SUGENG RAWUH

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Melalui jejaring sosial website ini, kami bertekad dapat menyuguhkan layanan informasi secara umum maupun khusus yang meliputi aktifitas KBM, kegiatan siswa, prestasi sekolah/siswa, PSB dsb. Yang dapat diakses oleh siswa, guru, orang tua/wali siswa dan masyarakat secara cepat, tepat dan efisien.
Akhir kata, semoga layanan web site ini bermanfaat.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

bimbingan remaja

Dikirim 0leh Arjo moemedo Monday, January 31, 2011 0 komentaran

Tidak sedikit orang tua yang mengeluhkan anak remajanya susah diajak bicara dan perilakunya sukar dimengerti. Ada dua hal utama yang menjadi perhatian remaja. Pertama, identitas dan kepribadian. Sedang yang kedua, remaja membutuhkan pengakuan.
1. Identitas dan Kepribadian

Anak remaja memang seperti itu. Mereka akan berusaha tampil seperti idolanya. Kalau idolanya pemain sepak bola terkenal seperti David Backham, rambutnya akan dicukur mirip potongan rambut idolanya. Bahkan, anak remaja yang suka menonton film laga seperti Wiro Sableng, sering kali kakinya bergerak seolah menendang dan tangannya bergerak seolah-olah memukul atau menangkis pukulan. Dari sini terlihat bahwa anak remaja memang sedang mencari identitas diri. Yang pasti, idolanya bukan pribadi yang cengeng dan "memble", melainkan satu tokoh yang dianggapnya keren, gagah, dan populer. Ketika anak tidak mendapatkan sesuatu yang dapat dijadikan idola dari ayah atau ibunya, mereka tidak sulit untuk mengambil tokoh idolanya dari tayangan tv, komik, atau majalah. Apakah orang tua pernah menyediakan waktu untuk berbicara secara jujur dan terbuka dengan anak remajanya sehingga mengerti benar apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan, serta kerinduan hatinya?
Tidak sedikit orang tua yang menghadapi kesulitan karena sibuk bekerja, baik di luar maupun di dalam rumah sehingga tidak tersedia cukup waktu untuk berbicara dengan anak remajanya. "Koran Tempo" pernah memuat hasil survei yang menyatakan bahwa 59% orang tua di London sulit berperan sebagaimana layaknya orang tua, seperti meluangkan waktu untuk anak (Senin, 19 Juli 2004, hlm. B1). Juga harus dibuang mitos yang dipegang kebanyakan orang tua bahwa anak kelak juga akan mendapat pengertian sendiri sesuai dengan tingkat kedewasaan umurnya.
Sesungguhnya, remaja sangat membutuhkan bimbingan dan arahan untuk hidupnya. Berikan bimbingan dan pengarahan kepada remaja dengan kasih, tetapi tegas. Hindari cara memerintah dengan keras. Usahakan berbicara dengan sabar perihal hak dan tanggung jawab, pendidikan dan disiplin, juga hukum tabur-tuai. Misalnya, setiap sore ingatkan untuk menyelesaikan tugas sekolah, menyiapkan perlengkapan sekolah dan menaruh di meja belajarnya. Baru keesokan paginya diperiksa kembali sebelum dimasukkan ke dalam tas. Dengan cara itu, diharapkan tidak ada perlengkapan yang tertinggal. Demikian juga harus terus-menerus diingatkan untuk menyimpan pakaian, tas, sepatu di tempat yang disediakan agar tidak menimbulkan kesulitan ketika diperlukan.
Pembentukan kepribadian dapat diperoleh melalui didikan dan disiplin yang terus-menerus dengan sentuhan kasih. Didikan yang dimaksud bukanlah belajar di sekolah, melainkan didikan orang tua kepada anak sejak balita, anak-anak, dan remaja menuju dewasa. Remaja, bahkan sejak anak-anak, harus banyak mendapat didikan, pemberitahuan, informasi, nasihat, teguran, bahkan jangan dihindarkan hajaran atau disiplin bilamana diperlukan. Hajaran atau disiplin itu bisa berupa suatu hukuman tidak diberi uang saku untuk sementara waktu.
1. Remaja Butuh Pengakuan
Ada orang tua yang menyebutkan anak remajanya sangat cinta teman. Hampir sepanjang hari dan malam bersama teman-temannya sehingga sangat sedikit waktu berada di rumah, kecuali untuk tidur malam saja.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Orang tua harus mampu meneropong penyebab yang mengakibatkan perilakunya demikian. Remaja mendapat tempat dan pengakuan sebagai satu pribadi, baik dalam hal mengemukakan pendapat maupun dalam mengekspresikan dirinya di antara sesama temannya. Mereka dapat dengan leluasa berbicara dengan sesamanya, dapat bercerita asyik mengenai idolanya, hobi, dan kesukaannya tanpa takut dicemoohkan atau diremehkan.
Seorang remaja dengan jujur mengakui bahwa ia merasa lebih tenang dan khusyuk berdoa di gereja tetangganya daripada di gedung gereja lingkungannya sendiri di mana orang tuanya bergabung. Hal seperti ini memungkinkan terjadi di kota-kota. Janganlah hal seperti itu dipandang sebagai satu kesalahan yang perlu dicela, melainkan yang terpenting ialah bagaimana kita menyikapinya.

BIMBINGAN KONSELING ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pusat dari sistem interpersonal dalam tiap kehidupan seseorang adalah keluarga. Seorang bayi
belajar bagaimana hidup dan menerima kehidupan itu melalui interaksinya dalam keluarga.
Interaksi seseorang di masa depan memperlihatkan intensitas ikatan emosi dan kepercayaan
dasar terhadap diri dan dunia luar yang dihasilkan pada interaksi awal dalam keluarga (Framo,
1976, dalam Kendall, 1982:517).
Keluarga merupakan kesatuan yang terkecil di dalam masyarakat tetapi menempati kedudukan
yang primer dan fundamental. Faktor keluarga sangatlah penting karena merupakan lingkungan
pertama bagi seorang anak, dimana keluarga memiliki peranan di dalam pertumbuhan dan
perkembangan pribadi seorang anak.
Di dalam keluarga seringkali terjadi permasalahan yang muncul baik dari luar mapun dari dalam
keluarga itu sendiri. Salah satu dari adanya masalah keluarga adalah anak. Banyak faktor yang
menyebabkan seorang anak menjadi masalah di dalam sebuah keluarga. Kesalahan pendidikan
dari orang tua meupun faktor lingkungan anak yang kurang kondusif dapat mengakibatkan
permasalahan di dalam keluarga. Sebuah keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khususpun
seringkali menjadi sebuah masalah dalam keluarga.
Layanan bimbingan dan konseling sangat dibutuhkan dalam membantu menyelesaikan
permasalahan yang timbul dalam keluarga. Dalam bimbingan keluarga mengupayakan
pemberian bantuan kepada para individu sebagai pemimpin atau anggota keluarga agar mereka
mampu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis, memberdayakan diri secara produktif,
dapat menciptakan dan menyesuaikan diri dengan norma keliarga, serta berperan atau
berpartisipasi aktif dalam mencapai keluarga yang bahagia.

B. Batasan masalah
1. Konsep dasar mengenai bimbingan dan konseling
2. Konsep dasar mengenai perkembangan keluarga
3. Konsep dasa dan pendekatan mengenai konseling keluarga

C. Tujuan Pembuatan Makalah
1. Mengetahui konsep dasar bimbingan dan konseling
2. Mengetahui konsep dasar tentang konseling keluarga, tujuan serta prinsip konseling keluarga.
3. Mengetahui konsep dasar tentang perkembangan keluarga
4. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Konseling Anak Berkebutuhan Khusus
D. Sistematika Pembuatan Makalah
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
BAB II ISI
A. Konsep Dasar
1. Bimbingan dan Konseling
a. Pengertian Bimbingan dan Konseling
b. Fungsi Bimbingan dan Konseling
c. Jenis-jenis Bimbingan dan Konseling
2. Perspektif Perkembangan Keluarga
a. Pengertian Keluarga
b. Perkembangan Keluarga
c. Keluarga sebagai Sistem Psikososial
B. Konseling Keluarga (Family Konseling)
1 Pengertian Konseling Keluarga
2. Tujuan dan Prinsip Konseling Keluarga
3. Landasan-landasan Sejarah dan Praktik Kontemporer Konseling keluarga
a. Sejarah dan Perkembangan Konseling Keluarga
b. Pendekatan dalam Konseling keluarga

i Pendekatan Psikodinamik
iPendekatan Humanistik/Eksperensial
i Pendekatan Bowen
iPendekatan Struktural
iPendekatan Strategis atau Komunikasi
iPendekatan Behavioral

4. Peran Intervensi pada Konseling Keluarga
5. Proses Konseling
C. Penelitian, Latihan, dan Praktik Profesional
BAB III ANALISIS MATERI
BAB IV KESIMPULAN
Lampiran soal
BAB II
ISI
A. Konsep Dasar
1. Bimbingan dan Konseling
a. Pengertian Bimbingan dan Konseling
Pada dasarnya, bimbingan merupakan pembimbing untuk membantu mengoptimalkan individu.
Bimbingan merupakan suatu alat untuk mendewasakan anak.
Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara
konselor dan konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan
dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan
efektif perilakunya.

Bimbingan dan konseling adalah suatu proses pemberian bantuan kepada seseorang dan atau
sekelompok orang yang bertujuan agar masing-masing individu mampu mengembangkan dirinya
secara optimal, sehingga dapat mandiri dan atau mengambil keputusan secara bertanggungjawab

b. Fungsi dan Tujuan Bimbingan dan Konseling
Tujuan bimbingan adalah agar individu dapat :
1. merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier, serta kehidupan pada masa
yang akan datang.
2. mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki seoptimal mungkin.
3. menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, serta lingkungan
kerjanya.
4. mengatasi hambatan serta kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan
lingkungan pendidikan, masyarakat, ataupun lingkungan kerjanya.
Fungsi bimbingan yaitu sebagai berikut:
1. fungsi pengembangan, merupakan fungsi bimbingan dalam mengembangkan seluruh potensi
dan kekuatan yang dimiliki individu
2. fungsi penyaluran, merupakan fungsi bimbingan dalam membantu individu memilih dan
memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian, dan ciri-
ciri kepribadian lainnya.
3. fungsi adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan khususnya guru atau dosen,
wydiaiswara, dan wali kelas untuk mengadaptasikan program pendidikan terhadap latar belakang
pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan individu.
4. fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu individu menemukan
penyesuaian diri dari perkembangannya secara optimal.

Tujuan Konseling pada umumnya dan disekolah khususnya adalah sebagai berikut:
1. mengadakan perubahan perilaku pada diri individu sehingga memungkinkan hidupnya lebih
produktif dan memuaskan.
2. memelihara dan mencapai kesehatan mental yang positif
3. penyelesaian masalah
4. mencapai keefektifan pribadi
5. mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya
c. Jenis-Jenis Bimbingan
Jenis bimbingan dibagi menjadi empat bagian yaitu:
1. bimbingan akademik, yaitu bimbingan yang diarahkan untuk membantu para individu dalam
menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah akademik.
2. bimbingan sosial pribadi, merupakan bimbingan untuk membantu para individu dalam
menyelesaikan masalah-masalah sosial pribadi.
3. bimbingan karier, yaitu bimbingan untuk membantu individu dalam perencanaan,
mengembangkan, dan menyelesaikan masalah-masalah karier, seperti pemahaman terhadap
tugas-tugas kerja.
4. bimbingan keluarga, merupakan upaya pemberian bantuan kepada para individu sebagai
pemimpin atau anggota keluarga agar mereka mapu menciptakan keluarga yang utuh dan
harmonis, memberdaya diri secara produktif, dapat menciptakan dan menyesuaikan diri dengan
norma keluarga, serta berperan serta berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga
yang bahagia.

2. Perspektif Perkembangan Keluarga
a. Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan satuan terkecil dari masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Secara
lebih luas (Sayekti Puja Suwarno 1994 : 2) bahwa keluarga merupakan suatu ikatan dasar atas
dasar perkawinan antara dua orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama antara
seorang laki-laki dengan perempuan yang sudah mempunyai anak atau tanpa anak baik anaknya
sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.

Disamping itu Emil Salim 1983 menyatakan bahwa keluarga merupakan bagian terkecil dari
susunan masyarakat yang akan menjadi dasar dalam mewujudkan suatu negara.
Menurut pengertian psikologis, keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam
tempat tinggal bersama dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga
terjadi saling mempengaruhi, saling memperhatikan dan saling menyerahkan diri (Soelaeman
1994 : 5-10).
Sedangkan dalam pengertian Pedadogis keluarga adalah ³satu´ persekutuan hidup yang dijalin
oleh kasih sayang antara pasangan dua jenis manusia yang kukuhkan dengan pernikahan, yang
bermaksud untuk saling menyempurnakan diri itu terkandung perealisasian peran dan fungsi
sebagai orang tua (Soelaeman 1994 : 12).
b. Kerangka Berfikir Tentang Keluarga
Keluarga merupakan sistem sosial yang alamiah, berfungsi membentuk aturan-aturan,
komunikasi, dan negosiasi diantara para anggotanya. Keluarga melakukan suatu pola interaksi
yang diulang-ulang melalui partisipasi seluruh anggotanya. Strategi-strategi konseling keluarga
terutama membantu terpeliharanya hubungan-hubungan keluarga, juga dituntut untuk
memodifikasi pola-pola transaksi dalam memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang mengalami
perubahan.
Dalam perspektif hubungan, konselor keluarga tidak menghilangkan signifikansi proses
intrapsikis yang sifatnya individual, tetapi menempatkan perilaku individu dalam pandangan
yang lebih luas. Dengan demikian, ada perubahan paradigma dari cara-cara tradisional dalam
memahami perilaku manusia kedalam epistimologi cybernetic. Paradigma ini menekankan
mekanisme umpan balik beroperasi dalam menghasilkan stabilitas serta perubahan. Kausalitas
sirkuler terjadi didalam keluarga. Konselor keluarga lebih memfokuskan pemahaman proses
keluarga daripada mencari penjelasan-penjelasan yang sifatnya linier. Dalam kerangka kerja
seperti ini, simptom yang ditunjukan pasien dipandang sebagai cerminan dari sistem keluarga
yang tidak seimbang
c. Perkembangan Keluarga
Satu cara untuk memahami individu-individu dan keluarga mereka, yaitu dengan cara meneliti
perkembangan mereka lewat siklus kehidupan keluarga. Berkesinambungan dan berubah
merupakan ciri dari kehidupan keluarga. Sistem keluarga itu mengalami perkembangan setiap
waktu. Perkembangan keluarga pada umumnya terjadi secara teratur dan bertahap. Apabila
terjadi kemandegan dalam keluarga, hal itu akan mengganggu sistem keluarga. Kemunculan
perilaku simptomatik pada anggota keluarga pada saat transisi dalam siklus kehidupan keluarga
menandakan keluarga itu mengalami kesulitan dalam menyesuaikan dengan perubahan.
Siklus kehidupan keluarga mengarah pada suatu pengaturan tema mengenai pandangan bahwa
keluarga itu sebagai sistem yang mengalami perubahan. Ada tugas-tugas perkembangan khusus
yang harus dipenuhi untuk setiap perkembangannya.
Dalam keluarga, laki-laki dan perempuan dibesarkan dengan perbedaan harapan peranan,
pengalaman, tujuan, dan kesempatan. Perbedaan jenis kelamin ini, kelak mempengaruhi interaksi
suami istri. Banyaknya perempuan yang memasuki dunia kerja akhir-akhir ini mempengaruhi
juga tradisi peran laki-laki dan perempuan mengenai tanggung jawab rumah tangga dan kerja di
luar rumah.
Kesukuan dan pertimbangan sosio-ekonomi juga mempengaruhi gaya hidup keluarga. Terlebih
dahulu, hal yang harus diperhatikan adalah membantu menentukan bagaimana keluarga itu
membentuk nila-nilai, menentukan pola-pola perilaku, dan menentukan cara-cara
mengekspresikan emosi, serta menentukan bagaimana mereka berkembang melalui siklus
kehidupan keluarga. Hidup dalam kemiskinan dapat mengikis struktur keluarga dan menciptakan
keluarga yang tidak terorganisasi. Dalam keluarga miskin, perkembangan siklus kehidupan
sering dipercepat oleh kehamilan dini dan banyaknya ibu-ibu yang tidak menikah. Tidak adanya
ayah dirumah memungkinkan nenek, ibu dan anak perempuan itu lebih saling berhubungan.
d. Keluarga Sebagai Sisten Psikososial
Teori sistem umum memberikan dasar teoritis pada teori dan praktik konseling keluarga.
Konsep-konsep menegnai organisasi dan keutuhan menekankan secara khusus, bahwa sistem itu
beroperasi secara utuh terorganisasi. Sistem tidak dapat dipahami secara tepat jika dibagi
kedalam beberapa komponen.
Keluarga mencerminkan sistem hubungan yang komplit, terjadi kausalitas sikuler dan
multidimensi. Peran-peran keluarga sebagian besar tidak statis, perlu dipahami oleh anggota
keluarga untuk membantu memantapkan dan mengatur fungsi keluarga. Keseimbangan dicapai
dalam keluarga melalui proses interaksi yang dinamis. Hal ini membantu memulihkan stabilitas
yang sewaktu-waktu terancam, yaitu dengan pengaktifan aturan yang menjelaskan hubungan-
hubungan. Pada saat perubahan keluarga terjadi, siklus umpan balik positif dan negatif
membantu memulihkan keseimbangan.
Subsistem-subsistem dalam keluarga melakukan fungsi-fungsi keluarga secara khusus. Hal
terpenting dan berarti adalah subsistem suami istri, orang tua, dan saudara kandung. Batas-batas
sistem membantu memisahkan sitem-sistem, sebaik memisahkan subsistem-subsitem di dalam
sistim secara keseluruhan.
Sistem-sistem keluarga berinteraksi dengan sistem-sistem yang lebih besar lagi di luar rumah,
seperti sistem tempat peribadatan, sekolah dan tempat perawatan. Dalam beberapa kasus, terjadi
pengaburan masalah-masalah keluarga dan pertentangan penyelesaian dari para pemberi bantuan
dalam sistem makro. Dalam konteks yang lebih luas, batas-batas diantara para pemberi bantuan
sama baiknya dengan batas-batas diantara keluarga klien. Batas-batas itu mungkin perlu
dijelaskan dalam sistem makro agar beroperasi secara efektif.
B. Konseling keluarga (Family Counseling)
1. Pengertian Konseling Keluarga
Family Counseling (konseling keluarga) didefinisikan sebagai suatu proses interaktif yang
berupaya membantu keluarga memperoleh keseimbangan homeostasis, sehingga setiap anggota
keluarga dapat merasa nyaman (comfortable).

