DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Halaman Pengesahan ii
Kata Pengantar iii
Motto iv
Daftar Isi v
BAB IPENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Identifikasi Masalah 2
C. Batasan Masalah 2
D. Rumusan Masalah 3
E. Tujuan Survei 3
F. Manfaat survei 3
BAB II LANDASAN TEORI 5
A. Pengertian Bimbingan 5
B. Pengertian Konseling 7
C. Pengertian Bimbingan Konseling 8
D. Pengertian Tentang Alat Perlengkapan Bimbingan Konseling 9
E. Indicator alat perlengkapan bimbingan konseling ..9
BAB III METODE PENELITIAN 23
A. Variabel Penelitian 23
B. Tempat dan waktu Penelitian 24
C. Pendekatan Penelitian 24
D. Metode Pengumpulan Data 25
E. Instrumen Penelitian 28
BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 32
A. Penyajian Data Survey 32
B. Analisa Data Survey 33
C. Hasil Survey 34
BAB V PENUTUP 35
A. Kesimpulan 35
B. Saran 36
Daftar pustaka
BIMBINGAN KONSELING PADA REMAJA DAN PRESTAsi AKADEMI
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan kemampuan siswa. Dengan pendidikan diharapkan individu (siswa) dapat mengembangkan potensi-potensinya agar mencapai pribadi yang bermutu. Indikator keberhasilan sekolah dalam mengemban tugasnya dapat dilihat dari pencapaian prestasi akademik yang tinggi dan berbagai keterampilan khusus yang dimiliki oleh peserta didik dan tidak sedikit di antaranya menyangkut masalah-masalah yang berhubungan dengan akademik. Sedangkan siswa dituntut untuk terus meningkatkan prestasi akademiknya, di tengah kesibukan dan kepadatan tugas-tugas sekolah baik tugas-tugas akademik maupun kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti siswa, sehingga siswa perlu mengikuti layanan bimbingan dan konseling di sekolah untuk meningkatkan prestasi akademik. Dengan kondisi seperti itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui secara mendalam apakah bimbingan dan konseling itu sendiri dapat berperan dalam meningkatkan prestasi akademik siswa di sekolah.
Dari pemaparan di atas, maka timbul pertanyaan mengenai bagaimana gambaran bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah, faktor-faktor apa yang menyebabkan bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah dapat meningkatkan prestasi akademik subjek , dan bagaimana proses bimbingan konseling untuk meningkatkan prestasi akademik subjek.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana gambaran bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah, faktor-faktor apa yang menyebabkan bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah dapat meningkatkan prestasi akademik subjek, dan bagaimana proses bimbingan konseling untuk meningkatkan prestasi akademik subjek.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah seorang pelajar SMU, dan pernah atau sedang mengikuti bimbingan dan konseling secara personal (dengan inisiatif sendiri) di sekolah. Dalam penelitian ini subjek penelitian terdiri dari satu orang.
Teknik peengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan metode wawancara dan observasi yang diterapkan pada subjek dan significant others. Lengkap dengan pedoman wawancara, pedoman observasi dan alat perekam.
Dari hasil analisis yang dilakukan, maka dapat diketahui bahwa pelayanan bimbingan konseling di kelas subjek terjadwal dengan rutin setiap minggunya selama satu jam. Guru BK mendapat kewajiban memanggil siswa untuk mengetahui permasalahan siswa dibidang akademik, sedangkan siswa mengikuti bimbingan konseling secara personal pada kelas 2 semester 2, dikarenakan pada kelas 2 semester 1 subjek mengalami penurunan prestasi akademik. Oleh karena itu guru BK menyuruh subjek datang teratur ke ruang bimbingan konseling agar guru BK subjek dapat memantau sejauhmana perkembangan akademik subjek. Guru BK subjek juga memotivasi subjek dalam belajar sehingga subjek selalu rajin belajar dan tekun dalam mengerjakan PR. Ketika subjek mengalami kesulitan dalam bidang akademik,
subjek berkonsultasi dengan guru BK subjek sehingga subjek tidak ketinggalan pelajaran dengan teman-teman subjek. Ketika subjek masih sering membolos dan mempunyai kebiasaan malas belajar, guru BK subjek membantu subjek dengan cara menasehati sehingga subjek memiliki kebiasaan belajar positif dan tidak membolos lagi. Guru BK juga membantu subjek dengan memberikan masukan pada subjek dalam memilih universitas dan jurusan yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan subjek sehingga subjek tidak salah langkah dalam menentukan masa depan subjek. Dengan layanan bimbingan dan konseling yang diberikan, dapat mempengaruhi prestasi akademik subjek di sekolah yang dapat dilihat dari beberapa nilai mata pelajaran di rapor subjek yang naik.
Kata kunci : Bimbingan konseling, prestasi akademik dan remaja.
A. Pendahuluan
1. Latar Belakanng
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan kemampuan siswa. Dengan pendidikan diharapkan individu (siswa) dapat mengembangkan potensi-potensinya agar mencapai pribadi yang bermutu. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal mengemban tugas yang cukup berat diantaranya sebagai fasilitator bagi siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Indikator keberhasilan sekolah dalam mengemban tugasnya dapat dilihat dari pencapaian prestasi akademik yang tinggi dan berbagai keterampilan khusus yang dimiliki oleh peserta didik (Nurwati, 2004).
Keberhasilan dari sebuah proses belajar di sekolah diukur dengan prestasi akademik yang dicapai siswa. Prestasi akademik siswa merupakan suatu istilah yang menunjukkan derajat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan belajar setelah melakukan proses belajar dari suatu program yang telah ditentukan. Prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar dan kemajuan siswa yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang diajarkan (Suryabrata, 1998). Prestasi akademik pula yang menjadi tolak ukur dari tingkat pemahaman siswa terhadap materi tertentu yang telah diberikan setelah siswa mengalami proses belajar pada jangka waktu tertentu dan dinyatakan dalam bentuk nilai.
Prestasi akademik yang telah dicapai oleh seorang siswa merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor-faktor yang saling mempengaruhi satu sama lain. Faktor-faktor tersebut datangnya mungkin dari dalam diri ataupun dari luar diri individu. Dengan mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi prestasi akademik, maka akan mempermudah atau membantu siswa mencapai prestasi akademik yang memadai dan optimal.
Dalam kegiatan belajar akan timbul berbagai masalah bagi siswa itu sendiri maupun bagi pengajar (guru). Misalnya bagaimana menciptakan kondisi yang baik agar berhasil, bagaimana membuat rencana bagi siswa, menyesuaikan proses belajar, penilaian hasil belajar, kesulitan belajar dan sebagainya. Bagi siswa sendiri masalah-masalah belajar yang mungkin timbul adalah pengaturan waktu belajar, memilih cara belajar, menggunakan buku-buku pelajaran, mempersiapkan ujian dan sebagainya. Sehingga perlunya program bimbingan dan konseling untuk membantu siswa agar berhasil dan mencapai prestasi akademik yang diinginkan (Yusuf & Nurihsan, 2008).
Menurut Prayitno & Amti (2004) pelayanan bimbingan dan konseling
ditujukan dan berlaku kepada semua siswa, baik siswa-siswa yang gagal, yang menimbulkan gangguan, yang berkemungkinan putus sekolah, yang mengalami kesulitan belajar, maupun siswa-siswa yang memiliki bakat istimewa, yang berpotensi rata-rata, dan yang mengalami masalah belajar seperti angka-angka rapor yang merah, tidak naik kelas dan lain-lain. Di sekolah pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan sangat baik mengingat sekolah merupakan jenis layanan bimbingan dan konseling dalam segenap fungsinya. Para guru terlibat langsung dalam pengajaran yang dikehendaki mencapai taraf keberhasilan yang tinggi, memerlukan upaya penunjang bagi optimalisasi belajar siswa dalam mencapai hasil belajar yang diinginkan.
Menurut Prayitno & Amti (2004) keberadaan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dipertegas lagi oleh Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 (tentang Pendidikan Menengah) menyebutkan bahwa (1) bimbingan dalam rangka menemukan pribadi siswa, dimaksudkan untuk membantu siswa mengenal kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya, (2) bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan, dimaksudkan untuk membentuk siswa untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, ekonomi, budaya, serta alam yang ada, dan (3) bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan, mempersiapkan diri untuk langkah yang dipilihnya setelah tamat belajar pada sekolah menengah serta karier dan masa depannya.
Menurut Gunarsa (1982) tujuan dari layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah supaya siswa memperoleh (1) kemampuan berprestasi di sekolah, (2) sikap menghormati kepentingan dan harga diri orang lain, (3) cara mengatasi kesulitan dirinya, (4) pemahaman tentang kesulitan sekolah, (5) penyelesaian kesulitan dalam hal belajar (6) pengarahan dalam mengatasi masalah dalam hal prestasi akademik, dan (7) persiapan bidang kerja yang tepat untuk masa depannya.
Dalam penelitian ini, peneliti akan memfokuskan pada siswa usia remaja (13-18 tahun) dan pernah atau sedang mengikuti bimbingan dan konseling di sekolah untuk meningkatkan prestasi akademik. Peneliti memilih objek penelitian ini karena banyak anggapan yang menyatakan bahwa guru pembimbing atau konselor di sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang tugasnya menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin dan keamanan sekolah. Berdasarkan pandangan di atas, wajar bila siswa beranggapan bila datang ke konselor itu berarti siswa mengalami ketidakberesan tertentu, siswa tidak dapat berdiri sendiri, siswa telah berbuat salah, dan predikat-predikat negatif lainnya. Padahal layanan bimbingan dan konseling bukanlah pengawas ataupun polisi sekolah yang selalu mencurigai.
Berdasarkan uraian di atas, pendidikan di sekolah dewasa ini sarat permasalahan, dan tidak sedikit di antaranya menyangkut masalah-masalah yang berhubungan dengan akademik. Sedangkan siswa dituntut untuk terus meningkatkan prestasi akademiknya, di tengah kesibukan dan kepadatan tugas-tugas sekolah baik tugas-tugas akademik maupun kegiatan ekstrakurikuler yang di ikuti siswa, sehingga siswa perlu mengikuti layanan bimbingan dan konseling di sekolah untuk meningkatkan prestasi akademik. Dengan kondisi seperti itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui secara mendalam apakah bimbingan dan konseling itu sendiri dapat berperan dalam meningkatkan prestasi akademik siswa di sekolah.
2. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana gambaran bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah, faktor-faktor apa yang menyebabkan bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah dapat meningkatkan prestasi akademik
subjek, bagaimana proses bimbingan konseling untuk meningkatkan prestasi akademik subjek.
