SUGENG RAWUH

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Melalui jejaring sosial website ini, kami bertekad dapat menyuguhkan layanan informasi secara umum maupun khusus yang meliputi aktifitas KBM, kegiatan siswa, prestasi sekolah/siswa, PSB dsb. Yang dapat diakses oleh siswa, guru, orang tua/wali siswa dan masyarakat secara cepat, tepat dan efisien.
Akhir kata, semoga layanan web site ini bermanfaat.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

ANALISIS VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN PENELITIAN

Dikirim 0leh Arjo moemedo Wednesday, November 2, 2011 0 komentaran

Uji Validitas dan Reliabilitas

ANALISIS VALIDITAS DAN RELIABILITAS
INSTRUMEN PENELITIAN 
      
Suharsini Arikunto (2002:160) menjelaskan bahwa instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting, yaituvalid dan reliable. Untuk menyatakan baik dan tidaknya  instrumen, maka perlu diadakan pengujian validitas dan reliabilitasnya.
a. Uji validitas instrumen
Sutrisno Hadi (1991 : 1) berpendapat bahwa :
Kesahihan atau validitas dibatasi sebagai tingkat kemampuan suatu instrumen untuk mengungkapkan sesuatu yang menjadi sasaran pokok pengukuran yang dilakukan dengan instrument tersebut. Suatu instrumen  dinyatakan sahih jika instrument itu mengukur apa saja yang hendak diukurnya, mampu mengungkapkan apa saja yang ingin diungkapkan, mampu menembak dengan jitu sasaran yang ditembak.

     Berkaitan dengan validitas ini, Sutrisno Hadi (2000 :111-116) mengemukakan jenis validitas ini sebagai berikut :
1) Face validity bagaimna kelihatannya alat ukur benar-benar mengukur apa yang hendak diukur
2) Logical validity yaitu konsep validitas yang bertitik tolak dari kontruksi teoritik tentang factor factor yang hendak diukur oleh alat ukur, maka validitas logical sering disebut construct validity, kebenaran alat ukur ditinjau dari segi kecocokannya dengan teori sebagai fundamentalnya.
3) Factorial validity
4) Conten validity
5) Empirical validity yaitu validitas alat ukur yang menggunakan kriterium bagaimana derajat kesesuaian antra apa yang dinyatakan oleh hasil pengukuran dengan keadaan senyatanya.
Sutrisno Hadi (2000 : 124) mengemukakan alasan dipergunakannya analisis butir yaitu untuk mengetahui :
1. Apakah suatu item dapat dipertahankan atau tidak.
2. Jika suatu item tidak dapat dipertahankan dalam baterai lat ukur, maka item itu dapat gugur sama sekali atau diperbaiki.
    Dalam analisis butir digunakan rumus korelasi product moment dari Karl Pearson  seperti yang dikemukakan Sutrisno Hadi (1991 : 23) sebagai berikut :
          
Apabila angka korelasi momen tangkar rxy telah didapat, langkah selanjutnya adalah mengoreksi korelasi momen tangkar rxy tersebut menjadi korelasi bagian total rpq (r bagian total) dengan rumus sebgai berikut :

Selanjutnya untuk menentukan valid tidaknya item, perolehan angka rxy hitung dibandingkan dengan tabel r product moment pada taraf signigfikansi 5 % dan N = n-2 dengan ketentuan jika rxy hitung  lebih besar dari rxy table maka item tersebut sahih, sebaliknya jika rxy hitung lebih besar dari rxy tabel maka item tersebut dinyatakan tidak sahih atau gugur.

b. Reliabilitas instrument
Instrument yang baik disamping harus valid juga harus variable. Suharsini Ari Kunto (2002 : 168) menyatakan, reliabilitas artinya dapat dipercaya, dapat diandalkan. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa dikatakan variable bila memberikan hasil yang tetap atau ajeg walaupun dilakukan siapa saja dan kapan saja.
Uji reliabilitas instrument dapat mengemukakan rumus Alpha.

Langkah selanjutnya adalah menafsirkan angket koefisien reliabilitas. Sedangkan untuk mengetahui tingkat keandalannya berpedoman pada penggolongan berikut :
Antara 0,800 sampai dengan 1,00 = sangat tinggi
Antara 0, 600 sampai dengan 0,800 = cukup
Antara 0,400 sampai dengan 0,600 = agak rendah
Antara 0, 200  sampai dengan 0,200 = sangat rendah
                                               (Suharsimi Arikunto, 2002: 245)


DAFTAR PUSTAKA
Suharsimi Arikunto, 1998, Prosedur Pemnelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta.
Sutrisno Hadi, (1991) Analisis Butir Untuk Instrumen, Yogyakarta,Andi Offset
    