2. Tujuan dan Prinsip Konseling Keluarga
Prinsip-prinsip konseling keluarga
1. Bukan metode baru untuk mengatasi human problem.
2. Setiap anggota adalah sejajar, tidak ada satu yang lebih penting dari yang lain.
3. Situasi saat ini merupakan penyebab dari masalah keluarga dan prosesnyalah yang harus
diubah.
4. Tidak perlu memperhatikan diagnostik dari permasalahan keluarga, karena hal ini hanya
membuang waktu saja untuk ditelusuri.
5. Selama intervensi berlangsung, konselor/terapist merupakan bagian penting dalam dinamika
keluarga, jadi melibatkan dirinya sendiri.
6. Konselor/terapist memberanikan anggota keluarga untuk mengutarakan dan berinteraksi
dengan setiap anggota keluarga dan menjadi ³intra family involved´.
7. Relasi antara konselor/terapist merupakan hal yang sementara. Relasi yang permanen
merupakan penyelesaian yang buruk.
8. Supervisi dilakukan secara riil/nyata (conselor/therapist center) (Perez,1979).

Tujuan Konseling Keluarga
1. Membantu anggota keluarga untuk belajar dan secara emosional menghargai bahwa dinamika
kelurga saling bertautan di antara anggota keluarga.
2. Membantu anggota keluarga agar sadar akan kenyataan bila anggota keluarga mengalami
problem, maka ini mungkin merupakan dampak dari satu atau lebih persepsi, harapan, dan
interaksi dari anggota keluarga lainnya.
3. Bertindak terus menerus dalam konseling/terapi sampai dengan keseimbangan homeostasis
dapat tercapai, yang akan menumbuhkan dan meningkatkan keutuhan keluarga.
4. Mengembangkan apresiasi keluarga terhadap dampak relasi parental terhadap anggota
keluarga (Perez, 1979).

3. Landasan-landasan Sejarah dan Praktik Kontemporer Konseling keluarga
a. Sejarah dan Perkembangan Konseling Keluarga
Konseling keluarga ini distimuli oleh penelitian mengenai keluarga yang anggotanya mengalami
schizophrenia. Konseling keluarga berkembang mencapai kemajuan pada tahun 1950-an. Pada
tahun 1960-an, para pelopor konseling keluarga memutuskan untuk bekerja sama dengan para
konselor yang berorientasi individual.
Teknik-teknik dalam konseling keluarga berkembang dengan pesat memasuki tahun 1970-an.
Inovasi teknik terapeutik diperkenalkan termasuk pendekatan behavioral yang dikaitkan dengan
masalah-masalah keluarga. Pada tahu 1980-an, konseling perkawinan dan konseling keluarga
menjadi satu. Para praktisi dari berbagai disiplin keahlian menjadikan konseling keluarga sebagai
ciri propesional mereka. Pada saat sekarang, konseling keluarga lebih menekankan penanganan

masalah-masalah secara kontekstual daripada secara terpisah dengan individu-individu.
Tantangan yang dihadapi oleh konseling keluarga pada tahun 1980-an adalah mengintegrasikan
berbagai pendekatan konseling keluarga dan menggunakan kombinasi-kombinasi dari teknik-
teknik yang dibutuhkan untuk populasi-populasi yang berbeda.
b. Pendekatan dalam Konseling keluarga
i Pendekatan Psikodinamik

Sebagian besar, pandangan psikodinamik berdasar pada model psikoanalisis, memberikan
perhatian terhadap latar belakang dan pengalaman setiap anggota keluarga sebanyak pada unit
keluarga itu sendiri. Para konselor psikodinamik menaruh perhatian yang tinggi terhadap masa
lalu yang melekat pada individu-individu, dalam model psikodinamik, pasangan suami istri yang
menderita dikaitkan dengan introjeksi pathogenic setiap pasangan yang membawanya pada
hubungan.
Nathan Acherman, pelopor konselor keluarga berupaya mengintegrasikan teori psikoanalitik
yang berorientasi pada intrapsikis dengan teori sistem dengan menekankan hubungan antarpribai.
Dia memandang ketidakberfungsian keluarga akibat hilangnya peran yang saling melengkapi
diantara para anggota, akibat konflik yang tetap tidak terselesaikan, dan akibat korban yang
merugikan. Upaya-upaya teurapetiknya bertujuan untuk membebaskan ´pathologis´ yang
berpautan satu sama lain. James Framo, konselor keluarga generasi pertama, meyakini bahwa
konflik intrapsikis yang tidak terselesaikan dibawa dari keluarganya, diteruskan dalam bentuk
proyeksi kedalam hubungan-hubungan yang terjadi pada saat ini, seperti hubungan suami istri
atau anak. Dengan menggunakan pendekatan hubungan objek, Framo berusaha menghilangkan
introjeksi-introjeksi. Dalam proses ini, dia berbicara dengan pasangan suami istri itu sendirian,
kemudian memasuki kelompok pasangan suami istri, dan akhirnya mengadakan pertemuan-
pertemuan secara terpisah dengan setiap pasangan dan anggota keluarganya yang asli.
Ivan Boszormenyi-Nagy dan kelompoknya memfokuskan pada pengaruh masa lalu terhadap
fungsi-fungsi sekarang dalam seluruh anggota keluarga. Dalam pandangan ini, keluarga
mempunyai loyalitas yang invisible (tidak tampak), kewajiban-kewajiban yang berakar pada
generasi lalu, dan perhitungan-perhitungan yang tidak menentu. Hal-hal seperti itu perlu
diseimbangkan atau ditata. Pendekatan teraputik kontekstual dari Boszormenyi-Nagy berupaya
untuk menata kembali tanggung jawa, perilaku yang terpercaya, dan memperhitungkan hak-hak
dari seluruh kepeduliannya.

Robin Skynner berpendapat, bahwa orang dewasa yang mengalami kesulitan berhubungan telah
mengembangkan harapan-harapan yang tidak realistis terhadap orang lain dengan cara
membentuk sistem-sistem projeksi yang dikaitkan dengan kekurangan-kekurangan pada masa
kanak-kanak. Upaya terapeutik Skinner, yaitu secara khusus mengembankan versi berupaya
memfasilitasi perbedaan-perbedaan diantara pasangan-pasangan perkawinan. Dengan demikian,
setiap pasangan menjadi lebih independent.
John Bell, pendiri konseling keluarga mendasarkan pendekatannya pada teori-teori psikologis
sosial tentang perilaku kelompok kecil. Pendekatan konseling kelompok keluarga
mempromosikan interaksi; memfasilitasi komunikasi, menjelaskan, dan menafsirkan. Pada
tahun-tahun sekarang ini, Bell mengarahkan perhatiannya untuk membantu menciptakan
lingkungan-lingkungan keluarga meningkat dengan menggunakan teknik-teknik intervensi yang
ia sebut dengan konseling kontekstual.
Pendekatan ini menggunakan cara dan strategi psikoterapi individual dalam situasi Keluarga
dengan:
- mendorong munculnya insight tentang diri sendiri dan anggota keluarga.
- untuk membantu keluarga dalam pertukaran emosi
Kontak konselor hanya sementara dan konselor akan menarik diri jika keluarga telah mampu
mengatasi problemnya secara konstruktif.
i Dasar Pemikiran

Proses unconsciousness (bawah sadar) mempengaruhi hubungan kebersamaan antaranggota
keluarga dan mempengaruhi individu dalam membuat keputusan tentang siapa yang dia nikahi.
Objects ( orang-orang yang penting / signifikan dalam kehidupan) diidentifikasi atau ditolak.
Kekuatan unconsciousness benar-benar dianggap sangat berpengaruh.
i Peranan Konselor :
Seorang guru dan interpreter pengalaman (analisis).
i Treatment : individual , kadang-kadang dengan keluarga
i Tujuan Treatment :
Untuk memecahkan interaksi yang tidak berfungsi dalam keluarga yang didasarkan pada proses
unconsciousness (bawah sadar), untuk merubah disfungsional individu.
i Teknik :
Transference, analisa mimpi, konfrontasi, focusing pada kekuatan-kekuatan, riwayat hidup.
i Aspek-aspek yang unik :

Konsentrasi pada potensi unconsciousness (bawah sadar) dalam perilaku individu,mengukur
defence mechanism (mekanisme pertahanan diri) yang dasar dalam hubungan keluarga,
menyarankan treatment mendalam pada disfungsionalitas (ketidakmampuan berfungsi).
i Pendekatan Eksperensial atau Humanistik

Para konselor keluarga eksperensial atau humanistik menggunakan ´immediacy´ terapeutik
dalam menghadapi anggota-anggota keluarga untuk membantu memudahkan keluarga itu
berkembang dan memenuhi potensi-potensi individunya. Pada dasarnya, pendekatan ini tidak
menekankan pada teoritis dan latar belakang sejarah. Pendekatan ini lebih menekankan pada
tindakan daripada wawasan dan interpretasi. Pendekatan ini memberikan pengalaman-
pengalaman dalam meningkatkan perkembangan, yaitu melalui interaksi antara konselor dan
keluarga.
Praktisi utama pendekatan eksperensial adalah Carl Whitaker dan Walter Kempler. Dalam
kerjanya, Whitaker menekankan perlunya memperhatikan hambatan-hambatan intrapsikis dan
hubungan antarpribadi dalam mengembankan dan mematangkan keluarga. Pendekatan konseling
keluarga sering melibatkan ko-konselor, pendekatanya dirancang untuk menggunakan
pengalaman-pengalaman nyata dan simbolis yang muncul pada saat proses terapeutik. Dia
mengakui, bahwa intervensinya sebagian besar dikendalikan oleh ketidaksadarannya. Whitaker
memperkenalkan ´ konseling yang tidak masuk akal ´ dirancang untuk mengejutkan,
membingungkan, dan akhirnya menggerakkan sistem keluarga yang terganggu.
Kempler, seorang praktisi dari konseling keluarga Gestalt membimbing individu-individuuntuk
mengatasi hal-hal yang akan memperdayakan dirinya di luar kebiasaanya, serta mempertahankan
dirinya. Dia mengkonfrontasikan dan menantang seluruh anggota keluarga untuk mengeksplorasi
sebagaimana kesadaran diri mereka sendiri terhambat dan bagaimana menyalyrkan kesadaran
mereka ke dalam hubungan yang lebih produktif dan terpenuhi dengan anggota lainnya.
Konselor keluarga terkenal yang berorientasi pada humanistik adalah Virginia Satir. Dalam
pendekatannya, dia memadukan kesenjangan komunikasi antara anggota keluarga dan orientasi
humanistik dalam upaya membangun harga diri dan penilaian diri seluruh anggota keluarga. Diameyakini, bahwa dalam diri manusia terdapat sumber-sumber yang diperlukan manusia untuk berkembang. Dia memandang tugasnya sebagai orang yang membantu manusia memperoleh jalan untuk memelihara potensi-potensinya mengajarkan manusia menggunakan potensinya secara efektif.
i Dasar pemikiran
Masalah-masalah keluarga berakar dari perasaan-perasaan yang di tekan, kekakuan, penolakan /
pengabaian impuls-impuls, kekurangwaspadaan, dan kematian emosional.
i Peran konselor

Konselor menggunakan pribadinya sendiri. Mereka harus terbuka, spontan, empatic, sensitive
dan harus mendemonstrasikan perhatian dan penerimaan. Mereka harus memperlakukan dengan
terapi regresi dan mengajari anggota keluarga keterampilan-keterampilan baru dalam
mengkomunikasikan perasaan-perasaan secara gamblang.
i Unit Treatment
Difocuskan pada individu dan ikatan-ikatan pasangan. Whitaker mengkonsentrasikan
perhatiannya dengan mempelajari tiga generasi keluarga.
i Tujuan Treatment

Untuk mengukur pertumbuhan, perubahan, kreativitas, fleksibilitas, spontanitas dan playfulness, untuk membuat terbuka apa yang tertutup, untuk mengembangkan ketertutupan emosional dan mengurangi kekakuan, untuk membuka defence-defence, serta untuk meningkatkan self-esteem.
i T ek n ik

Memahat keluarga dan koreografi , keterampilan-keterampilan komunikasi terbuka, humor,
terapi, seni, keluarga, role-playing, rekonstruksi keluarga, tidak memperhatikan teori-teori dan
menekankan pada intuitive spontan, berbagi perasaan dan membangun atmosfer emosional
mendalam dan memberi sugesti-sugesti serta arahan-arahan.
i Aspek-aspek unik

