen Penelitian 28
BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 32
A. Penyajian Data Survey 32
B. Analisa Data Survey 33
C. Hasil Survey 34
BAB V PENUTUP 35
A. Kesimpulan 35
B. Saran 36
Daftar pustaka


BIMBINGAN KONSELING PADA REMAJA DAN PRESTAsi AKADEMI
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan kemampuan siswa. Dengan pendidikan diharapkan individu (siswa) dapat mengembangkan potensi-potensinya agar mencapai pribadi yang bermutu. Indikator keberhasilan sekolah dalam mengemban tugasnya dapat dilihat dari pencapaian prestasi akademik yang tinggi dan berbagai keterampilan khusus yang dimiliki oleh peserta didik dan tidak sedikit di antaranya menyangkut masalah-masalah yang berhubungan dengan akademik. Sedangkan siswa dituntut untuk terus meningkatkan prestasi akademiknya, di tengah kesibukan dan kepadatan tugas-tugas sekolah baik tugas-tugas akademik maupun kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti siswa, sehingga siswa perlu mengikuti layanan bimbingan dan konseling di sekolah untuk meningkatkan prestasi akademik. Dengan kondisi seperti itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui secara mendalam apakah bimbingan dan konseling itu sendiri dapat berperan dalam meningkatkan prestasi akademik siswa di sekolah.
Dari pemaparan di atas, maka timbul pertanyaan mengenai bagaimana gambaran bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah, faktor-faktor apa yang menyebabkan bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah dapat meningkatkan prestasi akademik subjek , dan bagaimana proses bimbingan konseling untuk meningkatkan prestasi akademik subjek.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana gambaran bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah, faktor-faktor apa yang menyebabkan bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah dapat meningkatkan prestasi akademik subjek, dan bagaimana proses bimbingan konseling untuk meningkatkan prestasi akademik subjek.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah seorang pelajar SMU, dan pernah atau sedang mengikuti bimbingan dan konseling secara personal (dengan inisiatif sendiri) di sekolah. Dalam penelitian ini subjek penelitian terdiri dari satu orang.
Teknik peengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan metode wawancara dan observasi yang diterapkan pada subjek dan significant others. Lengkap dengan pedoman wawancara, pedoman observasi dan alat perekam.
Dari hasil analisis yang dilakukan, maka dapat diketahui bahwa pelayanan bimbingan konseling di kelas subjek terjadwal dengan rutin setiap minggunya selama satu jam. Guru BK mendapat kewajiban memanggil siswa untuk mengetahui permasalahan siswa dibidang akademik, sedangkan siswa mengikuti bimbingan konseling secara personal pada kelas 2 semester 2, dikarenakan pada kelas 2 semester 1 subjek mengalami penurunan prestasi akademik. Oleh karena itu guru BK menyuruh subjek datang teratur ke ruang bimbingan konseling agar guru BK subjek dapat memantau sejauhmana perkembangan akademik subjek. Guru BK subjek juga memotivasi subjek dalam belajar sehingga subjek selalu rajin belajar dan tekun dalam mengerjakan PR. Ketika subjek mengalami kesulitan dalam bidang akademik,
subjek berkonsultasi dengan guru BK subjek sehingga subjek tidak ketinggalan pelajaran dengan teman-teman subjek. Ketika subjek masih sering membolos dan mempunyai kebiasaan malas belajar, guru BK subjek membantu subjek dengan cara menasehati sehingga subjek memiliki kebiasaan belajar positif dan tidak membolos lagi. Guru BK juga membantu subjek dengan memberikan masukan pada subjek dalam memilih universitas dan jurusan yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan subjek sehingga subjek tidak salah langkah dalam menentukan masa depan subjek. Dengan layanan bimbingan dan konseling yang diberikan, dapat mempengaruhi prestasi akademik subjek di sekolah yang dapat dilihat dari beberapa nilai mata pelajaran di rapor subjek yang naik.
Kata kunci : Bimbingan konseling, prestasi akademik dan remaja.
A. Pendahuluan
1. Latar Belakanng
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan kemampuan siswa. Dengan pendidikan diharapkan individu (siswa) dapat mengembangkan potensi-potensinya agar mencapai pribadi yang bermutu. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal mengemban tugas yang cukup berat diantaranya sebagai fasilitator bagi siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Indikator keberhasilan sekolah dalam mengemban tugasnya dapat dilihat dari pencapaian prestasi akademik yang tinggi dan berbagai keterampilan khusus yang dimiliki oleh peserta didik (Nurwati, 2004).
Keberhasilan dari sebuah proses belajar di sekolah diukur dengan prestasi akademik yang dicapai siswa. Prestasi akademik siswa merupakan suatu istilah yang menunjukkan derajat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan belajar setelah melakukan proses belajar dari suatu program yang telah ditentukan. Prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar dan kemajuan siswa yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang diajarkan (Suryabrata, 1998). Prestasi akademik pula yang menjadi tolak ukur dari tingkat pemahaman siswa terhadap materi tertentu yang telah diberikan setelah siswa mengalami proses belajar pada jangka waktu tertentu dan dinyatakan dalam bentuk nilai.
Prestasi akademik yang telah dicapai oleh seorang siswa merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor-faktor yang saling mempengaruhi satu sama lain. Faktor-faktor tersebut datangnya mungkin dari dalam diri ataupun dari luar diri individu. Dengan mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi prestasi akademik, maka akan mempermudah atau membantu siswa mencapai prestasi akademik yang memadai dan optimal.
Dalam kegiatan belajar akan timbul berbagai masalah bagi siswa itu sendiri maupun bagi pengajar (guru). Misalnya bagaimana menciptakan kondisi yang baik agar berhasil, bagaimana membuat rencana bagi siswa, menyesuaikan proses belajar, penilaian hasil belajar, kesulitan belajar dan sebagainya. Bagi siswa sendiri masalah-masalah belajar yang mungkin timbul adalah pengaturan waktu belajar, memilih cara belajar, menggunakan buku-buku pelajaran, mempersiapkan ujian dan sebagainya. Sehingga perlunya program bimbingan dan konseling untuk membantu siswa agar berhasil dan mencapai prestasi akademik yang diinginkan (Yusuf & Nurihsan, 2008).
Menurut Prayitno & Amti (2004) pelayanan bimbingan dan konseling
ditujukan dan berlaku kepada semua siswa, baik siswa-siswa yang gagal, yang menimbulkan gangguan, yang berkemungkinan putus sekolah, yang mengalami kesulitan belajar, maupun siswa-siswa yang memiliki bakat istimewa, yang berpotensi rata-rata, dan yang mengalami masalah belajar seperti angka-angka rapor yang merah, tidak naik kelas dan lain-lain. Di sekolah pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan sangat baik mengingat sekolah merupakan jenis layanan bimbingan dan konseling dalam segenap fungsinya. Para guru terlibat langsung dalam pengajaran yang dikehendaki mencapai taraf keberhasilan yang tinggi, memerlukan upaya penunjang bagi optimalisasi belajar siswa dalam mencapai hasil belajar yang diinginkan.