PENGERTIAN PENELITIAN

Dikirim 0leh Arjo moemedo 0 komentaran

PENELITIAN KUALITATIF

  1. PENGERTIAN PENELITIAN KUALITATIF
Menurut Strauss dan Corbin (1997: 11-13), yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan untuk penelitian tentang kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, aktivitas sosial, dan lain-lain. Salah satu alasan menggunakan pendekatan kualitatif adalah pengalaman para peneliti dimana metode ini dapat digunakan untuk menemukan dan memahami apa yang tersembunyi dibalik fenomena yang kadangkala merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami secara memuaskan.
Bogdan dan Taylor (1992: 21-22) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yng menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati. Pendekatan kualitatif diharapkan mampu menghasilkan uraian yang mendalam tentang ucapan, tulisan, dan atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat, dan atau organisasi tertentu dalam suatu setting konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan holistik.
  1. TUJUAN PENELITIAN KUALITATIF
Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perpektif partisipan. Pemahaman tersebut tidak ditentukan terlebih dahulu, tetapi didapat setelah melakukan analisis terhadap kenyataan sosial yang menjadi fokus penelitian. Berdasarkan analisis tersebut kemudian ditarik kesimpulan berupa pemahaman umum yang sifatnya abstrak tentang kenyataan-kenyataan (Hadjar, 1996 dalam Basrowi dan Sukidin, 2002: 2)

  1. PARADIGMA PENELITIAN KUALITATIF
        Penelitian kualitatif adalah satu model penelitian humanistik, yang menempatkan manusia sebagai subyek utama dalam peristiwa sosial/budaya. Jenis penelitian ini berlandaskan pada filsafat fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1928) dan kemudian dikembangkan oleh Max Weber (1864-1920) ke dalam sosiologi. Sifat humanis dari aliran pemikiran ini terlihat dari pandangan tentang posisi manusia sebagai penentu utama perilaku individu dan gejala sosial. Dalam pandangan Weber, tingkah laku manusia yang tampak merupakan konsekwensi-konsekwensi dari sejumlah pandangan atau doktrin yang hidup di kepala manusia pelakunya. Jadi, ada sejumlah pengertian, batasan-batasan, atau kompleksitas makna yang hidup di kepala manusia pelaku, yang membentuk tingkah laku yang terkspresi secara eksplisit 
Terdapat sejumlah aliran filsafat yang mendasari penelitian kualitatif, seperti Fenomenologi, Interaksionisme simbolik, dan Etnometodologi. Harus diakui bahwa aliran-aliran tersebut memiliki perbedaan-perbedaan, namun demikian ada satu benang merah yang mempertemuan mereka, yaitu pandangan yang sama tentang hakikat manusia sebagai subyek yang mempunyai kebebasan menentukan pilihan atas dasar sistem makna yang membudaya dalam diri masing-masing pelaku.
Bertolak dari proposisi di atas, secara ontologis, paradigma kualitatif berpandangan bahwa fenomena sosial, budaya dan tingkah laku manusia tidak cukup dengan merekam hal-hal yang tampak secara nyata, melainkan juga harus mencermati secara keseluruhan dalam totalitas konteksnya. Sebab tingkah laku (sebagai fakta) tidak dapat dilepaskan atau dipisahkan begitu saja dari setiap konteks yang melatarbelakanginya, serta tidak dapat disederhanakan ke dalam hukum-hukum tunggal yang deterministik dan bebas konteks.
Dalam penelitian kualitatif, ‘proses’ penelitian merupakan sesuatu yang lebih penting dibanding dengan ‘hasil’ yang diperoleh. Karena itu peneliti sebagai instrumen pengumpul data merupakan satu prinsip utama. Hanya dengan keterlibatan peneliti alam proses pengumpulan datalah hasil penelitian dapat dipertanggungjawakan.
Khusus dalam proses analisis dan pengambilan kesimpulan, paradigma kualitatif menggunakan induksi analitis (analytic induction) dan ekstrapolasi (extrpolation). Induksi analitis adalah satu pendekatan pengolahan data ke dalam konsep-konsep dan kateori-kategori (bukan frekuensi). Jadi simbol-simbol yang digunakan tidak dalam bentuk numerik, melainkan dalam bentuk deskripsi, yang ditempuh dengan cara merubah data ke formulasi. Sedangkan ekstrapolasi adalah suatu cara pengambilan kesimpulan yang dilakukan simultan pada saat proses induksi analitis dan dilakukan secara bertahap dari satu kasus ke kasus lainnya, kemudian –dari proses analisis itu--dirumuskan suatu pernyataan teoritis.

  1. DATA KUALITATIF
Data kualitatif adalah data yang berhubungan dengan kategorisasi, karakteristik berwujud pertanyaan atau berupa kata-kata. Contoh: wanita itu cantik, pria itu tampan, baik, buruk, senang, sedih, harga minyak turun harga dolar naik, rumah itu besar sekali, pohon itu rindang, laut itu dalam sekali, dan lain-lain. Data yang demikian biasanya didapat dari wawancara dan bersifat subyektif karena data tersebut dapat ditafsirkan lain oleh orang yang berbeda. Data kualitatif dapat diangkakan dalam bentuk ordinal atau ranking (Riduwan, 2002: 5).
Muhadjir (2002: 44) menjelaskan, data kualitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk kata verbal, bukan dalam bentuk angka. Data dalam bentuk kata verbal sering muncul dalam kata yang berbeda dengan maksud sama, atau sebaliknya. Dapat juga muncul dalam kalimat panjang lebar, singkat, dan banyak lagi ragamnya. Data kata verbal yang beragam tersebut perlu diolah agar menjadi ringkas dan sistematis. Pengolahan tersebut mulai dari menuliskan hasil observasi, wawancara, rekaman, mengedit, mengklasifikasi, mereduksi, dan menyajikan. Pengumpulan data bagi penelitian kualitatif harus langsung diikuti dengan pekerjaan menuliskan, mengedit, mengklasifikasi, mereduksi, dan menyajikan dan hal tersebut disebut dengan analisis selama pengumpulan data. 