Mempromosikan kreativitas dan spontanitas dalam keluarga, mendorong anggota-anggota
keluarga untuk mengubah peran mengembangkan pengertian terhadap diri sendiri dan pengertian
pada yang lain, humanistik dan memperlakukan seluruh anggota keluarga dengan status yang
sama, mengembangkan kewaspadaan
perasaan di dalam dan diantara anggota keluarga, mendorong pertumbuhan.
i Pendekatan Bowen
Pendekatan Murray Bowen terkenal dengan teori sistem keluarga. Pendekatan ini dianggap

sebagai sesuatu yang menjebatani pendangan-pandangan yang berorientasi psikodinamik dengan
pandangan-pandangan yang lebih menekankan pada sistem. Bowen mengkonseptualisasikan
keluarga sebagai sistem hubungan emosional. Bowen mengemukakan, ada delapan konsep yang
saling berpautan dalam menjelaskan proses emosional yang terjadi dalam keluarga ini dan
keluarga yang diperluas.
Landasan dasar teori Bowen adalah konsep diferensial diri. Konsep ini berkembang di mana
anggota keluarga dapat memisahkan fungsi intelektualnya dengan emosionalnya. Mereka
menghindari fusi dan sewaktu-waktu emosi mendominasi keluarga. Dalam keadaan tegang,
hubungan dua anggota keluarga mempunyai kecenderungan untuk mencari anggota yang ketiga
(melakukan triangulasi) untuk menurunkan intensitas ketegangan dan memperoleh kembali
kestabilan. Sistem emosional keluarga inti, biasanya dibentuk oleh pasangan-pasangan
perkawinan yang mempunyai kemiripan tingkat diferensiasi. Jika sistem tidak stabil, para
pasangan mencari cara untuk mengurangi ketegangan dan memelihara keseimbangan. Posisisaudara kandung orang tua dalam keluarga asal mereka memberikan tanda terhadap anak yang
dipilihnya dalam proses projeksi keluarga.
Bowen menggunakan konsep emosional cutoff untuk menjelaskan bagaimana sebagian anggota
keluarga berupaya memutuskan hubungan dengan keluarga mereka atas anggapan yang keliru
bahwa mereka dapat mengisolasi diri mereka dari fusi. Posisi saudara kandung dari setiap
pasangan perkawinan akan mempengaruhi interaksi mereka. Dalam pengembangan teorinya
terhadap masyarakat yang lebih luas, Bowen percaya bahwa tekanan-tekanan eksternal yang
kronis merendahkan tingkat berfungsinya diferensiasi masyarakat, hal itu hsil pengaruh regresi
masyarakat.
Sebagai bagian konseling keluarga sistem Bowen, wawancara evaluasi keluarga menekankan
objektivitas dan netralitas. Genogram-genogram itu membantu memberikan gambaran tentang
sistem hubungan keluarga kurang lebih tiga generasi. Secara terapeutik, Bowen bwkwerja secara
hati-hati dan tenang dengan pasangan-pasangan perkawinan, berupaya mengatasi fusi diantara
mereka. Tujuannya adalah mengurangi kecemasan dan mengatasi simptom-simptom. Tujuan
akhirnya adalah memaksimalkan diferensi diri setiap orang di dalam sistem keluarga inti dan dari
keluarga asalnya.
i Peran Konselor
Aktivitas konselor sebagai pelatih dan guru dan berkonsentrasi pada isu-isu keterikatan dan
diferensiasi.
i Unit Treatment : individu atau pasangan.
i Tujuan konseling
Untuk mencegah triangulasi dan membantu pasangan dan individu berhubungan pada level
cognitive, untuk menghentikan pengulangan pola-pola intergenerasi dalam hubungan keluarga.
i Teknik :
Genograms, kembali ke rumah, detriangulasi, hubungan orang perorang, perbedaan self.
i Aspek unik :
Mengukur hubungan-hubungan intergenerasi dan pola-pola yang diulang, systematic, dalam teori
yang mendalam.
iPendekatan Struktural

Pendekatan struktural dalam konseling keluarga terutama dikaitka dengan Salvador Minuchin
dan koleganya di pusat Bimbingan Anak Philadelphia. Pendekatan ini dilandasi sistem. Teori
konseling keluarga memfokuskan pada kegiatan, keseluruhan yang terorganisasi dari unit
keluarga, dan cara-cara di mana keluarga mengatur dirinya sendiri melalui pola-pola
transaksional diantara mereka. Secara khusus, sistem-sistem keluarga, batas-batas, blok-blok,
dan koalisi-koalisi ditelaah dalam upaya memahami struktur keluarga. Tidak berfungsinya
struktur menunjukkan, bahwa aturan-aturan yang tidak tampak yang membangun transaksi
keluarga tidak berjalan atau mebutuhkan negosiasi kembali aturan-aturan.
Konseling keluarga struktural dilengkapi untuk transaksi sehari-hari dan memberikan prioritas
tinggi terhadap tindakan daripada wawasan atau pemahaman. Seluruh perilaku termasuk
simptom-simptom yang ditunjukkan pasien dipandang dalam konteks struktur keluarga.
Permulaan keluarga memberikan teknik pengamatan sederhana terhadap peta pola-pola transaksi
keluarga. Intervensi- intervensi Minuchin tersebut adalah aktif, penuh perhitungan, berupaya
untuk mengubah kekakuan, kuno, atau tidak melaksanakan struktur. Dengan kerja sama keluarga
dan keamahan, dia memperoleh pemahaman tentang masalah-masalah keluarga, membantu
mereka mengubah susunan keluarga yang tidak berfungsi dan menata kembali organisasikeluarga. Enactments (menyuruh keluarga menunjukkan situasi-situasi konflik khusus dalam sesi
konseling) dan reframing (menjelaskan kembali suatu masalah sebagai suatu masalah sebagai
suatu fungsi dari struktur keluarga) adalah teknik-teknik terapeutik yang sering digunakan.
Teknik-teknik tersebut membawa perubahan struktur keluarga. Tujuan akhir konseling adalah
menyusun kembali aturan-aturan transaksi keluarga dengan mengembangkan lebih tepat lagi
batas-batas diantara sub-sub sistem dan memperkuat aturan hierarki keluarga.
i Dasar pemikiran

Suatu patologi keluarga muncul akibat dari perkembangan rekasi yang disfungsional. Fungsi-
fungsi keluarga meliputi struktur keluarga, sub-systems dan keterikatannya. Peraturan-peraturan
tertutup dan terbuka dan hirarki-nya harus dimengerti dan dirubah untuk membantu penyesuaian
keluarga pada situasi yang baru.
i Peran Konselor

Konselor memetakan aktivitas mental dan kerja keluarga dalam sesi konseling Seperti sutradara teater, mereka memberi instruksi pada keduanya untuk berinteraksi melalui ajakan-ajakan dan rangkaian aktivitas spontan.
i Unit treatment
Keluarga sebagai satu system atau sub-system, tanpa mengabaikan kebutuhan individu.
i T u ju a n

Mengungkap perilaku-perilaku problematik sehingga konselor dapat mengamati dan membantu mengubahnya ; untuk membawa perubahan-perubahan struktural didalam keluarga ; seperti pola- pola organisasional dan rangkaian perbuatan.
i T ek n ik

Kerjasama, akomodating, restrukturusasi, bekerja dengan interaksi (ajakan, perilaku-perilaku spontan), pendalamam, ketidakseimbangan, reframing, mengasah kemampuan dan membuat ikatan-ikatan.
i Aspek-aspek unik
Yang utama adalah membangun keluarga-keluarga dengan sosioekonomis yang rendah, sangat

pragmatis, dipengaruhi oleh profesi psikiatri untuk menghargai konseling keluarga sebagai suatu
pendekatan treatment; dengan prinsip-prinsip dan teori-nya Minuchin dkk, efektif untuk keluarga
dari para pecandu, para penderita gangguan makan dan bunuh diri, penelitian-penelitian yang
baik, systematis, masalah difokuskan untuk masa sekarang, umumnya dilaksanakan kurang dari
6 bulan, konselor dan keluarga sama-sama aktif.
iPendekatan Strategis atau Komunikasi

Teori-teori komunikasi, muncul dari penelitian Lembaga Penelitian Mental (MRI) di Palo Alto
pada tahun 1950-an. Teori-teori komunikasi ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap
konseling keluarga dengan menyusun kembali maslah-masalah manusia sebagai masalah
interaksi dan sifatnya situasional. Epistimoligi dari Beteson, Jakson, dan yang lain merupakan
dasar bagi upaya-upaya terapeutik dari MRI, konseling keluarga strategis yang dikembangkan
oleh Haley dan Madanes, dan pendekatan sistematik dari Selvini-Pallazzoli dan tim Milan.
Karakteristik khusus pendekatan ini menggunakan doube binds terapeutik atau teknik-teknik
paradoksial ini menggunakan aturan-aturan keluarga dan pola-pola hubungan.
Paradocks kontradiksi yang mengikuti deduksi yang tepat dari premis-premis yang konsisten
digunakan secara terapeutik untuk mengarahkan individu atau keluarga yang tidak mau berubah
sesuai dengan apa yang diharapkan. Prosedur ini mempromosikan perubahan tersebut bukan
dalam bentuk tindakan atau penolakan. Jkcson, Watzlawick, dan ahli strategis lainnmenggunakan ´precribing´ simptom-simptom sebagai teknik paradoks untuk mengurangi
penolakan berubah dengan mengubah simptomnya itu tidak berguna.
Pendekatan konseling keluarga strategis ditandai oleh taktik-taktik yang terencana dan hati-hati,
serta langsung menangani masalah-masalah keluarga yang ada. Haley sangat memengaruhi para
praktisi dalam menggunakan perintah-perintah atau penyelesaian tugas-tugas sebaik intervensi-
intervensi paradoksional yang sifatnya tidak langsung. Madanes, konselor keluarga strategis
lainnya menggunakan teknik-teknik ´pretend´ (menganggap diri) dan intervensi-intervensinya
yang tidak konfrontattif diarahkan pada tercapainya perubahan tanpa mengundang penolakan.
Konseling keluarga sistematis yang dipraktikan group Milan, tekniknya didasarkan pada
epistimologi sirkuler dari Bathson. Teknik-tekniknya mengalami sejumlah perubahan dalam
beberapa tahun berikutnya dan melanjutkannya dengan menyajikan teknik-teknik baru.
Berdasarkan prosedur ´long brief therapy´ yang setiap pertemuannya mempunyai jarak kurang
lebih satu bulan, keluarga itu ditangani oleh tim yang bersama-sama merencanakan strategi. Satu
atau dua orang konselor bekerja secara langsung dengan keluarga, sementara konselor yang
lainnya mengamati dari belakang kaca yang satu arah. Keluarga itu dibei tugas-tugas dalam
setiap peremuannya, biasanya didasarkan pada perintah-perintah yang sifatnya paradoks. Tujuan
dari model Milan, yaiotu memberikan ´informasi´ supaya keluarga mengubah aturan-aturan,
mengubah kesalah yang berulang-ulang mengenai permainan-permainan yang menggagalkan
diri. Pendekatan Milan beranggapan, bahwa pesan-pesan paradoksial dari keluarga hanya dapat
dihadapi oleh counterparadox terapeutik. Kelompok Milan telah memperkenalkan sejumlah
teknik wawancara, seperti hypothesizing, pertanyaan sirkuler, netralitas, konotasi positif, dan
ritual-ritual keluarga.

Menurut Jay Haley dan Cloe Madanes; keluarga bermasalah akibat dinamika dan Orang dan
keluarga dapat berubah dengan cepat. Treatment (perlakuan) dapat sederhana dan pragmatis dan
berkonsentrasi pada perubahan perilaku symptomatic dan peran-peran yang kaku. Perubahan
akan muncul melalui ajakan-ajakan , cobaan berat (siksaan), paradox, pura-pura/dalih dan ritual-
ritual (strategic and systemic therapis), difokuskan pada pengecualian terhadap disfungsionalitas,
solusi-solusi hipotetik dan perubahan-perubahan kecil. (solution-focused therapies).
i Peran Konselor

Konselor menanggapi munculnya daya tahan/perlawanan dalam keluarga dan mendesign
rangkaian cerita tentang strategi-strategi untuk memecahkan masalah.Menerima munculnya
perlawanan/daya tahan melalui penerimaan positif terhadap problem-problem yang dibawa
keluarga. Konselor lebih seperti seorang dokter dalam tanggung-jawab terhadap keberhasilan
treatment dan harus merencanakan dan membangun strategi-strategi.
i Unit treatment
Keluarga sebagai suatu system, meskipun pendekatan-pendekatannya secara selektif
dipergunakan pada pasangan-pasangan dan individu-individu.
i Tujuan treatment

Untuk mengatasi problem-problem masa sekarang. Menemukan solusi-solusi,membawa
perubahan-perubahan, menemukan target tujuan perilaku, untuk menimbulkan insigt, untuk
mengabaikan hal-hal yang bukan masalah.
i T ehn ik

Reframing (memasukkan dalam konotasi positif), direktif, kerelaan dan pertentangan
berdasarkan pada paradox (termasuk penentuan symptom-symptom),pengembangan perubahan
selanjutnya, mengabaikan interpretasi, pura-pura, hirarki kooperatif, cobaan-cobaan (siksaaan),
ritual, tim, pertanyaan-pertanyaan berputar, solusi hipotetis (dengan menanyakan ³pertanyaanajaib´).
i Aspek-aspek unik

Terdapat penekanan pada pemeriksaan pada pemeriksaan symptom dengan cara yang positif.
Treatment-nya singkat (biasanya 10 sesi atau beberapa). Fokus pada pengubahan perilaku
problematik masa sekarang. Tehniknya dirancang khusus untuk setiap keluarga. Tretment yang
inovatif dan penting. Pendekaannya fleksibel, berkembang dan kreatif. Secara mudah dapat
dikombinasikan dengan teori-teori lain. struktur keluarga yang disfungsional. Perilaku yang
bermasalah merupakan usaha individu untuk mencapai kekauasaan dan rasa aman.
iPendekatan Behavioral

Konseling keluarga behavioral, terakhir masuk dalam bidang konseling keluarga, berupaya
membawa metode ilmiah dalam proses-proses terapeutik mengembangkan monitoring secara
tetap dan mengembangnkan prosedur-prosedur intervensi berdasarkan data. Pendekatan ini
mengambil prinsip-prinsip belajar manusia, seperi classical dan operant conditioning, penguatan
positif dan negatif, pembentukan, extinction, dan belajar sosial. Pendekatan behavioral
menekankan lingkungan, situasional, dan faktor-faktor sosial dari perilaku. Dalam tahu-tahun
terakhir ini, pengaruh dari faktor-faktor kognitif, seperti peristiwa-peristiwa yang memediasi
interaksi-interaksi keluarga juga diperkenalkan oleh sebagian besar penganut behavioral.
Konselor yang berorientasi behavioral berupaya untuk meningkatkan inteaksi yang positif
diantara anggota-anggota keluarga, mengubah kondisi-kondisi lingkungan yang menentang atau
menghambat interaksi-interaksi, dan melatih orang untuk memelihara perubahan-perubahan
perilaku positif yang diperlukan.
Pendekatan behavioral memberikan pengaruh yang signifikan terhadap empat bidang yang
berbeda, yaitu konseling pekawinan behavioral, pendidikan dan latihan keterampilan orangtua
behavioral, konseling keluarga fungsional, serta penanganan tidak berfungsinya seksual.
Pendidikan dan latihan keterampilan-keterampilan orangtua behavioral, sebagian besar
didasarkan pada teori belajar sosial, berupaya untuk melatih orang tua dengan prinsip-prinsip
behavioral dalam pengelolaan anak. Secara khusus, Patterson memfokuskan terhadap hubungan
dua orang (dyad), biasanya antara ibu dan anak, serta menekankan bahwa perilaku anak itu
kemungkinan dikembangkan dan dipelihara melalui hubungan timbal balik mereka. Secara
khusus, intervensinya berupaya membentu keluarga mengembangkan sejumlah kontingensi
penguatan baru dengan maksud memulai belajar perilaku-perilau baru.
Konseling keluarga fungsional berupaya menginyegrasikan teori sistem, behavioral, dan kognitif
dalam bekarja dengan keluarga. Konseling keluarga fungsional berpandangan, bahwa semua
perilaku sebagai fungsi antarpribadi mengenai hasil khusus dari konsekuensi-konsekuensi
perilaku. Konselor keluarga fungsional tidak mencoba mengubah perilaku-perilaku yang berguna
untuk memelihara fungsi-fungsi.
i Dasar pemikiran

Perilaku dipertahankan atau dikurangi melalui konsekuensi-konsekuensi, perilaku maladaptive dapat diubah (dihapus) atau dimodifikasi. Perilaku adaptive dapat dipelajari, melalui kognisi, rational maupun irational. Perilaku dapat dimodifikasi dan hasilnya akan membawa perubahan- perubahan.
i Peran konselor
Directiv, melakukan pengukuran dan intervensi dengan hati-hati, konselor tampak seperti guruahli dan pemberi penguat, dan focus pada problem masa sekarang.
i Unit Treatment
Training orang tua, hubungan perkawinan dan komunikasi pasangan dan treatment pada
disfungsi sexual, menekankan pada interaksi pasangan, kecuali dalam terapi peran keluarga.
i Tujuan treatment

Untuk menimbulkan perubahan melalui modifikasi pada antecedent-antecedent atau konsekuen-
konsekuen dari perbuatan, memberikan perhatian spesial untuk memodifikasi konsekuensi-
konsekuensi, menekankan pada pengurangan perilaku yang tidak diharapkan dan menerima
perilaku positif, untuk mengajarkan keterampilan sosial dan mencegah problem-problem melalui
mengingatkan kembali, untuk meningkatkan kompetensi individu dan pasangan-pasangan serta
memberikan pengertian tentang dinamika perilaku.
i T ek n ik

Operant conditioning, classical conditioning, social learing theory, strategi-strategi kognitif ±
behavioral, tehnik systematic desensitization, reinforcement positif, reinforcement
sekejap/singkat, generalisasi, kehilangan, extinction, modeling, timbal balik, hukuman, token-
ekonomis, quid proquo exchanges, perencanaan, metode-metode psikoedukasional.
i Aspek-aspek unik

Pendekatan-pendekatannya secara langsung melalui observasi, pengukuran, dan penggunaan
teori ilmiah. Menekankan pada treatment terhadap problem masa sekarang. Memberikan waktu
khusus untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan sosial khusus dan mengurangi
keterampilan yang tak berguna. Hubungan dibangun diatas kontrol positif dan lebih pada
penerangan prosedur-prosedur pendidikan dibanding hukuman. Behaviorisme adalah intervensi
yang simple dan pragmatis dengan teknik-teknik yang bermacam-macam. Data riset yang bagus
membantu pendekatan-pendekatan ini dan keefektifannya dapat diukur. Perlakuannya pada
umumnya dalam waktu yang singkat.