Menurut Prayitno & Amti (2004) keberadaan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dipertegas lagi oleh Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 (tentang Pendidikan Menengah) menyebutkan bahwa (1) bimbingan dalam rangka menemukan pribadi siswa, dimaksudkan untuk membantu siswa mengenal kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya, (2) bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan, dimaksudkan untuk membentuk siswa untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, ekonomi, budaya, serta alam yang ada, dan (3) bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan, mempersiapkan diri untuk langkah yang dipilihnya setelah tamat belajar pada sekolah menengah serta karier dan masa depannya.
Menurut Gunarsa (1982) tujuan dari layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah supaya siswa memperoleh (1) kemampuan berprestasi di sekolah, (2) sikap menghormati kepentingan dan harga diri orang lain, (3) cara mengatasi kesulitan dirinya, (4) pemahaman tentang kesulitan sekolah, (5) penyelesaian kesulitan dalam hal belajar (6) pengarahan dalam mengatasi masalah dalam hal prestasi akademik, dan (7) persiapan bidang kerja yang tepat untuk masa depannya.
Dalam penelitian ini, peneliti akan memfokuskan pada siswa usia remaja (13-18 tahun) dan pernah atau sedang mengikuti bimbingan dan konseling di sekolah untuk meningkatkan prestasi akademik. Peneliti memilih objek penelitian ini karena banyak anggapan yang menyatakan bahwa guru pembimbing atau konselor di sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang tugasnya menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin dan keamanan sekolah. Berdasarkan pandangan di atas, wajar bila siswa beranggapan bila datang ke konselor itu berarti siswa mengalami ketidakberesan tertentu, siswa tidak dapat berdiri sendiri, siswa telah berbuat salah, dan predikat-predikat negatif lainnya. Padahal layanan bimbingan dan konseling bukanlah pengawas ataupun polisi sekolah yang selalu mencurigai.
Berdasarkan uraian di atas, pendidikan di sekolah dewasa ini sarat permasalahan, dan tidak sedikit di antaranya menyangkut masalah-masalah yang berhubungan dengan akademik. Sedangkan siswa dituntut untuk terus meningkatkan prestasi akademiknya, di tengah kesibukan dan kepadatan tugas-tugas sekolah baik tugas-tugas akademik maupun kegiatan ekstrakurikuler yang di ikuti siswa, sehingga siswa perlu mengikuti layanan bimbingan dan konseling di sekolah untuk meningkatkan prestasi akademik. Dengan kondisi seperti itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui secara mendalam apakah bimbingan dan konseling itu sendiri dapat berperan dalam meningkatkan prestasi akademik siswa di sekolah.
2. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana gambaran bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah, faktor-faktor apa yang menyebabkan bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah dapat meningkatkan prestasi akademik
subjek, bagaimana proses bimbingan konseling untuk meningkatkan prestasi akademik subjek.
3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari jawaban atas pertanyaan penelitian bagaimana gambaran bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah, faktor-faktor apa yang menyebabkan bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah dapat meningkatkan prestasi akademik subjek, dan bagaimana proses bimbingan konseling untuk meningkatkan prestasi akademik subjek.
4. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti pada perkembangan ilmu psikologi, terutama pada psikologi pendidikan khususnya mengenai bimbingan konseling pada siswa di sekolah dan prestasi akademik. Bahwa bimbingan konseling yang diberikan di sekolah membantu mengatasi kesulitan siswa pada mata pelajaran tertentu, membantu siswa menghilangkan kebiasaan membolos, mengurangi kebiasaan malas belajar siswa sehingga siswa memiliki kebiasaan belajar yang positif dan efektif, memberikan masukan dalam memilih universitas dan jurusan yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan serta mengurangi rasa cemas siswa terhadap masa depan sehingga siswa dapat mencapai prestasi akademik yang optimal. Hal ini akan membawa pengaruh positif bagi siswa untuk dapat mengikuti bimbingan konseling di sekolah secara personal (inisiatif sendiri) ke ruang bimbingan konseling serta sebagai referensi atau acuan penelitian selanjutnya.
2. Manfaat praktis, iharapkan dapat memberikan sumbangan berupa hasil kajian mengenai bimbingan konseling pada siswa di sekolah terkait dengan prestasi akademik siswa, serta dapat memberikan masukan bagi siswa untuk dapat terus meningkatkan prestasi akademiknya. Misalnya dengan mengikuti berbagai kegiatan kursus atau les tambahan di sekolah maupun di luar sekolah, memiliki kebiasaan belajar yang efektif, siswa dapat memilih jurusan yang sesuai dengan kemampuan siswa dan siswa dapat mencapai karir yang diharapkan serta siswa di harapkan dapat membangun hubungan sosial dengan lingkungannya. Dalam hal ini dukungan dari pihak keluarga dan sekolah menjadi faktor pendukung dari keberhasilan siswa di sekolah.
B. Tinjauan Pustaka
1. Bimbingan Konseling
a. Pengertian Bimbingan Konseling
Proses pemberian bantuan atau pertolongan yang sistematis dari konselor kepada konseli (klien) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik untuk mengungkap masalah klien sehingga klien mampu melihat masalahnya sendiri, mampu menerima dirinya sendiri dan mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya.
b. Tujuan Bimbingan Konseling
Menurut Yusuf & Nurihsan (2008) tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah sebagai berikut.
1) Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
2) Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
3) Memliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, menggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan memepersiapkan diri menghadapi ujian.
4) Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan


pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.
5) Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.

c. Komponen-komponen Pelayanan Bimbingan Konseling
Berdasarkan modul seminar dari tim dosen bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (2008). Adapun komponen-komponen pelayanan bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut:
1) Pelayanan Dasar
Proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli (siswa) melalui kegiatan klasikal atau kelompok secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian) yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya. Tujuan dari pelayanan dasar yaitu memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya, mampu mengembangkan keterampilan, mampu menangani masalahnya. Sedangkan fokus dari pelayanan dasar ini adalah motivasi berprestasi, keterampilan pengambilan keputusan, keterampilan pemecahan masalah, dan perilaku bertanggungjawab. Adapun bentuk-bentuk pelayanan dasar adalah bimbingan kelas, pelayanan orientasi, pelayanan informasi, bimbingan kelompok, dan pelayanan pengumpulan data.