3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari jawaban atas pertanyaan penelitian bagaimana gambaran bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah, faktor-faktor apa yang menyebabkan bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah dapat meningkatkan prestasi akademik subjek, dan bagaimana proses bimbingan konseling untuk meningkatkan prestasi akademik subjek.
4. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti pada perkembangan ilmu psikologi, terutama pada psikologi pendidikan khususnya mengenai bimbingan konseling pada siswa di sekolah dan prestasi akademik. Bahwa bimbingan konseling yang diberikan di sekolah membantu mengatasi kesulitan siswa pada mata pelajaran tertentu, membantu siswa menghilangkan kebiasaan membolos, mengurangi kebiasaan malas belajar siswa sehingga siswa memiliki kebiasaan belajar yang positif dan efektif, memberikan masukan dalam memilih universitas dan jurusan yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan serta mengurangi rasa cemas siswa terhadap masa depan sehingga siswa dapat mencapai prestasi akademik yang optimal. Hal ini akan membawa pengaruh positif bagi siswa untuk dapat mengikuti bimbingan konseling di sekolah secara personal (inisiatif sendiri) ke ruang bimbingan konseling serta sebagai referensi atau acuan penelitian selanjutnya.
2. Manfaat praktis, iharapkan dapat memberikan sumbangan berupa hasil kajian mengenai bimbingan konseling pada siswa di sekolah terkait dengan prestasi akademik siswa, serta dapat memberikan masukan bagi siswa untuk dapat terus meningkatkan prestasi akademiknya. Misalnya dengan mengikuti berbagai kegiatan kursus atau les tambahan di sekolah maupun di luar sekolah, memiliki kebiasaan belajar yang efektif, siswa dapat memilih jurusan yang sesuai dengan kemampuan siswa dan siswa dapat mencapai karir yang diharapkan serta siswa di harapkan dapat membangun hubungan sosial dengan lingkungannya. Dalam hal ini dukungan dari pihak keluarga dan sekolah menjadi faktor pendukung dari keberhasilan siswa di sekolah.
B. Tinjauan Pustaka
1. Bimbingan Konseling
a. Pengertian Bimbingan Konseling
Proses pemberian bantuan atau pertolongan yang sistematis dari konselor kepada konseli (klien) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik untuk mengungkap masalah klien sehingga klien mampu melihat masalahnya sendiri, mampu menerima dirinya sendiri dan mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya.
b. Tujuan Bimbingan Konseling
Menurut Yusuf & Nurihsan (2008) tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah sebagai berikut.
1) Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
2) Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
3) Memliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, menggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan memepersiapkan diri menghadapi ujian.
4) Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan
pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.
5) Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
c. Komponen-komponen Pelayanan Bimbingan Konseling
Berdasarkan modul seminar dari tim dosen bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (2008). Adapun komponen-komponen pelayanan bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut:
1) Pelayanan Dasar
Proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli (siswa) melalui kegiatan klasikal atau kelompok secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian) yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya. Tujuan dari pelayanan dasar yaitu memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya, mampu mengembangkan keterampilan, mampu menangani masalahnya. Sedangkan fokus dari pelayanan dasar ini adalah motivasi berprestasi, keterampilan pengambilan keputusan, keterampilan pemecahan masalah, dan perilaku bertanggungjawab. Adapun bentuk-bentuk pelayanan dasar adalah bimbingan kelas, pelayanan orientasi, pelayanan informasi, bimbingan kelompok, dan pelayanan pengumpulan data.
2) Pelayanan Responsif
Pemberian bantuan kepada konseli (siswa) yang menghadapi kebutuhan atau masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera. Tujuan dari pelayanan responsif adalah membantu konseli (siswa) agar dapat memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membuat konseli (siswa) yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya dan sebagai upaya untuk menangani masalah-masalah pribadi konseli (siswa) adalah merasa cemas tentang masa depan, merasa rendah diri, membolos dari sekolah, malas belajar, kurang memiliki kebiasaan belajar yang positif, prestasi belajar rendah, masalah keluarga dan lain-lain. Adapun bentuk-bentuk pelayanan responsif adalah konseling individual dan kelompok, rujukan, kolaborasi dengan guru mata pelajaran atau wali kelas, kolaborasi dengan orang tua, kolaborasi dengan pihak-pihak, konsultasi, bimbingan teman sebaya, kunjungan rumah, dan konferensi kasus.
3) Pelayanan dan Perencanaan Individual
Bantuan kepada konseli (siswa) agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan konseli (siswa), serta pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Tujuan dari pelayanan dan perencanaan individual adalah mampu merumuskan tujuan, perencanaan, pengelolaan terhadap perkembangan konseli (siswa), baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karier, dan dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan dan rencana yang telah di tentukan. Fokus pengembangan pada aspek akademik meliputi memanfaatkan keterampilan belajar, melakukan pemilihan pendidikan lanjutan atau pilihan jurusan, memilih kursus atau pelajaran tambahan yang tepat, dan memahami nilai belajar sepamjang hayat.
4) Dukungan Sistem
Program ini memberikan dukungan kepada konselor dalam memperlancar
penyelenggaraan pelayanan dasar, pelayanan responsif, dan pelayanan dan perencanaan individual. Sedangkan bagi pendidik lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan. Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling.
2. Prestasi Akademik
a. Pengertian Prestasi Akademik
prestasi akademik adalah hasil yang diperoleh berupa pengetahuan, keterampilan, nilai (values) dan sikap yang menetap sehingga mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar, sehingga dapat dipakai sebagai ukuran untuk mengetahui sejauhmana siswa menguasai bahan pelajaran yang diajarkan dan dipelajarinya. Hasil yang diperoleh melalui proses belajar ini dinyatakan dengan nilai-nilai (scores), dimana dengan nilai-nilai tersebut dapat dilihat apakah prestasi akademik siswa tersebut tinggi atau rendah.
b. Indikator Prestasi Akademik
Menurut Syah (2003) pengungkapan hasil belajar ideal meliputi ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah dengan mengetahui garis-garis besar indikator (petunjuk adanya prestasi tertentu) dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diukur.
3. Bimbingan Konseling Pada Remaja dan Prestasi Akademik
Di sekolah layanan bimbingan dan konseling diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan sangat baik mengingat sekolah merupakan jenis layanan bimbingan dan konseling dalam segenap fungsinya. Para guru terlibat langsung dalam pengajaran yang dikehendaki mencapai taraf keberhasilan yang tinggi, memerlukan upaya penunjang bagi optimalisasi belajar siswa dan mencapai hasil belajar yang diharapkan (Prayitno & Amti, 2004). Pengajaran di kelas-kelas ternyata tidak cukup memadai untuk menjawab tuntutan penyelenggaraan pendidikan. Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan unsur yang perlu dipadukan ke dalam upaya pendidikan secara menyeluruh, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Beragam kesulitan yang kerap dihadapi siswa sebagaimana diungkap oleh Winkel (1997) meliputi masalah akademik dan non akademik. Kesulitan yang mendasar dibidang akademik diantara ketegangan dalam bergaul dengan teman sebaya, kondisi keluarga yang kurang kondusif, rasa minder dan rendah diri, kurangnya fasilitas rumah dan makanan yang bergizi. Sedangkan kesulitan yang seringkali muncul dalam bidang akademik yaitu rendahnya motivasi belajar, tidak mengetahui cara belajar yang baik, peraturan sekolah yang terlalu bebas atau terlalu ketat, bahan pelajaran yang terlalu banyak, dan sulitnya mengatur waktu belajar yang baik.
Pelayanan bimbingan dan konseling ditujukan dan berlaku bagi semua siswa, baik siswa-siswa yang gagal, siswa yang menimbulkan masalah, siswa yang berkemungkinan putus sekolah, siswa yang mengalami kesulitan belajar, maupun siswa-siswa yang memiliki bakat istimewa, yang berprestasi rata-rata dan yang mengalami masalah belajar seperti angka-angka rapor yang merah, tidak naik kelas dan lain-lain. Keberhasilan dari sebuah proses belajar di sekolah diukur dengan prestasi akademik yang dicapai siswa yang dinyatakan dalam bentuk nilai. Tujuan dari bimbingan dan konseling adalah bagaimanakonselor dapat meningkatkan motivasi belajar, mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif untuk meningkatkan prestasi akademik siswa,
serta memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar siswa sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk mencapai hasil belajar yang optimal.
C. Metode Penelitian
1. Pendekatan Kualitatif
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, dimana peneliti bertujuan agar mendapatkan pemahaman yang mendalam dari masalah yang peneliti teliti dan memberikan gambaran melalui pengamatan yang dilakukan dalam latar (setting) yang alamiah (naturalistic) bukan hasil perlakuan (treatment) atau manipulasi variabel yang dilibatkan.
2. Subjek Penelitian
Karakteristik subjek dalam penelitian ini adalah remaja (usia 13 -18 tahun), seorang pelajar, dan pernah atau sedang mengikuti bimbingan dan konseling secara personal (datang atas inisiatif sendiri ke ruang BK) di sekolah untuk meningkatkan prestasi akademik. Sementara itu subjek penelitian dalam penelitian ini terdiri dari satu orang subjek dengan 1 orang significant others.
3. Tahap-tahap Persiapan
a. Tahap Persiapan, peneliti membuat pedoman wawancara dan pedoman observasi yang disusun berdasarkan beberapa teori yang relevan dengan masalah. Selanjutnya peneliti akan mencari calon subjek dengan karakteristik sebagaimana telah disebutkan dalam subjek penelitian. Setiap perkembangan dilaporkan dan dikonsultasikan kepada dosen pembimbing.
b. Tahap pelaksanaan, Peneliti terjun langsung ke lapangan untuk melakukan observasi dan wawancara secara terpisah. Setelah itu, peneliti memindahkan hasil rekaman berdasarkan wawancara dan hasil observasi ke dalam bentuk verbatim tertulis, kemudian peneliti melakukan analisis data dan interpretasi data sesuai dengan langkah-langkah yang dijabarkan pada bagian teknik analisis data. Terakhir peneliti membuat diskusi dan kesimpulan dari seluruh hasil penelitian.
4. Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang terbuka dan luwes, metode dan tipe pengumpulan data dalam penelitian kualitatif sangat beragam, disesuaikan dengan masalah, tujuan penelitian, serta sifat objek yang diteliti.