4. Peran Intervensi pada Konseling Keluarga
1. Sebagai penilai mengenai; masalah, sasaran intervensi, kekuatan dan strategi keluarga,
kepercayaan dan etnik keluarga. Eksplorasi pada: reaksi emosi keluarga terhadap trauma dan
transisi, komposisi, kekuatan dan kelemahan, informasi yang dimiliki, kebutuhan-kebutuhan
keluarga, kesiapan untuk intervensi dan dirujuk pada ahli lain.
2. Pendidik/pemberi
Informasi agar keluarga siap beradaptasi terhadap perubahan-perubahan
3. Pengembang sistem support, mengajarkan support dan selalu siap dihubungi.
4. Pemberi tantangan
5. Pemberi fasilitas prevensi (pencegahan) dengan mempersiapkan keluarga dalam menghadapi
stress.

5. Proses Konseling keluarga
1. Melibatkan keluarga, pertemuan dilakukan di rumah, sehingga konselor mendapat informasi
nyata tentang kehidupan keluarga dan dapat merancang strategi yang cocok untuk membantu
pemecahan problem keluarga.

2. Penilaian Problem/masalah yang mencakup pemahaman tentang kebutuhan, harapan, kekuatan
keluarga dan riwayatnya.
3. Strategi-strategi khusus untuk pemberian bantuan dengan menentukan macam intervensi yang
sesuai dengan tujuan.4. Follow up, dengan memberi kesempatan pada keluarga untuk tetap berhubungan dengan
konselor secara periodik untuk melihat perkembangan keluarga dan memberikan support.
C. Penelitian, Latihan, dan Praktik Profesional

Penelitian dalam konseling keluarga didahului oleh perkembangan teknik-teknik intervensi
terapeutik. Penelitian tentang hubungan pola-pola interaksi keluarga dan gangguan psikologis,
sebelumnya didasarkan pada pendekatan penelitian cross sectional yang kemudian disusul
dengan pendekatan penelitian longitudinal.
Akhir-akhir ini berkembang penelitian tentang bproses dan hasil dari intervensi konseling
keluarga. Selanjutnya, penelitian tertarik pada keuntungan dan kerugian relatif dari alternatif
pendekatan-pendekatan untuk individu-individu dan keluarga-keluarga yang kesulitannya
berbeda.
Pada saat sekarang ini, latihan-latihan klinis terjadi dalam tiga setting yang berbeda, yaitu dalam
program-program bantuan konseling keluarga, lembaga-lembaga latihan sebelum menduduki
konseling keluarga, dan dalam program-program universitas.
Sebagian besar program-program latihan itu langsung berupaya untuk membantu traine
mengembangkan persepsi, konsep, dan keterampilan-keterampilan dalam kerja dengan keluarga.
Alat bantu latihan ini meliputi:
1. kursus kerja didaktik
2. menggunakan master videotape terapis dan traine
3. melakukan supervisi melalui bimbingan aktif dengan supervisor yang melihat pertemuan
tersebut di belakang cermin yang satu arah dan melakukan umpan balik korektif melaluitelepon,
earphone, memanggil traine dari pertemuan konseling untuk konsultasi.
4. ko-konseling di mana traine mempunyai kesempatan untuk bekerja di di samping mentor
dalam keluarga.
Praktik propesional dalam konseling perkawinan atau keluarga diatur oleh status hukum dan
pengaturan diri dengan kode etik, review sebaya, melanjutkan pendidikan, dan konsultasi.
                                                               BAB III
                                                    ANALISIS MATERI

Didalam keluarga tentunya banyak permasalahan yang akan dialami, baik itu antar pribadi
,aupun antar kelompok di dalam keluarga. Bila dikaitkan dengan pendidikan luar biasa,
konseling keluarga sangat dibutuhkan dalam membantu penyelesaian masalah-masalah yang
timbul. Bila diambil sebuah contoh, misalnya sebuah keluarga yang memiliki anak berkebutuhan
khusus. Memiliki anak merupakan harapan dan anugrah yang sangat dinanti sebuah keluarga,
tetapi tidak sedikit orang tua dan anggota keluarga lain yang menolak atau justru merasa
mendapatkan masalah dengan lahirnya anak berkebutuhan khusus.
Sikap penolakan dari anggota keluarga, akan menimbulkan permasalahan baik pada anak
maupun pada keseimbangan kehidupan keluarga tersebut. Dari kasus ini, tentunya konseling
keluarga sangat dibutuhkan dalam membantu permasalahan tersebut. Begitupun peran konselor
dan pendekatan serta proses konseling.
Dari uraian materi yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya, bahwa keluarga merupakantempat pertama dalam perkembangan seorang anak. Keluarga memiliki peranana yang penting
dalam membantu mengembangkan potensi anak. Jika di dalam kelurga terdapat permaslahan-
permasalahan yang terjadi maka hal tersebut akan mempengaruhi kondisi di dlaam keluarga
tersebut.
PermasAlahan-permaslahan yang timbul di dalam keluarga sangat dipengaruhi oleh bagaimana
perkembangan keluarga tersebut baik dari segi ekonomi, sosial, dan budaya. Hal ini merupakan
salah satu faktor bagaimana dalam sebuah keluarga ketika memandang sebuah persoalan.
Begitupun dnegan bagaimana keluarga memandang anak berkebutuhan khsusus. Bagi keluarga
yang memiliki statuts ekonomi yang tinggi serta memiliki nilai-nilai yang luhur di dalam
keluarga, mungkin penolakan terhadap hadirnya seorang anak berkebutuhan khusus tidak akan
terjadi, disini mereka malah berusaha untuk meberikan yang terbaik bagi anak berkebutuhan
khusus tersebut.
Dalam konseling keluarga banyak pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam membantu
permasalahan yang terjadi di dalam keluarga. Hal ini antara lain adalah pendekatan
psikodinamik, pendekatan eksistensial, pendekatan bowenian, pendekatan struktural, pendekatan
komunikasi dan pendekatan behavioral. Pendekatan-pendekatan tersebut memiliki dasar
pemikiran, tujuan serta teknik yang berbeda di dalam penanganannya.
Pendekatan psikodinamik lebih menekankan bagaimana individu memahami diridan memahami
emosi, sehingga anggota keluarga nantinya bisa menyelesaikan problem matika sendiri tanpa
bantuan lagi dari konselor. Pendekatan eksperensial atau humanistik didasari oleh masalah-
masalah keluarga yang berakar dari perasaan-perasaan negatif seperti tertekan, kekakuan dan
lain-lain. Pendekatan ini lebih menekankan pada keluarga agar mampu untuk berusaha
mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh individu. Pendekatan bowen didasarkan
dimana anggota keluarga dapat memisahkan anatara fungsi intelektual dan emosionalnya,
dimana pendekatan ini menhindarkan triangulasi atau orang ketiga dalam proses penanganannya.
Pendekatan struktural lebih menekankan pada perubahan struktural di dalam keluarga dan
bagaimana keluarga dapat mengatur dirinya sendiri dengan pola transaksional di antara anggota
keluarga. Peran konselor dalam pendekatan ini harus mampu memberikan instruksi-instruksi
yang selayaknya dilakukan oleh anggota keluarga sedang melakukan bimbingan. Pendekatan
strategis atau komunikasi lebih menekankan pada problematika masa sekarang yang bertujuan
untuk mengubah segala perilaku-perilaku yang salah. Sedangkan pada pendekatan behavioral,
lebih menekankan pada perilaku-perilaku dimana perilaku tersebut dipertahankan atau bahkan
dihilangkan.
Pada kasus yang telah diungkap sebelumnya, bahwa penolakan orang tua terhadap hadirnya anak
berkebutuhan khusus serta sikap orangtua yang frustasi, stress hingga acuh pada anak yang
akhirnya membuat keseimbangan kehidupan keluarga tersebut terganggu. Tentunya hal tersebut
harus ditangani dengan segera. Jangan sampai masalah di dalam keluarga dapat menghambat
potensi serta aktivitas anggota keluarga yang lain.
Pendekatan-pendekatan bimbingan keluarga yang telah dijelaskan diatas merupakan acuan
bimbingan yang dapat membantu memecahkan persoalan tersebut.
Pendekatan behavioral yang menekankan pada perilaku yang dipertahankan atau dirubah atau
dimodifikasi dapat digunakan untuk orang tua bagaimana harus bersikap dan berperilaku
terhadap anak berkebutuhan khusus yang hadir dalam keluarganya. Pendekatan eksperiensial
atau humanistik dapat digunakan untuk mengembangkan ketertutupan emosional dan
mengurangi kekakuan didalam keluarga serta pendekatan-pendekatan lainnya
.                                                       bab 4 kesimpulan
Keluarga merupakan bagian terkecil dari susunan masyarakat yang akan menjadi dasar dalam
mewujudkan suatu negara (Emil Salim 1983). Begitu besarnya tugas keluarga didalam
perkembangan seorang anak, sehingga lingkungan keluarga harus dibina dan dijaga sedemikian
rupa agar permasalahan-permasalahan yang muncul dalam keluarga tidak mengakibatkan
terhambatnya segala aktivitas para anggota keluarga lainnya.
Didalam keluarga yang terdiri dari beberapa anggota didalamnya tidak akan terlepas dari
permasalahan-permasalahan yang terjadi baik dari luar lingkungan keluarga ataupun dalam
lingkungan keluarga itu sendiri. Bimbingan konseling keluarga merupakan salah satu upaya
membantu keluarga dalam menangani permasalahan-permasalahannya.

Setiap keluarga memiliki perkembangan yang berbeda-beda baik faktor sosial, ekonomi, budaya, dan agama yang membedakan permasalahan-permasalahan yang akan muncul. Akan tetapi, permasalahan- permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan pendekatan-pendekatan yang ada dalam bimbingan konseling keluarga. Diantara pendekatan-pendekatan tersebut yaitu pendekatan psikodinamik, eksperimental
/
humanistik,
bowen,
bihavioral,
dan

struktural. Bila dikaitkan dengan permasalahan keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus misalnya dengan kasus orangtua yang menolak kehadiran Anak Berkebutuhan Khusus dalam keluarganya dapat juga dibantu dengan bimbingan konseling keluarga dengan pendekatan-pendekatan konseling yang ada. Sehingga, permasalahan-permasalahan yang ada dapat terselesaikan dengan baik.

1. Hakikat Bimbingan dan Konseling di SD

M. Surya (1988:12) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian atau layanan bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan.
Bimbingan ialah penolong individu agar dapat mengenal dirinya dan supaya individu itu dapat mengenal serta dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi di dalam kehidupannya (Oemar Hamalik, 2000:193).
Bimbingan adalah suatu proses yang terus-menerus untuk membantu perkembangan individu dalam rangka mengembangkan kemampuannya secara maksimal untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:11).
Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik sebuah inti sari bahwa bimbingan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada individu agar dapat mengembangkan kemampuannya seoptimal mungkin, dan membantu siswa agar memahami dirinya (self understanding), menerima dirinya (self acceptance), mengarahkan dirinya (self direction), dan merealisasikan dirinya (self realization).
Konseling adalah proses pemberian yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien (Prayitno, 1997:106).
Konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada seseorang supaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan pada diri sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dan memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan datang (Mungin Eddy Wibowo, 1986:39).
Dari pengertian tersebut, dapat dirangkum ciri-ciri pokok konseling, yaitu:
(1) adanya bantuan dari seorang ahli,
(2) proses pemberian bantuan dilakukan dengan wawancara konseling,
(3) bantuan diberikan kepada individu yang mengalami masalah agar memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri dalam mengatasi masalah guna memperbaiki tingkah lakunya di masa yang akan datang.