2) Pelayanan Responsif
Pemberian bantuan kepada konseli (siswa) yang menghadapi kebutuhan atau masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera. Tujuan dari pelayanan responsif adalah membantu konseli (siswa) agar dapat memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membuat konseli (siswa) yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya dan sebagai upaya untuk menangani masalah-masalah pribadi konseli (siswa) adalah merasa cemas tentang masa depan, merasa rendah diri, membolos dari sekolah, malas belajar, kurang memiliki kebiasaan belajar yang positif, prestasi belajar rendah, masalah keluarga dan lain-lain. Adapun bentuk-bentuk pelayanan responsif adalah konseling individual dan kelompok, rujukan, kolaborasi dengan guru mata pelajaran atau wali kelas, kolaborasi dengan orang tua, kolaborasi dengan pihak-pihak, konsultasi, bimbingan teman sebaya, kunjungan rumah, dan konferensi kasus.
3) Pelayanan dan Perencanaan Individual
Bantuan kepada konseli (siswa) agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan konseli (siswa), serta pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Tujuan dari pelayanan dan perencanaan individual adalah mampu merumuskan tujuan, perencanaan, pengelolaan terhadap perkembangan konseli (siswa), baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karier, dan dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan dan rencana yang telah di tentukan. Fokus pengembangan pada aspek akademik meliputi memanfaatkan keterampilan belajar, melakukan pemilihan pendidikan lanjutan atau pilihan jurusan, memilih kursus atau pelajaran tambahan yang tepat, dan memahami nilai belajar sepamjang hayat.
4) Dukungan Sistem
Program ini memberikan dukungan kepada konselor dalam memperlancar
penyelenggaraan pelayanan dasar, pelayanan responsif, dan pelayanan dan perencanaan individual. Sedangkan bagi pendidik lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan. Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling.
2. Prestasi Akademik
a. Pengertian Prestasi Akademik
prestasi akademik adalah hasil yang diperoleh berupa pengetahuan, keterampilan, nilai (values) dan sikap yang menetap sehingga mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar, sehingga dapat dipakai sebagai ukuran untuk mengetahui sejauhmana siswa menguasai bahan pelajaran yang diajarkan dan dipelajarinya. Hasil yang diperoleh melalui proses belajar ini dinyatakan dengan nilai-nilai (scores), dimana dengan nilai-nilai tersebut dapat dilihat apakah prestasi akademik siswa tersebut tinggi atau rendah.
b. Indikator Prestasi Akademik
Menurut Syah (2003) pengungkapan hasil belajar ideal meliputi ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah dengan mengetahui garis-garis besar indikator (petunjuk adanya prestasi tertentu) dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diukur.
3. Bimbingan Konseling Pada Remaja dan Prestasi Akademik
Di sekolah layanan bimbingan dan konseling diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan sangat baik mengingat sekolah merupakan jenis layanan bimbingan dan konseling dalam segenap fungsinya. Para guru terlibat langsung dalam pengajaran yang dikehendaki mencapai taraf keberhasilan yang tinggi, memerlukan upaya penunjang bagi optimalisasi belajar siswa dan mencapai hasil belajar yang diharapkan (Prayitno & Amti, 2004). Pengajaran di kelas-kelas ternyata tidak cukup memadai untuk menjawab tuntutan penyelenggaraan pendidikan. Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan unsur yang perlu dipadukan ke dalam upaya pendidikan secara menyeluruh, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Beragam kesulitan yang kerap dihadapi siswa sebagaimana diungkap oleh Winkel (1997) meliputi masalah akademik dan non akademik. Kesulitan yang mendasar dibidang akademik diantara ketegangan dalam bergaul dengan teman sebaya, kondisi keluarga yang kurang kondusif, rasa minder dan rendah diri, kurangnya fasilitas rumah dan makanan yang bergizi. Sedangkan kesulitan yang seringkali muncul dalam bidang akademik yaitu rendahnya motivasi belajar, tidak mengetahui cara belajar yang baik, peraturan sekolah yang terlalu bebas atau terlalu ketat, bahan pelajaran yang terlalu banyak, dan sulitnya mengatur waktu belajar yang baik.
Pelayanan bimbingan dan konseling ditujukan dan berlaku bagi semua siswa, baik siswa-siswa yang gagal, siswa yang menimbulkan masalah, siswa yang berkemungkinan putus sekolah, siswa yang mengalami kesulitan belajar, maupun siswa-siswa yang memiliki bakat istimewa, yang berprestasi rata-rata dan yang mengalami masalah belajar seperti angka-angka rapor yang merah, tidak naik kelas dan lain-lain. Keberhasilan dari sebuah proses belajar di sekolah diukur dengan prestasi akademik yang dicapai siswa yang dinyatakan dalam bentuk nilai. Tujuan dari bimbingan dan konseling adalah bagaimanakonselor dapat meningkatkan motivasi belajar, mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif untuk meningkatkan prestasi akademik siswa,
serta memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar siswa sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk mencapai hasil belajar yang optimal.
C. Metode Penelitian
1. Pendekatan Kualitatif
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, dimana peneliti bertujuan agar mendapatkan pemahaman yang mendalam dari masalah yang peneliti teliti dan memberikan gambaran melalui pengamatan yang dilakukan dalam latar (setting) yang alamiah (naturalistic) bukan hasil perlakuan (treatment) atau manipulasi variabel yang dilibatkan.
2. Subjek Penelitian
Karakteristik subjek dalam penelitian ini adalah remaja (usia 13 -18 tahun), seorang pelajar, dan pernah atau sedang mengikuti bimbingan dan konseling secara personal (datang atas inisiatif sendiri ke ruang BK) di sekolah untuk meningkatkan prestasi akademik. Sementara itu subjek penelitian dalam penelitian ini terdiri dari satu orang subjek dengan 1 orang significant others.
3. Tahap-tahap Persiapan
a. Tahap Persiapan, peneliti membuat pedoman wawancara dan pedoman observasi yang disusun berdasarkan beberapa teori yang relevan dengan masalah. Selanjutnya peneliti akan mencari calon subjek dengan karakteristik sebagaimana telah disebutkan dalam subjek penelitian. Setiap perkembangan dilaporkan dan dikonsultasikan kepada dosen pembimbing.
b. Tahap pelaksanaan, Peneliti terjun langsung ke lapangan untuk melakukan observasi dan wawancara secara terpisah. Setelah itu, peneliti memindahkan hasil rekaman berdasarkan wawancara dan hasil observasi ke dalam bentuk verbatim tertulis, kemudian peneliti melakukan analisis data dan interpretasi data sesuai dengan langkah-langkah yang dijabarkan pada bagian teknik analisis data. Terakhir peneliti membuat diskusi dan kesimpulan dari seluruh hasil penelitian.
4. Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang terbuka dan luwes, metode dan tipe pengumpulan data dalam penelitian kualitatif sangat beragam, disesuaikan dengan masalah, tujuan penelitian, serta sifat objek yang diteliti.
Dalam penelitian ini observasi yang dilaksanakan oleh peneliti adalah pengamatan tidak berperan serta atau non partisipan, karena peneliti tidak terlibat secara langsung dengan aktivitas subjek, peneliti hanya mengamati sesuai waktu yang telah ditentukan atau yang telah dibuat peneliti dengan kesepakatan subjek. Meskipun demikian, informasi atau data yang diperoleh tetap memenuhi kriteria atau standar yang diinginkan. Sedangkan pendekatan wawancara dengan pedoman umum, yaitu semacam pedoman yang mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan, peneliti juga mengembangkan pedoman tersebut berdasarkan kondisi di lapangan. Hal ini dilakukan agar lebih efektif dalam menggali informasi yang diperlukan.
5. Alat Bantu yang Digunakan dalam Penelitian
Dalam penelitian, informasi atau data yang dibutuhkan bisa dalam bentuk verbal dan non verbal. Oleh sebab itu dalam melakukan observasi dan wawancara peneliti memerlukan beberapa alat bantu yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mempermudah proses jalannya suatu penelitian. Beberapa sarana atau instrumen yang digunakan adalah menggunakan media perekam suara, catatan atau tulisan tangan, pedoman wawancara, dan pedoman observasi.

6. Keakuratan Penelitian
Untuk mencapai keakuratan dalam suatu penelitian dengan metode kualitatif, ada beberapa teknik yang digunakan dan salah satu teknik tersebut adalah triangulasi. Triangulasi adalah suatu teknik pemeriksaan keakuratan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Triangulasi dapat dibedakan menjadi emapat macam yaitu triangulasi data, pengamat, teori, dan metodologis.
7. Teknik Analisa Data
Data yang diperoleh akan di analisa dengan menggunakan teknik analisa data kualitatif. Adapun tahapan tersebut adalah mengorganisasikan data, mengelompokkan data, analisis kasus, dan menguji asumsi.
D. Hasil Dan Analisis
1. Persiapan Penelitian
Pertama kali yang dilakukan oleh peneliti sebelum proses pengambilan data dilakukan, peneliti terlebih dahulu datang ke sekolah-sekolah untuk mencari informasi-informasi tentang subjek yang benar-benar pernah atau sedang mengikuti bimbingan dan konseling secara personal ke ruang bimbingan konseling. Setelah maksud dan tujuan telah di ketahui oleh calon subjek maka peneliti menjelaskan lebih rinci mengenai penelitian yang dilakukan peneliti agar subjek lebih mengerti dan merasa nyaman dengan peneliti sehingga penelitian dapat berjalan dengan baik. Sebelum proses pengambilan data, peneliti mempersiapkan pedoman wawancara, pedoman observasi, dan memepersiapkan alat-alat penelitian berupa tape recorder, kertas dan alat tulis. Hal ini dilakukan agar proses pengumpulan data dapat berjalan dengan baik dan lancar.
2. Pelaksanaan Penelitian
Kegiatan wawancara dalam penelitian ini dilakuakn pada tanggal 17 Juli 2008 dan wawancara dengan subjek dilaksanakan di CFC Plaza Metropolitan Mall. Sedangkan kegiatan wawancara dengan significant other, yaitu guru BK sekaligus wali kelas subjek dilakukan pada tanggal 23 Juli 2008 dan dilakukan di sekolah subjek SMUN 1 Tambun Selatan, ini dikarenakan memudahkan peneliti menemui significant other subjek setelah significant other selesai mengajar.
Kegiatan observasi dalam penelitian ini dilakukan pada tanggal 29 Juli 2008 yang dilakukan di sekolah subjek (SMUN 1 Tambun Selatan) tepatnya di kelas subjek.
3. Hasil Observasi dan Wawancara
a. Gambaran Umum Subjek
Subjek adalah seorang pria yang memiliki tinggi sekitar 170 cm, memiliki warna kulit sawo matang dan berambut hitam. Subjek adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Keluarga subjek tinggal di Bekasi. Keluarga subjek cukup harmonis akan tetapi subjek merasa ayah dan ibu subjek kurang perhatian terhadap subjek dikarenakan kedua orang tua subjek sibuk bekerja.
Subjek adalah seorang pelajar kelas 3 SMA Negeri 1 Tambun Selatan. Subjek mulai mengikuti bimbingan dan konseling secara personal dari kelas 2 semester 2. Kedua orang tua subjek mengetahui dan mengizinkan subjek untuk mengikuti bimbingan dan konseling di sekolah. Alasan subjek mengikuti bimbingan konseling agar nilai subjek lebih baik dari sebelumnya.
b. Pembahasan
1) Bagaimana gambaran bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah
a) Pelayanan dasar
Pada kasus subjek mengenai pelayanan dasar bahwa pelayanan bimbingan dan
konseling di sekolah subjek terjadwal dengan rutin setiap minggunya, satu minggu satu kali, selama satu jam. Guru BK subjek juga memanggil siswanya untuk mengetahui permasalahan siswa di bidang akademik. Guru BK subjek juga memotivasi subjek dalam belajar walaupun tidak secara terus-menerus, guru BK juga membantu dalam mengambil keputusan yang behubungan dengan akademik, ketika kedua orang tua subjek kurang perhatian kepada subjek guru BK memberikan masukan kepada kedua orang tua subjek agar lebih memperhatikan subjek dan dengan layanan bimbingan dan konseling yang diberikan, dapat mempengaruhi prestasi akademik subjek di sekolah yang dapat dilihat dari beberapa nilai pelajaran dirapor subjek yang naik.
Hal ini sesuai dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008), mengenai pelayanan dasar, bahwa pelayanan dasar atau pemberian bantuan kepada siswa melalui kegiatan klasikal secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang, fokus dari pada atau motivasi berprestasi, pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan perilaku bertanggung jawab.
b) Pelayanan responsif
Pada kasus subjek mengenai pelayanan responsif bahwa guru BK subjek membantu subjek ketika subjek mengalami hambatan dalam belajar terutama mata pelajaran matematika sehingga subjek mendapatkan perhatian yang lebih dari guru matematika subjek tersebut. Ketika subjek merasa cemas dengan masa depan subjek, guru BK membantu dengan memberikan masukan kepada subjek bahwa subjek tidak boleh salah dalam memilih Universitas. Ketika subjek masih sering membolos guru BK membantu dengan cara menasehati. Guru BK juga membantu menghilangkan kebiasaan malas belajar subjek dengan memberikan tips-tips belajar yang efektif, mulai dari menghilangkan kebiasaan belajar yang positif.