Dalam penelitian ini observasi yang dilaksanakan oleh peneliti adalah pengamatan tidak berperan serta atau non partisipan, karena peneliti tidak terlibat secara langsung dengan aktivitas subjek, peneliti hanya mengamati sesuai waktu yang telah ditentukan atau yang telah dibuat peneliti dengan kesepakatan subjek. Meskipun demikian, informasi atau data yang diperoleh tetap memenuhi kriteria atau standar yang diinginkan. Sedangkan pendekatan wawancara dengan pedoman umum, yaitu semacam pedoman yang mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan, peneliti juga mengembangkan pedoman tersebut berdasarkan kondisi di lapangan. Hal ini dilakukan agar lebih efektif dalam menggali informasi yang diperlukan.
5. Alat Bantu yang Digunakan dalam Penelitian
Dalam penelitian, informasi atau data yang dibutuhkan bisa dalam bentuk verbal dan non verbal. Oleh sebab itu dalam melakukan observasi dan wawancara peneliti memerlukan beberapa alat bantu yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mempermudah proses jalannya suatu penelitian. Beberapa sarana atau instrumen yang digunakan adalah menggunakan media perekam suara, catatan atau tulisan tangan, pedoman wawancara, dan pedoman observasi.
6. Keakuratan Penelitian
Untuk mencapai keakuratan dalam suatu penelitian dengan metode kualitatif, ada beberapa teknik yang digunakan dan salah satu teknik tersebut adalah triangulasi. Triangulasi adalah suatu teknik pemeriksaan keakuratan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Triangulasi dapat dibedakan menjadi emapat macam yaitu triangulasi data, pengamat, teori, dan metodologis.
7. Teknik Analisa Data
Data yang diperoleh akan di analisa dengan menggunakan teknik analisa data kualitatif. Adapun tahapan tersebut adalah mengorganisasikan data, mengelompokkan data, analisis kasus, dan menguji asumsi.
D. Hasil Dan Analisis
1. Persiapan Penelitian
Pertama kali yang dilakukan oleh peneliti sebelum proses pengambilan data dilakukan, peneliti terlebih dahulu datang ke sekolah-sekolah untuk mencari informasi-informasi tentang subjek yang benar-benar pernah atau sedang mengikuti bimbingan dan konseling secara personal ke ruang bimbingan konseling. Setelah maksud dan tujuan telah di ketahui oleh calon subjek maka peneliti menjelaskan lebih rinci mengenai penelitian yang dilakukan peneliti agar subjek lebih mengerti dan merasa nyaman dengan peneliti sehingga penelitian dapat berjalan dengan baik. Sebelum proses pengambilan data, peneliti mempersiapkan pedoman wawancara, pedoman observasi, dan memepersiapkan alat-alat penelitian berupa tape recorder, kertas dan alat tulis. Hal ini dilakukan agar proses pengumpulan data dapat berjalan dengan baik dan lancar.
2. Pelaksanaan Penelitian
Kegiatan wawancara dalam penelitian ini dilakuakn pada tanggal 17 Juli 2008 dan wawancara dengan subjek dilaksanakan di CFC Plaza Metropolitan Mall. Sedangkan kegiatan wawancara dengan significant other, yaitu guru BK sekaligus wali kelas subjek dilakukan pada tanggal 23 Juli 2008 dan dilakukan di sekolah subjek SMUN 1 Tambun Selatan, ini dikarenakan memudahkan peneliti menemui significant other subjek setelah significant other selesai mengajar.
Kegiatan observasi dalam penelitian ini dilakukan pada tanggal 29 Juli 2008 yang dilakukan di sekolah subjek (SMUN 1 Tambun Selatan) tepatnya di kelas subjek.
3. Hasil Observasi dan Wawancara
a. Gambaran Umum Subjek
Subjek adalah seorang pria yang memiliki tinggi sekitar 170 cm, memiliki warna kulit sawo matang dan berambut hitam. Subjek adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Keluarga subjek tinggal di Bekasi. Keluarga subjek cukup harmonis akan tetapi subjek merasa ayah dan ibu subjek kurang perhatian terhadap subjek dikarenakan kedua orang tua subjek sibuk bekerja.
Subjek adalah seorang pelajar kelas 3 SMA Negeri 1 Tambun Selatan. Subjek mulai mengikuti bimbingan dan konseling secara personal dari kelas 2 semester 2. Kedua orang tua subjek mengetahui dan mengizinkan subjek untuk mengikuti bimbingan dan konseling di sekolah. Alasan subjek mengikuti bimbingan konseling agar nilai subjek lebih baik dari sebelumnya.
b. Pembahasan
1) Bagaimana gambaran bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah
a) Pelayanan dasar
Pada kasus subjek mengenai pelayanan dasar bahwa pelayanan bimbingan dan
konseling di sekolah subjek terjadwal dengan rutin setiap minggunya, satu minggu satu kali, selama satu jam. Guru BK subjek juga memanggil siswanya untuk mengetahui permasalahan siswa di bidang akademik. Guru BK subjek juga memotivasi subjek dalam belajar walaupun tidak secara terus-menerus, guru BK juga membantu dalam mengambil keputusan yang behubungan dengan akademik, ketika kedua orang tua subjek kurang perhatian kepada subjek guru BK memberikan masukan kepada kedua orang tua subjek agar lebih memperhatikan subjek dan dengan layanan bimbingan dan konseling yang diberikan, dapat mempengaruhi prestasi akademik subjek di sekolah yang dapat dilihat dari beberapa nilai pelajaran dirapor subjek yang naik.
Hal ini sesuai dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008), mengenai pelayanan dasar, bahwa pelayanan dasar atau pemberian bantuan kepada siswa melalui kegiatan klasikal secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang, fokus dari pada atau motivasi berprestasi, pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan perilaku bertanggung jawab.
b) Pelayanan responsif
Pada kasus subjek mengenai pelayanan responsif bahwa guru BK subjek membantu subjek ketika subjek mengalami hambatan dalam belajar terutama mata pelajaran matematika sehingga subjek mendapatkan perhatian yang lebih dari guru matematika subjek tersebut. Ketika subjek merasa cemas dengan masa depan subjek, guru BK membantu dengan memberikan masukan kepada subjek bahwa subjek tidak boleh salah dalam memilih Universitas. Ketika subjek masih sering membolos guru BK membantu dengan cara menasehati. Guru BK juga membantu menghilangkan kebiasaan malas belajar subjek dengan memberikan tips-tips belajar yang efektif, mulai dari menghilangkan kebiasaan belajar yang positif.
Hal ini sesuai dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai pelayanan responsif, bahwa pelayanan responsif adalah pemberian bantuan pada siswa yang menghadapi masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera. Tujuan dari pelayanan responsif membantu siswa memecahkan masalah yang di hadapinya.
c) Pelayanan dan perencanaan individual
Pada kasus subjek mengenai pelayanan dan perencanaan individual bahwa ketika subjek mengalami kesulitan pada mata pelajaran matematika guru BK menyuruh untuk sering-sering latihan, guru BK menyarankan agar subjek memiliki les agar subjek tidak ketinggalan dengan teman-teman subjek dan untuk mencapai prestasi akademik yang lebih baik. Guru BK subjek kurang membantu dalam merencanakan atau merancang masa depan subjek tetapi guru BK membantu dalam memilih jurusan yang sesuai dengan kemampuan subjek, guru BK juga membantu subjek dalam mencapai karir yang diharapkan. Guru BK membantu dalam memahami arti belajar, membantu subjek dalam melihat peluang atau kesempatan yang ada di lingkungan dan guru BK juga membantu membangun hubungan sosial subjek.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai pelayanan dan perencanaan individual atau bantuan kepada siswa agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan kelebihan dan kekurangan siswa.
d) Dukungan sistem
Pada kasus subjek mengenai dukungan sistem bahwa ketika subjek mengalami kesulitan pada mata pelajaran hitung-hitungan, guru BK subjek berkonsultasi dengan guru mata pelajaran tersebut. Guru
BK subjek juga aktif dalam kegiatan seminar atau workshop tentang bimbingan dan konseling.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai dukungan sistem bahwa program ini memberikan dukungan kepada konselar untuk meningkatkan mutu bimbingan dan konseling.
2)Faktor-faktor yang menyebabkan bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah dapat meningkatkan presatasi akademik subjek.
a) Pelayanan dasar
Pada kasus subjek mengenai pelayanan dasar bahwa guru BK membantu memotivasi subjek dalam belajar karena guru BK subjek menginginkan agar subjek belajar yang rajin, tidak malas lagi belajarnya karena subjek mau naik ke kelas 3. Dalam mengambil keputusan guru BK subjek juga membantu agar subjek dapat meningkatkan prestasi dan demi kebaikan subjek sehingga membuat subjek semangat dan dapat mencapai apa yang ingin subjek raih.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai pemberian bantuan dalam rangka mengembangkan perilaku jangka penjang yang diperlukan dalam pengembangan agar subjek memiliki pemahaman tentang dirinya dan lingkungannya, mampu mengembangkan ketrampilan, dan mampu menangani masalah.
b) Pelayanan responsif
Pada kasus subjek mengenai pelayanan responsif bahwa ketika subjek mengalami kesulitan dalam bidang akademik, subjek berkonsultasi dengan guru BK subjek dan guru BK subjek membantu agar subjek bisa mengikuti dan tidak ketinggalan dengan teman-teman subjek. Guru BK membantu agar subjek tidak salah langkah dalam bertindak. Guru BK subjek juga membantu mengurangi kegagalan akademik terutama mata pelajaran matematika karena menurut guru BK subjek matematika adalah pusatnya ilmu. Ketika subjek masih sering membolos guru BK membantu menghilangkan kebiasaan membolos agar subjek dapat mengikuti jalur PMDK, guru BK juga membantu subjek memiliki kebiasaann belajar yang positif agar subjek lebih disiplin dalam belajar.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) pemberian bantuan pada siswa yang memerlukan pertolongan segera. Membantu siswa agar dapat memecahkan masalah yang dialaminya sebagai upaya untuk menangani masalah-masalah pribadi siswa.
c)Pelayanan dan perencanaan individual
Pada kasus subjek mengenai pelayanan dan perencanaan individual bahwa guru BK mengarahkan subjek agar subjek mencapai prestasi yang lebih baik dan tidak ada nilai yang di bawah rata-rata. Dalam memilih kursus guru BK subjek membantu agar subjek tidak salah dalam memilih kursus. Guru BK juga selalu memberikan setiap kesempatan yang ada di sekolah karena guru BK menginginkan subjek menjadi lebih baik dan guru BK membantu dalam memahami arti belajar agar subjek lebih disiplin dan mandiri tidak tergantung dengan orang lain. Akan tetapi guru BK kurang membantu dalam merencanakan masa depan subjek meski demikian guru BK memberikan masukan yang sesuai dengan kemampuan subjek.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) pemberian bantuan pada siswa agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depan sehingga mampu merumuskan tujuan, perencanaan, pengelolaan terhadap perkembangan siswa.
d) Dukungan sistem
Pada kasus subjek mengenai dukungan sistem bahwa ketika subjek mengalami kesulitan pada mata pelajaran tertentu guru BK subjek berkonsultasi dengan guru mata pelajaran tertentu agar ketika subjek naik kelas nanti tidak ada masalah dengan guru pelajaran tertentu. Guru BK subjek juga selalu mengikuti seminar atau workshop tentang bimbingan dan konseling untuk menambah pengalaman tentang onseling.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai dukungan sistem bahwa program ini memberikan dukungan kepada konselar untuk meningkatkan mutu bimbingan dan konseling.