Perlunya Bimbingan dan Konseling di SD Jika ditinjau secara mendalam, setidaknya ada tiga hal utama yang melatarbelakangi perlunya bimbingan yakni tinjauan secara umum, sosio kultural dan aspek psikologis. Secara umum, latar belakang perlunya bimbingan berhubungan erat dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional, yaitu: meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut sudah barang tentu perlu mengintegrasikan seluruh komponen yang ada dalam pendidikan, salah satunya komponen bimbingan. Bila dicermati dari sudut sosio kultural, yang melatar belakangi perlunya proses bimbingan adalah adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sehingga berdampak disetiap dimensi kehidupan. Hal tersebut semakin diperparah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, sementara laju lapangan pekerjaan relatif menetap.
Menurut Tim MKDK IKIP Semarang (1990:5-9) ada lima hal yang melatarbelakangi perlunya layanan bimbingan di sekolah yakni:
(1) masalah perkembangan individu,
(2) masalah perbedaan individual,
(3) masalah kebutuhan individu,
(4) masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku, dan
(5) masalah belajar

3. Fungsi Bimbingan dan Konseling di SD
Sugiyo dkk (1987:14) menyatakan bahwa ada tiga fungsi bimbingan dan konseling, yaitu:

a. Fungsi penyaluran ( distributif )
Fungsi penyaluran ialah fungsi bimbingan dalam membantu menyalurkan siswa-siswa dalam memilih program-program pendidikan yang ada di sekolah, memilih jurusan sekolah, memilih jenis sekolah sambungan ataupun lapangan kerja yang sesuai dengan bakat, minat, cita-cita dan ciri- ciri kepribadiannya. Di samping itu fungsi ini meliputi pula bantuan untuk memiliki kegiatan-kegiatan di sekolah antara lain membantu menempatkan anak dalam kelompok belajar, dan lain-lain.

b. Fungsi penyesuaian ( adjustif )
Fungsi penyesuaian ialah fungsi bimbingan dalam membantu siswa untuk memperoleh penyesuaian pribadi yang sehat. Dalam berbagai teknik bimbingan khususnya dalam teknik konseling, siswa dibantu menghadapi dan memecahkan masalah-masalah dan kesulitan-kesulitannya. Fungsi ini juga membantu siswa dalam usaha mengembangkan dirinya secara optimal.

c. Fungsi adaptasi ( adaptif )
Fungsi adaptasi ialah fungsi bimbingan dalam rangka membantu staf sekolah khususnya guru dalam mengadaptasikan program pengajaran dengan ciri khusus dan kebutuhan pribadi siswa-siswa. Dalam fungsi ini pembimbing menyampaikan data tentang ciri-ciri, kebutuhan minat dan kemampuan serta kesulitan-kesulitan siswa kepada guru. Dengan data ini guru berusaha untuk merencanakan pengalaman belajar bagi para siswanya. Sehingga para siswa memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan bakat, cita-cita, kebutuhan dan minat (Sugiyo, 1987:14)

4. Prinsip-prinsip Bimbingan Konseling di SD
Prinsip merupakan paduan hasil kegiatan teoretik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan (Prayitno, 1997:219). Berikut ini prinsip-prinsip bimbingan konseling yang diramu dari sejumlah sumber, sebagai berikut:

a. Sikap dan tingkah laku seseorang sebagai pencerminan dari segala kejiwaannya adakah unik dan khas. Keunikan ini memberikan ciri atau merupakan aspek kepribadian seseorang. Prinsip bimbingan adalah memperhatikan keunikan, sikap dan tingkah laku seseorang, dalam memberikan layanan perlu menggunakan cara-cara yang sesuai atau tepat.
b. Tiap individu mempunyai perbedaan serta mempunyai berbagai kebutuhan. Oleh karenanya dalam memberikan bimbingan agar dapat efektif perlu memilih teknik-teknik yang sesuai dengan perbedaan dan berbagai kebutuhan individu.
c. Bimbingan pada prinsipnya diarahkan pada suatu bantuan yang pada akhirnya orang yang dibantu mampu menghadapi dan mengatasi kesulitannya sendiri.
d. Dalam suatu proses bimbingan orang yang dibimbing harus aktif , mempunyai bayak inisiatif. Sehingga proses bimbingan pada prinsipnya berpusat pada orang yang dibimbing.
e. Prinsip referal atau pelimpahan dalam bimbingan perlu dilakukan. Ini terjadi apabila ternyata masalah yang timbul tidak dapat diselesaikan oleh sekolah (petugas bimbingan). Untuk menangani masalah tersebut perlu diserahkan kepada petugas atau lembaga lain yang lebih ahli.
f. Pada tahap awal dalam bimbingan pada prinsipnya dimulai dengan kegiatan identifikasi kebutuhan dan kesulitan-kesulitan yang dialami individu yang dibimbing.
g. Proses bimbingan pada prinsipnya dilaksanakan secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan yang dibimbing serta kondisi lingkungan masyarakatnya.
h. Program bimbingan dan konseling di sekolah harus sejalan dengan program pendidikan pada sekolah yang bersangkutan. Hal ini merupakan keharusan karena usaha bimbingan mempunyai peran untuk memperlancar jalannya proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan.
i. Dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah hendaklah dipimpin oleh seorang petugas yang benar-benar memiliki keahlian dalam bidang bimbingan. Di samping itu ia mempunyai kesanggupan bekerja sama dengan petugas-petugas lain yang terlibat.
j. Program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya senantiasa diadakan penilaian secara teratur. Maksud penilaian ini untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program bimbingan. Prinsip ini sebagai tahap evaluasi dalam layanan bimbingan konseling nampaknya masih sering dilupakan. Padahal sebenarnya tahap evaluasi sangat penting artinya, di samping untuk menilai tingkat keberhasilan juga untuk menyempurnakan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling (Prayitno, 1997:219).

5. Kegiatan BK dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi
Berdasarkan Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling (2004) dinyatakan bahwa kerangka kerja layanan BK dikembangkan dalam suatu program BK yang dijabarkan dalam 4 (empat) kegiatan utama, yakni:

a. Layanan dasar bimbingan
Layanan dasar bimbingan adalah bimbingan yang bertujuan untuk membantu seluruh siswa mengembangkan perilaku efektif dan keterampilan-keterampilan hidup yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan siswa SD.

b. Layanan responsif adalah layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh peserta didik saat ini. Layanan ini lebih bersifat preventik atau mungkin kuratif. Strategi yang digunakan adalah konseling individual, konseling kelompok, dan konsultasi. Isi layanan responsif adalah:
(1) bidang pendidikan;
(2) bidang belajar;
(3) bidang sosial;
(4) bidang pribadi;
(5) bidang karir;
(6) bidang tata tertib SD;
(7) bidang narkotika dan perjudian;
(Cool bidang perilaku sosial, dan
(9) bidang kehidupan lainnya.

c. Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yang membantu seluruh peserta didik dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karir, dan kehidupan sosial dan pribadinya. Tujuan utama dari layanan ini untuk membantu siswa memantau pertumbuhan dan memahami perkembangan sendiri.

d. Dukungan sistem, adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan, memelihara dan meningkatkan progam bimbingan secara menyeluruh. Hal itu dilaksanakan melalui pengembangan profesionalitas, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasihat, masyarakat yang lebih luas, manajemen program, penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990)

e. Kegiatan utama layanan dasar bimbingan yang responsif dan mengandung perencanaan individual serta memiliki dukungan sistem dalam implementasinya didukung oleh beberapa jenis layanan BK, yakni:

(1) layanan pengumpulan data,
(2) layanan informasi,
(3) layanan penempatan,
(4) layanan konseling,
(5) layanan referal/melimpahkan ke pihak lain, dan
(6) layanan penilaian dan tindak lanjut (Nurihsan, 2005:21).

6. Peran Guru Kelas dalam Kegiatan BK di SD
Implementasi kegiatan BK dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Oleh karena itu peranan guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK sangat penting dalam rangka mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran yang dirumuskan.
Sardiman (2001:142) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan BK, yaitu:
a. Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.
b. Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.
c. Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar-mengajar.
d. Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.
e. Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.
f. Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan pengetahuan.
g. Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar.
h. Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.
i. Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.

Fungsi layanan bimbingan konseling

Dikirim 0leh Arjo moemedo Saturday, January 29, 2011 0 komentaran

Fungsi layanan

* Pemahaman: dipahaminya diri klien, masalah klien, dan lingkungan klien baik oleh klien itu sendiri, konselor, maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan.
* Pencegahan: mengupayakan tersingkirnya berbagai hal yang secara potensial dapat menghambat atau mengganggu perkembangan kahidupan individu.
* Perbaikan: membebaskan klien dari berbagai masalah yang dihadapinya.
* Pemeliharaan dan Pengembangan: memelihara segala sesuatu yang baik pada diri individu atau kalau mungkin mengembangkannya agar lebih baik.

Pada saat ini fungsi Layanan bertambah dengan adanya fungsi Mediasi dan fungsi Advokasi, walau hanya pengukuhan atas layanan yang selama ini telah dilakukan hal tersebut menunjukkan bahwa Ilmu Konseling berkembang.

Jenis layanan

Layanan yang diberikan kepada peserta didik di sekolah meliputi:

* Layanan orientasi: memperkenalkan seseorang pada lingkungan yang baru dimasukinya, misalnya memperkenalkan siswa baru pada sekolah yang baru dimasukinya.
* Layanan informasi: bersama dengan layanan orientasi memberikan pemahaman kepada individu-individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani suatu tugas atau kegiatan, atau untuk menentukan arah suatu tujuan atau rencana yang dikehendaki. Informasi yang dapat diberikan di sekolah di anataranya: informasi pendidikan, informasi jabatan,informasi tentang cara belajar yang efektif dan informasi sosial budaya.
* Layanan bimbingan penempatan dan penyaluran: membantu menempatkan individu dalam lingkungan yang sesuai untuk perkembangan potensi-potensinya. Termasuk di dalamnya: penempatan ke dalam kelompok belajar, pemilihan kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti, penyaluran ke jurusan/program studi, penyaluran untuk studi lanjut atau untuk bekerja.
* Layanan bimbingan belajar: membantu siswa untuk mengatasi masalah belajarnya dan untuk bisa belajar dengan lebih efektif.
* Layanan konseling individual: konseling yang diberikan secara perorangan.
* Layanan bimbingan dan konseling kelompok: konseling yang dilaksanakan pada sekelompok orang yang mempunyai permasalahan yang serupa.

Judul Skripsi Pendidikan Bimbingan Konseling * Peranan Guru Bimbingan Konseling Dalam Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Siswa Kelas X Semester Genap SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung * Peranan Guru Bimbingan Konseling Dalam Membina Kesehatan Mental Siswa Kelas VII SMA Negeri..... Bandar Lampung * HUB. ANTARA BIMBINGAN BELAJAR DI RUMAH DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELASI I SMUN 8 SURABAYA (2001) * HUB. KONDISI KERUKUNAN KELUARGA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II SMU SEJAHTERA 1 SURABAYA (2000) * TANGGAPAN ORANG TUA SISWA TERHADAP MAKNA BIMBINGAN DAN KONSELING DI SLTP N 2 BEJI PASURUAN (2002) * HUB. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN PEMAHAMAN AJARAN AGAMA ISLAM PADA ANAK DIDIK SLTPN 21 SURABAYA (2000) * PENGARUH BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR DI SMU AL ISLAMIYAH PUTAT TANGGULANGIN (2002) * HUB. BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II SLTP JALAN JAWA SURABAYA (2002) * HUB. LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA SLTPN KRISTEN PETRA I SURABAYA (2001) * PENGARUH PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING ORANG TUA ANAK LUAR BIASA TERHADAP PRESTASI BELAJAR DI SLB BHAKTI LUHUR MALANG (2003) * PERANAN GURU SEBAGAI PROFESIONALISME DALAM MENDIDIK MEMBIMBING DAN MENGAJAR SISWA DI SLTP TAMAN SISWA PRIGEN PASURUAN (2002) * PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING ALB TERHADAP PERUBAHAN TINGKAH LAKU SISWA SLTP/LB BHAKTI LUHUR MALANG (2003) * PENGARUH EKONOMI KELUARGA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI SMP TAMAN DEWASA PRIGEN (2002) * HUB. BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II SLTP ”YOPI” SURABAYA (2002) * HUB. ANTARA KONDISI LINGKUNGAN SEKOLAH DENGAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA KELAS II SLTP PGRI 1 SURABAYA (2001) * STUDI LAYANAN INFORMASI DAN ORIENTASI SEBELUM PRAKTEK KLINIK TERHADAP PENCAPAIAN KOMPETENSI LAYANAN KEBINAAN DI AKBID DEPKES SUTOMO SURABAYA (2001) * HUB. KEGMARAN MENDENGARKAN MUSIK DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II DALAM BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS DI SMK PAWIYATAN SURABAYA (2002) * HUB. AKTIVITAS BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II A SLTP JALAN JAWA KOTAMADYA SURABAYA (2002) * HUB. AKTIVITAS BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA SLTP GEMA 45 SURABAYA (2002) * PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG BIMBINGAN BELAJAR MAHASISWA TINGKAT II AKPER BINA SEHAT PPNI KABUPATEN MOJOKERTO (2002) * HUB. KEGIATAN MONOTON ACARA TELEVISI DENGAN KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA SLTPN 2 SURABAYA (2000) * PELAKSANAAN PROGRAM PERKEMBANGAN KEMAMPUAN DASAR DAYA CIPTA ANAK TK DITINJAU DARI KURIKULUM 1994 DI TK KELAS A KURNIA RAHMAT SURABAYA (2000) * HUB. BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP KESULITAN BELAJAR SISWA DI SLTP MUHAMMADIYAH 1 SUMBEREJO BOJONEGORO (2002) * PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK PARA SEKOLAH DI TK AISYIAH BUSTANUL ATHFAL PANDAAN (2000) * HUB. ANTARA LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR SOSIAL DENGAN KENAKALAN REMAJA SISWA KELAS II SMU PGRI 8 SURABAYA (2000) * HUB. MINAT MASUK AKPER DENGAN PRESTASI BELAJAR BIDANG STUDI PRAKTEK KEPERAWATAN (2000) * HUB. PEMBERIAN LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR KELAS II SLTP ISLAM PASURUAN (2002) * HUB. LAYANAN KONSELING PADA CALON PENGANTIN WANITA DENGAN PERSIAPAN FISIK PRANIKAH DI KEC. GENDING KAB. PROBOLINGGO (2002) * HUB. TINGKAT SOSIAL EKONOMI ORANG TUA DENGAN KEMANDIRIAN ANAK PADA PENDIDIKAN TK NGAGEL JL. NGAGEL NO. 21 SURABAYA (2003) * HUB. BIMBINGAN ORANG TUA DENGAN MOTIVASI BALAJAR SISWA KELAS II SLTP LILWATHON SURABAYA (2000) * HUB. ANTARA LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN SOSIAL DENGAN KEDISIPLINAN SISWA DI SEKOLAH (2000) boleh * HUB. ANTARA BIMBINGAN SOSIAL DENGAN AKTIVITAS SOSEIAL SISWA KELAS II SMU MUJAHIDIN SURABAYA (2001) * HUB. PAI DENGAN PEMAHAMAN AJARAN AGAMA ISLAM PADA ANAK DIDIK SLTPN 21 SURABAYA (2001) * PENGARUH METODE BERMAIN TERHADAP PENGEMBANGAN DAYA PIKIR ANAK TK DHARMA WANITA JL. KUTILANG III GENDANGAN SIDOARJO (2002) * PENGARUH PEMBERIAN LAYANAN BIMBINGAN SOSIAL SEKOLAH TERHADAP KENAKALAN REMAJA SISWA KELAS II MTS BAHRUL ULUM GYAM KEC. NGASEM KAB. BOJONEGORO (2002) * HUB. BIMBINGAN KARIER DENGAN MOTIVASI KERJA SISWA SMUN 5 SURABAYA (2000) * PERANAN PERHATIAN ORANG TUA TERHADAP KEDISIPLINAN BELAJAR ANAK DI MADRASAH ALIYAH YAHARI DESA BANGSRE KEC. SUKONO KAB. SIDOARJO (2002) * PERANAN GURU DALAM MENINGKATKAN PENDIDIKAN SD POGALAN IV DI TRENGGALEK SEBAGAI SD PAMONG (2002) * PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP KREATIVITAS ANAK TK NEGERI KUNCUP BUNGA SURABAYA (2002) * KENDALA YANG DIALAMI GURU DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK TK DI KEC. RUNGKUT (2001) * HUB. ANTARA LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN DAN KONSELING DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II A2 SMKN 3 PROBOLINGGO (2000) * STUDI TENTANG MINAT SISWA DALAM MEMANFAATKAN LAYANAN BIMBINGAN PRIBADI DI SLTPN 6 SURABAYA (2002) * HUB. ANTARA BIMBINGAN SOSIAL DENGAN KENAKALAN REMAJA PADA SISWA KELAS II SLTP PGRI SURABAYA TAHUN AJARAN 2000-2001 (2001) * PENGARUH PENGGUNAAN METODE BERCERITA DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP KRESIFITAS ANAK TK AL-HIDAYAH GENDANGAN SIDOARJO (2003) * HUB. LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA AKADEMI KEBIDANAN DEPKES SUTOMO SURABAYA SEMESTER II JALUR KHUSUS (2002) * PENGARUH EKONOMI KELUARGA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI SLTP MAARIF LAWANG (2002) * MINAT SISWA DALAM MEMANFAATKAN LAYANAN KONSELING DI SEKOLAH KESEHATAN TNI AL SURABAYA TAHUN AJARAN 1999/2000 (2000) * HUB. ANTARA GURU MATA PELAJARAN DALAM PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING DENGAN KEDISIPLINAN SISWA KELAS I SLTP PGRI I SURABAYA (2002) * STUDI TENTANG PERLUNYA BIMBINGAN DAN KONELING MELALUI PENDEKATAN PROBLEM CHECK LIST (2001) * HUB. ANTARA DISIPLIN KELUARGA DENGN PRESTASI BELAJAR SISWA MTS I TALUN SUMBER REJO BOJONEGORO (2002) * PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP KREATIVITAS ANAK TK PERWANIDA PEFUNGSRI PANDAAN (2002) * HUB. LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS I SMUK ST. LOUIS I SURABAYA (2002) * HUB. ANTARA LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS II SMKN 8 SURABAYA (2003) * TANGGAPAN SISWA TERHADAP LAYANAN BIMBINGAN KARIER DALAM MENGHADAPI DUNIA KERJA DI KELAS II SLTPN 2 SUKODONO SIDOARJO (2001) * HUB. ANTARA LAYANAN BIMBINGAN SOSIAL DENGAN PERUBAHAN TINGKAH LAKU SISWA KELAS III SLTP BARU NAWATI SURABAYA (2001) * HUB. POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KREATIVITAS ANAK TK KELOMPOK B DI TK AISYIAH I PURANG ANOM SIDOARJO (2002) * PENGARUH PEMBERIAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING TERHADAP PERILAKU SISWA KELAS II MTs MUHAMMADIYAH 2 KEDUNGADEM BOJONEGORO (2002) * HUB. ANTARA PENYESUAIAN DIRI DI BIDANG AKADEMIK DENGAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA TINGKAT I ANGKATAN 2000 AKPER BINA SEHAT PPNI KAB. BOJONEGORO (2002) * TANGGAPAN SISWA TERHADAP PERANAN GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DI SMU MA’ARIF LAWANG (2002) * HUB. ANTARA MOTIVASI DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA MTs I TALUN SUMBER REJO BOJONEGORO (2002) * TANGGAPAN ORANG TUA SISWA TERHADAP PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SREKOLAH MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI WONOREJO (2002) * HUB. KEBIASAAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS I SLTP JALAN JAWA KOTAMADYA SURABAYA (2002) * HUB. LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS II SLTP MA’ARIF HASANUDIN SURABAYA (2002) * HUB. KEGIATAN BIMBINGAN KONSELING TERHADAP KESULITAN BELAJAR SISWA DI SPK PAMEKASAN (2000) * HUB. LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR SISWA DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS I SMUN GIKI 1 SURABAYA (2000)