  1. INSTRUMEN PENELITIAN DAN PENGUMPULAN DATA
Dalam penelitian kualitatif, seorang peneliti merupakan instrumen utama penelitian sehingga ia dapat melakukan penyesuaian sejalan dengan kenyataan-kenyataan yang terjadi dilapangan (Alsa, 2003: 39). Penelitian dengan pendekatan kualitatif ini sangat tergantung pada ketelitian dan kelengkapan catatan lapangan yang dibuat oleh peneliti. Catatan lapangan yang dibuat berisi hasil-hasil wawancara, observasi, maupun dokumentasi yang merupakan unsur intrumen penelitian disamping peneliti.
Beberapa cara melaksanakan pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui wawancara (terpimpin) dan  observasi.
1)      Wawancara
Wawancara merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi. Dalam proses ini, hasil wawancara ditentukan oleh beberapa faktor, seperti: pewawancara, responden, topik penelitian yang tertuang dalam daftar pertanyaan, dan situasi wawancara (Singarimbun, 1989: 192). Dalam hal hasil wawancara kurang memuaskan karena masih bersifat umum, maka dilakukan probing atau menggali informasi lebih dalam. Probing termasuk salah satu bagian yang paling sulit dalam wawancara, sehingga dianjurkan untuk menuliskan kalimat pertanyaan probing, disamping jawaban responden. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah rapport, yaitu suatu situasi psikologis yang menunjukkan bahwa responden (key informan) bersedia bekerja sama, bersedia menjawab pertanyaan dan memberi informasi sesuai dengan pikirannya dan keadaan yang sebenarnya. Berdasarkan sifat pertanyaan, wawancara dapat dibedakan menjadi (Riduwan, 2002: 30):
a.       Wawancara terpimpin
Wawancara terpimpin adalah wawancara yang dilakukan oleh pewawancara dengan cara mengajukan pertanyaan menurut daftar pertanyaan yang telah disusun.
b.      Wawancara bebas
Pada wawancara ini, terjadi tanya-jawab bebas antara pewawancara dengan responden, tetapi pewawancara menggunakan tujuan penelitian sebagai pedoman. Kebaikan wawancara ini adalah responden tidak menyadari sepenuhnya bahwa ia sedang diwawancarai.
c.       Wawancara bebas terpimpin
Wawancara ini merupakan perpaduan antara wawancara bebas dan wawancara terpimpin. Dalam pelaksanaannya, pewawan cara membawa pedoman yang hanya merupakan garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan.
Dalam hal membuat pertanyaan, ada beberapa syarat pertanyaan yang perlu diperhatikan, yaitu:
a.       Pertanyaan harus jelas, pendek dan dapat dimengerti baik oleh pewawancara maupun yang diwawancara (komunikatif).
b.      Pertanyaan yang tendensi us dan sensitif harus dicegah;
c.       Jawaban yang diharapkan mesti obyektif, artinya tanpa campur tangan dari pihak manapun dan sedapat mungkin dapat dibentuk dalam suatu sistem yang mudah dan berurutan;
d.      Istilah-istilah harus dirumuskan dengan pasti;
e.       Perintah bagi pewawancara harus singkat, jelas, dan dapat dipahami; dan
f.        Pertanyaan harus disusun dengan urutan yang logis dengan memperhatikan jalan dan keluasan pikiran yang diwawancara.
Keenam syarat tersebut masih dapat ditambah, hal itu semata mengacu pada suatu kenyataan bahwa interpretasi dan analisis data sangat tergantung dari berhasil tidaknya peneliti dalam memperoleh jawaban, maka kebaikan pertanyaan-pertanyaan itu amat menentukan kesimpulan yang akan ditarik (Komaruddin, 1974: 122). Berkaitan dengan teknik wawancara ini, Mantra (2004: 86) menjelaskan bahwa dengan wawancara mendalam (indepth interview) peneliti dapat mengetahui alasan yang sebenarnya dari responden tentang tindakan atau keputusannya.