3) Bagaimana proses bimbingan konseling untuk meningkatkan prestasi akademik subjek
a) Pelayanan dasar
Pada kasus subjek mengenai pelayanan dasar bahwa subjek mengikuti bimbingan dan konseling secara personal dari kelas 2 semester 2, di karenakan subjek masuk kelas internasional menyebabkan subjek ketinggalan dengan teman-teman subjek sehingga nilai rapor semester 1 subjek jelek. Subjek juga pernah mengalami penurunan prestasi akademik pada kelas 2 semester 1, dikarenakan kurangnya support atau dukungan dari orang tua subjek. Oleh karena itu guru BK menyuruh subjek datang teratur ke ruang BK agar guru BK subjek dapat memantau sejauhmanan perkembangan akademik subjek. Guru BK juga selalu memotivasi subjek dalam belajar, karena guru BK menginginkan agar subjek selalu belajar, tekun dalam mengerjakan PR. Dan ketika kedua orang tua subjek kurang perhatian terhadap sekolah subjek, guru BK membantu subjek dengan memberikan masukan kepada orang tua subjek agar lebih memperhatikan subjek. Dengan layanan bimbingan konseling yang di berikan, dapat mempengaruhi prestasi akademik subjek di sekolah yang dapat di lihat dari beberapa nilai pelajaran di rapor subjek yang naik seperti, agama pada semester 1 nilainya 90 sedangkan pada semester 2 naik menjadi 97, pendidikan kewarganegaraan dari 70 naik menjadi 75, bahasa inggris dari 70 menjadi 75, matematika dari 64 menjadi 70, fisika dari 81 manjadi 85, biologi dari 68 menjadi 72, seni budaya dari 82 menjadi 83, pendidikan jasmani dari 78 menjadi 79 dan teknologi informasi dan komunikasi dari 80 menjadi 86. Sedangkan untuk mata palajaran yang mengalami penurunan yaitu bahasa indonesia dari 80 menjadi 76, kimia dari 75 menjadi 68, bahasa jepang dari 79 menjadi 75. Untuk mata pelajaran yang tidak mengalami penurunan maupun kenaikan yaitu sejarah 76 dan lingkungan hidup 73.
Hal ini sesuai dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008), mengenai pelayanan dasar, bahwa pelayanan dasar adalah proses pemberian bantuan kepada siswa melalui kegiatan klasikal secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang, yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam mmenjalani kehidupannya. Fokus dari pada atau motivasi berprestasi, pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan perilaku bertanggung jawab.
b) Pelayanan responsif
Pada kasus subjek mengenai pelayanan responsif bahwa ketika subjek mengalami kesulitan dalam bidang akademik terutama mata pelajaran matematika kadang subjek berkonsultasi dengan guru BK subjek membantu dengan memberikan solusi kepada subjek agar subjek tidak takut lagi dengan pelajaran matematika sehingga subjek tidak ketinggalan dengan teman-teman subjek. Ketika subjek masih sering membolos dan mempunyai kebiasaan malas belajar, guru BK membantu subjek dengan cara menasehati dan menakut-nakuti subjek
tidak akan naik kelas dan tidak bisa mengikuti jalur PMDK, sehingga guru BK meminta orang tua subjek untuk mengawasi dan memantau belajar subjek. Guru BK juga membantu subjek untuk memiliki kebiasaan belajar yang positif, dengan cara memberikan tips-tips cara belajar yang efektif dengan menyuruh subjek mengikuti les dan banyak belajar di rumah, mulai dari membagi waktu antara sekolah dengan main. Ketika subjek merasa cemas dengan masa depan subjek, guru BK membantu dengan memberikan masukan dalam memilih universitas dan jurusan yang sesuai denga bakat, minat dan kemampuan subjek agar subjek tidak salah langkah dalam menentukan masa depan subjek.
Hal ini sesuai dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai pelayanan responsif, bahwa pelayanan Responsif adalah pemberian bantuan pada siswa yang menghadapi masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera. Tujuan dari pelayanan responsif membantu siswa memecahkan masalah yang di hadapinya, sebbagai upaya untuk menangani masalah pribadi siswa.
c)Pelayanan dan perencanaan individual
Pada kasus subjek mengenai pelayanan dan perencanaan individual bahwa untuk mencapai prestasi akademik yang lebih baik guru BK membantu mengarahkan subjek denga cara terus mendorong dan menyemangati subjek, guru BK juga membantu dengan menyarankan agar subjek mengikuti les, selain itu guru BK juga membantu memilihkan les yang sesuai dengan subjek. Guru BK juga membantu dalam memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan kemampuan subjek. Akan tetapi guru BK kurang membantu dalam merencanakan masa depan subjek, guru BK hanya memberikan masukan sesuai dengan kemampuan subjek, dalam memahami arti belajar guru BK membantu agar subjek lebih disiplin, bisa mandiri, tidak tergantung dengan orang lain, belajar untuk diri sendiri dan untuk masa depan subjek, agar subjek dapat mencapai karir yang diharapkan. Dalam membangun hubungan sosial, guru BK juga membantu dengan cara memberikan pengarahan sehingga dapat tercipta keharmonisan di sekolah, guru BK juga selalu memberikan kesempatan yang ada di sekolah agar setiap kesempatan yang ada dapat selalu subjek ikuti.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai pelayanan dan perencanaan individual atau bantuan kepada siswa agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan kelebihan dan kekurangan siswa. Serta pemahaman akan adanya peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungan. Sehingga fokus pengembangan pada aspek akademik meliputi memanfaatkan keterampilan belajar, melakuakn pemilihan pendidikan lanjutan atau jurusan, memilih kursus atau pelajaran tambahan yang tepat, dan memahami niali belajar.
d) Dukungan sistem
Pada kasus subjek mengenai dukungan sistem bahwa ketika subjek mengalami kesulitan guru BK subjek selalu berkonsultasi dengan guru mata pelajaran tertentu bahkan kadang guru matematikanya sendiri yang datang ke guru BK subjek memberikan informasi tentang perkembangan subjek.
Hal ini sesuai dengan dengan naskah seminar bimbingan dan konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (2008) mengenai dukungan sistem bahwa program ini memberikan dukungan kepada konselar untuk meningkatkan mutu bimbingan dan konseling
E. Penutup
1. Simpulan
a. Gambaran bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah
Pelayanan bimbingan konseling di kelas subjek terjadwal dengan rutin setiap minggunya, satu minggu satu kali, selama satu jam. Beberapa tahun yang lalu pelayanan bimbingan konseling tidak masuk kelas hanya berdasarkan guru BK yang keliling dan guru yang melapor, akan tetapi sekarang guru BK subjek mendapatkan kewajiban untuk memanggil siswa, untuk mengetahui permasalahan siswa di bidang akademik, pemecahan masalah baik siswa yang bermasalah maupun siswa yang tidak bermasalah. Menurut guru BK subjek masalah yang sifatnya pribadi dilakukan di ruangan sedangkan yang sifatnya klasikal di lakukan di kelas. Guru BK subjek juga memotivasi subjek dalam belajar walaupun tidak secara terus-menerus, guru BK juga membantu dalam mengambil keputusan yang behubungan dengan akademik, ketika kedua orang tua subjek kurang perhatian kepada subjek guru BK memberikan masukan kepada kedua orang tua subjek agar lebih memperhatikan subjek dan dengan layanan bimbingan dan konseling yang diberikan, dapat mempengaruhi prestasi akademik subjek di sekolah yang dapat dilihat dari beberapa nilai pelajaran dirapor subjek yang naik. Guru BK subjek juga membantu subjek ketika subjek mengalami hambatan dalam belajar terutama mata pelajaran matematika. Ketika subjek merasa cemas dengan masa depan subjek, guru BK membantu dengan memberikan masukan kepada subjek bahwa subjek tidak boleh salah dalam memilih Universitas. Ketika subjek masih sering membolos guru BK membantu dengan cara menasehati. Guru BK juga membantu menghilangkan kebiasaan malas belajar subjek dengan memberikan tips-tips belajar yang efektif, mulai dari menghilangkan kebiasaan belajar yang positif. Meski demikian guru BK kurang membantu dalam merencanakan atau merancang masa depan subjek tetapi guru BK membantu dalam memilih jurusan yang sesuai dengan kemampuan subjek.
b. Faktor-faktor yang menyebabkan bimbingan konseling yang diterima subjek di sekolah dapat meningkatkan presatasi akademik subjek.
Guru BK membantu memotivasi subjek dalam belajar sehingga subjek belajar yang rajin, tidak malas lagi belajarnya karena subjek mau naik ke kelas 3. Dalam mengambil keputusan guru BK subjek juga membantu agar subjek dapat meningkatkan prestasi dan demi kebaikan subjek sehingga membuat subjek semangat dan dapat mencapai apa yang ingin subjek raih. Guru BK subjek juga membantu mengurangi kegagalan akademik terutama mata pelajaran matematika karena menurut guru BK subjek matematika adalah pusatnya ilmu. Ketika subjek masih sering membolos guru BK membantu menghilangkan kebiasaan membolos sehingga subjek dapat mengikuti jalur PMDK, guru BK juga membantu subjek memiliki kebiasaann belajar yang positif sehingga subjek lebih disiplin dalam belajar. Dalam membangun hubungan sosial, guru BK juga membantu dengan cara memberikan pengarahan sehingga dapat tercipta keharmonisan di sekolah, guru BK juga selalu memberikan kesempatan yang ada di sekolah agar setiap kesempatan yang ada dapat selalu subjek ikuti.
c. Bimbingan konseling untuk meningkatkan prestasi akademik subjek
Subjek mengikuti bimbingan konseling secara personal dari kelas 2 semester 2, di karenakan subjek masuk kelas internasional menyebabkan subjek ketinggalan dengan teman-teman subjek sehingga nilai rapor semester 1 subjek jelek. Subjek juga pernah mengalami penurunan prestasi akademik
pada kelas 2 semester 1, dikarenakan kurangnya support atau dukungan dari orang tua subjek. Oleh karena itu guru BK menyuruh subjek datang teratur ke ruang BK agar guru BK subjek dapat memantau sejauhmanan perkembangan akademik subjek. Guru BK juga selalu memotivasi subjek dalam belajar, karena guru BK menginginkan agar subjek selalu belajar, tekun dalam mengerjakan PR. Dan ketika kedua orang tua subjek kurang perhatian terhadap sekolah subjek, guru BK membantu subjek dengan memberikan masukan kepada orang tua subjek agar lebih memperhatikan subjek. Guru BK juga membantu subjek untuk memiliki kebiasaan belajar yang positif, dengan cara memberikan tips-tips cara belajar yang efektif dengan menyuruh subjek mengikuti les dan banyak belajar di rumah, mulai dari membagi waktu antara sekolah dengan main. Ketika subjek merasa cemas dengan masa depan subjek, guru BK membantu dengan memberikan masukan dalam memilih universitas dan jurusan yang sesuai denga bakat, minat dan kemampuan subjek agar subjek tidak salah langkah dalam menentukan masa depan subjek.