Dikirim 0leh Arjo moemedo 0 komentaran

* Peranan Guru Bimbingan Konseling Dalam Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Siswa Kelas X Semester Genap SMA ........................
* Peranan Guru Bimbingan Konseling Dalam Membina Kesehatan Mental Siswa Kelas VII SMA Negeri..... Bandar Lampung
* HUB. ANTARA BIMBINGAN BELAJAR DI RUMAH DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELASI I SMUN 8 SURABAYA (2001)
* HUB. KONDISI KERUKUNAN KELUARGA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II SMU SEJAHTERA 1 SURABAYA (2000)
* TANGGAPAN ORANG TUA SISWA TERHADAP MAKNA BIMBINGAN DAN KONSELING DI SLTP N 2 BEJI PASURUAN (2002)
* HUB. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN PEMAHAMAN AJARAN AGAMA ISLAM PADA ANAK DIDIK SLTPN 21 SURABAYA (2000)
* PENGARUH BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR DI SMU AL ISLAMIYAH PUTAT TANGGULANGIN (2002)
* HUB. BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II SLTP JALAN JAWA SURABAYA (2002)
* HUB. LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA SLTPN KRISTEN PETRA I SURABAYA (2001)
* PENGARUH PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING ORANG TUA ANAK LUAR BIASA TERHADAP PRESTASI BELAJAR DI SLB BHAKTI LUHUR MALANG (2003)
* PERANAN GURU SEBAGAI PROFESIONALISME DALAM MENDIDIK MEMBIMBING DAN MENGAJAR SISWA DI SLTP TAMAN SISWA PRIGEN PASURUAN (2002)
* PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING ALB TERHADAP PERUBAHAN TINGKAH LAKU SISWA SLTP/LB BHAKTI LUHUR MALANG (2003)
* PENGARUH EKONOMI KELUARGA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI SMP TAMAN DEWASA PRIGEN (2002)
* HUB. BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II SLTP ”YOPI” SURABAYA (2002)
* HUB. ANTARA KONDISI LINGKUNGAN SEKOLAH DENGAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA KELAS II SLTP PGRI 1 SURABAYA (2001)
* STUDI LAYANAN INFORMASI DAN ORIENTASI SEBELUM PRAKTEK KLINIK TERHADAP PENCAPAIAN KOMPETENSI LAYANAN KEBINAAN DI AKBID DEPKES SUTOMO SURABAYA (2001)
* HUB. KEGMARAN MENDENGARKAN MUSIK DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II DALAM BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS DI SMK PAWIYATAN SURABAYA (2002)
* HUB. AKTIVITAS BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II A SLTP JALAN JAWA KOTAMADYA SURABAYA (2002)
* HUB. AKTIVITAS BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA SLTP GEMA 45 SURABAYA (2002)
* PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG BIMBINGAN BELAJAR MAHASISWA TINGKAT II AKPER BINA SEHAT PPNI KABUPATEN MOJOKERTO (2002)
* HUB. KEGIATAN MONOTON ACARA TELEVISI DENGAN KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA SLTPN 2 SURABAYA (2000)
* PELAKSANAAN PROGRAM PERKEMBANGAN KEMAMPUAN DASAR DAYA CIPTA ANAK TK DITINJAU DARI KURIKULUM 1994 DI TK KELAS A KURNIA RAHMAT SURABAYA (2000)
* HUB. BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP KESULITAN BELAJAR SISWA DI SLTP MUHAMMADIYAH 1 SUMBEREJO BOJONEGORO (2002)
* PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK PARA SEKOLAH DI TK AISYIAH BUSTANUL ATHFAL PANDAAN (2000)
* HUB. ANTARA LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR SOSIAL DENGAN KENAKALAN REMAJA SISWA KELAS II SMU PGRI 8 SURABAYA (2000)
* HUB. MINAT MASUK AKPER DENGAN PRESTASI BELAJAR BIDANG STUDI PRAKTEK KEPERAWATAN (2000)
* HUB. PEMBERIAN LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR KELAS II SLTP ISLAM PASURUAN (2002)
* HUB. LAYANAN KONSELING PADA CALON PENGANTIN WANITA DENGAN PERSIAPAN FISIK PRANIKAH DI KEC. GENDING KAB. PROBOLINGGO (2002)
* HUB. TINGKAT SOSIAL EKONOMI ORANG TUA DENGAN KEMANDIRIAN ANAK PADA PENDIDIKAN TK NGAGEL JL. NGAGEL NO. 21 SURABAYA (2003)
* HUB. BIMBINGAN ORANG TUA DENGAN MOTIVASI BALAJAR SISWA KELAS II SLTP LILWATHON SURABAYA (2000)
* HUB. ANTARA LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN SOSIAL DENGAN KEDISIPLINAN SISWA DI SEKOLAH (2000) boleh
* HUB. ANTARA BIMBINGAN SOSIAL DENGAN AKTIVITAS SOSEIAL SISWA KELAS II SMU MUJAHIDIN SURABAYA (2001)
* HUB. PAI DENGAN PEMAHAMAN AJARAN AGAMA ISLAM PADA ANAK DIDIK SLTPN 21 SURABAYA (2001)
* PENGARUH METODE BERMAIN TERHADAP PENGEMBANGAN DAYA PIKIR ANAK TK DHARMA WANITA JL. KUTILANG III GENDANGAN SIDOARJO (2002)
* PENGARUH PEMBERIAN LAYANAN BIMBINGAN SOSIAL SEKOLAH TERHADAP KENAKALAN REMAJA SISWA KELAS II MTS BAHRUL ULUM GYAM KEC. NGASEM KAB. BOJONEGORO (2002)
* HUB. BIMBINGAN KARIER DENGAN MOTIVASI KERJA SISWA SMUN 5 SURABAYA (2000)
* PERANAN PERHATIAN ORANG TUA TERHADAP KEDISIPLINAN BELAJAR ANAK DI MADRASAH ALIYAH YAHARI DESA BANGSRE KEC. SUKONO KAB. SIDOARJO (2002)
* PERANAN GURU DALAM MENINGKATKAN PENDIDIKAN SD POGALAN IV DI TRENGGALEK SEBAGAI SD PAMONG (2002)
* PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP KREATIVITAS ANAK TK NEGERI KUNCUP BUNGA SURABAYA (2002)
* KENDALA YANG DIALAMI GURU DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK TK DI KEC. RUNGKUT (2001)
* HUB. ANTARA LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN DAN KONSELING DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II A2 SMKN 3 PROBOLINGGO (2000)
* STUDI TENTANG MINAT SISWA DALAM MEMANFAATKAN LAYANAN BIMBINGAN PRIBADI DI SLTPN 6 SURABAYA (2002)
* HUB. ANTARA BIMBINGAN SOSIAL DENGAN KENAKALAN REMAJA PADA SISWA KELAS II SLTP PGRI SURABAYA TAHUN AJARAN 2000-2001 (2001)
* PENGARUH PENGGUNAAN METODE BERCERITA DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP KRESIFITAS ANAK TK AL-HIDAYAH GENDANGAN SIDOARJO (2003)
* HUB. LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA AKADEMI KEBIDANAN DEPKES SUTOMO SURABAYA SEMESTER II JALUR KHUSUS (2002)
* PENGARUH EKONOMI KELUARGA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI SLTP MAARIF LAWANG (2002)
* MINAT SISWA DALAM MEMANFAATKAN LAYANAN KONSELING DI SEKOLAH KESEHATAN TNI AL SURABAYA TAHUN AJARAN 1999/2000 (2000)
* HUB. ANTARA GURU MATA PELAJARAN DALAM PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING DENGAN KEDISIPLINAN SISWA KELAS I SLTP PGRI I SURABAYA (2002)
* STUDI TENTANG PERLUNYA BIMBINGAN DAN KONELING MELALUI PENDEKATAN PROBLEM CHECK LIST (2001)
* HUB. ANTARA DISIPLIN KELUARGA DENGN PRESTASI BELAJAR SISWA MTS I TALUN SUMBER REJO BOJONEGORO (2002)
* PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP KREATIVITAS ANAK TK PERWANIDA PEFUNGSRI PANDAAN (2002)
* HUB. LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS I SMUK ST. LOUIS I SURABAYA (2002)
* HUB. ANTARA LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS II SMKN 8 SURABAYA (2003)
* TANGGAPAN SISWA TERHADAP LAYANAN BIMBINGAN KARIER DALAM MENGHADAPI DUNIA KERJA DI KELAS II SLTPN 2 SUKODONO SIDOARJO (2001)
* HUB. ANTARA LAYANAN BIMBINGAN SOSIAL DENGAN PERUBAHAN TINGKAH LAKU SISWA KELAS III SLTP BARU NAWATI SURABAYA (2001)
* HUB. POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KREATIVITAS ANAK TK KELOMPOK B DI TK AISYIAH I PURANG ANOM SIDOARJO (2002)
* PENGARUH PEMBERIAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING TERHADAP PERILAKU SISWA KELAS II MTs MUHAMMADIYAH 2 KEDUNGADEM BOJONEGORO (2002)
* HUB. ANTARA PENYESUAIAN DIRI DI BIDANG AKADEMIK DENGAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA TINGKAT I ANGKATAN 2000 AKPER BINA SEHAT PPNI KAB. BOJONEGORO (2002)
* TANGGAPAN SISWA TERHADAP PERANAN GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DI SMU MA’ARIF LAWANG (2002)
* HUB. ANTARA MOTIVASI DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA MTs I TALUN SUMBER REJO BOJONEGORO (2002)
* TANGGAPAN ORANG TUA SISWA TERHADAP PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SREKOLAH MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI WONOREJO (2002)
* HUB. KEBIASAAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS I SLTP JALAN JAWA KOTAMADYA SURABAYA (2002)
* HUB. LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS II SLTP MA’ARIF HASANUDIN SURABAYA (2002)
* HUB. KEGIATAN BIMBINGAN KONSELING TERHADAP KESULITAN BELAJAR SISWA DI SPK PAMEKASAN (2000)
* HUB. LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR SISWA DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS I SMUN GIKI 1 SURABAYA (2000)