2)      Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sitematik fenomena-fenomena yang diteliti. Observasi menjadi penelitian ilmiah apabila: 1) mengacu kepada tujuan dan sasaran penelitian yang akan dirumuskan; 2) direncanakan secara sitematik; 3) dicatat dan dihubungkan secara sitematik dengan proposisi-proposisi lebih umum dan; 4) dapat dicek dan dikontrol ketelitiannya (Mantra, 2004: 82).
Dalam melakukan observasi, seorang peneliti yang menggunakan pendekatan kualitatif perlu melibatkan diri dalam kehidupan subyek. Keterlibatan ini sedikit banyak disebabkan oleh hubungan nya dengan subyek itu. Peneliti berusaha menangkap proses interpretatif dengan tetap menjaga jarak seperti yang dilakukan oleh apa yang disebut pengamat “obyektif” serta menolak untuk berperan sebagai unit yang berfungsi (acting unit) (Furchan, 1992: 26-27).

PENELITIAN KUANTITATIF, PARADIGMA, DAN
PROSEDUR PENELITAN KUANTITATIF

  1. PENELITIAN KUANTITATIF
Penelitian kuantitatif biasanya dipakai untuk menguji teori, untuk menyajikan suatu fakta atau mendeskripsikan ststistik,  untuk menunjukkan hubungan antar variabel dan adapula yang bersifat mengembangkan konsep, mengembangkan pemahaman atau mendeskripsikan banyak hal.
Metode yang sering digunakan adalah eksperimental deskripsi, survei dan menemukan korelsional. Penelitian kuantitatif menyajikan proposal yang bersifat lengkap, rinci, prosedur yang spesifik, literatur yan lengkap dan hipotesis yang dirumuskan dengan jelas pada penelitian kualitatif proposalnya lebih lngkap dan tidak banyak kajian literature,  pendekatan dijabarkan secara umum, dan biasanya tidak menyajikan rumusan hipotesis.
 Craig, 1985 merumuskan langkah-langkah penelitian ilmiah:
  1. Identifikasi masalah
  2. merumuskan hipotesis
  3. mendefinisikan istilah
  4. melakukan penelitian atau melakukan observasi lapangan.
  5. analisa data
  6. mengembil kesimpulan

B.     Pengertian Paradigma

Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn (1962), dan kemudian dipopulerkan oleh Robert Friedrichs (1970). Menurut Kuhn, paradigma adalah cara mengetahui realitas sosial yang dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu, yang kemudian menghasilkan mode of knowing yang spesifik.  Definisi tersebut dipertegas oleh Friedrichs, sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari. Pengertian lain dikemukakan oleh George Ritzer (1980), dengan menyatakan paradigma sebagai pandangan yang mendasar dari para ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang/disiplin ilmu pengetahuan.
Norman K. Denzin membagi paradigma kepada tiga elemen yang meliputi; epistemologi, ontologi, dan metodologi.
Epistemologi mempertanyakan tentang bagimana cara kita mengetahui sesuatu, dan apa hubungan antara peneliti dengan pengetahuan.
Ontologi berkaitan dengan pertanyaan dasar tentang hakikat realitas.
Metodologi memfocuskan pada bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan.
 Dari definisi dan muatan paradigma ini, Zamroni mengungkapkan tentang posisi paradigma sebagai alat bantu bagi ilmuwan untuk merumuskan berbagai hal yang berkaitan dengan:
  1. Apa yang harus dipelajari
  2. Persoalan-persoalan apa yang harus dijawab
  3. Bagaimana metode untuk menjawabnya; dan
  4. Aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang diperoleh.

C.     Paradigma Penelitian Kualitatif

Ada pernyataan dari Egon G. Guba yang cukup menarik untuk ditanggapi di sini, yaitu bahwa “A paradigm may be viewed as set of basic beliefs (or metaphisies) that deals with ultimetes or principles[7]. Keyakinan itu, menurut Guba, merepresentasikan pandangan dunia tentang hakikat sesuatu, serta merupakan dasar di dalam nurani dimana ia diterima dengan penuh kepercayaan. Sesuatu yang diyakini kebenarannya tanpa didahului penelitian sistematis, dalam filsafat ilmu, disebut dengan aksioma atau asumsi dasar. Keyakinan (beliefs), aksioma atau asumsi dasar tersebut menempati posisi penting dalam menentukan skema konseptual penelitian, ia merupakan dasar permulaan yang melandasi semua proses dan kegiatan penelitian.
Berkait dengan proposisi di atas, penelitian kuantitatif memiliki perbedaan paradigma yang amat mendasar dengan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif dibangun berlandaskan paradigma positivisme dari August Comte (1798-1857), sedangkan penelitian kualitatif dibangun berlandaskan paradigma fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1926).
Paradigma kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun berdasarkan filsafat positivisme. Positivisme adalah satu aliran filsafat yang menolak unsur metafisik dan teologik dari realitas sosial. Karena penolakannya terhadap unsur metafisis dan teologis, positivisme kadang-kadang dianggap sebagai sebuah varian dari Materialisme (bila yang terakhir ini dikontraskan dengan Idealisme).
Dalam penelitian kuantitatif diyakini, bahwa satu-satunya pengetahuan (knowledge)  yang valid adalah ilmu pengetahuan (science), yaitu pengetahuan yang berawal dan didasarkan pada pengalaman (experience) yang tertangkap lewat pancaindera untuk kemudian diolah oleh nalar (reason). Secara epistemologis, dalam penelitian kuantitatif diterima suatu paradigma, bahwa sumber pengetahuan paling utama adalah fakta yang sudah pernah terjadi, dan lebih khusus lagi hal-hal yang dapat ditangkap pancaindera (exposed to sensory experience). Hal ini sekaligus mengindikasikan, bahwa secara ontologis, obyek studi penelitian kuantitatif adalah fenomena dan hubungan-hubungan umum antara fenomena-fenomena (general relations between phenomena). Yang dimaksud dengan fenomena di sini adalah sejalan dengan prinsip sensory experience yang terbatas pada external appearance given in sense perception saja. Karena pengetahuan itu bersumber dari fakta yang diperoleh melalui pancaindera, maka ilmu pengetahuan harus didasarkan pada eksperimen, induksi dan observasi.
Dalam metode kuantitatif, dianut suatu paradigma bahwa dalam setiap event/peristiwa sosial mengandung elemen-elemen tertentu yang berbeda-beda dan dapat berubah. Elemen-elemen dimaksud disebut dengan variabel. Variabel dari setiap even/case, baik yang melekat padanya maupun yang mempengaruhi/dipengaruhinya,  cukup banyak, karena itu tidak mungkin menangkap seluruh variabel itu secara keseluruhan. Atas dasar itu, dalam penelitian kuantitatif ditekankan agar obyek penelitian diarahkan pada variabel-variabel tertentu saja yang dinilai paling relevan. Jadi, di sini paradigma kuantitatif cenderung pada pendekatan partikularistis.