Untuk mencapai prestasi akademik yang lebih baik guru BK membantu mengarahkan subjek denga cara terus mendorong dan menyemangati subjek, guru BK juga membantu dengan menyarankan agar subjek mengikuti les, selain itu guru BK juga membantu memilihkan les yang sesuai dengan subjek. Dengan layanan bimbingan konseling yang di berikan, dapat mempengaruhi prestasi akademik subjek di sekolah yang dapat di lihat dari beberapa nilai pelajaran di rapor subjek yang naik.
2. Saran
a. Untuk subjek
Bagi subjek diharapkan setelah subjek mengikuti bimbingan dan konseling di sekolah secara personal, subjek dapat meninggalkan kebiasaan-kebiasaan negatif subjek seperti membolos, malas belajar, tidak memiliki kebiasaan belajar yang baik, dan lain-lain. Dengan subjek mengikuti bimbingan dan konseling diharapkan subjek dapat memecahkan masalah subjek sendiri, mampu mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya, mampu merencanakan masa depan dengan mengambil jurusan yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan subjek sehingga subjek dapat mencapai karir yang di harapkan.
Sedangkan bagi siswa-siswa yang lainya diharapkan tidak hanya mengikuti bimbingan konseling di kelas yang sudah terjadwal secara rutin di sekolah melainkan dapat mengikut sertakan bimbingan konseling secara personal ke ruang BK.
b. Untuk keluarga subjek
Kepada kedua orang tua subjek diharapkan dapat memberikan perhatian yang lebih terhadap subjek, dengan terus memantau perkembangan sekolah subjek dan lebih banyak meluangkan waktunya untuk subjek di rumah.
c. Untuk sekolah
Hendaknya pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dapat ditingkatkan fungsinya sebagaimana mestinya yaitu membantu siswa dalam mengatasi masalah yang di hadapi siswa terkait dengan akademik subjek dan masalah yang sedang di hadapi siswa. Sedangkan pihak sekolah seperti kepala sekolah dan guru BK itu sendiri diharapkan mampu menghilangkan anggapan ataupun imej yang menyatakan bahwa guru pembimbing atau konselor di sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang tugasnya menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin dan keamanan sekolah, sehingga siswa-siswa yang lain di harapkan dapat mengikuti bimbingan dan konseling secara personal ke ruang BK.
d. Untuk penelitian selanjutnya
Bagi penelitian selanjutnya yang tertarik untuk meneliti tentang bimbingan konseling pada remaja dan prestasi akademik, di harapkan agar dapat mengungkap aspek-aspek lain tentang
bimbingan konseling dan agar mencari subjek penelitian lebih banyak dari penelitian ini. Dalam melakukan observasi pada penelitian disarankan agar dilakukan lebih dari satu hari sehingga hasil yang di dapat akan memperkaya hasil penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto. (1996). Psikologi pendidikan. Cetakan ketiga. Bandung: FIP-IKIP
Azwar, S. (2005). Tes Prestasi : Fungsi dan pengembangan pengukuran prestasi belajar. Edisi II. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Chalpin, J.P. (2004). Kamus lengkap psikologi. Edisi Revisi. Alih Bahasa : Kartono, K. Jakarta: PT. Raja Grafindo Utama.
Djamarah, S. (2002). Psikologi belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Gunarsa, S. (1982). Psikologi untuk membimbing. Jakarta: PT-BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, S. (1992). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, S. (1995). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Gunawan, Y. (2001). Pengantar bimbingan dan konseling. Jakarta: PT. Prenhallindo.
Heru Basuki, A.M. (2006). Penelitian kualitatif untuk ilmu-ilmu kemanusiaan dan budaya. Jakarta: Penerbit Gunadarma.
Hurlock, E. B. (1999). Psikologi perkembangan suatu rentang kehidupan. Terjemah : Istiwidayanti . Jakarta: Erlangga.
Manajemen bimbingan dan konseling. (2008). Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.
Mappiare, A (2002). Pengantar konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Moleong, L. J. (2004). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Monks, F. J. dkk. (1992). Psikologi perkembangan : Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Universitas Gajahmada Press.
Mukhtar, A., N. & Sulistyaningsih, E. (2003). Konsep diri remaja : Menuju pribadi mandiri. Jakarta: PT. Rakasta Samasta.
Munandar, V. S. C. (1987). Mengembangkan bakat & kreatifitas. Jakarta: PT. Gramedia.
Nurwati, E. (2004). Pengaruh kendali diri dalam penyesuaian sosial di sekolah terhadap prestasi belakar siswa. Skripsi (Tidak diterbitkan). Bandung: PPB FIB UPI
Poerwandari, E. K. (1998). Pendekatan kualitatif untuk penelitian prilaku manusia. Depok: Lembaga pengembangan sarana pengukuran dan penelitian Universitas Indonesia.
Poerwandari, E. K. (2005). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Jakarta: Universitas Indonesia.
Prayitno & Amti, E. (2004). Dasar-dasar bimbingan dan konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Soemanto. (1988). Kepemimpinan dan supervisi pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.
Sukmadinata, N. S. (2003). Landasan psikologi proses pendidikan. Bandung: Rosdakarya.
Surya, M. (1982). Psikologi pendidikan. Cetakan ketiga. Bandung: FIP-IKIP.
Suryabrata, S. (1998). Psikologi pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Syah, M. (2003). Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Tohirin. (2000). Bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah (berbasis integrasi). Jakarta: PT. Raja grafindo Persada.
Walgito, B. (2005). Bimbingan dan konseling (studi dan karir). Yogyakarta: C.V. Andi Offset.
Willis, S. (2004). Konseling individual teori dan praktek. Bandung: Alfabeta.
Winkel, W. S. (1997). Bimbingan dan konseling di institusi pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana.
Yusuf, S & Nurihsan, J. (2008). Landasan bimbingan dan konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Pada sebuah SMA seorang guru pembimbing (laki- laki) sedang sibuk dengan adsministrasinya, tiba- tiba pintu diketuk oleh seorang siswi.
Klien : `assalamu’alaikum, permisi pak
Konselor : `wa’alaikumsalam, mari Nak silakan duduk.
Konselor :` wah, bapak senang sekali berjumpa denganmu.tampaknya ada sesuatu yang penting , sehingga Anda menemui bapak
Klien :` ya, pak.
Konselor :` tampaknya wajahmu terlihat begitu “ mendung” seperti aada yang terganggu ``dalam perasaanmu.
Klien : ya, pak.
Konselor : kalau begitu, bapak ingin mendengarkan sejauh mana perasaan yang mengganggu `pikiranmu mungkin bisa kita bicarakan bersama?.
Klien :begini, pak. Saya mengalami beberapa kesulitan dan rasa kecewa menghadapi lingkungan baru di sekolah baruy di sisni. Terutama menghadapi lingkungan pergaulan teman- teman yang bebas tanpa menghiraukan norma- norma agama . hal ini membuat saya tertekan.
Konselor : lalu, bagaimana?.
Klien : saya kecewa karena mereka memandang diri saya sebagai orang sok alim dllnya
Konselor : o begitu. Setelah kecewa apa yang anada lakukan ?
Klien : saya lebih banyak diam , dan menghindari mereka.
Konselr : apakah kamu merasa senang, dengan cara seperti itu?
Klien : tidak juga, namun saya berpikir terus.
Konselor : mungkin yang ada dalam pikiranmu adalah bahwa situasi sekolah ini harus sama dengan sekolahmu yang dulu di daerah yang srsat dengan nilai-nlia religious, apakah demikian?.
Klien : ya, pak.
Konselor : kalau begitu apakah masalahmu adalah tentang bagaimana cara menyesuaikan diri di sekolah ini?
Klien : ya, pak.
Konselor : bagus, anda telah memahami masalh anda, yaitu bagaimana menyesuaikan diri di sekolah yang baru.
Klien : ya, pak. Mungkin situasi tak daoat saya ubah .namun saya tidak mungkin mengikuti cara- cara pergaulan merekaa.
Konselor : anda bertujuan menuntut ilmu disekolah ini, namun anda mengalami perasaan tertekan.?!
Klien : ya, pak tujuan utama saya ingi belajar di sekolah ini .saya telah berjanji dengan orang tua saya untuk giat belaja agar saya masuk fakultas psikolgi UGM
Konselor : bagus sekali tekadmu itu.saya mendukungnya.lalu apakah anda punyacara untuk mengatasi malah penyesusian diri terhadap teman- temanbaru?
Klien : saya akan mencoba berpikir untuk menyesuaikan diri tanpa saya kehilangan prinsip. Walaupun hal itu agak sulit.
Konselor : apakah kamu bisa berdiskusi denagan seorang teman akrap untuk memecah kan masalh itu bersama?
Klien : mungkin ada . tapi saya belum begitu pasti.
Konselor : baiklah .apa rencanamu sementara sebagai pegangan untuk tindakan selanjutnya?
Klien : pertama, sayakan temui teman teman dekat saya untuk meminta pendapatnya.kedua, saya akan berbicara dengan oran tua saya mengenai hal itu.
Setelah itu saya akan menghubungi bapak kembali.
Konselor : bagus. Sebelum kita tutup pembicaraan ini, bagaimana perasaanmu setelah kita berdiskusi dan kesimpulanmu Anda?
Klien : saya merasa legasekali, pak. Kecemasan saya mulai menurun, dan saya sudah tahu langkah- langkah yang saya akan lakukan.
Konselor : apakah masih ada hal yang akan Anda sampaikan ?
Klien : saya kira cukup, pak.