Hal ini sesuai dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai pelayanan responsif, bahwa pelayanan responsif adalah pemberian bantuan pada siswa yang menghadapi masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera. Tujuan dari pelayanan responsif membantu siswa memecahkan masalah yang di hadapinya.
c) Pelayanan dan perencanaan individual
Pada kasus subjek mengenai pelayanan dan perencanaan individual bahwa ketika subjek mengalami kesulitan pada mata pelajaran matematika guru BK menyuruh untuk sering-sering latihan, guru BK menyarankan agar subjek memiliki les agar subjek tidak ketinggalan dengan teman-teman subjek dan untuk mencapai prestasi akademik yang lebih baik. Guru BK subjek kurang membantu dalam merencanakan atau merancang masa depan subjek tetapi guru BK membantu dalam memilih jurusan yang sesuai dengan kemampuan subjek, guru BK juga membantu subjek dalam mencapai karir yang diharapkan. Guru BK membantu dalam memahami arti belajar, membantu subjek dalam melihat peluang atau kesempatan yang ada di lingkungan dan guru BK juga membantu membangun hubungan sosial subjek.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai pelayanan dan perencanaan individual atau bantuan kepada siswa agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan kelebihan dan kekurangan siswa.
d) Dukungan sistem
Pada kasus subjek mengenai dukungan sistem bahwa ketika subjek mengalami kesulitan pada mata pelajaran hitung-hitungan, guru BK subjek berkonsultasi dengan guru mata pelajaran tersebut. Guru

BK subjek juga aktif dalam kegiatan seminar atau workshop tentang bimbingan dan konseling.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai dukungan sistem bahwa program ini memberikan dukungan kepada konselar untuk meningkatkan mutu bimbingan dan konseling.
2)Faktor-faktor yang menyebabkan bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah dapat meningkatkan presatasi akademik subjek.
a) Pelayanan dasar
Pada kasus subjek mengenai pelayanan dasar bahwa guru BK membantu memotivasi subjek dalam belajar karena guru BK subjek menginginkan agar subjek belajar yang rajin, tidak malas lagi belajarnya karena subjek mau naik ke kelas 3. Dalam mengambil keputusan guru BK subjek juga membantu agar subjek dapat meningkatkan prestasi dan demi kebaikan subjek sehingga membuat subjek semangat dan dapat mencapai apa yang ingin subjek raih.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai pemberian bantuan dalam rangka mengembangkan perilaku jangka penjang yang diperlukan dalam pengembangan agar subjek memiliki pemahaman tentang dirinya dan lingkungannya, mampu mengembangkan ketrampilan, dan mampu menangani masalah.
b) Pelayanan responsif
Pada kasus subjek mengenai pelayanan responsif bahwa ketika subjek mengalami kesulitan dalam bidang akademik, subjek berkonsultasi dengan guru BK subjek dan guru BK subjek membantu agar subjek bisa mengikuti dan tidak ketinggalan dengan teman-teman subjek. Guru BK membantu agar subjek tidak salah langkah dalam bertindak. Guru BK subjek juga membantu mengurangi kegagalan akademik terutama mata pelajaran matematika karena menurut guru BK subjek matematika adalah pusatnya ilmu. Ketika subjek masih sering membolos guru BK membantu menghilangkan kebiasaan membolos agar subjek dapat mengikuti jalur PMDK, guru BK juga membantu subjek memiliki kebiasaann belajar yang positif agar subjek lebih disiplin dalam belajar.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) pemberian bantuan pada siswa yang memerlukan pertolongan segera. Membantu siswa agar dapat memecahkan masalah yang dialaminya sebagai upaya untuk menangani masalah-masalah pribadi siswa.
c)Pelayanan dan perencanaan individual
Pada kasus subjek mengenai pelayanan dan perencanaan individual bahwa guru BK mengarahkan subjek agar subjek mencapai prestasi yang lebih baik dan tidak ada nilai yang di bawah rata-rata. Dalam memilih kursus guru BK subjek membantu agar subjek tidak salah dalam memilih kursus. Guru BK juga selalu memberikan setiap kesempatan yang ada di sekolah karena guru BK menginginkan subjek menjadi lebih baik dan guru BK membantu dalam memahami arti belajar agar subjek lebih disiplin dan mandiri tidak tergantung dengan orang lain. Akan tetapi guru BK kurang membantu dalam merencanakan masa depan subjek meski demikian guru BK memberikan masukan yang sesuai dengan kemampuan subjek.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) pemberian bantuan pada siswa agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depan sehingga mampu merumuskan tujuan, perencanaan, pengelolaan terhadap perkembangan siswa.
d) Dukungan sistem
Pada kasus subjek mengenai dukungan sistem bahwa ketika subjek mengalami kesulitan pada mata pelajaran tertentu guru BK subjek berkonsultasi dengan guru mata pelajaran tertentu agar ketika subjek naik kelas nanti tidak ada masalah dengan guru pelajaran tertentu. Guru BK subjek juga selalu mengikuti seminar atau workshop tentang bimbingan dan konseling untuk menambah pengalaman tentang onseling.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai dukungan sistem bahwa program ini memberikan dukungan kepada konselar untuk meningkatkan mutu bimbingan dan konseling.
3) Bagaimana proses bimbingan konseling untuk meningkatkan prestasi akademik subjek
a) Pelayanan dasar
Pada kasus subjek mengenai pelayanan dasar bahwa subjek mengikuti bimbingan dan konseling secara personal dari kelas 2 semester 2, di karenakan subjek masuk kelas internasional menyebabkan subjek ketinggalan dengan teman-teman subjek sehingga nilai rapor semester 1 subjek jelek. Subjek juga pernah mengalami penurunan prestasi akademik pada kelas 2 semester 1, dikarenakan kurangnya support atau dukungan dari orang tua subjek. Oleh karena itu guru BK menyuruh subjek datang teratur ke ruang BK agar guru BK subjek dapat memantau sejauhmanan perkembangan akademik subjek. Guru BK juga selalu memotivasi subjek dalam belajar, karena guru BK menginginkan agar subjek selalu belajar, tekun dalam mengerjakan PR. Dan ketika kedua orang tua subjek kurang perhatian terhadap sekolah subjek, guru BK membantu subjek dengan memberikan masukan kepada orang tua subjek agar lebih memperhatikan subjek. Dengan layanan bimbingan konseling yang di berikan, dapat mempengaruhi prestasi akademik subjek di sekolah yang dapat di lihat dari beberapa nilai pelajaran di rapor subjek yang naik seperti, agama pada semester 1 nilainya 90 sedangkan pada semester 2 naik menjadi 97, pendidikan kewarganegaraan dari 70 naik menjadi 75, bahasa inggris dari 70 menjadi 75, matematika dari 64 menjadi 70, fisika dari 81 manjadi 85, biologi dari 68 menjadi 72, seni budaya dari 82 menjadi 83, pendidikan jasmani dari 78 menjadi 79 dan teknologi informasi dan komunikasi dari 80 menjadi 86. Sedangkan untuk mata palajaran yang mengalami penurunan yaitu bahasa indonesia dari 80 menjadi 76, kimia dari 75 menjadi 68, bahasa jepang dari 79 menjadi 75. Untuk mata pelajaran yang tidak mengalami penurunan maupun kenaikan yaitu sejarah 76 dan lingkungan hidup 73.