STEP-STEP PENELITIAN KUANTITATIF

1)      Menemukan Dan Merumuskan Masalah Penelitian
Salah satu komponen yang sangat penting dan menentukan kualitas sebuah penelitian ilmiah adalah rumusan masalah. Dalam hal ini yang dimaksud masalah adalah masalah ilmiah penelitian (scientific research problems). Masalah penelitian inilah yang akan dipecahkan atau dicarikan solusinya melalui suatu proses penelitian ilmiah.
Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa-apa yang benar-benar terjadi. Masalah penelitian adalah sebuah pertannyaan yang memerlukan jawaban berupa penjelasan yang dapat dirumuskan melalui proses penelitian, baik penjelasan deskriptif tentang suatu variabel atau fenomena tertentu maupun penjelasan tentang hubungan antar variabel.
Penciptaan sebuah masalah penelitian dilakukan dengan berlandaskan pada pembuatan sebuah proposisi (Teori atau Hipotesa) yang belum diuji kebenarannya) yang kerangka acuannya adalah hasil pengkajian mengenai kaitan hubungan antara sejumlah teori yang suda ada dan relevan
Sumber masalah
Masalah itu akan bisa diidentifikasi jika :
  1. ada kesenjangan antara cita dengan realita.
  2. ada kesenjangan antara teori dengan praktek dalam kehidupan
  3. ada kesenjangan antara perencanaan dengan realisasi lapangan, atau
  4. ada tantangan, keingin tahuan tentang sesuatu yang belum ada penjelasannya.
Untuk memunculkan masalah itu harus ada argumentasi rasional; unruk itu peneliti harus menjelaskan deduksi lahirnya masalah dengan logika. Diawali dengan paparan tentang cita, lalu masuk pada realita, lalumuncul masalah penelitian.

Cara memperoleh masalah
Cara memperoleh masalah penelitian dapat dilakukan dengan cara:
  1. Observasi
Masalah penelitian dapat diperoleh dengan cara melakukan pengamatan dalam kehidupan disekeliling kita.
  1. Brainstorming
Masalah penelitian bisa ditemukan dengan cara Brainstorming. Barainstorm9ng terjadi ketika dua atau tiga orang mengeluarkan ide sebanyak mungkin tentang suatu penelitian yang akan dibahas. Jangan dijadikan masalah jika ada beberapa perbincangan yang kurang pas. Peneliti harus menyaring lagi mana ide yang relefan untuk diteliti.
  1. Membaca hasil penelitian.
Mempelajari hasil penelitian sebelumnya membantu kita menyadari adanaya masalah sehingga membuat kita bisa merumuskan maslah yang baru. Dengan membaca hasil penelitian orang lain maka kita akan mendapatkan bahan-bahan apa yang harus kita pelajari berkaitan dengan maslah kita.
  1. Perkembangan Teknologi
Penggunaan suatu teknologi baru minimal muncul dua tipe penelitian. Teknologi baru memungkinkan peneliti untuk meneliti masalah lama dibandingkan dengan cara baru. Tipe kedua bahwa teknologi baru memungkinkan munculnya masalah penelitian yang baru sebagai contoh dengan adanya pnemuan baru dalam bidng komputer telah melahirkan program baru seperti artivicial intelegence.
  1. Pngetahuan tentang research literature
Jika kita familiar dengan research literature dapat membantu kita untuk memperoleh maslah. Anda bisa  membaca jurnal danmembaca abstrak penelitian.