judul judul skripsi 2

Dikirim 0leh Arjo moemedo 0 komentaran

Judul Skripsi Pendidikan Bimbingan Konseling

* Peranan Guru Bimbingan Konseling Dalam Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Siswa Kelas X Semester Genap SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung
* Peranan Guru Bimbingan Konseling Dalam Membina Kesehatan Mental Siswa Kelas VII SMA Negeri..... Bandar Lampung
* HUB. ANTARA BIMBINGAN BELAJAR DI RUMAH DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELASI I SMUN 8 SURABAYA (2001)
* HUB. KONDISI KERUKUNAN KELUARGA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II SMU SEJAHTERA 1 SURABAYA (2000)
* TANGGAPAN ORANG TUA SISWA TERHADAP MAKNA BIMBINGAN DAN KONSELING DI SLTP N 2 BEJI PASURUAN (2002)
* HUB. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN PEMAHAMAN AJARAN AGAMA ISLAM PADA ANAK DIDIK SLTPN 21 SURABAYA (2000)
* PENGARUH BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR DI SMU AL ISLAMIYAH PUTAT TANGGULANGIN (2002)
* HUB. BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II SLTP JALAN JAWA SURABAYA (2002)
* HUB. LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA SLTPN KRISTEN PETRA I SURABAYA (2001)
* PENGARUH PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING ORANG TUA ANAK LUAR BIASA TERHADAP PRESTASI BELAJAR DI SLB BHAKTI LUHUR MALANG (2003)
* PERANAN GURU SEBAGAI PROFESIONALISME DALAM MENDIDIK MEMBIMBING DAN MENGAJAR SISWA DI SLTP TAMAN SISWA PRIGEN PASURUAN (2002)
* PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING ALB TERHADAP PERUBAHAN TINGKAH LAKU SISWA SLTP/LB BHAKTI LUHUR MALANG (2003)
* PENGARUH EKONOMI KELUARGA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI SMP TAMAN DEWASA PRIGEN (2002)
* HUB. BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II SLTP ”YOPI” SURABAYA (2002)
* HUB. ANTARA KONDISI LINGKUNGAN SEKOLAH DENGAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA KELAS II SLTP PGRI 1 SURABAYA (2001)
* STUDI LAYANAN INFORMASI DAN ORIENTASI SEBELUM PRAKTEK KLINIK TERHADAP PENCAPAIAN KOMPETENSI LAYANAN KEBINAAN DI AKBID DEPKES SUTOMO SURABAYA (2001)
* HUB. KEGMARAN MENDENGARKAN MUSIK DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II DALAM BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS DI SMK PAWIYATAN SURABAYA (2002)
* HUB. AKTIVITAS BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II A SLTP JALAN JAWA KOTAMADYA SURABAYA (2002)
* HUB. AKTIVITAS BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA SLTP GEMA 45 SURABAYA (2002)
* PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG BIMBINGAN BELAJAR MAHASISWA TINGKAT II AKPER BINA SEHAT PPNI KABUPATEN MOJOKERTO (2002)
* HUB. KEGIATAN MONOTON ACARA TELEVISI DENGAN KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA SLTPN 2 SURABAYA (2000)
* PELAKSANAAN PROGRAM PERKEMBANGAN KEMAMPUAN DASAR DAYA CIPTA ANAK TK DITINJAU DARI KURIKULUM 1994 DI TK KELAS A KURNIA RAHMAT SURABAYA (2000)
* HUB. BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP KESULITAN BELAJAR SISWA DI SLTP MUHAMMADIYAH 1 SUMBEREJO BOJONEGORO (2002)
* PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK PARA SEKOLAH DI TK AISYIAH BUSTANUL ATHFAL PANDAAN (2000)
* HUB. ANTARA LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR SOSIAL DENGAN KENAKALAN REMAJA SISWA KELAS II SMU PGRI 8 SURABAYA (2000)
* HUB. MINAT MASUK AKPER DENGAN PRESTASI BELAJAR BIDANG STUDI PRAKTEK KEPERAWATAN (2000)
* HUB. PEMBERIAN LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR KELAS II SLTP ISLAM PASURUAN (2002)
* HUB. LAYANAN KONSELING PADA CALON PENGANTIN WANITA DENGAN PERSIAPAN FISIK PRANIKAH DI KEC. GENDING KAB. PROBOLINGGO (2002)
* HUB. TINGKAT SOSIAL EKONOMI ORANG TUA DENGAN KEMANDIRIAN ANAK PADA PENDIDIKAN TK NGAGEL JL. NGAGEL NO. 21 SURABAYA (2003)
* HUB. BIMBINGAN ORANG TUA DENGAN MOTIVASI BALAJAR SISWA KELAS II SLTP LILWATHON SURABAYA (2000)
* HUB. ANTARA LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN SOSIAL DENGAN KEDISIPLINAN SISWA DI SEKOLAH (2000) boleh
* HUB. ANTARA BIMBINGAN SOSIAL DENGAN AKTIVITAS SOSEIAL SISWA KELAS II SMU MUJAHIDIN SURABAYA (2001)
* HUB. PAI DENGAN PEMAHAMAN AJARAN AGAMA ISLAM PADA ANAK DIDIK SLTPN 21 SURABAYA (2001)
* PENGARUH METODE BERMAIN TERHADAP PENGEMBANGAN DAYA PIKIR ANAK TK DHARMA WANITA JL. KUTILANG III GENDANGAN SIDOARJO (2002)
* PENGARUH PEMBERIAN LAYANAN BIMBINGAN SOSIAL SEKOLAH TERHADAP KENAKALAN REMAJA SISWA KELAS II MTS BAHRUL ULUM GYAM KEC. NGASEM KAB. BOJONEGORO (2002)
* HUB. BIMBINGAN KARIER DENGAN MOTIVASI KERJA SISWA SMUN 5 SURABAYA (2000)
* PERANAN PERHATIAN ORANG TUA TERHADAP KEDISIPLINAN BELAJAR ANAK DI MADRASAH ALIYAH YAHARI DESA BANGSRE KEC. SUKONO KAB. SIDOARJO (2002)
* PERANAN GURU DALAM MENINGKATKAN PENDIDIKAN SD POGALAN IV DI TRENGGALEK SEBAGAI SD PAMONG (2002)
* PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP KREATIVITAS ANAK TK NEGERI KUNCUP BUNGA SURABAYA (2002)
* KENDALA YANG DIALAMI GURU DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK TK DI KEC. RUNGKUT (2001)
* HUB. ANTARA LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN DAN KONSELING DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II A2 SMKN 3 PROBOLINGGO (2000)
* STUDI TENTANG MINAT SISWA DALAM MEMANFAATKAN LAYANAN BIMBINGAN PRIBADI DI SLTPN 6 SURABAYA (2002)
* HUB. ANTARA BIMBINGAN SOSIAL DENGAN KENAKALAN REMAJA PADA SISWA KELAS II SLTP PGRI SURABAYA TAHUN AJARAN 2000-2001 (2001)
* PENGARUH PENGGUNAAN METODE BERCERITA DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP KRESIFITAS ANAK TK AL-HIDAYAH GENDANGAN SIDOARJO (2003)
* HUB. LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA AKADEMI KEBIDANAN DEPKES SUTOMO SURABAYA SEMESTER II JALUR KHUSUS (2002)
* PENGARUH EKONOMI KELUARGA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI SLTP MAARIF LAWANG (2002)
* MINAT SISWA DALAM MEMANFAATKAN LAYANAN KONSELING DI SEKOLAH KESEHATAN TNI AL SURABAYA TAHUN AJARAN 1999/2000 (2000)
* HUB. ANTARA GURU MATA PELAJARAN DALAM PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING DENGAN KEDISIPLINAN SISWA KELAS I SLTP PGRI I SURABAYA (2002)
* STUDI TENTANG PERLUNYA BIMBINGAN DAN KONELING MELALUI PENDEKATAN PROBLEM CHECK LIST (2001)
* HUB. ANTARA DISIPLIN KELUARGA DENGN PRESTASI BELAJAR SISWA MTS I TALUN SUMBER REJO BOJONEGORO (2002)
* PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP KREATIVITAS ANAK TK PERWANIDA PEFUNGSRI PANDAAN (2002)
* HUB. LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS I SMUK ST. LOUIS I SURABAYA (2002)
* HUB. ANTARA LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS II SMKN 8 SURABAYA (2003)
* TANGGAPAN SISWA TERHADAP LAYANAN BIMBINGAN KARIER DALAM MENGHADAPI DUNIA KERJA DI KELAS II SLTPN 2 SUKODONO SIDOARJO (2001)
* HUB. ANTARA LAYANAN BIMBINGAN SOSIAL DENGAN PERUBAHAN TINGKAH LAKU SISWA KELAS III SLTP BARU NAWATI SURABAYA (2001)
* HUB. POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KREATIVITAS ANAK TK KELOMPOK B DI TK AISYIAH I PURANG ANOM SIDOARJO (2002)
* PENGARUH PEMBERIAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING TERHADAP PERILAKU SISWA KELAS II MTs MUHAMMADIYAH 2 KEDUNGADEM BOJONEGORO (2002)
* HUB. ANTARA PENYESUAIAN DIRI DI BIDANG AKADEMIK DENGAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA TINGKAT I ANGKATAN 2000 AKPER BINA SEHAT PPNI KAB. BOJONEGORO (2002)
* TANGGAPAN SISWA TERHADAP PERANAN GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DI SMU MA’ARIF LAWANG (2002)
* HUB. ANTARA MOTIVASI DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA MTs I TALUN SUMBER REJO BOJONEGORO (2002)
* TANGGAPAN ORANG TUA SISWA TERHADAP PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SREKOLAH MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI WONOREJO (2002)
* HUB. KEBIASAAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS I SLTP JALAN JAWA KOTAMADYA SURABAYA (2002)
* HUB. LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS II SLTP MA’ARIF HASANUDIN SURABAYA (2002)
* HUB. KEGIATAN BIMBINGAN KONSELING TERHADAP KESULITAN BELAJAR SISWA DI SPK PAMEKASAN (2000)
* HUB. LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR SISWA DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS I SMUN GIKI 1 SURABAYA (2000)

PENELITIAN TINDAK KELAS ( PTK)

Dikirim 0leh Arjo moemedo Friday, January 28, 2011 0 komentaran

A. PENGERTIAN

Classroom action research (CAR) adalah action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan-riset-tindakan- …”, yang dilakukan secara siklik, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Ada beberapa jenis action research, dua di antaranya adalah individual action research dan collaborative action research (CAR). Jadi CAR bisa berarti dua hal, yaitu classroom action research dan collaborative action research; dua-duanya merujuk pada hal yang sama.
Action research termasuk penelitian kualitatif walaupun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif. Action research berbeda dengan penelitian formal, yang bertujuan untuk menguji hipotesis dan membangun teori yang bersifat umum (general). Action research lebih bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi. Namun demikian hasil action research dapat saja diterapkan oleh orang lain yang mempunyai latar yang mirip dengan yang dimliki peneliti.

Perbedaan antara penelitian formal dengan classroom action research disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 1. Perbedaan antara Penelitian Formal dengan Classroom Action Research

Penelitian Formal

Classroom Action Research

Dilakukan oleh orang lain

Dilakukan oleh guru/dosen

Sampel harus representatif

Kerepresentatifan sampel tidak diperhatikan

Instrumen harus valid dan reliabel

Instrumen yang valid dan reliabel tidak diperhatikan

Menuntut penggunaan analisis statistik

Tidak diperlukan analisis statistik yang rumit

Mempersyaratkan hipotesis

Tidak selalu menggunakan hipotesis

Mengembangkan teori

Memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung

B. MODEL – MODEL ACTION RESEARCH

Model Kurt Lewin menjadi acuan pokok atau dasar dari berbagai model action research, terutama classroom action research. Dialah orang pertama yang memperkenalkan action research. Konsep pokok action research menurut Kurt Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu : (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen itu dipandang sebagai satu siklus.

Model Kemmis & Taggart merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan Kurt lewin seperti yang diuraikan di atas, hanya saja komponen acting dan observing dijadikan satu kesatuan karena keduanya merupakan tindakan yang tidak terpisahkan, terjadi dalam waktu yang sama

C. MASALAH CAR

Berikut ini merupakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan pada saat menentukan masalah CAR.

1. Banyaknya Masalah yang Dihadapi Guru

Setiap hari guru mengahadapi banyak masalah, seakan-akan masalah itu tidak ada putus-putusnya. Oleh karena itu guru yang tidak dapat menemukan masalah untuk CAR sungguh ironis. Merenunglah barang sejenak, atau ngobrollah dengan teman sejawat, Anda akan segera menemukan kembali seribu satu masalah yang telah merepotkan Anda selama ini.

2. Tiga Kelompok Masalah Pembelajaran

Masalah pembelajaran dapat digolongkan dalam tiga kategori, yaitu (a) pengorganisasian materi pelajaran, (b) penyampaian materi pelajaran, dan (c) pengelolaan kelas. Jika Anda berfikir bahwa pembahasan suatu topik dari segi sejarah dan geografi secara bersama-sama akan lebih bermakna bagi siswa daripada pembahasan secara sendiri-sendiri, Anda sedang berhadapan dengan masalah pengorganisasian materi. Jika Anda suka dengan masalah metode dan media, sebenarnya Anda sedang berhadapan dengan masalah penyampaian materi. Apabila Anda menginginkan kerja kelompok antar siswa berjalan dengan lebih efektif, Anda berhadapan dengan masalah pengelolaan kelas. Jangan terikat pada satu kategori saja; kategori lain mungkin mempunyai masalah yang lebih penting.

3. Masalah yang Berada di Bawah Kendali Guru

Jika Anda yakin bahwa ketiadaan buku yang menyebabkan siswa sukar membaca kembali materi pelajaran dan mengerjakan PR di rumah, Anda tidak perlu melakukan CAR untuk meningkatkan kebiasaan belajar siswa di rumah. Dengan dibelikan buku masalah itu akan terpecahkan, dan itu di luar kemampuan Anda. Dengan perkataan lain yakinkan bahwa masalah yang akan Anda pecahkan cukup layak (feasible), berada di dalam wilayah pembelajaran, yang Anda kuasai. Contoh lain masalah yang berada di luar kemampuan Anda adalah: Kebisingan kelas karena sekolah berada di dekat jalan raya.

4. Masalah yang Terlalu Besar

Nilai UAN yang tetap rendah dari tahun ke tahun merupakan masalah yang terlalu besar untuk dipercahkan melalui CAR, apalagi untuk CAR individual yang cakupannya hanya kelas. Faktor yang mempengaruhi Nilai UAN sangat kompleks mencakup seluruh sistem pendidikan. Pilihlah masalah yang sekiranya mampu untuk Anda pecahkan.

5. Masalah yang Terlalu Kecil

Masalah yang terlalu kecil baik dari segi pengaruhnya terhadap pembelajaran secara keseluruhan maupun jumlah siswa yang terlibat sebaiknya dipertimbangkan kembali, terutama jika penelitian itu dibiayai oleh pihak lain. Sangat lambatnya dua orang siswa dalam mengikuti pelajaran Anda misalnya, termasuk masalah kecil karena hanya menyangkut dua orang siswa; sementara masih banyak masalah lain yang menyangkut kepentingan sebagian besar siswa.

6. Masalah yang Cukup Besar dan Strategis

Kesulitan siswa memahami bacaan secara cepat merupakan contoh dari masalah yang cukup besar dan strategis karena diperlukan bagi sebagian besar mata pelajaran. Semua siswa memerlukan keterampilan itu, dan dampaknya terhadap proses belajar siswa cukup besar. Sukarnya siswa berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran, dan ketidaktahuan siswa tentang meta belajar (belajar bagaimana belajar) merupakan contoh lain dari masalah yang cukup besar dan strategis. Dengan demikian pemecahan masalah akan memberi manfaat yang besar dan jelas.

7. Masalah yang Anda Senangi

Akhirnya Anda harus merasa memiliki dan senang terhadap masalah yang Anda teliti. Hal itu diindikasikan dengan rasa penasaran Anda terhadap masalah itu dan keinginan Anda untuk segera tahu hasil-hasil setiap perlakukan yang diberikan.

8. Masalah yang Riil dan Problematik

Jangan mencari-cari masalah hanya karena Anda ingin mempunyai masalah yang berbeda dengan orang lain. Pilihlah masalah yang riil, ada dalam pekerjaan Anda sehari-hari dan memang problematik (memerlukan pemecahan, dan jika ditunda dampak negatifnya cukup besar).

9. Perlunya Kolaborasi

Tidak ada yang lebih menakutkan daripada kesendirian. Dalam collaborative action reseach Anda perlu bertukar fikiran dengan guru mitra dari mata pelajaran sejenis atau guru lain yang lebih senior dalam menentukan masalah.

D. IDENTIFIKASI, PEMILIHAN, DESKRIPSI, DAN RUMUSAN MASALAH

1. Identifikasi Masalah

Dalam mengidentifikasikan masalah, Anda sebaiknya menuliskan semua masalah yang Anda rasakan selama ini.

2. Pemilihan Masalah

Anda tidak mungkin memecahkan semua masalah yang teridentifikasikan itu secara sekaligus, dalam suatu action research yang berskala kelas. Masalah-masalah itu berbeda satu sama lain dalam hal kepentingan atau nilai strategisnya. Masalah yang satu boleh jadi merupakan penyebab dari masalah yang lain sehingga pemecahan terhadap yang satu akan berdampak pada yang lain; dua-duanya akan terpecahkan sekaligus. Untuk dapat memilih masalah secara tepat Anda perlu menyusun masalah-masalah itu berdasarkan kriteria tersebut: tingkat kepentingan, nilai strategis, dan nilai prerekuisit. Akhirnya Anda pilih salah satu dari masalah-masalah tersebut, misalnya “Siswa tidak dapat melihat hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain.”

3. Deskripsi Masalah

Setelah Anda memilih salah satu masalah, deskripsikan masalah itu serinci mungkin untuk memberi gambaran tentang pentingnya masalah itu untuk dipecahkan ditinjau dari pengaruhnya terhadap pembelajaran secara umum maupun jumlah siswa yang terlibat.

Contoh: “Jika diberi pelajaran dengan pendekatan terpadu antara geografi, ekonomi, dan sejarah siswa merasa sukar mentransfer keterampilan dari satu pelajaran ke pelajaran lain. Pelajaran yang saya berikan adalah geografi, tetapi saya sering mengaitkan pembahasan dengan mata pelajaran lain seperti ekonomi dan sejarah. Ketika saya minta siswa mengemukakan hipotesis tentang pengaruh Danau Toba terhadap perkembangan ekonomi daerah, siswa terasa sangat bingung; padahal mereka telah dapat mengemukakan hipotesis dengan baik dalam mata pelajaran geografi. Saya khawatir siswa hanya menghafal pada saat dilatih mengemukakan hipotesis. Padahal dalam kehidupan sehari-hari keterampilan berhipotesis harus dapat diterapkan di mana saja dan dalam bidang studi apa saja. Pada hakikatnya setiap hari kita mengemukakan hipotesis. Ketidakbisaan siswa itu terjadi sepanjang tahun, tidak hanya pada permulaan tahun ajaran. Kelihatannya semua siswa mengalami hal yang sama, termasuk siswa yang cerdas. Guru lain ternyata juga mengalami hal yang sama, siswanya sukar mentransfer suatu keterampilan ke mata pelajaran lain.”

4. Rumusan Masalah

Setelah Anda memilih satu masalah secara seksama, selanjutnya Anda perlu merumuskan masalah itu secara komprehensif dan jelas. Sagor (1992) merinci rumusan masalah action research menggunakan lima pertanyaan:

1. Siapa yang terkena dampak negatifnya?
2. Siapa atau apa yang diperkirakan sebagai penyebab masalah itu?
3. Masalah apa sebenarnya itu?
4. Siapa yang menjadi tujuan perbaikan?
5. Apa yang akan dilakukan untuk mengatasi hal itu? (tidak wajib, merupakan hipotesis tindakan).