Hal ini sesuai dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008), mengenai pelayanan dasar, bahwa pelayanan dasar adalah proses pemberian bantuan kepada siswa melalui kegiatan klasikal secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang, yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam mmenjalani kehidupannya. Fokus dari pada atau motivasi berprestasi, pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan perilaku bertanggung jawab.
b) Pelayanan responsif
Pada kasus subjek mengenai pelayanan responsif bahwa ketika subjek mengalami kesulitan dalam bidang akademik terutama mata pelajaran matematika kadang subjek berkonsultasi dengan guru BK subjek membantu dengan memberikan solusi kepada subjek agar subjek tidak takut lagi dengan pelajaran matematika sehingga subjek tidak ketinggalan dengan teman-teman subjek. Ketika subjek masih sering membolos dan mempunyai kebiasaan malas belajar, guru BK membantu subjek dengan cara menasehati dan menakut-nakuti subjek
tidak akan naik kelas dan tidak bisa mengikuti jalur PMDK, sehingga guru BK meminta orang tua subjek untuk mengawasi dan memantau belajar subjek. Guru BK juga membantu subjek untuk memiliki kebiasaan belajar yang positif, dengan cara memberikan tips-tips cara belajar yang efektif dengan menyuruh subjek mengikuti les dan banyak belajar di rumah, mulai dari membagi waktu antara sekolah dengan main. Ketika subjek merasa cemas dengan masa depan subjek, guru BK membantu dengan memberikan masukan dalam memilih universitas dan jurusan yang sesuai denga bakat, minat dan kemampuan subjek agar subjek tidak salah langkah dalam menentukan masa depan subjek.
Hal ini sesuai dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai pelayanan responsif, bahwa pelayanan Responsif adalah pemberian bantuan pada siswa yang menghadapi masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera. Tujuan dari pelayanan responsif membantu siswa memecahkan masalah yang di hadapinya, sebbagai upaya untuk menangani masalah pribadi siswa.
c)Pelayanan dan perencanaan individual
Pada kasus subjek mengenai pelayanan dan perencanaan individual bahwa untuk mencapai prestasi akademik yang lebih baik guru BK membantu mengarahkan subjek denga cara terus mendorong dan menyemangati subjek, guru BK juga membantu dengan menyarankan agar subjek mengikuti les, selain itu guru BK juga membantu memilihkan les yang sesuai dengan subjek. Guru BK juga membantu dalam memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan kemampuan subjek. Akan tetapi guru BK kurang membantu dalam merencanakan masa depan subjek, guru BK hanya memberikan masukan sesuai dengan kemampuan subjek, dalam memahami arti belajar guru BK membantu agar subjek lebih disiplin, bisa mandiri, tidak tergantung dengan orang lain, belajar untuk diri sendiri dan untuk masa depan subjek, agar subjek dapat mencapai karir yang diharapkan. Dalam membangun hubungan sosial, guru BK juga membantu dengan cara memberikan pengarahan sehingga dapat tercipta keharmonisan di sekolah, guru BK juga selalu memberikan kesempatan yang ada di sekolah agar setiap kesempatan yang ada dapat selalu subjek ikuti.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai pelayanan dan perencanaan individual atau bantuan kepada siswa agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan kelebihan dan kekurangan siswa. Serta pemahaman akan adanya peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungan. Sehingga fokus pengembangan pada aspek akademik meliputi memanfaatkan keterampilan belajar, melakuakn pemilihan pendidikan lanjutan atau jurusan, memilih kursus atau pelajaran tambahan yang tepat, dan memahami niali belajar.
d) Dukungan sistem
Pada kasus subjek mengenai dukungan sistem bahwa ketika subjek mengalami kesulitan guru BK subjek selalu berkonsultasi dengan guru mata pelajaran tertentu bahkan kadang guru matematikanya sendiri yang datang ke guru BK subjek memberikan informasi tentang perkembangan subjek.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai dukungan sistem bahwa program ini memberikan dukungan kepada konselar untuk meningkatkan mutu bimbingan dan konseling
E. Penutup
1. Simpulan
a. Gambaran bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah
Pelayanan bimbingan konseling di kelas subjek terjadwal dengan rutin setiap minggunya, satu minggu satu kali, selama satu jam. Beberapa tahun yang lalu pelayanan bimbingan konseling tidak masuk kelas hanya berdasarkan guru BK yang keliling dan guru yang melapor, akan tetapi sekarang guru BK subjek mendapatkan kewajiban untuk memanggil siswa, untuk mengetahui permasalahan siswa di bidang akademik, pemecahan masalah baik siswa yang bermasalah maupun siswa yang tidak bermasalah. Menurut guru BK subjek masalah yang sifatnya pribadi dilakukan di ruangan sedangkan yang sifatnya klasikal di lakukan di kelas. Guru BK subjek juga memotivasi subjek dalam belajar walaupun tidak secara terus-menerus, guru BK juga membantu dalam mengambil keputusan yang behubungan dengan akademik, ketika kedua orang tua subjek kurang perhatian kepada subjek guru BK memberikan masukan kepada kedua orang tua subjek agar lebih memperhatikan subjek dan dengan layanan bimbingan dan konseling yang diberikan, dapat mempengaruhi prestasi akademik subjek di sekolah yang dapat dilihat dari beberapa nilai pelajaran dirapor subjek yang naik. Guru BK subjek juga membantu subjek ketika subjek mengalami hambatan dalam belajar terutama mata pelajaran matematika. Ketika subjek merasa cemas dengan masa depan subjek, guru BK membantu dengan memberikan masukan kepada subjek bahwa subjek tidak boleh salah dalam memilih Universitas. Ketika subjek masih sering membolos guru BK membantu dengan cara menasehati. Guru BK juga membantu menghilangkan kebiasaan malas belajar subjek dengan memberikan tips-tips belajar yang efektif, mulai dari menghilangkan kebiasaan belajar yang positif. Meski demikian guru BK kurang membantu dalam merencanakan atau merancang masa depan subjek tetapi guru BK membantu dalam memilih jurusan yang sesuai dengan kemampuan subjek.
b. Faktor-faktor yang menyebabkan bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah dapat meningkatkan presatasi akademik subjek.