Bentuk-bentuk maslah penelitian dalam pendidikan:
  1. Deskriptif:
Adalah masalah untuk penelitian dengan variabel tunggal baik hanya satu variabel atau lebih yang tidak salaing berhubungan. Penelitian ingin mengetahui status danmendeskripsikan fenomena. Yang termasuk penelitian deskriptif antara lain : penelitian surfei, penelitian historis, penelitian filosofis.
  1. Komparatif
Yankni rumusan maslah yang memfokuskan kajian terhadap analisis perbandingan tentang satu variabel atau lebih pada dua atau lebih kelompok sampel.
  1. Assosoatif
Adalah masalah penelitian yang memfokuskn pada kajian hubungan antar fariabel, baik hubungan simetris, kausalitas, maupun resiprocal atau suatu pertanyaan penelitian yang bersifat hubungan antara dua variabel atau lebih.
  
2)      Proposisi dan Hipotesis

a.       Proposisi
Proposisi adalah kesimpulan teoritik konsepsional tentang konstelasi hubungan antar variabel sebagai jawaban teoritik. Proposisi merupakan ungkapan atau pernyataan yang dapat dipercaya, disangkal atau diuji kebenarannya, mengenai konsep atau konstruk yang menjelaskan atau memprediksi fenomena-fenomena. Proposisi yang dirumuskan dengan maksud untuk diuji secara empiris disebut hipotesis.
Dalam ilmu mantiq disebut sebagai Qadhiyah. Artinya suatu perkataan yang berfaidah, yang mengadung kemunkinan benar atau salah, dengan melihat perkataan itu sendiri (artinya) tidak dilihat dari siapa yang mengatakannya.
Proposisi membenarkan sesuatuatau mengingkarinya,. Tiap proposisi membutuhkan tiga fakta:
1)      Adanya pernyataan yang  diberi hukum “ya” atau “tidak”.
2)      Adanya lafadh yang mememberi hukum kepada yang lain.
3)      Adanya lafadh yang menjadi alat penghubung antara dua lafadh disebut proposisi.
Proposisi mempunyai tiga bagian, yakni subjek, predikat, dan kopula (tanda yang menyatakan hubungan antara subjek dan objek).
Kegunaan Proposisi dalam Metodologi Penelitian
Proposisi merupakan ungkapan atau pernyataan yang dapat dipercaya, disangkal atau diuji kebenarannya, mengenai konsep atau konstruk yang menjelaskan atau memprediksi fenomena.
Cara-cara Merumuskan Proposisi
Proposisi dirumuskan dalam bentuk If-Then.
Cara merumuskan proposisi
Setiap akhir sebuah pembahasan toritik akan menghasilkan definisi konsepsional. Analisis konstalasi antar definisi konsepsional itu akan melahirkan proposisi atau kerangkaberfikir yang menggambarkan arah hubungan antar variabel. Proposisi adalah kesimpulan teoritik konsepsional tentang konstalasi hubungan antar variabel sebagai jawaban teoritik terhadap masalah penelitian.

b.      Hipotesis

Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah  yang kita hadapi. Dalam melakukan penelitian untuk mendapatkan jawabanyang benar maka seseorang ilmuwan seakan-akan melakukan interogasi terhadap alam.
Kegunaan Hipotesis
1)      Mengarahkan penelitian. Misalnya relasi dan hubungan yang diungkapkan dalam hipotesis akan memberitahukan hal-hal yang dilakukan oleh peneliti.
2)      Masalah dan hipotesis membuat peneliti mampu mendeduksi manifestasi empiris tertentu yang tercakup dalam masalah serta hipotesis itu, karena masalah dan  hipotesis pada umumnya merupakan pernyataan yang reasional.

Macam-macam hipotesis
1)      Hipoteis Nol (null hypotheses)
Hipotesi nol sering juga disebut hipotesis statistik, karena biasanya dipakai dalam penelitian bersifat bersifat statistik, yaitu diuji dengan hitungan statistik.
2)      Hipotesis kerja
Disebut dengan hipotesis alternatif yang disingkat dengan Ha. Hipotesis kerja menyatakan hubungan antara variabel variabel X dan variabel Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok.

VARIABEL
Variabel adalah suatu sebutan yang dapat diberi nilai angka (kuantitatif) atau nilai mutu (kualitatif). Variabel merupakan pengelompokan secara logis dari dua atau lebih atribut dari objek yang diteliti. Atribut itu misalnya : Tidak sekolah, tidak tamat SD, tidak tamat SMP. Maka variabelnya adalah tingkat pendidikan dari objek penelitian itu. Variabel tingkat pendidikan merangkum semua atribut tadi.
Menurut Suharsimi Arikunto (1998:99) variabel penelitian adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.Hal ini senada dengan pendapat Ibnu Hajar (1999:156) yang mengartikan variabel adalah objek pengamatan atau fenomena yang diteliti. Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1982:437) variabel adalah semua keadaan, faktor, kondisi, perlakuan, atau tindakan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen.
Variabel merupakan suatu istilah yag berasal dari kata vary dan able yang berarti “berubah” dan “dapat”. Jadi kata variabel berarti dapat berubah. Oleh sebab itu setiap variabel dapat diberi nilai, dan nilai itu berubah-ubah. Nilai itu berupa nilai kuntitatif maupun kualitatif. Ukuran kuantitatif maupun kualitatif suatu variabel adalah jumlah dan derajat atributnya.
Dilihat dari segi nilainya, variabel dibedakan menjadi dua, yaitu variabel diskrit dan variabel kontinu. Variabel diskrit nilai kuantitatifnya selalu berupa bilangan bulat, Variabel kontinu nilai kuantitatifnya bisa berupa pecahan.