Konselor : Bagaimana kalau kita tutup pembicaraan ini, dan saya ucapkan semoga sukses atas keberhasilan Anda mengatasi hal ini.
Klien : terima kasih, pak.
engertian Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer (menunjukkan, menentukan, mengatur, atau mengemudikan).
Sedangkan menurut W.S. Winkel (1981) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan), leading (memimpin), conducting (menuntun), giving instructions (memberikan petunjuk), regulating (mengatur), governing (mengarahkan) dan giving advice (memberikan nasehat).
Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukakan di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pembimbing. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini, dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan penting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuhnya terhadap keputusan yang diambilnya.
Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian bimbingan, di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli :
• Miller (I. Djumhur dan Moh. Surya, 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah, keluarga dan masyarakat.
• Peters dan Shertzer (Sofyan S. Willis, 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utilize his potentialities.( proses membantu individu untuk memahami dirinya dan dunia sehingga dia bisa memanfaatkan potensi itu).
• United States Office of Education (Arifin, 2003) memberikan rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya, misalnya problema kependidikan, jabatan, kesehatan, sosial dan pribadi. Dalam pelaksanaannya, bimbingan harus mengarahkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.
• Jones et.al. (Sofyan S. Willis, 2004) mengemukakan : “guidance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem.
• I. Djumhur dan Moh. Surya, (1975) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding), kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance), kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah dan masyarakat.
• Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan”.
• Prayitno, dkk. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.
• Dari beberapa pendapat di atas, tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan, kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah, bahwa :
• Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik.. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis.
• Tercapainya penyesuaian diri, perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan.
Dari pendapat Prayitno, dkk. yang memberikan pengertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan menggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam sistem pendidikan nasional. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang, sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian istilah, semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya), kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebutan Profesi Konseling, meski secara formal istilah ini belum digunakan.
Untuk kepentingan penulisan ini, penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. Semoga seklumit pengertian bimbingan diatas membantu untuk anda untuk lebih mengerti.
Defenisi belajar:berubah tingkah laku atau tanggapan yg disebabkan oleh pengalaman
Pengertian Konseling
bersama” yang dirangkai dengan “menerima atau “memahami” . Sedangkan dalam Bahasa Anglo Saxon istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti”menyerahkan” atau “menyampaikan. ”.…interaksi yang(a)terjadi antara dua Secara Etimologi berasal dari bahasa Latin “consilium “artinya “dengan” atau orang individu ,masing-masing disebut konselor dan klien ;(b)terjadi dalam suasana yang profesional (c)dilakukan dan dijaga sebagai alat untuk memudah kan perubahan-perubahan dalam tingkah laku klien. (Pepinsky 7 Pepinsky ,dalan Shertzer & Stone,1974). …suatu proses dimana konselor membantu konseli membuat interprestasi-interprestasi tetang fakta-fakta yang berhubungan dengn pilihan,rencana,atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuat.
(Smith,dalam Shertzer & Stone,1974)
Konseling merupakan suatu proses untuk memebantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangn dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya ,proses tersebuat dapat terjadi setiap waktu. (Division of Conseling Psychologi)
…suatu pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kapadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya secara lebih efektif dengan dirinyasendiri dan lingkungan. (Mc. Daniel,1956)
Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan,motivasi,dan potensi-potensi yang yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketige hal tersebut. (Berdnard & Fullmer ,1969)
Hal-hal pokok yang terdapat pada pengertian Konseling menurut ahli yang tersebut diatas adalah:
Rumusan (Pepinsky & Pepinsky,dalam Shertzer & Stone,1974)
Media Pembelajaran
Seputar pendidikan, pembelajaran, sosial, hukum, konseling, politik, budidaya pertanian, Biologi, Kimia, Kesehatan, ilmiah, Media Tempat Belajar, Model-model Pembelajaran, Pendekatan Pembelajaran, Hiburan dan Lain-lain.Ho
Definisi Bimbingan Dan Konseling
1).Definisi Bimbingan Menurut Chiskolm
Bimbingan membantu individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri (Chiskolm,1959).
2). Definisi Bimbingan Menurut Bernard & Fullmer
Bimbingan merupakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu (Bernard & Fullmer ,1969).
3). Definisi Bimbingan Menurut Miller
Bimbingan Merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah, keluarga dan masyarakat.
4). Definisi Bimbingan Menurut Djumhur dan Moh. Surya
Bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding), kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance), kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah dan masyarakat.
5). Definisi Bimbingan Menurut Frank Parson
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih,mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya” (Frank Parson ,1951).
B. Definisi Konseling Menurut Para Ahli
1). Definisi Konseling Menurut Cavanagh,
Konseling merupakan Hubungan antara seorang penolong yang terlatih dan seseorang yang mencari pertolongan, di mana keterampilan si penolong dan situasi yang diciptakan olehnya menolong orang untuk belajar berhubungan dengan dirinya sendiri dan orang lain dengan terobosan-terobosan yang semakin bertumbuh.
2). Definisi Konseling Menurut Saefudin dan Abdul Bari
Konseling merupakan proses pemberian informasi obyektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan panduan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik yang bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi, dan menentukan jalan keluar atau upaya mengatasi masalah tersebut. (Saefudin, Abdul Bari : 2002).
3). Definisi Konseling Menurut Rogers
Konseling adalah serangkaian kontak atau hubungan bantuan langsung dengan individu dengan tujuan memberikan bantuan kepadanya dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.
4).Definisi Konseling Menurut James F. Adam
Konseling merupakan suatu pertalian timbal balik antara 2 orang individu dimana yang seorang (counselor) membantu yang lain (conselee) supaya ia dapat memahami dirinya dalam hubungan dengan masalah-masalah hidup yang dihadapinya waktu itu dan waktu yang akan datang.
5).Definisi Konseling Menurut Mortensen
Konseling didefinisikan sebagai suatu proses hubungan seseorang dengan seseorang dimana yang seorang dibantu oleh yang lainya untuk menemukan masalahnya.
Kesimpulan:
Dari Beberapa definisi tentang bimbingan dan konseling yang dikemukakan oleh para ahli, dapat ditarik kesimpulan tentang apa itu definisi Bimbingan Konseling secara penuh:
Bimbingan Konseling merupakan Suatu bantuan yang diberikan seseorang kepada orang lain yang bermasalah baik masalah psikologis, social, dan lain-lain dengan harapan dapat memecahkan masalahnya, memahami dirinya, mengarahkan dirinya sesuai dengan kemampuan dan potensinya sehingga mencapai penyesuaian diri dengan lingkungannya.
Referensi:
Depdiknas. 2002. Paduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi SMP, Madrasah, Tsanawiyah dan Sederajat. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas.
Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah DiRektorat Pendidikan Umun.1994. Kurikulum SLTP: Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Depdikbud.
Jones, J.J. 1987. Secondary School Administration. New York: Mc Graw Hill BookCompany.
Mulyadi, Agus. 2003. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Prayitno. 1997. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Buku II Pelayanan Bimbingan dan Konseling (SLTP). Jakarta: kerjasama koperasi karyawan pusgrafin dengan penerbit Penebar Aksara.
Syamsudddin, Abin. 2003. Panduan Studi Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Dalam perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia, kegiatan Penilaian Kinerja merupakan salah satu rangkaian dari Siklus Manajemen Kinerja. Kegiatan penilaiaan kinerja pada dasarnya merupakan upaya untuk memberikan jaminan bahwa setiap pegawai/karyawan dapat bekerja secara efektif, efisien dan produktif sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Selain itu, melalui kegiatan penilaian kinerja diharapkan dapat diketahui keunggulan dan kelemahan dari pegawai/karyawan yang bersangkutan untuk dijadikan sebagai dasar perencanaan pengembangan kinerja berikutnya.
Penilaian Kinerja dalam konteks persekolahan kita, — dengan tidak bermaksud mengesampingkan peran penting tenaga pendidik dan kependidikan lainnya-, setidaknya terdapat tiga unsur penting yang perlu dinilai kinerjanya, yaitu: Guru (Guru Mata Pelajaran/Guru BK/Konselor), Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah.
Guru sebagai pendidik profesional mempunyai tugas pokok merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, yang ditopang oleh kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru, sebagaimana diisyaratkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru mencakup: (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi profesional. Sebagai desainer masa depan anak, kepadanya terletak tanggung jawab untuk memberdayakan dan membudayakan seluruh peserta didiknya.
Kepala sekolah adalah guru yang diberi tugas tambahan untuk mengelola dan memimpin keseluruhan proses dan substansi manajemen pendidikan di sekolah, dengan ditopang sejumlah kompetensi yang seharusnya dimiliki seorang kepala sekolah sebagaimana dinyatakan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Kepala Sekolah, mencakup: (1) kompetensi kepribadian, (2) kompetensi manajerial, (3) kompetensi kewirausahaan, (4) kompetensi supervisi, dan (5) kompetensi sosial. Sebagai leader dan manejer pendidikan di sekolah, kepala sekolah bertanggung jawab secara keseluruhan atas maju-mundurnya proses pendidikan di sekolah yang dipimpinnya.
Pengawas sekolah adalah guru yang diangkat dalam jabatan pengawas yang bertugas melakukan penilaian dan pembinaan, baik dalam bentuk supervisi akademik maupun supervisi manajerial, serta melakukan pembimbingan dan pelatihan profesional guru, dengan ditopang oleh sejumlah kompetensi yang harus dikuasainya sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Pengawas Sekolah, mencakup: (1) kompetensi kepribadian, (2) kompetensi supervisi manajerial, (3) kompetensi supervisi akademik, (4) kompetensi evaluasi, pendidikan, (5) kompetensi penelitian pengembangan, dan (6) kompetensi sosial. Pengawas sekolah bertanggung jawab untuk melaksanakan penjaminan mutu dan memberdayakan kepala sekolah dan guru yang menjadi binaannya.
Untuk menjamin bahwa para guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah dapat bekerja secara efektif dan efisien, pemerintah saat ini telah meluncurkan kebijakan Penilaian Kinerja untuk ketiga unsur pelaksana pendidikan di atas dan inti dari kebijakan penilaian kinerja ini adalah peningkatan mutu pendidikan.
Penilaian Kinerja bagi guru dikenal dengan sebutan Penilaian Kinerja Guru (PKG), sedangkan untuk kepala sekolah disebut dengan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS), dan untuk Pengawas Sekolah disebut Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah (PKPS).