Guru BK membantu memotivasi subjek dalam belajar sehingga subjek belajar yang rajin, tidak malas lagi belajarnya karena subjek mau naik ke kelas 3. Dalam mengambil keputusan guru BK subjek juga membantu agar subjek dapat meningkatkan prestasi dan demi kebaikan subjek sehingga membuat subjek semangat dan dapat mencapai apa yang ingin subjek raih. Guru BK subjek juga membantu mengurangi kegagalan akademik terutama mata pelajaran matematika karena menurut guru BK subjek matematika adalah pusatnya ilmu. Ketika subjek masih sering membolos guru BK membantu menghilangkan kebiasaan membolos sehingga subjek dapat mengikuti jalur PMDK, guru BK juga membantu subjek memiliki kebiasaann belajar yang positif sehingga subjek lebih disiplin dalam belajar. Dalam membangun hubungan sosial, guru BK juga membantu dengan cara memberikan pengarahan sehingga dapat tercipta keharmonisan di sekolah, guru BK juga selalu memberikan kesempatan yang ada di sekolah agar setiap kesempatan yang ada dapat selalu subjek ikuti.
c. Bimbingan konseling untuk meningkatkan prestasi akademik subjek
Subjek mengikuti bimbingan konseling secara personal dari kelas 2 semester 2, di karenakan subjek masuk kelas internasional menyebabkan subjek ketinggalan dengan teman-teman subjek sehingga nilai rapor semester 1 subjek jelek. Subjek juga pernah mengalami penurunan prestasi akademik
pada kelas 2 semester 1, dikarenakan kurangnya support atau dukungan dari orang tua subjek. Oleh karena itu guru BK menyuruh subjek datang teratur ke ruang BK agar guru BK subjek dapat memantau sejauhmanan perkembangan akademik subjek. Guru BK juga selalu memotivasi subjek dalam belajar, karena guru BK menginginkan agar subjek selalu belajar, tekun dalam mengerjakan PR. Dan ketika kedua orang tua subjek kurang perhatian terhadap sekolah subjek, guru BK membantu subjek dengan memberikan masukan kepada orang tua subjek agar lebih memperhatikan subjek. Guru BK juga membantu subjek untuk memiliki kebiasaan belajar yang positif, dengan cara memberikan tips-tips cara belajar yang efektif dengan menyuruh subjek mengikuti les dan banyak belajar di rumah, mulai dari membagi waktu antara sekolah dengan main. Ketika subjek merasa cemas dengan masa depan subjek, guru BK membantu dengan memberikan masukan dalam memilih universitas dan jurusan yang sesuai denga bakat, minat dan kemampuan subjek agar subjek tidak salah langkah dalam menentukan masa depan subjek.
Untuk mencapai prestasi akademik yang lebih baik guru BK membantu mengarahkan subjek denga cara terus mendorong dan menyemangati subjek, guru BK juga membantu dengan menyarankan agar subjek mengikuti les, selain itu guru BK juga membantu memilihkan les yang sesuai dengan subjek. Dengan layanan bimbingan konseling yang di berikan, dapat mempengaruhi prestasi akademik subjek di sekolah yang dapat di lihat dari beberapa nilai pelajaran di rapor subjek yang naik.
2. Saran
a. Untuk subjek
Bagi subjek diharapkan setelah subjek mengikuti bimbingan dan konseling di sekolah secara personal, subjek dapat meninggalkan kebiasaan-kebiasaan negatif subjek seperti membolos, malas belajar, tidak memiliki kebiasaan belajar yang baik, dan lain-lain. Dengan subjek mengikuti bimbingan dan konseling diharapkan subjek dapat memecahkan masalah subjek sendiri, mampu mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya, mampu merencanakan masa depan dengan mengambil jurusan yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan subjek sehingga subjek dapat mencapai karir yang di harapkan.
Sedangkan bagi siswa-siswa yang lainya diharapkan tidak hanya mengikuti bimbingan konseling di kelas yang sudah terjadwal secara rutin di sekolah melainkan dapat mengikut sertakan bimbingan konseling secara personal ke ruang BK.
b. Untuk keluarga subjek
Kepada kedua orang tua subjek diharapkan dapat memberikan perhatian yang lebih terhadap subjek, dengan terus memantau perkembangan sekolah subjek dan lebih banyak meluangkan waktunya untuk subjek di rumah.
c. Untuk sekolah
Hendaknya pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dapat ditingkatkan fungsinya sebagaimana mestinya yaitu membantu siswa dalam mengatasi masalah yang di hadapi siswa terkait dengan akademik subjek dan masalah yang sedang di hadapi siswa. Sedangkan pihak sekolah seperti kepala sekolah dan guru BK itu sendiri diharapkan mampu menghilangkan anggapan ataupun imej yang menyatakan bahwa guru pembimbing atau konselor di sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang tugasnya menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin dan keamanan sekolah, sehingga siswa-siswa yang lain di harapkan dapat mengikuti bimbingan dan konseling secara personal ke ruang BK.
d. Untuk penelitian selanjutnya
Bagi penelitian selanjutnya yang tertarik untuk meneliti tentang bimbingan konseling pada remaja dan prestasi akademik, di harapkan agar dapat mengungkap aspek-aspek lain tentang
bimbingan konseling dan agar mencari subjek penelitian lebih banyak dari penelitian ini. Dalam melakukan observasi pada penelitian disarankan agar dilakukan lebih dari satu hari sehingga hasil yang di dapat akan memperkaya hasil penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto. (1996). Psikologi pendidikan. Cetakan ketiga. Bandung: FIP-IKIP
Azwar, S. (2005). Tes Prestasi : Fungsi dan pengembangan pengukuran prestasi belajar. Edisi II. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Chalpin, J.P. (2004). Kamus lengkap psikologi. Edisi Revisi. Alih Bahasa : Kartono, K. Jakarta: PT. Raja Grafindo Utama.
Djamarah, S. (2002). Psikologi belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Gunarsa, S. (1982). Psikologi untuk membimbing. Jakarta: PT-BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, S. (1992). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, S. (1995). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Gunawan, Y. (2001). Pengantar bimbingan dan konseling. Jakarta: PT. Prenhallindo.
Heru Basuki, A.M. (2006). Penelitian kualitatif untuk ilmu-ilmu kemanusiaan dan budaya. Jakarta: Penerbit Gunadarma.