DATA
Data adalah hasil pengukuran atau penghitungan nilai-nilai suatu variabel. Yang dimaksud dengan pengolahan data pada prinsipnya adalah upaya penyajian dan pembacaan hubungan-hubungan yang ada antarvariabel. Menurut Narbuko dan Ahmadi, hubungan antarvariabel dapat berupa:
a)      Hubungan simetris, yaitu hubungan variabel yang satu tidak disebabkan oleh yang lainnya
b)      Hubungan timbal balik, yaitu hubungan suatu variabel dapat menjadi sebab dan akibat dari variabel lainnya
c)      Hubungan asimetris, yaitu hubungan variabel satu mempengaruhi variabel lainnya..

Yang termasuk hubungan variabel simetris
1)      Kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. Misalnya: Kalau “mengerjakan cepat selesai” sedang “hasilnya tepat”, maka kedua variabel tersebut merupakan indikator dari seorang yang intelegen”. Hal ini dapat diartikan kalau “karena cepat” lalu “hasilnya tepat” atau sebaliknya; “jantung yang berdenyut semakin cepat sering dibarengi keluarnya keringat tanda kecemasan“ namun demikian, tidak kdapat dikatakan “jantung yang berdebar cepat menyebabkan tangannya berkeringat” dan sebagainya.
2)      Variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama; meningkatkan pelayanan kesehatan dibarengi pula dengan bertambahnya pesawat udara. Kedua variabel tidak saling mempengaruhi, tetapi keduanya merupakan akibat dari peningkatan pendapatan.
3)      Kedua variabel saling berkaitan secara fungsional, “dimana yang satu beradayang ;lainnya pun pasti di sana”. “Di mana ada guru, di sana ada murid”, di mana ada majikan, di sana ada buruh”.
4)      “Hubungan yang kebetulan semata-mata”. Seorang bayi ditimbang lalu mati keesokan harinya. Berdasarkan kepercayaan, kedua peristiwa tersebut dianggap berkaitan, tetapi di dalam penelitian empiris tidak dapat disimpulkan bahwa bayi tersebut meninggal karena ditimbang.

Pengukuran Variabel
Pengukuran variabel adalah penting bagi setiap penelitian sosial, karena dengan pengukuran itu penelitian dapat menghubungan kosep yang abstrak dengan realitas. Proses pengukuran mengandung empat kegiatan pokok sebagai berikut:
1)      menentukan indikator untuk dimensi-dimensi variabel penelitian.. Variabel penelitian sosial pada umumnya memiliki lebih dari satu dimensi. Semakin lengkap dimensi yang digunakan dari satu variabel yang dapat diukur akan semakin baik hasil pengukurannya.
2)      Menentukan masing-masing dimensi. Ukunan ini dapat berupa item (pertanyaan) yang relevan dengan dimensinya.
3)      Menentukan ukuran yang akan digunakan dalam pengukuran apakah tingkat ukuran nominal oardinal, interval atau rasio.
4)      Menguji tingkat validitas dan areliabilitas sebagai kriteria alat pengukuran yang baik. Alat pengukur yang baik, apabila alat itu dapat mengungkap relaita itu dengan tepat.
Populasi dan Sampel
  1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian menurut Suharsimi (1998:115) adalah keseluruhan subjek penelitian. Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1984:70) populasi penelitian adalah seluruh individu yang akan dikenai sasaran generalisasi dan sampel-sampel yang akan diambil dalam suatu penelitian.
  1. Sampel Penelitian
Sampel penelitian menurut Suharsimi (1998:117) adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam penelitian ini sampel diambil dengan menggunakan sampel random dengan sistem undian dengan maksud agar setiap kelas mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sampel dalam penelitian. Adapun tekniknya dengan mengundi gulungan kertas sejumlah kelas yang didalamnya tertulis nomor kelas, sehingga didapatkan satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol.