Contoh rumusan masalah:

* Siswa di SLTP-X tidak dapat melihat hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain di sekolah (Ini menjawab pertanyaan 1 dan 3)
* Grup action research percaya bahwa hal ini merupakan hasil dari jadwal mata pelajaran dan cara guru mengajarkan materi tersebut (Ini menjawab pertanyaan 2)
* Kita menginginkan para siswa melihat relevansi kurikulum sekolah, mengapresiasi hubungan antara disiplin-disiplin akademis, dan dapat menerapkan keterampilan yang diperoleh dalam satu mata pelajaran untuk pemecahan masalah dalam mata pelajaran lain (Ini menjawab pertanyaan 4)
* Oleh karena itu kita merencanakan integrasi pembelajaran IPA, matematika, bahasa, dan IPS dalam satuan pelajaran interdisiplin berjudul Masyarakat dan Teknologi (Ini manjawab pertanyaan 5)

Contoh pertanyaan penelitian:

1. Kesulitan apa yang dialami siswa dalam mentransfer keterampilan dari satu mata pelajaran satu ke mata pelajaran lain?
2. Apakah siswa dapat mentrasfer keterampilan lebih mudah antara dua mata pelajaran yang disukai?
3. Apa yang menyebabkan siswa menyukai suatu mata pelajaran?
4. Apakah ada perbedaan antara prestasi belajar siswa yang belajar dalam kelas mata pelajaran multidisiplin dibandingkan dengan mereka yang dalam kelas mata pelajaran tunggal?

E. KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
1. Kajian Teori

Dalam membuat rumusan masalah di atas sebenarnya Anda telah melakukan “analisis penyebab masalah” sekaligus membuat “hipotesis tindakan” yang akan diberikan untuk memecahkan masalah tersebut. Untuk melakukan analisis secara tajam dan menjustifikasi perlakuan yang akan diberikan, Anda perlu merujuk pada teori-teori yang sudah ada. Tujuannya sekedar meyakinkan bahwa apa yang Anda lakukan dapat dipertanggungjawabkan secara profesional. Dalam hal ini proses kolaborasi memegang peranan yang sangat penting.

Anda juga perlu membaca hasil penelitian terakhir, termasuk CAR, siapa tahu apa yang akan Anda lakukan sudah pernah dilakukan oleh orang lain; Anda dapat mengambil manfaat dari pengalaman orang itu. Manfaat lain yang lebih penting, Anda akan mengetahui trend-trend baru yang sedang diperhatikan atau diteliti oleh para guru di seluruh dunia. Sekarang ini sedang nge-trend pembelajaran yang bernuansa quantum teaching, quantum learning, contextual learning, integrated curriculum, dan competency based curriculum yang semua berorientasi pada kepentingan siswa. Jika penelitian Anda masih berkutat pada pemberian drill dan PR agar nilai UAN mereka meningkat, tanpa memperdulikan rasa ketersiksaan siswa, profesionalisme Anda akan dipertanyakan.
2. Hipotesis Tindakan

Lakukanlah analisis penyebab masalah secara seksama agar tindakan yang Anda rencanakan berjalan dengan efektif. Hipotesis tindakan dapat Anda tuliskan secara eksplisit, tetapi dapat juga tidak karena pada dasarnya Anda belum tahu tindakan mana yang akan berdampak paling efektif.

F. METODOLOGI
1. Setting Penelitian

Setting penelitian perlu Anda uraikan secara rinci karena penting artinya bagi guru lain yang ingin meniru keberhasilan Anda. Mereka tentu akan mempertimbangkan masak-masak apakah ada kemiripan antara setting sekolahnya dengan setting penelitian Anda.
2. Perbedaan Mengajar Biasa dengan CAR

Dalam melakukan CAR kegiatan mengajar standar (biasa) berlangsung secara alami; tetapi ada bagian-bagian tertentu yang diberi perlakuan secara khusus dan diamati dampaknya secara seksama. Langkah-langkah seperti pembuatan satuan pelajaran, rencana pelajaran, lembaran kerja, dan alat bantu pembelajaran lainnya adalah langkah pembelajaran standar, bukan CAR. Asumsinya CAR dilaksanakan oleh guru yang sudah melaksanakan pembelajaran standar secara lengkap tetapi belum berhasil. Ia akan memodifikasi bagian-bagian tertentu dari pembelajaran standar itu. Bagian yang dimodifikasi itulah fokus dari CAR Anda.
3. Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan CAR sebaiknya hanya menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan CAR. Jika ada perubahan pada satuan pelajaran misalnya, hanya bagian yang diubah saja yang perlu diuraikan secara rinci. Akan lebih baik jika perubahan itu diletakkan dalam konteks satuan pelajaran aslinya sehingga terlihat jelas besar perubahan yang dilakukan. Perangkat-perangkat pembelajaran juga hanya tambahannya yang diuraikan secara rinci. Jika pembelajaran standar telah dilaksanakan dengan baik perangkat pembelajaran yang diperlukan untuk CAR dengan sendirinya sebagian besar sudah tersedia.

Yang sering terjadi dalam CAR selama ini pembelajaran standar belum dilaksanakan sehingga CAR menjadi wahana untuk mewujudkan pembelajaran standar. Hal itu terlihat dari latar belakang yang diuraikan secara emosional oleh peneliti, umumnya menggambarkan pembelajaran yang sangat tradisional, buruk, dan di bawah standar. Setelah sekolah mendapat bantuan dana peningkatan kualitas pembelajaran pun uraian latar belakang itu tidak menunjukkan adanya perubahan yang berarti. Secara tidak langsung ditunjukkan bahwa perlakuan-perlakuan yang diberikan oleh pemberi dana selama ini berlalu tanpa bekas.

Tahap perencanaan bisa memerlukan waktu setengah bulan karena harus mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, termasuk di dalamnya adalah penyusunan jadwal, pembuatan instrumen, dan pemilihan kolaborator.
4. Siklus-siklus

Dalam CAR siklus merupakan ciri khas yang membedakannya dari penelitian jenis lain; oleh karena itu siklus harus dilaksanakan secara benar. Siklus pada hakikatnya adalah rangkaian “riset-aksi-riset-aksi- …” yang tidak ada dalam penelitian biasa. Dalam penelitian biasa hanya terdapat satu riset dan satu aksi kemudian disimpulkan. Dalam CAR hasil yang belum baik masih ada kesempatan untuk diperbaiki lagi sampai berhasil.

Siklus terdiri dari (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) pengamatan; dan (4) refleksi; dan (5) perencanaan kembali. Yang diuraikan dalam siklus hanya bagian yang dimodifikasi melalui action reseach, bukan seluruh proses pembelajaran. Modifikasi atau perubahan secara total jarang dilakukan dalam action research yang berskala kelas karena bagaimanapun sistem pendidikan secara umum masih belum berubah.

Misalnya Anda akan memodifikasi pembelajaran dengan memperbanyak penggunaan carta. Dalam “perencanaan” yang Anda uraikan adalah tentang carta itu saja, misalnya “Tiap pertemuan diusahakan akan ada carta yang digunakan dalam kelas.” Dalam “pelaksanaan” Anda uraikan kenyataan yang terjadi, apakah benar tiap pertemuan bisa digunakan carta, misalnya “Penggunaan carta tiap pertemuan hanya dapat dilakukan selama dua minggu pertama; minggu berikutnya rata-rata hanya satu carta tiap empat pertemuan.” Anda tentu saja dapat mengelaborasi “pelaksanaan” itu dengan menyebutkan carta-carta apa saja yang digunakan, saat-saat mana yang paling tepat untuk penggunaan, siapa yang menggunakan, berapa lama digunakan, berapa ukurannya, di mana disimpan, dsb., dsb. “Pengamatan” didominasi oleh data-data hasil pengukuran terhadap respons siswa, menggunakan berbagai instrumen yang telah disiapkan. “Refleksi” berisi penjelasan Anda tentang mengapa terjadi keberhasilan maupun kegagalan, diakhiri dengan perencanaan kembali untuk perlakuan pada siklus berikutnya.

Dalam action reseach selama ini banyak siklus yang bersifat semu, tidak sesuai dengan kaidah yang sudah baku. Inilah kelemahan-kelemahan yang terjadi.

1. Dalam siklus diuraikan semua proses pembelajaran, sehingga tidak dapat dilihat bagian yang sebenarnya sedang diteliti. Seolah-olah seluruh proses pembelajaran diubah secara total melalui CAR, dan sebelumnya pembelajaran berlangsung secara tradisional, buruk, dan di bawah standar.
2. Tidak jelas apakah perlakuan dalam suatu siklus dilakukan secara terus-menerus selama periode tertentu, sampai data pengamatan bersifat jenuh (menunjukkan pola yang menetap) dan diperoleh dari berbagai sumber (triangulasi). Sebagai analogi, jika selama satu minggu suhu badan pasien menunjukkan suhu 37,50 C; 370 C; 370 C; 37,50 C; 37,50 C; 37,50 C; dapatlah disimpulkan bahwa kondisinya telah kembali normal. Itu digabungkan dengan data pengamatan lain selama seminggu juga seperti perilaku, nafsu makan, dan denyut nadi pasien, yang bersifat triangulatif.
3. Siklus dilakukan tidak berdasarkan refleksi dari siklus sebelumnya. Ada siklus yang dilakukan secara tendensius: siklus pertama dengan metode ceramah, siklus kedua dengan demonstrasi, dan siklus ketiga dengan eksperimen, hanya ingin menunjukkan bahwa metode eksperimen adalah yang terbaik. Peneliti ini lupa bahwa metode harus disesuaikan dengan karakteristik materi pelajaran. Untuk materi pertama boleh jadi justru metode ceramah yang lebih cocok.

5. Instrumen

Instrumen merupakan bagian yang tidak kalah pentingnya dalam pelaksanaan CAR. Jenis instrumen harus sesuai dengan karakteristik variabel yang diamati. Triangulasi dan saturasi (kejenuhan informasi) perlu diperhatikan untuk menjamin validitas data.

G. HASIL PENELITIAN
1. Siklus-siklus Penelitian

Hasil penelitian CAR tidak hanya berisi data hasil observasi, melainkan justru proses perbaikan yang dilakukan. Untuk itu siklus adalah cara yang tepat untuk menyajikan hasil penelitian. Data hasil observasi tidak disajikan secara terpisah melainkan dalam konteks siklus-siklus yang telah dilakukan.
2. Tabel, Diagram, dan Grafik

Tabel, diagram, dan grafik sangat baik digunakan untuk menyajikan data hasil observasi. Gunanya agar refleksi dapat dilakukan lebih mudah. Tetapi sajian yang cantik itu bisa menjadi blunder manakala angka-angkanya diatur sedemikain rupa sehingga terkesan artificial. Hasil yang begitu spektakuler seringkali tidak disertai dengan “bagaimana” proses untuk mencapainya, sehingga pembaca akan makin ragu.
3. Hasil-hasil yang Otentik

Hasil-hasil yang otentik seperti karangan siswa, gambar hasil karya siswa, dan foto tentang proyek yang dilakukan siswa akan sangat baik dicantumkan sebagai hasil penelitian.

H. KESIMPULAN CAR

1. Kesimpulan

Kesimpulan tentu saja harus menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian atau menguji hipotesis yang telah dikemukakan. Pertanyaan penelitian pada bagian D4 di atas di samping menuntut jawaban yang berupa hasil juga menuntut prosesnya. Marilah kita lihat pertanyaan-pertanyaan itu sekali lagi.

1. Kesulitan apa yang dialami siswa dalam mentransfer keterampilan dari satu mata pelajaran satu ke mata pelajaran lain ? Jawaban atas pertanyaan ini bisa diperoleh melalui tes awal dan atau selama proses pembelajaran berlangsung. Walaupun baru berupa daftar kesulitan yang dialami siswa, temuan ini cukup berarti bagi guru-guru lain. Kita sendiri pada saat ini belum bisa membayangkan kesulitan-kesulitan tersebut.
2. Apakah siswa dapat mentrasfer keterampilan lebih mudah antara dua mata pelajaran yang disukai ? Jawaban atas pertanyaan ini diperoleh setelah guru menghubungkan berbagai mata pelajaran dalam materi tes awal atau selama pembelajaran berlangsung, misalnya antara fisika dengan biologi, ekonomi dengan sejarah, dan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia.
3. Apa yang menyebabkan siswa menyukai suatu mata pelajaran ? Kesimpulan ini dapat diperoleh melalui kuesioner dan atau wawancara pada awal pembelajaran atau selama pembelajaran berlangsung.
4. Apakah ada perbedaan antara prestasi belajar siswa yang belajar dalam kelas mata pelajaran multidisiplin dibandingkan dengan mereka yang dalam kelas mata pelajaran tunggal ?Jawaban atas pertanyaan ini diperoleh setelah siswa diberi perlakukan yang berbeda; misalnya satu kelas diberi pelajaran multi disiplin, dan kelas lain diberi pelajaran yang terpisah-pisah, seperti biasanya. Ini tampaknya merupakan fokus dari CAR. Jika ditemukan bahwa mata pelajaran multidisiplin lebih berhasil dalam mengembangkan kemampuan transfer keterampilan antar mata pelajaran, peneliti perlu mengelaborasi bagaimana proses pembelajaran model multidisiplin tersebut berlangsung.

Jadi kesimpulan penelitian CAR akan kurang bermanfaaat jika bunyinya hanya seperti: “Pembelajaran dengan media akan meningkatkan hasil belajar siswa.” Kesimpulan ini mirip dengan yang diinginkan penelitian kuantitatif. Guru lain yang membaca kesimpulan ini tentu ingin mengetahui bagaimana prosesnya sehingga media itu bisa meningkatkan hasil belajar. Jadi kesimpulan itu masih harus diikuti dengan proses atau rinciannya, seperti a) Transparansi OHP lebih disukai siswa daripada media lain, b) Paling banyak hanya 10 transparansi dapat ditunjukkan dalam satu presentasi, jika lebih dari itu siswa akan bosan; c) Presentasi pada awal pembelajaran cenderung lebih disukai; d) Penjelasan yang terlalu lama terhadap satu transparansi cenderung membuat siswa bosan; dan e) Satu kali presentasi sebaiknya tidak lebih dari 20 menit.

2. Saran

Karena CAR bersifat kontekstual, pemberian saran kepada orang lain berdasarkan hasil penelitian tersebut sebenarnya kurang bermanfaat. Deskripsi konteks penelitian secara rinci sudah cukup untuk memberikan informasi bagi guru lain yang ingin meniru keberhasilan Anda. Saran seperti “Program CAR ini perlu lanjutkan dan diperluas untuk tahun-tahun mendatang,” juga kurang begitu perlu, bahkan kurang relevan.

Saran CAR diperlukan misalnya jika temuan penelitian menyangkut sistem yang lebih luas dari sekedar kelas, misalnya menghendaki adanya perubahan pengaturan jadwal pelajaran di sekolah. Dalam hal itu peneliti dapat menyarankan tentang jadwal yang diinginkan kepada fihak sekpolah.

I. DAFTAR PUSTAKA

Daftar pustaka mencerminkan penguasaan Anda atas teori belajar dan pembelajaran yang Anda minati. Di samping itu, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, daftar pustaka mencerminkan keluasan pengetahuan Anda atas penelitian-penelitien terbaru yang sedang ngetren. Selama ini guru peneliti sering mencantumkan nama-nama ahli pendidikan, psikologi, dan pembelajaran tetapi tidak disertai dengan daftar pustakannya. Buatlah daftar pustaka secara cermat.

Sumber : Dr. Supriyadi M. Pd.*)) disajikan dalam Workshop MKKS Tingkat Pusat yang Diselenggarakan olah Direktorat Pendidikan Menengah Umum 12-15 September 2005 di Hotel Evergreen, Cisarua, Bogor.

Total Pageviews

lalaaaa

berilah kritik dan saran pada saya
terimakasih.. salam Anharul Huda

ngobrol-ngobrol
[Close]

Like My Blog JO LALI PENCET JEMPOLNYA. OK

sedulur adoh seg mampir