Guna mendalami lebih jauh kebijakan pemerintah yang sangat strategis ini, para pengawas sekolah di Kabupaten Kuningan yang tergabung dalam Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) Kabupaten Kuningan telah melaksanakan kegiatan pelatihan tentang PKG. PKKS, dan PKPS, dalam bentuk in service dan on service, pada tanggal 8-11 Oktober 2012, bertempat di Gedung PGRI
Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada “utusan” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasad manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia (sebagai ciptaan).
Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data (saatnya dipanggil) ” tidak boleh sawala ” (mengelak) manusia dengan segala atributnya harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup (Khalik) dengan yang diberi hidup (makhluk). Maksdunya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh, cocok, tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan.
Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan,sekedar menang atau menang tidak sportif.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.
MAKNA HURUF
Ha :Hana hurip wening suci= Adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci.
Na :Nur candra, gaib candra, warsitaning candara= Pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi.
Ca :Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi= Arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra :Rasaingsun handulusih = Rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
Ka :Karsaningsun memayuhayuning bawana = Hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam
Da :D umadining dzat kang tanpa winangenan = Menerima hidup apa adanya
Ta :Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa = Mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
Sa :Sifat ingsun handulu sifatullah= Membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
Wa :Wujud hana tan kena kinira = Ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
La :Lir handaya paseban jati = Mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
Pa :P apan kang tanpa kiblat = Hakekat Allah yang ada disegala arah
Dha :D huwur wekasane endek wiwitane = Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
Ja :Jumbuhing kawula lan Gusti = Selalu berusaha menyatu, memahami sifat dan kehendak- Nya
Ya :Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi = Percaya dan Yakin atas titah / kodrat Illahi
Nya :Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki = Memahami kodrat kehidupan
Ma :Madep mantep manembah mring Ilahi = Yakin/mantap dalam menyembah Ilahi
Ga :Guru sejati sing muruki = Belajar pada guru nurani
Ba :Bayu sejati kang andalani = Menyelaraskan diri pada gerak alam
Tha :Tukul saka niat = Sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niat yang suci
Nga :Ngracut busananing manungso = Melepaskan egoisme pribadi manusia.
Adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci – pengharapan manusia hanya
selalu ke sinar Illahi – satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani – hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam – menerima hidup apa adanya – mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup – membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi – Hakekat Allah yang ada disegala arah – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar – selalu berusaha menyatu, memahami sifat dan kehendak Nya a percaya dan yakin atas titah / kodrat Illahi – memahami kodrat kehidupan – yakin / mantap dalam menyembah Ilahi – belajar pada guru nurani – menyelaraskan diri pada gerak alam – sesuatu harus dimulai – tumbuh dari niat yang suci – melepaskan egoisme pribadi manusia
Hanacaraka atau dikenal dengan nama caraka adalah abjad / alat tulis yang digunakan oleh suku Jawa (juga Madura, Sunda, Bali, Palembang, dan Sasak). Aksara Jawa bila diamati lebih lanjut memiliki sifat silabik (kesukukataan). Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili 2 buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “hari”. Aksara Na yang mewakili dua huruf yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “nabi”.A Beberapa buah aksara itu bisa digabungkan secara langsung untuk membentuk sebuah kata. Bila diucapkan, susunan aksara tersebut dapat membentuk kalimat:
Hana Caraka (Terdapat Pengawal);
Data Sawala (Berbeda Pendapat);
Padha Jayanya (Sama kuat/hebatnya);
Maga Bathanga (Keduanya mati).
Aksara Jawa, merupakan salah satu peninggalan budaya yang tak ternilai harganya. Bentuk aksara dan seni pembuatannya pun menjadi suatu peninggalan yang patut untuk dilestarikan. Tak hanya di Jawa, aksara Jawa ini rupanya juga digunakan di daerah Sunda dan Bali, walau memang ada sedikit perbedaan dalam penulisannya. Namun sebenarnya aksara yang digunakan sama saja. Demikian kurang lebih arti dan makna yang tekandung dalam Filsafat aksara jawa.
Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar informasi. Menurut Wikipedia, pengertian pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pengertian pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.
Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran (instructional objective) adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu. Hal ini didasarkan berbagai pendapat tentang makna tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.
Magner (1962) mendefinisikan tujuan pembelajaran sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh peserta didik sesuaikompetensi. Sedangkan Dejnozka dan Kavel (1981) mendefinisikan tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan spefisik yang dinyatakan dalam bentuk perilaku yang diwujudkan dalam bentuk tulisan yangmenggambarkan hasil belajar yang diharapkan.
Pengertian lain menyebutkan bahwa, tujuan pembelajaran adalah pernyataan mengenai keterampilan atau konsep yang diharapkan dapat dikuasai oleh peserta didik pada akhir priode pembelajaran (Slavin, 1994). Tujuan pembelajaran merupakan arah yang hendak dituju dari rangkaian aktivitas yang dilakukan dalam proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk perilaku kompetensi spesifik, aktual, dan terukur sesuai yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu.
Penyusunan Tujuan Pembelajaran
Penyusunan tujuan pembelajaran merupakan tahapan penting dalam rangkaian pengembangan desain pembelajaran. Dari tahap inilah ditentukan apa dan bagaimana harus melakukan tahap lainnya. Apa yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran menjadi acuan untuk menentukan jenis materi pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan media pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Tanpa tujuan yang jelas, pembelajaran akan menjadi kegiatan tanpa arah, tanpa fokus, dan menjadi tidak efektif.
Read more: Pengertian Pembelajaran >> Tujuan Pembelajaran | belajarpsikologi.com
Pendekatan, Jenis dan Metode Penelitian Pendidikan
Metode penelitian berhubungan erat dengan prosedur, teknik, alat, serta desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus cocok dengan pendekatan penelitian yang dipilih. Prosedur, teknik, serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok pula dengan metode penelitian yang ditetapkan. Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti perlu menjawab sekurang-kurangnya tiga pertanyaan pokok (Nazir, 1985) yaitu:
Urutan kerja atau prosedur apa yang harus dilakukan dalam melaksanakan suatu penelitian?
Alat-alat (instrumen) apa yang akan digunakan dalam mengukur ataupun dalam mengumpulkan data serta teknik apa yang akan digunakan dalam menganalisis data?
Bagaimana melaksanakan penelitian tersebut?
Jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut memberikan kepada peneliti urutan-urutan pekerjaan yang terus dilakukan dalam suatu penelitian. Hal ini sangat membantu peneliti untuk mengendalikan kegiatan atau tahap-tahap kegiatan serta mempermudah mengetahui kemajuan (proses) penelitian. Metode penelitian menggambarkan rancangan penelitian yang meliputi prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data, serta dengan cara apa data tersebut diperoleh dan diolah/dianalisis. Dalam prakteknya terdapat sejumlah metode yang biasa digunakan untuk kepentingan penelitian.
Berdasarkan sifat-sifat masalahnya, Suryabrata (1983) mengemukakan sejumlah metode penelitian yaitu sebagai berikut
Penelitian Historis yang bertujuan untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif.
Penelitian Deskriptif yang yang bertujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan sifat populasi atau daerah tertentu.
Penelitian Perkembangan yang bertujuan untuk menyelidiki pola dan urutan pertumbuhan dan/atau perubahan sebagai fungsi waktu.
Penelitian Kasus/Lapangan yang bertujuan untuk mempelajari secara intensif latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungansuatu obyek
Penelitian Korelasional yang bertujuan untuk mengkaji tingkat keterkaitan antara variasi suatu faktor dengan variasi faktor lain berdasarkan koefisien korelasi
Penelitian Eksperimental suguhan yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan melakukan kontrol/kendali
Penelitian Eksperimental semu yang bertujuan untuk mengkaji kemungkinan hubungan sebab akibat dalam keadaan yang tidak memungkinkan ada kontrol/kendali, tapi dapat diperoleh informasi pengganti bagi situasi dengan pengendalian.
Penelitian Kausal-komparatif yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat, tapi tidak dengan jalan eksperimen tetapi dilakukan dengan pengamatan terhadap data dari faktor yang diduga menjadi penyebab, sebagai pembanding.
Penelitian Tindakan yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan baru atau pendekatan baru dan diterapkan langsung serta dikaji hasilnya.
McMillan dan Schumacher (2001) memberikan pemahaman tentang metode penelitian dengan mengelompokkannya dalam dua tipe utama yaitu kuantitatif dan kualitatif yang masing-masing terdiri atas beberapa jenis metode sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut.
Jenis-Jenis Metode Penelitian
Jenis-Jenis Metode Penelitian
Jenis-jenis penelitian lain dapat dibedakan atas dasar beberapa sumber referensi berikut ini.
Jenis-Jenis Metode Penelitian Menurut Ahli
Pendekatan Penelitian, Jenis Penelitian dan Metode Penelitian Pendidikan
Banyaknya jenis metode penelitian sebagaimana dikemukakan di atas, dilandasi oleh adanya perbedaan pandangan dalam menetapkan masing-masing metode. Uraian selanjutnya tidak akan mengungkap semua jenis metode yang dikemukakan di atas tetapi membahas secara singkat beberapa metode penelitian sederhana yang sering digunakan dalam penelitian pendidikan.
A. Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada masalah-masalah actual sebagaimana adanya pada saat penelitian berlangsung. Melalui penelitian deskriptif, peneliti berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakukan khusus terhadap peristiwa tersebut. Variabel yang diteliti bisa tunggal (satu variabel) bisa juga lebih dan satu variabel.
B. Studi Kasus
Penelitian Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seseorang individu atau kelompok yang dipandang mengalami kasus tertentu. Misalnya, mempelajari secara khusus kepala sekolah yang tidak disiplin dalam bekerja. Terhadap kasus tersebut peneliti mempelajarinya secara mendalam dan dalam kurun waktu cukup lama. Mendalam, artinya mengungkap semua variable yang dapat menyebabkan terjadinya kasus tersebut dari berbagai aspek.
Tekanan utama dalam studi kasus adalah mengapa individu melakukan apa yang dia lakukan dan bagaimana tingkah lakunya dalam kondisi dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Untuk mengungkap persoalan kepala sekolah yang tidak disiplin peneliti perlu mencari data berkenaan dengan pengalamannya pada masa lalu, sekarang, lingkungan yang membentuknya, dan kaitan variabel-variabel yang berkenaan dengan kasusnya. Data diperoleh dari berbagai sumber seperti rekan kerjanya, guru, bahkan juga dari dirinya. Teknik memperoleh data sangat komprehensif seperti observasi perilakunya, wawancara, analisis dokumenter, tes, dan lain-lain bergantung kepada kasus yang dipelajari.