Hurlock, E. B. (1999). Psikologi perkembangan suatu rentang kehidupan. Terjemah : Istiwidayanti . Jakarta: Erlangga.
Manajemen bimbingan dan konseling. (2008). Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.
Mappiare, A (2002). Pengantar konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Moleong, L. J. (2004). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Monks, F. J. dkk. (1992). Psikologi perkembangan : Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Universitas Gajahmada Press.
Mukhtar, A., N. & Sulistyaningsih, E. (2003). Konsep diri remaja : Menuju pribadi mandiri. Jakarta: PT. Rakasta Samasta.
Munandar, V. S. C. (1987). Mengembangkan bakat & kreatifitas. Jakarta: PT. Gramedia.
Nurwati, E. (2004). Pengaruh kendali diri dalam penyesuaian sosial di sekolah terhadap prestasi belakar siswa. Skripsi (Tidak diterbitkan). Bandung: PPB FIB UPI
Poerwandari, E. K. (1998). Pendekatan kualitatif untuk penelitian prilaku manusia. Depok: Lembaga pengembangan sarana pengukuran dan penelitian Universitas Indonesia.
Poerwandari, E. K. (2005). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Jakarta: Universitas Indonesia.
Prayitno & Amti, E. (2004). Dasar-dasar bimbingan dan konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Soemanto. (1988). Kepemimpinan dan supervisi pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.
Sukmadinata, N. S. (2003). Landasan psikologi proses pendidikan. Bandung: Rosdakarya.
Surya, M. (1982). Psikologi pendidikan. Cetakan ketiga. Bandung: FIP-IKIP.
Suryabrata, S. (1998). Psikologi pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Syah, M. (2003). Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Tohirin. (2000). Bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah (berbasis integrasi). Jakarta: PT. Raja grafindo Persada.
Walgito, B. (2005). Bimbingan dan konseling (studi dan karir). Yogyakarta: C.V. Andi Offset.
Willis, S. (2004). Konseling individual teori dan praktek. Bandung: Alfabeta.
Winkel, W. S. (1997). Bimbingan dan konseling di institusi pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana.
Yusuf, S & Nurihsan, J. (2008). Landasan bimbingan dan konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

contoh klien dan konselor

Dikirim 0leh Arjo moemedo 0 komentaran


Masalah : krisis nilai (anak didik yang taat beragama, pindah sekolah favorit di kota besar ).
Pada sebuah SMA seorang guru pembimbing (laki- laki) sedang sibuk dengan adsministrasinya, tiba- tiba pintu diketuk oleh seorang siswi.
Klien : `assalamu’alaikum, permisi pak
Konselor : `wa’alaikumsalam, mari Nak silakan duduk.
Konselor :` wah, bapak senang sekali berjumpa denganmu.tampaknya ada sesuatu yang penting , sehingga Anda menemui bapak
Klien :` ya, pak.
Konselor :` tampaknya wajahmu terlihat begitu “ mendung” seperti aada yang terganggu ``dalam perasaanmu.
Klien : ya, pak.
Konselor : kalau begitu, bapak ingin mendengarkan sejauh mana perasaan yang mengganggu `pikiranmu mungkin bisa kita bicarakan bersama?.
Klien :begini, pak. Saya mengalami beberapa kesulitan dan rasa kecewa menghadapi lingkungan baru di sekolah baruy di sisni. Terutama menghadapi lingkungan pergaulan teman- teman yang bebas tanpa menghiraukan norma- norma agama . hal ini membuat saya tertekan.
Konselor : lalu, bagaimana?.
Klien : saya kecewa karena mereka memandang diri saya sebagai orang sok alim dllnya
Konselor : o begitu. Setelah kecewa apa yang anada lakukan ?
Klien : saya lebih banyak diam , dan menghindari mereka.
Konselr : apakah kamu merasa senang, dengan cara seperti itu?
Klien : tidak juga, namun saya berpikir terus.
Konselor : mungkin yang ada dalam pikiranmu adalah bahwa situasi sekolah ini harus sama dengan sekolahmu yang dulu di daerah yang srsat dengan nilai-nlia religious, apakah demikian?.
Klien : ya, pak.
Konselor : kalau begitu apakah masalahmu adalah tentang bagaimana cara menyesuaikan diri di sekolah ini?
Klien : ya, pak.
Konselor : bagus, anda telah memahami masalh anda, yaitu bagaimana menyesuaikan diri di sekolah yang baru.
Klien : ya, pak. Mungkin situasi tak daoat saya ubah .namun saya tidak mungkin mengikuti cara- cara pergaulan merekaa.
Konselor : anda bertujuan menuntut ilmu disekolah ini, namun anda mengalami perasaan tertekan.?!
Klien : ya, pak tujuan utama saya ingi belajar di sekolah ini .saya telah berjanji dengan orang tua saya untuk giat belaja agar saya masuk fakultas psikolgi UGM
Konselor : bagus sekali tekadmu itu.saya mendukungnya.lalu apakah anda punyacara untuk mengatasi malah penyesusian diri terhadap teman- temanbaru?
Klien : saya akan mencoba berpikir untuk menyesuaikan diri tanpa saya kehilangan prinsip. Walaupun hal itu agak sulit.
Konselor : apakah kamu bisa berdiskusi denagan seorang teman akrap untuk memecah kan masalh itu bersama?
Klien : mungkin ada . tapi saya belum begitu pasti.
Konselor : baiklah .apa rencanamu sementara sebagai pegangan untuk tindakan selanjutnya?
Klien : pertama, sayakan temui teman teman dekat saya untuk meminta pendapatnya.kedua, saya akan berbicara dengan oran tua saya mengenai hal itu.
Setelah itu saya akan menghubungi bapak kembali.
Konselor : bagus. Sebelum kita tutup pembicaraan ini, bagaimana perasaanmu setelah kita berdiskusi dan kesimpulanmu Anda?
Klien : saya merasa legasekali, pak. Kecemasan saya mulai menurun, dan saya sudah tahu langkah- langkah yang saya akan lakukan.
Konselor : apakah masih ada hal yang akan Anda sampaikan ?
Klien : saya kira cukup, pak.
Konselor : Bagaimana kalau kita tutup pembicaraan ini, dan saya ucapkan semoga sukses atas keberhasilan Anda mengatasi hal ini.
Klien : terima kasih, pak.

Total Pageviews

lalaaaa

berilah kritik dan saran pada saya
terimakasih.. salam Anharul Huda

ngobrol-ngobrol
[Close]

Like My Blog JO LALI PENCET JEMPOLNYA. OK

sedulur adoh seg mampir