MODEL-MODEL PENELITIAN,

Dikirim 0leh Arjo moemedo 2 komentaran

MODEL-MODEL PENELITIAN,
DISTINGSI ANTARA SATU DENGAN LAINNYA

MODEL-MODEL PENELITIAN
1.      Berdasarkan Tempat
a.       Penelitian Pustaka
Suatu penelitian yang dilakukan diruang perpustakaan untuk menghimpun dan menganalisis data yang bersumber dari perpustakaan, baik berupa buku-buku, periodikal-periodikal, seperti majalah-majalah ilmiah yang diterbitkan secara berkala, kisah-kisah sejarah, dokumen-dokumen dan materi fokus lainnya, yang dapat dijadikan sebagai sumber rujukan untuk menyusun suatu laporan ilmiah.
b.      Penelitian Laboratorium
suatu penelitian yang dilakukan dalam laboratorium yaitu suatu tempat yang dilengkapi perangkat khsus untuk melakukan penyelidikan terhadap segala gejala tertentu melalui tes-tes stau uji yang juga dilakukan untuk menyusun laporan ilmiah.
c.       Penelitian Lapangan
yaitu suatu penelitian yang dilakukan dilapangan atau lokasi penelitian, suatu tempat yang dipilih sebagai lokasi untuk menyelidiki gejala objektif sebagai terjadi dilokasi tersebut, yang digunakan juga untuk penyusunan laporan ilmiah.
Berdasarkan Sifat
Ditinjau dari segi sifatnya, penelitian dibedakan dalam 3 macam, yaitu:
  1. Penelitian dasar
    Penelitian yang bermula darikenyatan objektif yang diamati secara empirik, kemudian ditelaah melalui analisis untuk disusun sebagai laporan ilmiah. Penelitian semacam ini biasanya dilakukan untuk penelitian suatu teori melalui pengujian hipotesis, yang dirumuskan berdasarkan teori tertentu karena belum ada teori yang berkaitan dengan kenyataan objektif yang sedang diamati
  2. Penelitian Vertical
    Yaitu penelitian yang bermula dari teori yang ada, kemusian dihubungkan dengan kenyataan objektif yang di amati secara empirik yang ditelaah melalui analisis ilmiah sebagai koreksi atas kebenaran teori tersebut. Hasil penelaahan bisa mengukuhkan teoriyang diperiksa bisa juga menolaknya, tumbanglah teori yang diperiksa dan lahirlah teori yang baru.
  3. Penelitian Survey
    yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan mengadakan pemeriksaan terhadap segala yang berlangsungdi lokasi penelitian. Lazimnya dilakukan terhadap suatu unit sampel bukan terhadap suatu unit sasaran.
Berdasarkan Jenis
a.       Penelitian Eksploratif
Yaitu suatu penelitian yang bermaksud mengadakan penjajakan atau pengenalan terhadap gejala tertentu. Dalam penelitian ini diperlukan rujukan teori dan belum digunakan hipotesis.
b.      Penelitian Deskriptif
yaitu suatu penelitian yang bermaksud mengadakan pemeriksaan dan pengukuran-pengukuran terhadap gejala-gejala tertentu. Dalam penelitian macam ini landasan teori mulai diperlukan. Tetapi mulai digunakan sebagai landasan untuk menentukan editorial kriteria pengukuran terhadapa yang diamati dan akan diukur.
c.       Penelitian konformatif
yaitu suatu penelitian yang bermaksud menelaah dan menjelaskan pola hubungan antara dua fariabel atau lebih yang jenis ini dukunga teori telah dibutuhkan, baik untuk digunakan sebagai landasan dalam mengajukan hipotesis maupun untuk menntukan kriteria pengukuran terhadap adanya hubungan antara variabel-variabel yang diteliti, diantaranya melalui pengujian hipotesis.
  1. Menurut fungsi
a.       Penelitian terapan, penelitian untuk memperoleh kejelasan hubungan antar fakta data informasi,guna pemecahan masalah.
b.      Penelitian dasar: Penelitian untuk menemukan keteraturan/ order berbentuk prinsip, dalil/kaidah, hukum atau teori guna pengembangan ilmu.
  1. Menurut Pendekatan Penelitian kuantitatif/positifistik:
d.      Penelitian bersifat obyektif, kuantitatif, fixed, menggunakan instrumen standar, guna menghasilkan inferensi, generalisasi prediksi.
e.       Penelitian kualitatif / naturalistik: Penelitian bersifat holistik, kualitatif, subyektif, terbuka, integral, konteksual, rasional, menggunakan penelitian sebagai instrumen, guna menghasilkan deskripsi yang utuh dari suatu keadaan.
2.      Menurut Sifat
a.       Penelitian deskriptif: Meneliti kondisi dan situasi yg ada sekarang, berupa gambaran / keterkaitan antar hal tanpa pengontrolan terhadap hal-hal lainnya.
b.      Penelitian eksperimental: Mengadakan pengujian hubungan sebab akibat antar variabel dengan pengontrolan terhadap variabel-variabel lainnya.
c.       Penelitian histori: Meneliti peristiwa-peristiwa yg telah terjadi di masa yg lampau.
d.      Penelitian Pengembangan: Meneliti laju perkembangan sesuatu (individu, organisasi, lembaga, dsb) / mengenbangkan hal baru (model, paradigma, sistem software, dll)

Total Pageviews

lalaaaa

berilah kritik dan saran pada saya
terimakasih.. salam Anharul Huda

ngobrol-ngobrol
[Close]

Like My Blog JO LALI PENCET JEMPOLNYA. OK

sedulur adoh seg mampir