Setiap data dicatat secara cermat, kemudian dikaji, dihubungkan satu sama lain, kalau perlu dibahas dengan peneliti lain sebelum menarik kesimpulankesimpulan penyebab terjadinya kasus atau persoalan yang ditunjukkan oleh individu tersebut. Studi kasus mengisyaratkan pada penelitian kualitatif. Kelebihan studi kasus dari studi lainnya adalah, bahwa peneliti dapat mempelajari subjek secara mendalam dan menyeluruh.
Namun kelemahanya sesuai dengan sifat studi kasus bahwa informasi yang diperoleh sifatnya subyektif, artinya hanya untuk individu yang bersangkutan dan belum tentu dapat digunakan untuk kasus yang sama pada individu yang lain. Dengan kata lain, generalisasi informasi sangat terbatas penggunaannya. Studi kasus bukan untuk menguji hipotesis, namun sebaliknya hasil studi kasus dapat menghasilkan hipotesis yang dapat diuji melalui penelitian lebih lanjut. Banyak teori, konsep dan prinsip dapat dihasilkan dan temuan studi kasus.
C. Penelitian Survei
Penelitian survei cukup banyak digunakan untuk pemecahan masalah-masalah pendidikan termasuk kepentingan perumusan kebijaksanaan pendidikan. Tujuan utamanya adalah mengumpulkan informasi tentang variabel dari sekolompok obyek (populasi). Survei dengan cakupan seluruh populasi (obyek) disebut sensus. Sedangkan survei yang mempelajari sebagian populasi dinamakan sampel survei. Untuk kepentingan pendidikan, survei biasanya mengungkap permasalahan yang berkenaan dengan berapa banyak siswa yang mendaftar dan diterima di suatu sekolah? Berapa jumlah siswa rata-rata dalam satu kelas? Berapa banyak guru yang telah memenuhi kualifikasi yang telah ditentukan? Pertanyaan-pertanyaan kuantitatif seperti itu diperlukan sebagai dasar perencanaan dan pemecahan masalah pendidikan di sekolah. Pada tahap selanjutnya dapat pula dilakukan perbadingan atau analsis hubungan antara variabel tersebut.
D. Studi Korelasional
Seperti halnya survei, metode deskriptif lain yang sering digunakan dalam pendidikan adalah studi korelasi. Studi ini mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, yakni sejauh mana variasi dalam satu variable berhubungan dengan variasi dalam variabel lain. Derajat hubungan variable-variabel dinyatakan dalam satu indeks yang dinamakan koefisien korelasi. Koefisien korelasi dapat digunakan untuk menguji hipotesis tentang hubungan antar variabel atau untuk menyatakan besar-kecilnya hubungan antara kedua variabel.
Studi korelasi bertujuan menguji hipotesis, dilakukan dengan cara mengukur sejumlah variabel dan menghitung koefisien korelasi antara variabel-variabel tersebut, agar dapat ditentukan variabel-variabel mana yang berkorelasi. Misalnya peneliti ingin mengetahui variabel-variabel mana yang sekiranya berhubungan dengan kompetensi profesional kepala sekolah.
Semua variabel yang ada kaitannya (misal latar belakang pendidikan, supervisi akademik, dll) diukur, lalu dihitung koefisien korelasinya untuk mengetahui variabel mana yang paling kuat hubungannya dengan kemampuan manajerial kepala sekolah.
E. Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen dapat didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat. Penelitian eksperimen merupakan metode inti dari model penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Dalam metode eksperimen, peneliti harus melakukan tiga persyaratan yaitu kegiatan mengontrol, kegiatan memanipulasi, dan observasi. Dalam penelitian eksperimen, peneliti membagi objek atau subjek yang diteliti menjadi 2 kelompok yaitu kelompok treatment yang mendapatkan perlakuan dan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan.
F. Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleleksi-diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktek yang dilakukan sendiri. Dengan demikian akan diperoleh pemahaman mengenai praktek tersebut dan situasi di mana praktek tersebut dilaksanakan. Terdapat dua esensi penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area yaitu: (1) Untuk memperbaiki praktek; (2) Untuk pengembangan profesional dalam arti meningkatkan pemahaman/kemampuan para praktisi terhadap praktek yang dilaksanakannya; (3) Untuk memperbaiki keadaan atau situasi di mana praktek tersebut dilaksanakan.
G. Metode Penelitian dan Pengembangan (R&D)
Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah strategi atau metode penelitian yang cukup ampuh untuk memperbaiki praktek. Yang dimaksud dengan Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah rangkaian proses atau langkah-langkah dalam rangka mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada agar dapat dipertanggung jawabkan. Produk tersebut tidak selalu berbentuk benda atau perangkat keras (hardware), seperti buku, modul, alat bantu pembelajaran di kelas atau di laboratorium, tetapi bisa juga perangkat lunak (software), seperti program komputer untuk pengolahan data, pembelajaran di kelas, perpustakaan atau laboratorium, ataupun model-model pendidikan, pembelajaran, pelatihan, bimbingan, evaluasi, sistem manajemen, dan lain-lain.
Demikianlah beberapa metode penelitian dalam pendidikan, sumber utama dari penulisan metode penelitian ini yaitu dari Surya Dharma, MPA., Ph.D, (2008) Pendekatan, Jenis, Dan Metode Penelitian Pendidikan : Jakarta
Read more: METODE PENELITIAN >> Pendekatan, Jenis dan Metode Penelitian | belajarpsikologi.com
merupakan hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan antarindividu, individu (seseorang) dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Tanpa adanya interkasi sosial maka tidak akan mungkin ada kehidupan bersama. Proses sosial adalah suatu interaksi atau hubungan timbal balik atau saling mempengaruhi antar manusia yang berlangsung sepanjang hidupnya didalam amasyarakat. Menurut Soerjono Soekanto, proses sosial diartikan sebagai cara-cara berhubungan yang dapat dilihat jika individu dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu serta menentukan sistem dan bentuk hubungan sosial.
Pengertian Interaksi Sosial
Homans ( dalam Ali, 2004: 87) mendefinisikan interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran atau hukuman dengan menggunakan suatu tindakan oleh individu lain yang menjadi pasangannya.
Konsep yang dikemukakan oleh Homans ini mengandung pengertian bahwa interaksi adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam interaksi merupakan suatu stimulus bagi tindakan individu lain yang menjadi pasangannya.
Sedangkan menurut Shaw, interaksi sosial adalah suatu pertukaran antarpribadi yang masing- masing orang menunjukkan perilakunya satu sama lain dalam kehadiran mereka, dan masing- masing perilaku mempengaruhi satu sama lain. Hal senada juga dikemukan oleh Thibaut dan Kelley bahwa interaksi sosial sebagai peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sam lain atau berkomunikasi satu sama lain. Jadi dalam kasus interaksi, tindakan setiap orang bertujuan untuk mempengaruhi individu lain.
Pengertian Interaksi sosial menurut Bonner ( dalam Ali, 2004) merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu, dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain atau sebaliknya.
Pengertian Interkasi sosial menurut beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa, interaksi adalah hubungan timbal balik anatara dua orang atau lebih, dan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif. Dalam interaksi juga lebih dari sekedar terjadi hubungan antara pihak- pihak yang terlibat melainkan terjadi saling mempengaruhi.
Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Syarat terjadinya interaksi sosial terdiri atas kontak sosial dan komunikasi sosial. Kontak sosial tidak hanya dengan bersentuhan fisik. Dengan perkembangan tehnologi manusia dapat berhubungan tanpa bersentuhan, misalnya melalui telepon, telegrap dan lain-lain. Komunikasi dapat diartikan jika seseorang dapat memberi arti pada perilaku orang lain atau perasaan-perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.
Sumber-Sumber Interaksi Sosial
Proses interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat bersumber dari faktor imitasi, sugesti, simpati, identifikasi dan empati.
Imitasi merupakan suatu tindakan sosial seseorang untuk meniru sikap, tindakan, atau tingkah laku dan penampilan fisik seseorang.
Sugesti merupakan rangsangan, pengaruh, atau stimulus yang diberikan seseorang kepada orang lain sehingga ia melaksanakan apa yang disugestikan tanpa berfikir rasional.
Simpati merupakan suatu sikap seseorang yang merasa tertarik kepada orang lain karena penampilan,kebijaksanaan atau pola pikirnya sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh orang yang menaruh simpati.
Identifikasi merupakan keinginan sama atau identik bahkan serupa dengan orang lain yang ditiru (idolanya)
Empati merupakan proses ikut serta merasakan sesuatu yang dialami oleh orang lain. Proses empati biasanya ikut serta merasakan penderitaan orang lain.
Jika proses interaksi sosial tidak terjadi secara maksimal akan menyebabkan terjadinya kehidupan yang terasing. Faktor yang menyebabkan kehidupan terasing misalnya sengaja dikucilkan dari lingkungannya, mengalami cacat, pengaruh perbedaan ras dan perbedaan budaya.
Demikian ulasan tentang interaksi sosial, baik pengertian interaksi sosial, sumber interaksi sosial, dan syarat interaksi sosial, mudah-mudahan dapat membantu.
Read more: INTERAKSI SOSIAL >> Pengertian Interaksi Sosial | belajarpsikologi.com
Pengertian RemajaRemaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Pasa masa ini sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua.
Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa.
Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan pengertian remaja menurut Zakiah Darajat (1990: 23) adalah:
masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
Pengertian Remaja
Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa adolescene diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.
Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun = masa remaja awal, 15 – 18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa remaja akhir. Tetapi Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15 tahun, masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 – 21 tahun (Deswita, 2006: 192)
Definisi remaja yang dipaparkan oleh Sri Rumini & Siti Sundari, Zakiah Darajat, dan Santrock tersebut menggambarkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis.
Read more: Pengertian Remaja Menurut Para Ahli | belajarpsikologi.com
Istilah personality berasal dari kata latin “persona” yang berarti topeng atau kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. Bagi bangsa Roma, “persona” berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain.
Menurut Agus Sujanto dkk (2004), menyatakan bahwa kepribadian adalah suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik.
Pengertian Kepribadian (Personality)
Sedangkan personality menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendiriran, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain.
Allport juga mendefinisikan personality sebagai susunan sistem-sistem psikofisik yang dinamis dalam diri individu, yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem psikofisik yang dimaksud Allport meliputi kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara umum.
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan suatu susunan sistem psikofisik (psikis dan fisik yang berpadu dan saling berinteraksi dalam mengarahkan tingkah laku) yang kompleks dan dinamis dalam diri seorang individu, yang menentukan penyesuaian diri individu tersebut terhadap lingkungannya, sehingga akan tampak dalam tingkah lakunya yang unik dan berbeda dengan orang lain.
Read more: KEPRIBADIAN >> Pengertian Kepribadian | belajarpsikologi.com

